Aksara Jawa: Contoh Pasangan, Sandangan, dan Cara Menulis

By Dimas Bimantoro -

Aksara Jawa – Aksara Jawa ialah turunan dari jenis aksara Brahmi. Untuk Jenis aksara yang satu ini memang telah lama digunakan pada beragam wilayah dikalangan nusantara.

Beberapa wilayah yang menggunakan jenis aksara yang satu ini adalah pulau Jawa, Makasar, Sunda, Melayu, Sesak serta umum dipakai untuk penulisan jenis karya sastra yang menggunakan Bahasa Jawa.

Awal mula penggunaan aksara jawa ini telah lama digunakan yaitu sejak abad ke-17 Masehi, pada saat itu ketika berdirinya kerajaan Mataram Islam. Ketika pada masa itu ditetapkan sebagai abjad Hanacaraka atau Carakana yang kita kenal hingga saat ini.

Lalu pada abad ke-19 Masehi akhirnya aksara jawa dibuat dalam bentuk sebuah cetakan. Untuk aksara jawa sendiri sesungguhnya ialah gabungan dari aksara Abugida dan juga aksara Kawi.

Berdasarkan dari struktur dari tiap-tiap huruf yang setidaknya mewakili dua buah dari abjad aksara dalam bentuk huruf latinnya.  Hal tersebut yang menjadi sebuah bukti bahwa aksara jawa ialah gabungan dari kedua aksara yang disebutkan tadi.

Salah satu contohnya ialah Ha yang menjadi perwakilan dari huruf H dan juga huruf A.  Kedua suku kata dapat dibilang utuh jika dibandingkan dengan kata Hari. Lalu aksara Na yang merupakan gabungan antara huruf N dan juga huruf A.

Yang satu ini juga dapat menjadi suku kata yang utuh jika dibandingkan dengan kata Nabi. Karena hal tersebut, cacah huruf yang terdapat pada sebuah penulisan kata yang disingkat jika dibandingkan dengan tata cara menulis dalam bentuk aksara latin.

Mirip jenis aksara Hindi pada umumnya, pada saat dalam bentuk yang orisinil, maka tata cara untuk menulis aksara jawa dengan Jawa Hanacaraka yaitu dengan tata cara menggantung atau diberi gasrik pada sisi bawahnya.

Lalu seiring perkembangan zaman dan berjalannya waktu terdapat modifikasi, tepatnya ketika pada jaman modern dimana para guru mengajarkan Jawa Hanacaraka dengan penulisan aksara yang berbeda di atas garis.

 

Aksara Jawa

Pada suatu Aksara jawa atau Hanacaraka beberapa tata cara penulisan. Juga terdapat beberapa unsur serta aturan yang lainnya.

Dengan cara menjelaskan semua huruf dan juga aturan tersebut, diharapkan untuk antinya dapat mempermudah pembelajaran atau proses memahami tata cara penulisan Aksara Jawa sebelumnya dan kemudian dipratikkan menulisnya.

Karena hal tersebut maka kali ini akan ada penjelasan dasara dari aksara jawa terlebih dahulu. Khususnya untuk orang yang belum mengenal aksara jawa. Maka sangat dibutuhkan catatan catatan khusus seperti ulasan yang satu ini :

  • Ha adalah wakil untuk fonem /a/dan/ha/. Ketika aksara yang satu ini berada pada bagian depan di suatu kata, maka akan dibaca dengan /a/. akan tetapi aturan yang satu ini tidaklah berlaku untuk suatu nama atau juga jenis kata bahasa asing selain dari kata bahasa jawa asli tersebut.
  • Da pada penulisan Jawa latin digunakan untuk bagian /d/ dental dan serta juga meletup dimana posisi lidahnya berada pada bagian belakang pangkal gigi seri atas dan kemudian diletupkan. Untuk /d/ yang satu ini, sangat berbeda sekali dari bahasa Melayu ataupun Indonesia.
  • Dha pada bentuk penulisan jawa latin yang satu ini digunakan untuk jenis (d-retofleks) dimana posisi dari lidah dengan /d/d untuk bahasa melayu atau juga Indonesia namun dengan bunyi yang diletupkan.
  • Tha pada bentuk penulisan jawa latin digunakan untuk (t-retrofleks). Posisi dari lidah sama seperti /d/ akan tetapi tidak diberatkan. Untuk bunyinya mirip dengan orang yang berkesan bali menyuarakan ‘t’.

 

Ada juga Makna dari aksara jawa yaitu sebagai berikut:

Ha ialah hana hurup wening suci yang artinya dalam bahasa Indonesia ialah adanya hidup merupakan kehedak dari Tuhan yang Maha Suci.

Na maknanya ialah Nur Candra atau warsitaning Candara yang berarti pengharapan dari manusia yang selalu mengharapkan sinar dari ilahi.

Ca adalah cipta weding, cipta dadi, cipta mandulu yang artinya ialah suatu arah dan tujuan dari Sang Maga Tunggal.

Ra ialah rasaingsun handulusih yang bermakna cinta sejati yang muncul dari cinta kasih dalam nurani

Ka adakah karsaningsun memayuhayuning bawana yang bermakna sebuah hasrat yangdiarahkan untuk sebuah kesejahteraan alam.

Da ialah dumadaning Dzat kang tanpa winangenan yang berarti menerima kehidupan ini dengan apa adanya.

Ta ialah tatas, tutus, titi dan wibawa yang berarti ialah sesuatu yang mendasar, totalias, satu visi, ketelitian ketika memandang sebuah hidup.

Sa berarti suram ingsun ingsun handulu sifatullah yang berarti pembentukan kasih sayang sebagaimana kasih sayang tuhan.

Wa ialah wujud hana tan kena kinira yang berarti adalah ilmu manusia yang hanya terbatas akan tetapi untuk implementasinya sangat tidak terbatas.

La merupakan lir handaya paseban jati yang berarti menjalankan hidup semata-mata hanya untuk memenuhi tuntutan dari Tuhan.

Pa ialah papan kang tanpa akibat yang berarti adalah hakikat tuhan yang sejarinya ada tanpa arah

Dha ialah duwur wekasane endek wiwitane yang berarti adalah untuk bisa mencapai puncak harus mulai dari dasarnya atau juga mulai dari bawahnya terlebih dahulu.

Ja ialah jumbuhing kawula lan gusti yang berarti adalah senantiasa berusaha untuk mendekati tuhan dan memahami kehendak Tuhan.

Ya ialah yakin marang sembarang tumindak kang dumadi yang bermakna adalah yakin terhadap ketetapan dan kudrat ilahi.

Nya ialah nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki yang berarti ialah memahami sunnatullah atau kodrat dari kehidupan ini.

Ma merupakan mandep mantep manembah maring ilahi yang berarti ialah mantap dalam menyembah tuhan

Ga ialah gutu sejati sing muruki yang berarti ialah pembelajaran terhadap guru nurani

Ba ialah bayu sejati kang andalani  yang berarti menyelaraskan diri kepada gerak gerik dari alam.

Tha ialah tukul saka niat yang berarti segala sesuatu harus tumbuh dan diawali dengan niat

Nga ialah ngracut busananing rumongso yang berarti ialah melepas ego pribadi pada manusia

 

 

Aksara Carakan

aksara jawa lengkap

Aksara Carakan ialah jenis aksara yang paling mendasar ketika mempelajari aksara jawa. Jika disaksikan dari namanya saja dapat dipahami jika jenis aksara yang satu ini ialah untuk menuliskan kata-kata.

Masing-masing dari aksara carakan yang satu ini memiliki atau mempunyai bentuk beserta pasangannya. Aksara pasangan tersebut digunakan untuk mematikan atau juga untuk menghilangkan bentuk vokal dari aksara yang sebelumnya.

Agar kalian lebih mudah untuk memahami hal ini maka sangat penting untuk dijelaskan tentang aturan pasangan dalam aksara Carakan dan juga beserta cara untuk mengucapkannya. Jenis aksara yang satu ini terbagi menjadi beberapa huruf yang hingga sampai saat ini dikenal sebagai Hanacaraka.

 

 

Pasangan Aksara Jawa

aksara jawa lengkap

Pasangan aksara jawa merupakan bentuk khusus yang terdapat pada aksara jawa untuk menghilangkan atau juga untuk mematikan suatu vokal dari bentuk aksara yang sebelumnya. Untuk aksara pasangan ini digunakan ketika menulis bentuk suku kata yang didalamnya tidak terdapat vokal.

Contoh penggunaanpasangan dalam aksara Jawa ialah ‘Mangan sega’ (Makan Nasi). Agar kalimat tadi tidak dibaca manganasega , maka kalian perlu menghilangkan atau mematikan huruf ‘na’.

Ada cara lain untuk menghilangkan huruf Na tersebut, yaitu dengan memberikan pasangan yang diletakkan pada huruf se. Dengan cara itu, cara membaca aksara jawa tersebut ialah ‘mangan sega’.

 

Contoh Penulisan dalam Aksara Jawa

aksara jawa lengkap

 

 

Aksara Swara

aksara jawa lengkap

Aksara Swara ialah jenis aksara yang digunakan untuk menuliskan jenis huruf vokal yang berarti dari bentuk kata sarapan dari bahasa asing agar ketika pelafalannya menjadi lebih tegas.

 

Sandangan Aksara Swara

aksara jawa lengkap

Ketika sudah mengenal apa itu aksara jawa, kemudian penting untuk mengulas tentang sandangan aksara Swara, karena sesungguhnya banyak sekali orang yang merasa kebingungan tentang membedakan antara aksara swara dengan sandangan.

Sadangan ialah bentuk huruf vokal yang tidak mandiri dan digunakan pada saat berada di bagian tengah dari kata. Sedangkan dalam sandangan akan dibedakan berdasarkan pada cara membacanya.

Pada aksara Swara ini juga tidak sama dengan jenis aksara-aksara yang lainnya. Ia juga dilengkapi dengan pasangan. Aksara Swara juga memiliki beberapa aturan penulisan yang penting dan perlu diperhatikan, berikut adalah rincian penulisan yang penting:

  • Aksara Swara tidak dapat dijadikan sebagai bentuk aksara pasangan
  • Apabila aksara Swara menemukan sigegan atau konsonan yang ada pada akhir suku kata yang sebelumnya, maka sigegan itu harus dimatikan dengan yang namanya pangkon
  • Aksara Swara dapat diberikan suatu sandangan wignyan, cecak, wulu, suku, dan juga lain sebagainya.

 

 

Aksara Rekan

aksara jawa lengkap

Beberapa huruf yang terdapat pada hanacaraka tidak bisa memenuhi keperluan penulisan sejumlah kata yang asalnya dari Negara Lain. Oleh karena itu, solusi dalam hal ini maka dibuatlah suatu bentuk aksara rekan yang dalam hal ini banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab.

Hal ini dengan aksara Rekan. Aksara Rekan sendiri merupakan jenis aksara yang dipakai untuk penulisan huruf serapan yang asalnya ialah dari bahasa Arab. Misalkan saja huruf f, kh, dz dan lain sebagainya.

Aksara yang satu ini dipakai untuk menuliskan konsonan yang terdapat pada kata-kata asing yang masih sesuai dengan bentuk aslinya.

Aksara Rekan yang terdapat pada Hanacaraka terdapat lima bentuk, dan semua memiliki pasangan masing-masing, ada juga aturan penulisannya juga berbeda dengan yang lainnya, berikut adalah rinciannya :

  • Tidak semua Aksara Rekan mempunyai pasangan, Yang mempunyai pasangan pada aksara ini adalah Fa dan yang lainnya tidak mempunyai.
  • Aksara Rekan sesungguhnya dalam praktiknya dapat diberikan suatu pasangan
  • Aksara Rekan juga dapat diberikan sandhangan seperti aksara-aksara lain dalam Hanacaraka

 

Contoh Aksara Rekan

aksara jawa lengkap

Ketika mempelajari contoh Aksara Rekan, kalian akan semakin mudah ketika memahami langkah penulisannya yang benar dari suku kata dan bahasa yang berasal dari Negara lain contohnya seperti Negara Arab.

Contoh dari Aksara Rekan yang ini memang cukup rumit dan juga sulit,dikarenakan tidak tercover pada Hanacaraka. Akan tetapi telah ketika telah mengetahui contohnya, tentu saja semakin mempermudah kalian, khususnya yang masih menjadi pemula dalam memahami aksara jawa.

 

 

Aksara Murda

aksara jawa lengkap

 

Aksara Muda dan Pasangannya

aksara jawa lengkap

Untuk lebih mudahnya Aksara Murda ialah sejenis huruf kapital di dalam jenis aksara jawa. Aksara Murda ini secara khusus dipakai untuk menulis jenis huruf depan sebuah nama orang, nama tempat, atau juga kata-kata lainnya yang awal mulanya memakai huruf kapital. Dalam jenis aksara yang satu ini juga dipakai diawal sebuah kalimat atau sebuah paragraph.

Kegunaan dari aksara yang satu ini ialah menuliskan nama gelar, nama orang, nama geografi, nama lembaga suatu pemerintahan, atau juga nama lembaga yang berbadan.

Dikarenakan kata-kata tersebut dalam bahasa indonesianya menggunakan huruf besar. Maka dalam bahasa Jawa menggunakan aksara khusus yang dikenal sebagai aksara murda.

Sebagai catatan tidak semua aksara yang terdapat pada hanacaraka terdapat bentuk aksara Murdanya. Setidaknya ialah ada delapan buah aksara Murda. Aksara ini juga memiliki bentuk pasangan tersendiri yang berfungsi sebagai berguna sama dengan pasangan dalam aksara jawa.

 

Contoh Aksara Murda

aksara jawa lengkap

Aksara Murda memang tidak begitu sulit dalam penulisannya. Kalian dapat belajar secara mandiri agar kalian dapat menjadi mahir, dan khusus saat menjumpai berbagai huruf kapital atau suku kata yang memakai huruf kapital besar.

Dalam penulisannya ada beberapa aturan, Aksara Marda ini sebenarnya ha,pir sama dengan penulisan Aksara Pokok dalam Crakan, akan tetapi ada beberapa hal tambahan didalamnya. Berikut adalah:

  • Aksara Murda tidak dapat dijadikan sebagai sigeg atau yang biasa dikenal dengan konsonan penutup untuk jenis suku kata
  • Apabila ditemui bentuk aksara Murda yang menjadi siges, maka harus dituliskan bentuk aksara pokoknya
  • Jika dalam satu suku kata atau kalimat terdapat lebih dari satu bentuk aksara Murda, maka terdapat dua aturan yang dapat dipakai. Yaitu dengan mencantumkan aksara murda untuk yang terdepan saja atau dengan menuliskan semua aksara Murda yang ditemui.

 

 

Aksara Wilangan

aksara jawa lengkap

Aksara Wilangan atau yang dikenal sebagai bilangan merupakan sebuah aksara yang telah dipakai untuk menulis jenis angka dalam aksara jawa. Angka sendiri digunakan untuk menyatakan suatu lambing bilangan atau nomor.

Angka yang dibilang ini ialah dapat berjenis ukuran, luas, berat, panjang, dan juga mata uang serta Satuan waktu atau lain sebagainya.

Berbagai jenis kuantitas penulisan angka yang dilakukan ini ialah dengan mengapitkan tanda yang berada pada pangkat bagian awal serta akhir dari penulisan angka tersebut.

Ketika penulisan satuan dalam sebuah bilangan, satuan tersebut dapat ditulis dalam bentuk kata lengkapnya. Misalkan saja kilometer, meter, kilogram dan juga lain sebagainya.

 

 

Tanda Baca Aksara Jawa

aksara jawa lengkap

Ketika kalian telah memahami secara mendetail tentang huruf dan juga bilangan dalam aksara jawa, maka selanjutnya kalian akan diulas mengenai aturan dalam penulisan aksara Jawa sendiri. Tanda baca atau yang biasa disebut pratandha dalam aksara jawa dibutuhkan untuk penulisan aksara jawa.

Aksara Jawa memiliki beberapa macam bunyi yang berbeda ketika saat diucapkan. Hal tersebut tergantung dari masing-masing kata yang ditulis memakai aksara tersebut.

Misalkan A bisa di baca A pada jenis kata papat dan dapat juga dibaca A pada kata lara. Aturan itulah yang diberlakukan pada bunyi E yang memiliki beberapa varian bunyi dalam pengucapannya.

Pada hanacaraka, ada beberapa tanda bacadalam penulisan aksara tersebut. Dalam perangkat lunak, ada 5 buah tanda baca yang perlu kalian ketahui:

  • Adeg

Pada Adeg digunakan untuk menandakan bagian yang tertentu pada sebuah teks yang perlu kalian perhatikan, dalam hal ini hamper mirip dengan jenis tanda baca kurung

 

  • Adeg-Adeg

Untuk Adeh-Adeg digunakan pada bagian depan kalimat masing-masing alinea

 

  • Lingsa

Lingsa digunakan pada akhir bagian kalimat sebagai sebuahtanda intoasi yang masih setengah selesai. Tanda yang satu ini setara dengan tanda koma.

 

  • Lungsi

Ada juga Lungsi yaitu berguna untuk akhir sebuah kalimat. Tanda baca yang satu ini sama dengan tanda titik.

 

  • Pangkat

Pangkat ini memiliki beberapa fungsi, salah satunya ialah untuk akhir pernyataan apabila diikuti dengan beberapa jenis rangkaian. Selain itu juga digunakan sebagai pangkat yang mengapit suatu petikan langsung.

 

 

Belajar Membaca Aksara Jawa

Sangat perlu kalian catat bahwa aksara jawa memiliki cukup banyak bunyi yang tentu saja akan berbeda dalam hal pengucapannya.

Hal tersebut ditentukan atau tergantung dari masing-masing kata yang dituliskan dengan aksara tersebut. Misalkan a dapat dibaca papat dan dapat juga a pada kata lara. Aturan tersebut juga berlaku pada huruf e.

Tentu saja untuk membaca aksara jawa lebih sulit jika dibandingkan dengan membaca bahasa inggris. Sehingga kalian dapat benar-benar jeli dan bersabar selama proses berlatih  membaca aksara jawa. Agar kalian dapat lancar dalam membaca aksara jawa.

Maka kalian harus berlatih membaca setiap hari, jika kalian sering maka lama-lama akan terbiasa dan dapat mengingat berbagai komponen dalamnya seperti tanda baca atau lain sebagainya.

Serta lebih baiknya lagi jika proses membaca di selingi dengan belajar menulis, karena dengan cara tersebut dapat lebih mempermudah belajarnya.

 

 

Asal Usul Sejarah Bahasa Jawa

Banyak orang yang masih belum tau tentang asal-usul sejarah dari aksara jawa. Sebenarnya, ada beberapa legenda dari aksara jawa yang hingga sampai saat ini masih dikenal bahkan diajarkan di sekolah-sekolah, Nah berikut adalah beberapa sejarah tentang asal-usul munculnya aksara jawa.

Terdapat seseorang ksatria hebat yang asalnya dari tanah jawa, nama dari ksatria tersebut adalah Aji Saka. Dia mempunyai seorang abdi yang sangat setia terhadapnya . Abdi tersebut bernama Sembada dan Dora.

Pada suatu masa, Aji saka melakukan sebuah perjalanan ke suatu kerajaan bernama Medang Kamulan yang pada saat itu tengah diiperintah oleh seorang raja yang suka memakan daging manusia. Nama dari seorang raja tersebut adalah Prabu Dewata Cengkar.

Prabu Dewata Cengkar setiap hari meminta kepada para pelayannya atau prajuritnya untuk senantiasa menghidangkan daging manusia sebagai makanan pokok setiap hari.

Hal ini membuat masyarakat resah karena hal tersebut. Aji saka memiliki inisiatif untuk melawan sang raja tersebut dengan keduanya abdinya.

Cerita singkatnya, Aji saka telah sampai pada pinggiran hutan dan telah masuk ke kawasan kekuasaan Madang Kamulan. Sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kawasan kerajaan tersebut.

Aji saka memerintahkan kepada abdi yang namanya sembada agar tetap tinggal disana menjaga keris pusaka yang dimiliki Aji Saka.

Ia lalu berpesan agar keris tersebut dijaga dengan bersungguh-sungguh dan tidak boleh diberikan kepada siapa saja kecuali kepada Aji Saka. Sedangkan Dora yang merupakan abdi kedua diajak oleh si Aji saka Untuk menghadap ke Prabu Dewata Cengkar.

Selanjutnya ketika telah berjumpa dan menghadap langsung ke Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka membuat sebuah kesepakatan dengan raja tersebut. Ia bersedia dimakan oleh sang raja akan tetapi dengan sebuah syarat.

Syarat yang diberikan ialah sang Prabu harus menyerahkan daerah kekuasaannya seluas sorban yang dikenakan oleh Aji Saka.

Kemudian sang prabu mengiyakan dan menerima syarat tersebut. Kemudian saka memohon kepada Prabu Dewata Cengkar untuk mengukur tanah yang dijanjikan dengan cara memegang salah satu bagian ujung sorban. Dan bagian ujung sorban yang lain dipegang oleh Aji Saka.

Lalu Prabu Dewata Cengkar mulai menarik sorban itu, dan akhirnya terbentang. Sang prabu terus bergerak mundur dan memanjangkannya, selanjutnya ia mulai membuka sorban tersebut agar terbentang.

Ternyata sorban telah diberi kesaktian agar tidak habis-habis ketika dibuka. Prabu Dewata Cengkar terus berjalan untuk membentangkannya. Lalu prabu dewata cengkar sampai ditepi sebuah laut jurang batu yang terjang dan juga dalam.

Dengan cepat Aji saka menggoyangkan sorban tersebut dan akhirnya sang prabu terlempar ke tegah laut. Dan akhirnya Prabu Dewata Tacengkar mati. Semua rakyat bersuka cita dan akhirnya menjadikan si Aji Saka menjadi Rajanya.

Setelah beberapa saat ia menjadi raja, Aji Saka sampai lupa tentang kerisnya yang ia tinggal dan dititipkan kepada sambada.

Lalu ia meminta Dora agar mengambil keris tersebut, dan akhirnya Dora berangkat untuk mengambil kerisnya dan sampailah kepada tempat Sambada tersebut. Pada awal pertemuan tersebut mereka saling mempertanyakan kabar masing-masing.

Selanjutnya perbincangan berlanjut dan Dora meminta keris pusaka tersebut untuk diberikan Kepada Aji Saka. Akan tetapi Sambada tersebut ingat betul jika pesan yang disampaikan oleh Aji Saka kepadanya ialah tidak boleh memberikan kepada siapa saja kecuali kepada Aji Saka.

Akhirnya sembada menolak permintaan dari Dora untuk menyerahkan keris tersebut. Dan kemudian mereka berdua sama-sama tidak mau mengalah untuk menjaga amanah yang diterima.

Dikarenakan mereka bertengkar akan tetapi mereka mempunyai kekuatan yang sama antara satu sama lain, kemudian mereka sama-sama mengeluarkan kekuatan mereka dan akhirnya mereka mati bersama-sama, dan selanjutnya kabar kematian mereka berdua didengar oleh Aji Saka.

Dikarenakan kecerobohan dari dia dua abdinya harus mati. Ia sangat menyesali atas kejadian itu, agar dapat menghormati dua abdi yang mati karena amanah darinya, Aji Saka membuat barisan huruf dan juga alphabet yang saat ini dikenal sebagai aksara jawa.

Ha Na Ca Ra Ka (ada dua orang utusan atau carakan)

Da Ta Sa Wa La (mereka saling berperang untuk mempertahankan sebuah amanah)

Pa Dha Ja Ya Nya (dikarenakan keduanya sama-sama dalam tingkat kesaktian)

Ma Dha Ba Tha Nga (maka keduanya mati dan menjadi bangkai)

 

Aksara jawa ini memang memiliki cakupan yang luas dan cukup rumit untuk dipelajari. Akan tetapi harus terus untuk dipelajari agar aksara jawa tidak punah dan senantiasa hidup ditengah-tengah kekayaan budaya nusantara.

Pembelajaran tentang aksara jawa sendiri juga harus dilakukan secara intens agar bertujuan untuk anak-anak usia sekolah memiliki perhatian besar terhadap aksara ini.

 

Nah, itulah Informasi lengkap Aksara Jawa, semoga bermanfaat bagi kalian semua dan menambah wawasan untuk kalian semua. Jangan lupa untuk bagikan informasi ini ke teman-teman atau kerabat kalian.

Dimas Bimantoro
Dimas Bimantoro
Anak TKJ, yang hobi dan suka dengan teknologi. Berharap banyak berkontribusi untuk banyak umat dan bermanfaat apa yang di saya lakukan.

Artikel Terkait

Tulisan Aksara Jawa dan Pasangan
Tulisan Aksara Jawa dan Pasangan
Oleh Danang Febriyandra
Tembang Macapat: Pengertian, Jenis Asal Mula dan Contoh Tembang Macapat
Tembang Macapat: Pengertian, Jenis Asal Mula dan Contoh Tembang Macapat
Oleh Arwina Nur Dyah Utami
11+ Cerita Rakyat Bahasa Jawa: Singkat dan Lengkap
11+ Cerita Rakyat Bahasa Jawa: Singkat dan Lengkap
Oleh Hasif Priyambudi
10 Contoh Pidato Bahasa Jawa Singkat Krama Alus & Krama Inggil
10 Contoh Pidato Bahasa Jawa Singkat Krama Alus & Krama Inggil
Oleh Hasif Priyambudi
Contoh Geguritan Bahasa Jawa
Contoh Geguritan Bahasa Jawa
Oleh Hasif Priyambudi
15 Contoh Tembang Kinanthi: Arti dan Penjelasanya
15 Contoh Tembang Kinanthi: Arti dan Penjelasanya
Oleh Hasif Priyambudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *