√ 10+ Jenis Jenis Manusia Purba di Indonesia: Ciri dan Penjelasanya

10+ Jenis Jenis Manusia Purba di Indonesia: Ciri Ciri dan Penjelasanya

10+ Jenis Jenis Manusia Purba di Indonesia: Ciri Ciri dan Penjelasanya

Jenis Manusia Purba di Indonesia – Pada pelajaran sejarah atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kamu pasti pernah menyinggung tentang sejarah manusia purba. Tapi apakah kamu tahu apa itu manusia purba? Manusia purba sendiri atau yang biasa disebut dengan manusia prasejarah adalah manusia yang hidup pada jaman pra aksara atau jaman sebelum manusia belum mengenal tulisan. Manusia purba hidup dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya atau bisa disebut dengan nomaden. Manusia pada jaman prasejarah tentunya sangat berbeda dengan manusia pada jaman sekarang, mereka hidup dengan sangat sederhana dan masih sangat tergantung dengan alam.

Untuk mengetahui keberadaan manusia purba lebih mendalam, maka dilakukanlah penelitian terhadap manusia prasejarah tersebut termasuk di Indonesia. Penelitian terhadap manusia purba di Indonesia sendiri sudah dilakukan sejak lama. Penelitian tersebut dirintis oleh Eugene Dubois, seorang dokter dari Belanda pada abad ke 18 M.

 

Hasil Penelitian Manusia Purba

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis–jenis manusia purba yang ada di Indonesia. Kebanyakan fosil-fosil manusia purba yang ada di Indonesia di temukan di Solo, Pacitan, Ngandong, Mojokerto, dan Sangiran. Hasil yang didapatkan setelah melakukan banyak penelitian terkait dengan manusia purba yang ada di Indonesia adalah adanya tiga jenis manusia purba yang ada di Indonesia. Para ahli mengelompokkannya berdasarkan fosil yang telah di temukan di Indonesia. Tiga jenis manusia pura tersebut adalah :

  1. Meganthropus (Manusia Besar)
  2. Pithecanthropus (Manusia kera yang sudah berjalan dengan tegak)
  3. Homo (menyerupai manusia modern)

Jika di jabarkan, maka keseluruhan jenis manusia purba yang ada di Indonesia menjadi 10 jenis, antara lain :

  1. Meganthropus Paleojavanicus
  2. Pithecanthropus Erectus
  3. Pithecanthropus Soloensis
  4. Pithecanthropus Mojokertensis
  5. Homo Soloensis
  6. Homo Erectus
  7. Homo Floresiensis
  8. Homo Habilis
  9. Homo Wajakensis
  10. Homo Sapiens

 

Jenis – Jenis Manusia Purba

Untuk lebih jelasnya tentang jenis tersebut seperti, apa saja sih ciri-ciri dari kesepuluh jenis manusia purba tersebut dan kenapa di namai seperti itu? Nah, Jadi langsung saja kita bahas satu persatu tentang manusia purba yang ditemukan di Indonesia :

 

1. Meganthropus Palaojavanicus

Jenis Manusia Purba Meganthropus Paleojavanicus

Sebenarnya kata Meganthropus itu berasal dari dari dua kata yaitu mega yang berarti besar dan anthropus yang berari manusia. Sedangkan kata Paleojavanicus juga berasal dari dua kata yakni paleo yang berarti tua dan javanicus yang berarti Jawa. Jadi Meganthropus Paleojavanicus merupakan manusia raksasa yang paling tua dari Jawa dan diperkirakan bahwa ini adalah manusia purba tertua yang ada di Indonesia dan juga dikategorikan sebagai salah satu fosil dari manusia purba yang paling primitif.

Van Koenigswald adalah orang yang menemukan fosil dari Meganthropus Paleojavanicus. Van Koenigswal adalah seorang peneliti dari Belanda yang meneliti di daerah Sangiran, Jawa Tengah pada tahun 1936 M. Pada saat penelitian di perkirakan fosil dari Meganthropus tersebut sudah berusia 1-2 juta tahun. Pada saat penemuannya, fosil Meganthropus tidaklah lengkap melainkan hanya beberapa bagian saja, seperti beberapa bagian tengkorak, rahang bawah, serta beberapa gigi yang telah terlepas. Jenis fosil dari manusia purba ini diperkirakan hidup dengan cara mengumpulkan bahan-bahan makanan dari alam terutama tumbuh-tumbuhan. Meganthropus Paleojavanicus memiliki beberapa ciri-ciri seperti :

  • Bertahan hidup dengan mengonsumsi tumbuh-tumbuhan.
  • Tidak memiliki dagu sehingga manusia purba ini lebih mirip dengan kera
  • Pada bagian kepalanya memiliki tonjolan yang tajam
  • Memiliki tulang pipi yang tebal dan juga memiliki tonjolan pada bagian kening yang mencolok.
  • Memiliki gigi,rahang, dan otot kunyah yang kuat.
  • Memiliki postur tubuh tegap.

 

2. Pithecanthropus

Jenis manusia Purba Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus merupakan jenis fosil dari manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Ada tiga jenis Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia, tiga jenis fosil Pithecanthropus tersebut adalah Pithecanthropus Erectus, Pithecanthropus Mojokertensis, dan yang terakhir adalah Pithecanthropus Soloensi. Berikut ini adalah penjelasan tentang tiga jenis Pithecanthropus tersebut :

 

a. Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus Erectus adalah fosil yang ditemukan oleh seorang dokter dari Belanda yang bernama Eugene Dubois. Pada awalnya ia melakukan penelitian di daerah Sumatra Barat tetapi disana dia tidak menemukan apa-apa, lalu telah itu ia pindah ke pulau Jawa. Disana akhirnya ia menemukan fosil Pithecanthropus Erectus di desa Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891. Fosil dari Pithecanthropus yang ditemukan juga tidaklah lengkap, fosil yang temukan berupa tulang rahang atas, tulang kaki, dan tengkorak.

Berdasarkan hasil penelitian, Pithecanthropus hidup dengan cara berburu, Pithecanthropus juga hidup secara berpindah pindah atau yang biasa disebut nomaden untuk mencari tempat yang memiliki sumber makanan yang banyak agar dapat bertahan hidup. Pithecanthropus Erectus memiliki beberapa ciri, antara lain :

  • Memiliki otak dengan volume 750 – 1350 cc yang artinya lebih besar dari Meganthropus.
  • Memiliki tinggi badan sekitar 155 – 180 cm.
  • Memiliki postur tubuh yang tegap tapi tidak setegap meganthropus.
  • Memiliki rahang dan gigi geraham yang sangat kuat.
  • Berhidung tebal.
  • Memiliki tonjolan kening yang tebal serta melintang di dahi dari satu sisi ke sisi yang lainnya.
  • Bagian wajah menonjol ke depan tetapi dahinya miring ke belakang.
  • Pada bagian belakang kepalanya juga menonjol.
  • Memiliki alat tengkuk dan alat pengunyah yang sangat kuat.

 

b. Pithecanthropus Mojokertensis

Pithecanthropus Mojokertensi memiliki nama lain Pithecanthropus Robustus. Orang yang berhasil menemukan fosil ini adalah Von Koennigswald dan fosil yang di temukan adalah fosil berupa tulang tengkorak dari anak-anak yang kemudian dinamakan Pithecanthropus Robustus. Penemuan fosil ini di temukan di daerah Lembah Sungai Brantas, Desa Jetis Mojokerto.

 

c. Pithecanthropus Soloensis

Fosil dari Pithecanthropus Soloensis ditemukan di daerah Ngandong, Lembah Begawan Solo dan juga di temukan oleh Von Koenigswald dan dibantu oleh Ter Harr dan Oppernoorth. Fosil dari Pithecanthropus Soloensis ditemukan di dua tempat yang berbeda yaitu di ditemukan di daerah Ngandong dan Sangiran pada tahun 1931 – 1939. Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak dan tulang kering.

Telah diteliti, fosil dari Pithecanthropus memiliki umur yang beragam yaitu ada yang berumur 30.000 sampai dengan 1 juta tahun yang lalu, penentuan umur tersebut dilakukan dengan pengukuran umur lapisan tanah. Dalam melakukan kegiatan sehari-hari , Pithecanthropus sudah menggunakan peralatan yang tebat dari kayu dan batu yang berhasil didapatkannya. Berdasarkan dari hasil penelitian, Pithecanthropus Soloensis belum ditemukan bahwa makanan yang dikonsumsi oleh Pithecanthropus Soloensis ini tidaklah di masak atau diolah terlebih dahulu, entah itu hewan atau tumbuhan meskipun mereka sudah menggunakan peralatan berupa batu dan kayu.

Alat yang digunakan Pithecanthropus Soloensis untuk melakukan pemburuan adalah kapak genggam , kapak Paribas, dan alat – alat serpih, perata tersebut di temukan di daerah Pacitan, Jawa Timur. Pithecanthropus Soloensis memiliki ciri – cirinya sebagai berikut :

  • Memiliki volume otak antara 750 – 1350 cc.
  • Bertinggi badan sekitar, 165 – 180.
  • Memiliki badan yang tegap tapi tidak setegap Meganthropus.
  • Memiliki tonjolan kening yang tebal dan melintang di sepanjang pelipis.
  • Memiliki hidung yang lebar dan juga tidak berdagu.
  • Memiliki gigi geraham dan rahang yang besar.
  • Memakan makanan berupa daging hasil dari buruan dan tumbuh – tumbuhan.

 

3. Homo

Jenis Manusia Purba Homo Sapiens

Homo adalah fosil yang paling muda di antara fosil – fosil manusia purba yang lainnya. Fosil ini diperkirakan berasal dari tahun 15.000 – 40.000 SM. Menurut para ahli, manusia Homo diperkirakan bukanlah manusia kera (Pithecanthropus) lagi. Melainkan sudah tergolong dalam jenis manusia (Homo), hal ini didasari karena volume otaknya sudah menyerupai dengan manusia modern seperti sekarang. Di Indonesia sendiri telah ditemukan tiga jenis manusia purba homo yaitu, Homo Soloensis, Homo Wajakensis, Homo Floresiensis. Berikut adalah penjelasan dari ketiga jenis manusia purba Homo.

 

a. Homo Soloensis

Homo Soloensis adalah manusia urban yang ditemukan di daerah Ngandong, Lembah Bengawan Solo, atau lebih tepatnya di sekitaran sungai Bengawan Solo dan ditemukan juga oleh Von Koeningswald dan juga dibantu oleh Weidenrich pada tahun 1931 – 1934. Fosil yang berhasil di temukan dalam pencarian tersebut adalah berupa tulang tengkoraknya saja. Homo Soloensis diperkirakan hidup pada tahun 900.000 sampai dengan 300.000 tahun yang lalu.

Kehidupan mereka pun sudah sudah maju karena sudah didukung dengan adanya peralatan untuk bertahan hidup. Sebagian para ahli memasukan Homo Soloensis dengan Homo Neanderthalensis dalam satu golongan. Homo Neanderthaleis sendiri adalah jenis manusia purba Homo Sapiens yang berasal dari Asia, Eropa, dan Afrika. Selain itu menurut Von Koeningswald, Homo Sapiens memilki tingkatan yang lebih tinggi daripada dengan Pithecanthropus Erectus. Ciri-ciri dari manusia Homo adalah sebagai berikut :

  1. Memiliki volume otak antara 1000-1300 cc yang sudah menyerupai manusia modern.
  2. Bertinggi badan 130- 210 cm.
  3. Memiliki wajah yang tidak menonjol ke depan.
  4. Sudah berjalan dengan tegap dengan dua kaki sehingga lebih sempurna dalam berjalan.
  5. Otot tengkuk pada manusia purba Homo mengalami penyusutan.

Selain itu juga ditemukan hasil dari kebudayaan manusia purba Homo Soloensis yaitu kapak genggam, kapak perimbas , alat-alat serpih dan juga peralatan yang terbuat dari tulang, dan masih banyak peralatan pada jaman dahulu yang lainnya.

 

b. Homo Wajakensis

Manusia purba Homo ini ditemukan di Wajak, Tulungagung, Jawa Timur, pada tahun 1889 yangg ditemukan oleh Eugene Dubois. Fosil yang ditemukan adalah tulang tengkorak, rahang bawah dan beberapa dari ruas tulang leher. Menurut penelitian para ahli, diperkirakan bahwa manusia purba Homo Wajakensis merupakan nenek moyang dari dari ras Australoid yang merupakan penduduk asli dari Australia. Ciri-ciri dari manusia purba Wajakensis adalah :

  1. Memiliki hidung yang lebar dan juga mulut yang menonjol.
  2. Wajahnya lebar dan juga datar.
  3. Tulang tengkoraknya membulat.
  4. Sedikit ada tonjolan pada bagian dahi yang sedikit mencolok.

 

c. Homo Floresiensi

Jenis fosil manusia purba ini ditemukan oleh tim arkeologi yang tergabung dari Pulistibang Arkeologi Nasional, Indonesia, dan University Of New England, Australia pada tahun 2003 melakukan penggalian di Liang Bua, Flores. Penggalian dilakukan hingga kedalaman 5 meter, hingga di temukan kerangka mirip manusia yang dijadikan sebagai fosil dengan ukuran yang kerdil. Mereka diperkirakan hidup pada tahun 94.000 – 13.000 SM. Ciri-ciri dari Homo Floresiensi adalah :

  1. Berbadan tegap.
  2. Sudah berjalan menggunakan dua kaki (bipedal).
  3. Memiliki tinggi badan sekitar 1 meter.
  4. Volume otaknya sudah mencapai 417 cc.
  5. Tidak memiliki dagu.

Perkembangan yang terjadi dari manusia purba Homo Soloensis dan Homo Wajakensis yang lebih lanjut di sebut dengan Homo Sapiens. Homo Sapiens memiliki perkembangan yang lebih sempurna dari semua manusia purba Homo yang yang pernah ada. Hal ini bisa dilihat dari cara berpikirnya, meskipun masih hidup dengan sangat sederhana tapi manusia purba Homo Sapiens inilah yang paling maju di antara semua fosil manusia purba yang telah ditemukan. Hal inilah yang menyebabkan manusia purba ini diberi nama Homo Sapiens yang memiliki arti manusia cerdas dan diperkirakan hidup 40.000 tahun yang lalu setelah masa penelitian. Homo Sapiens memiliki postur tubuh yang sama dengan manusia di jaman modern seperti sekarang, dan diperkirakan mereka adalah nenek moyang dari bangsa Indonesia.

 

Nah, itulah penjelasan mengenai manusia purba yang ada atau pernah di temukan di Indonesia. Semoga dengan adanya artikel ini bisa menambah wawasan kamu tentang manusia purba yang pernah hidup di Indonesia. Dan bila ada kesalahan dalam artikel ini maka mohon untuk dimaafkan.



5 Cara Belajar Toefl Otodidak dengan Cepat dan Efektif

5 Cara Belajar Toefl Otodidak dengan Cepat dan Efektif

Jenis Manusia Purba di Indonesia – Pada pelajaran sejarah atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kamu pasti pernah menyinggung tentang sejarah manusia purba. Tapi apakah kamu tahu apa itu manusia purba? Manusia purba sendiri atau yang biasa disebut dengan manusia prasejarah adalah manusia yang hidup pada jaman pra aksara atau jaman sebelum manusia belum mengenal tulisan. Manusia purba hidup dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya atau bisa disebut dengan nomaden. Manusia pada jaman prasejarah tentunya sangat berbeda dengan manusia pada jaman sekarang, mereka hidup dengan sangat sederhana dan masih sangat tergantung dengan alam.

Untuk mengetahui keberadaan manusia purba lebih mendalam, maka dilakukanlah penelitian terhadap manusia prasejarah tersebut termasuk di Indonesia. Penelitian terhadap manusia purba di Indonesia sendiri sudah dilakukan sejak lama. Penelitian tersebut dirintis oleh Eugene Dubois, seorang dokter dari Belanda pada abad ke 18 M.

 

Hasil Penelitian Manusia Purba

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis–jenis manusia purba yang ada di Indonesia. Kebanyakan fosil-fosil manusia purba yang ada di Indonesia di temukan di Solo, Pacitan, Ngandong, Mojokerto, dan Sangiran. Hasil yang didapatkan setelah melakukan banyak penelitian terkait dengan manusia purba yang ada di Indonesia adalah adanya tiga jenis manusia purba yang ada di Indonesia. Para ahli mengelompokkannya berdasarkan fosil yang telah di temukan di Indonesia. Tiga jenis manusia pura tersebut adalah :

  1. Meganthropus (Manusia Besar)
  2. Pithecanthropus (Manusia kera yang sudah berjalan dengan tegak)
  3. Homo (menyerupai manusia modern)

Jika di jabarkan, maka keseluruhan jenis manusia purba yang ada di Indonesia menjadi 10 jenis, antara lain :

  1. Meganthropus Paleojavanicus
  2. Pithecanthropus Erectus
  3. Pithecanthropus Soloensis
  4. Pithecanthropus Mojokertensis
  5. Homo Soloensis
  6. Homo Erectus
  7. Homo Floresiensis
  8. Homo Habilis
  9. Homo Wajakensis
  10. Homo Sapiens

 

Jenis – Jenis Manusia Purba

Untuk lebih jelasnya tentang jenis tersebut seperti, apa saja sih ciri-ciri dari kesepuluh jenis manusia purba tersebut dan kenapa di namai seperti itu? Nah, Jadi langsung saja kita bahas satu persatu tentang manusia purba yang ditemukan di Indonesia :

 

1. Meganthropus Palaojavanicus

Jenis Manusia Purba Meganthropus Paleojavanicus

Sebenarnya kata Meganthropus itu berasal dari dari dua kata yaitu mega yang berarti besar dan anthropus yang berari manusia. Sedangkan kata Paleojavanicus juga berasal dari dua kata yakni paleo yang berarti tua dan javanicus yang berarti Jawa. Jadi Meganthropus Paleojavanicus merupakan manusia raksasa yang paling tua dari Jawa dan diperkirakan bahwa ini adalah manusia purba tertua yang ada di Indonesia dan juga dikategorikan sebagai salah satu fosil dari manusia purba yang paling primitif.

Van Koenigswald adalah orang yang menemukan fosil dari Meganthropus Paleojavanicus. Van Koenigswal adalah seorang peneliti dari Belanda yang meneliti di daerah Sangiran, Jawa Tengah pada tahun 1936 M. Pada saat penelitian di perkirakan fosil dari Meganthropus tersebut sudah berusia 1-2 juta tahun. Pada saat penemuannya, fosil Meganthropus tidaklah lengkap melainkan hanya beberapa bagian saja, seperti beberapa bagian tengkorak, rahang bawah, serta beberapa gigi yang telah terlepas. Jenis fosil dari manusia purba ini diperkirakan hidup dengan cara mengumpulkan bahan-bahan makanan dari alam terutama tumbuh-tumbuhan. Meganthropus Paleojavanicus memiliki beberapa ciri-ciri seperti :

  • Bertahan hidup dengan mengonsumsi tumbuh-tumbuhan.
  • Tidak memiliki dagu sehingga manusia purba ini lebih mirip dengan kera
  • Pada bagian kepalanya memiliki tonjolan yang tajam
  • Memiliki tulang pipi yang tebal dan juga memiliki tonjolan pada bagian kening yang mencolok.
  • Memiliki gigi,rahang, dan otot kunyah yang kuat.
  • Memiliki postur tubuh tegap.

 

2. Pithecanthropus

Jenis manusia Purba Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus merupakan jenis fosil dari manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Ada tiga jenis Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia, tiga jenis fosil Pithecanthropus tersebut adalah Pithecanthropus Erectus, Pithecanthropus Mojokertensis, dan yang terakhir adalah Pithecanthropus Soloensi. Berikut ini adalah penjelasan tentang tiga jenis Pithecanthropus tersebut :

 

a. Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus Erectus adalah fosil yang ditemukan oleh seorang dokter dari Belanda yang bernama Eugene Dubois. Pada awalnya ia melakukan penelitian di daerah Sumatra Barat tetapi disana dia tidak menemukan apa-apa, lalu telah itu ia pindah ke pulau Jawa. Disana akhirnya ia menemukan fosil Pithecanthropus Erectus di desa Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891. Fosil dari Pithecanthropus yang ditemukan juga tidaklah lengkap, fosil yang temukan berupa tulang rahang atas, tulang kaki, dan tengkorak.

Berdasarkan hasil penelitian, Pithecanthropus hidup dengan cara berburu, Pithecanthropus juga hidup secara berpindah pindah atau yang biasa disebut nomaden untuk mencari tempat yang memiliki sumber makanan yang banyak agar dapat bertahan hidup. Pithecanthropus Erectus memiliki beberapa ciri, antara lain :

  • Memiliki otak dengan volume 750 – 1350 cc yang artinya lebih besar dari Meganthropus.
  • Memiliki tinggi badan sekitar 155 – 180 cm.
  • Memiliki postur tubuh yang tegap tapi tidak setegap meganthropus.
  • Memiliki rahang dan gigi geraham yang sangat kuat.
  • Berhidung tebal.
  • Memiliki tonjolan kening yang tebal serta melintang di dahi dari satu sisi ke sisi yang lainnya.
  • Bagian wajah menonjol ke depan tetapi dahinya miring ke belakang.
  • Pada bagian belakang kepalanya juga menonjol.
  • Memiliki alat tengkuk dan alat pengunyah yang sangat kuat.

 

b. Pithecanthropus Mojokertensis

Pithecanthropus Mojokertensi memiliki nama lain Pithecanthropus Robustus. Orang yang berhasil menemukan fosil ini adalah Von Koennigswald dan fosil yang di temukan adalah fosil berupa tulang tengkorak dari anak-anak yang kemudian dinamakan Pithecanthropus Robustus. Penemuan fosil ini di temukan di daerah Lembah Sungai Brantas, Desa Jetis Mojokerto.

 

c. Pithecanthropus Soloensis

Fosil dari Pithecanthropus Soloensis ditemukan di daerah Ngandong, Lembah Begawan Solo dan juga di temukan oleh Von Koenigswald dan dibantu oleh Ter Harr dan Oppernoorth. Fosil dari Pithecanthropus Soloensis ditemukan di dua tempat yang berbeda yaitu di ditemukan di daerah Ngandong dan Sangiran pada tahun 1931 – 1939. Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak dan tulang kering.

Telah diteliti, fosil dari Pithecanthropus memiliki umur yang beragam yaitu ada yang berumur 30.000 sampai dengan 1 juta tahun yang lalu, penentuan umur tersebut dilakukan dengan pengukuran umur lapisan tanah. Dalam melakukan kegiatan sehari-hari , Pithecanthropus sudah menggunakan peralatan yang tebat dari kayu dan batu yang berhasil didapatkannya. Berdasarkan dari hasil penelitian, Pithecanthropus Soloensis belum ditemukan bahwa makanan yang dikonsumsi oleh Pithecanthropus Soloensis ini tidaklah di masak atau diolah terlebih dahulu, entah itu hewan atau tumbuhan meskipun mereka sudah menggunakan peralatan berupa batu dan kayu.

Alat yang digunakan Pithecanthropus Soloensis untuk melakukan pemburuan adalah kapak genggam , kapak Paribas, dan alat – alat serpih, perata tersebut di temukan di daerah Pacitan, Jawa Timur. Pithecanthropus Soloensis memiliki ciri – cirinya sebagai berikut :

  • Memiliki volume otak antara 750 – 1350 cc.
  • Bertinggi badan sekitar, 165 – 180.
  • Memiliki badan yang tegap tapi tidak setegap Meganthropus.
  • Memiliki tonjolan kening yang tebal dan melintang di sepanjang pelipis.
  • Memiliki hidung yang lebar dan juga tidak berdagu.
  • Memiliki gigi geraham dan rahang yang besar.
  • Memakan makanan berupa daging hasil dari buruan dan tumbuh – tumbuhan.

 

3. Homo

Jenis Manusia Purba Homo Sapiens

Homo adalah fosil yang paling muda di antara fosil – fosil manusia purba yang lainnya. Fosil ini diperkirakan berasal dari tahun 15.000 – 40.000 SM. Menurut para ahli, manusia Homo diperkirakan bukanlah manusia kera (Pithecanthropus) lagi. Melainkan sudah tergolong dalam jenis manusia (Homo), hal ini didasari karena volume otaknya sudah menyerupai dengan manusia modern seperti sekarang. Di Indonesia sendiri telah ditemukan tiga jenis manusia purba homo yaitu, Homo Soloensis, Homo Wajakensis, Homo Floresiensis. Berikut adalah penjelasan dari ketiga jenis manusia purba Homo.

 

a. Homo Soloensis

Homo Soloensis adalah manusia urban yang ditemukan di daerah Ngandong, Lembah Bengawan Solo, atau lebih tepatnya di sekitaran sungai Bengawan Solo dan ditemukan juga oleh Von Koeningswald dan juga dibantu oleh Weidenrich pada tahun 1931 – 1934. Fosil yang berhasil di temukan dalam pencarian tersebut adalah berupa tulang tengkoraknya saja. Homo Soloensis diperkirakan hidup pada tahun 900.000 sampai dengan 300.000 tahun yang lalu.

Kehidupan mereka pun sudah sudah maju karena sudah didukung dengan adanya peralatan untuk bertahan hidup. Sebagian para ahli memasukan Homo Soloensis dengan Homo Neanderthalensis dalam satu golongan. Homo Neanderthaleis sendiri adalah jenis manusia purba Homo Sapiens yang berasal dari Asia, Eropa, dan Afrika. Selain itu menurut Von Koeningswald, Homo Sapiens memilki tingkatan yang lebih tinggi daripada dengan Pithecanthropus Erectus. Ciri-ciri dari manusia Homo adalah sebagai berikut :

  1. Memiliki volume otak antara 1000-1300 cc yang sudah menyerupai manusia modern.
  2. Bertinggi badan 130- 210 cm.
  3. Memiliki wajah yang tidak menonjol ke depan.
  4. Sudah berjalan dengan tegap dengan dua kaki sehingga lebih sempurna dalam berjalan.
  5. Otot tengkuk pada manusia purba Homo mengalami penyusutan.

Selain itu juga ditemukan hasil dari kebudayaan manusia purba Homo Soloensis yaitu kapak genggam, kapak perimbas , alat-alat serpih dan juga peralatan yang terbuat dari tulang, dan masih banyak peralatan pada jaman dahulu yang lainnya.

 

b. Homo Wajakensis

Manusia purba Homo ini ditemukan di Wajak, Tulungagung, Jawa Timur, pada tahun 1889 yangg ditemukan oleh Eugene Dubois. Fosil yang ditemukan adalah tulang tengkorak, rahang bawah dan beberapa dari ruas tulang leher. Menurut penelitian para ahli, diperkirakan bahwa manusia purba Homo Wajakensis merupakan nenek moyang dari dari ras Australoid yang merupakan penduduk asli dari Australia. Ciri-ciri dari manusia purba Wajakensis adalah :

  1. Memiliki hidung yang lebar dan juga mulut yang menonjol.
  2. Wajahnya lebar dan juga datar.
  3. Tulang tengkoraknya membulat.
  4. Sedikit ada tonjolan pada bagian dahi yang sedikit mencolok.

 

c. Homo Floresiensi

Jenis fosil manusia purba ini ditemukan oleh tim arkeologi yang tergabung dari Pulistibang Arkeologi Nasional, Indonesia, dan University Of New England, Australia pada tahun 2003 melakukan penggalian di Liang Bua, Flores. Penggalian dilakukan hingga kedalaman 5 meter, hingga di temukan kerangka mirip manusia yang dijadikan sebagai fosil dengan ukuran yang kerdil. Mereka diperkirakan hidup pada tahun 94.000 – 13.000 SM. Ciri-ciri dari Homo Floresiensi adalah :

  1. Berbadan tegap.
  2. Sudah berjalan menggunakan dua kaki (bipedal).
  3. Memiliki tinggi badan sekitar 1 meter.
  4. Volume otaknya sudah mencapai 417 cc.
  5. Tidak memiliki dagu.

Perkembangan yang terjadi dari manusia purba Homo Soloensis dan Homo Wajakensis yang lebih lanjut di sebut dengan Homo Sapiens. Homo Sapiens memiliki perkembangan yang lebih sempurna dari semua manusia purba Homo yang yang pernah ada. Hal ini bisa dilihat dari cara berpikirnya, meskipun masih hidup dengan sangat sederhana tapi manusia purba Homo Sapiens inilah yang paling maju di antara semua fosil manusia purba yang telah ditemukan. Hal inilah yang menyebabkan manusia purba ini diberi nama Homo Sapiens yang memiliki arti manusia cerdas dan diperkirakan hidup 40.000 tahun yang lalu setelah masa penelitian. Homo Sapiens memiliki postur tubuh yang sama dengan manusia di jaman modern seperti sekarang, dan diperkirakan mereka adalah nenek moyang dari bangsa Indonesia.

 

Nah, itulah penjelasan mengenai manusia purba yang ada atau pernah di temukan di Indonesia. Semoga dengan adanya artikel ini bisa menambah wawasan kamu tentang manusia purba yang pernah hidup di Indonesia. Dan bila ada kesalahan dalam artikel ini maka mohon untuk dimaafkan.