√ 8 Kebudayaan Suku Jawa: Bahasa, Tradisi, Adat dan Seni

8 Kebudayaan Suku Jawa: Bahasa, Tradisi, Adat dan Seni

8 Kebudayaan Suku Jawa: Bahasa, Tradisi, Adat dan Seni

Kebudayaan Suku Jawa – Suku Jawa adalah sebuah suku para pribumi yang merupakan orang asli dari Jawa, akan tetapi tidak semua orang yang berada di pulau Jawa merupakan orang suku Jawa karena di pulau Jawa sendiri memiliki beberapa suku lain selain suku Jawa. Secara geografis pulau Jawa meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta. Dan seperti yang kita tahu di daerah Jawa Timur sendiri saja memiliki beberapa suku seperti suku Madura, suku Tengger, dan suku Osing yang ada di Banyuwangi.

Suku Jawa sendiri merupakan sebuah sebutan bagi seseorang yang identik bagi masyarakat yang masih memegang teguh filosofi dan juga pandangan hidup kejawen. Kejawen sendiri merupakan sebuah kebudayaan yang dimiliki oleh suku Jawa yang telah dijadikan sebagai sebuah peninggalan dari kerajaan-kerajaan besar yang berada di Jawa yakni kerajaan Majapahit dan kerajaan Mataram Baru.

Filosofi hidup yang digunakan oleh suku Jawa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, Budha, dan kepercayaan animisme & dinamisme. Orang dari suku Jawa biasanya sangat menjunjung tinggi keseimbangan, keserasian dan juga keselarasan terhadap sesama manusia dan juga dengan lingkungan hidup mereka. dalam melakukan kehidupannya sehari-hari orang-orang suku Jawa sangat mengedepankan etikanya seperti kesopanan, kesantunan dan juga kesederhanaan.

 

Kebudayaan Suku Jawa

Oleh karena itu dalam melakukan percakapan menggunakan bahasa Jawa di dalamnya akan terdapat beberapa tingkatan berdasarkan lawan bicaranya. Bagi kamu yang ingin lebih tahu kebudayaan dari suku Jawa lebih dalam, berikut ini adalah ulasan tentang kebudayaan-kebudayaan yang dimiliki oleh suku Jawa.

 

1. Filosofi Hidup

Seseorang yang tinggal di pulau Jawa pada dasarnya memiliki banyak sekali filosofi atau filsafat hidup yang mereka gunakan sebagai sebuah pedoman dalam melakukan kehidupan sehari-hari dan juga pada saat bermasyarakat. Akan tetapi untuk suku Jawa sendiri memiliki 7 buah filosofi dasar yang dapat dijadikan sebagai sebuah gambaran tentang perilaku budaya suku Jawa. Berikut ini adalah 7 filosofi dari suku Jawa,

  • Urip Iku Urup yang artinya adalah “Hidup itu menyala”. Makna dari kalimat tersebut adalah bahwa setiap manusia yang hidup haruslah dapat bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan alam yang ada di sekitarnya.
  • Ojo Keminter Mengko Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko yang artinya “Jangan menjadi orang yang sombong atas kepandaian yang dimiliki dan janganlah menyakiti orang lain agar tidak dicelakai”. Makna dari kalimat tersebut adalah setiap orang harus tetap rendah hati dan juga sportif.
  • Ojo Ketungkul Marang Jenenge Kalenggahan, Kadunyan lan Kemareman yang artinya adalah “Janganlah menjadi orang yang gila akan jabatan, harta, dan kenyamanan”. Makna dari kalimat tersebut adalah agar setiap manusia tidak terlalu mengejar-ngejar dan mengutamakan jabatan, harta, dan kenikmatan dunia.
  • Wong Jowo Kuwi Gampang Ditekak-tekuk artinya adalah “Bahwa orang Jawa adalah orang-orang yang mudah untuk diarahkan atau di atur). Makna dari kalimat tersebut adalah orang Jawa merupakan orang yang mudah untuk melakukan adaptasi dengan berbagai keadaan yang ada di lingkungannya.
  • Memayu Hayuning ing Bawana, Ambrasta dur Hangkara artinya adalah “Membangun sebuah kebaikan dan mencegah kemungkaran”. Makna dari kalimat tersebut adalah dalam melakukan kehidupannya dunia manusia haruslah banyak-banyak membangun kebaikan dan memberantas segala sifat yang tercela.
  • Mangan ora mangan sing penting kumpul artinya adalah “Kebersamaan haruslah diutamakan”. Makna dalam kalimat tersebut adalah kita sebagai manusia harus hidup dengan cara gotong-royong dan melakukan kebersamaan karena hal tersebut sangatlah penting.
  • Nrimo Ing Pandum artinya adalah “Menerima setiap pemberian dari tuhan”. Makna dalam kalimat tersebut adalah kita sebagi umat manusia haruslah selalu bersyukur atas apa saja yang telah tuhan berikan kepada kita.

 

2. Ajaran Kejawen

Ajaran kejawen sendiri sebenarnya adalah sebuah kompilasi yang berasal dari seni, budaya, adat ritual, sikap sosial, dan juga berbagai hal yang telah dijadikan sebagai suatu pandangan filosofi bagi suku Jawa. Bagi masyarakat suku Jawa yang masih memegang teguh ajaran kejawen biasanya memiliki ajaran tersendiri yang dijadikan sebagai sebuah nilai spiritual tersendiri. Banyak sekali masyarakat dari suku Jawa yang masih menyimpan kitab-kitab kejawen yang mana kitab-kitab tersebut merupakan sebuah karya dari para Mpu pada masa-masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar di Jawa. Hal tersebut menyebabkan ajaran kejawen sudah hampir seperti sebuah agama tersendiri bagai para masyarakat suku Jawa.

Syekh Siti Jenar yang merupakan seseorang yang terkenal akan gagasannya yakni Manunggaling Kawula lan Gusti merupakan seorang tokoh yang sangat identik dan tidak dapat dilepaskan dengan munculnya sebuah ajaran kejawen. Dalam ajaran kejawen, inti dalam pembelajarannya adalah untuk mengajarkan manusia terhadap apa yang di sebut dengan Sangkan Paraning Dumadhi yang berarti semua akan kembali kepada Sang Pencipta. Setelah itu ia membentuk dan juga mengarahkan manusia sesuai dengan agama dan Tuhan yang dipercayainya yang merupakan arti dari gagasannya yakni Manunggaling Kawula lan Gusti. Maksud dari gagasan tersebut adalah setiap manusia harus bertindak sesuai dengan tindakan dan juga sifat yang dimiliki oleh Tuhannya.

Agar dapat tercapainya hal tersebut maka seorang suku Jawa haruslah melakukan sebuah tindakan agar dapat terciptanya pribadi yang sesuai dengan Tuhan yang dipercayai dan diikutinya itu. Salah satu cara untuk melakukan hal tersebut adalah dengan melakukan puasa dan juga bersemedi. Jadi itulah yang menyebabkan sebuah ajaran kejawen merupakan sebuah bentuk dari nilai spiritual dari suku Jawa.

 

3. Wayang Kulit

pengertian wayang

Wayang kulit adalah sebuah kebudayaan yang berasal dari suku Jawa, dan kebudayaan yang satu ini juga bisa dikatakan sangat khas. Wayang sendiri berasal dari kata ayang-ayang yang berarti bayangan. Wayang kulit yang dimiliki suku Jawa sangat berbeda dengan wayang golek yang dimiliki oleh Sunda. Dalam melakukan pewayangan, suku Jawa selalu membawakan ataupun menggambarkan sebuah cerita tentang kegiatan sehari-hari manusia pada saat hidup di dunia, yaitu tentang melakukan peperangan terhadap angkara murka dan perjuangan manusia dalam membangun sebuah kebajikan. Hal yang disampaikan dalam pewayangan sangat sesuai dengan filosofi-filosofi hidup yang selalu dipegang teguh oleh para orang-orang suku Jawa.

Dan pada akhirnya kesenian wayang kulit menjadi semakin tersebar dan memiliki banyak peminat pada saat walisongo menggunakan media wayang kulit sebagai media yang mereka gunakan dalam melakukan dakwahnya. Lalu biasanya cerita yang digunakan dalam pewayangan adalah cerita yang diambil Eri kisah Mahabaratha dan Ramayana. Namun dalam pewayangan biasanya alur cerita dalam kisah tersebut telah di ubah. Dan seorang narator yang memainkan wayang kulit dinamakan dengan dalang. Dalang inilah yang mengatur alur dari cerita yang disampaikan dan juga merupakan seseorang yang menggerakkan para tokoh wayang.

Baca Juga: Pengertian Wayang.

Selain digunakan sebagai sembah kesenian, wayang kulit juga dipercaya oleh suku Jawa dapat mendatangkan kekuatan-kekuatan magis yang berasal dari para leluhur dan juga kekuatan magis yang berasal dari tuhan yang maha pencipta. Maka dari itu wayang kulit juga di tampilkan pada saat akan melakukan sebuah ritual ruwat. Ruwatan sendiri merupakan sebuah upacara adat yang bertujuan untuk membuang bala atau kesulitan dan kesialan.

 

4. Keris

Keris adalah sebuah senjata tajam tradisional yang berasal dari suku Jawa dan keris juga dijadikan sebagai sebuah lambang kedaulatan dari raja-raja yang berada di luar pulau Jawa. Sedangkan untuk para raja-raja yang berada di pulau Jawa menjadikan keris sebagai sebuah pusaka yang memiliki kekuatan magis di dalamnya. Hal inilah yang menyebabkan keris juga disebut sebagai tosan aji atau sebuah alat yang memiliki kesaktian.

Berdasarkan sejarah yang ada terdapat beberapa keris yang dianggap sebagai keris yang istimewa, salah satunya adalah keris yang dimiliki oleh Mpu Gandring yang di curi oleh Ken Arok dan kemudian digunakan untuk menguasai kerajaan SIngasari dan berhasil. Adapun keris lain yang dianggap istimewa seperti Keris Nagasasra dan Keris Sabuk Inten yang sangat terkenal di daerah Demak, lalu keris yang dimiliki oleh sunan Bonang yang ia beri nama dengan sunan Kober, dan masih banyak lagi keris yang dianggap sebagai keris istimewa lainnya.

Baca Juga: Senjata Tradisional.

Sebuah keris bisa dipercayai sebagai tosan aji jika dalam proses pembuatannya seorang Mpu yang merupakan sebutan bagi pengrajin keris melakukan laku spiritual berupa puasa ataupun bertapa. Selain menggabungkan berbagai material pada saat pembuatan keris, ia juga membacakan berbagai macam matra ataupun doa terhadap keris yang ia buat. Bahkan setiap lekukan yang terdapat dalam keris juga bisa digunakan sebagai makan kekuatan yang terdapat di dalam keris.

 

5. Aksara Jawa

aksara jawa

Suku Jawa juga memiliki urus untuk tulisannya sendiri, huruf tersebut dinamakan dengan aksara Jawa. Di dalam aksara Jawa terdiri dari 20 karakter yakni  Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga yang mana di setiap huruf tersebut memiliki makna dan juga filosodinya masing-masing. Dalam sejarah terdapat banyak sekali yang menyebutkan tentang asal-usul dari aksara Jawa ini, namun di antara semua sejarah yang ada dan diketahui oleh masyarakat Jawa cerita tentang Babad Ajisaka lah yang paling populer.

Baca Juga: Aksara Jawa.

Cerita tentang Babad Ajisaka sendiri mengisahkan tentang seorang pengembara yang juga merupakan seorang penguasa dari kerajaan Jawa kuno yang di dampingi oleh seorang abdi (pembantu). Pada saat melakukan perjalanan, Ajisaka meninggalkan keris yang ia miliki di tengah hutan dan kemudian menyuruh abdinya untuk menjaga iris miliknya dan ia juga diberi perintah untuk tidak memberikan keris tersebut kepada siapa pun kecuali kepada Ajisaka. Setelah itu Ajisaka pun melanjutkan perjalanannya untuk mengembara seorang diri.

Setelah Ajisaka melakukan perjalanan yang cukup lama, Ajisaka pun kembali menuju ke kerajaannya. Dan setelah sekian lama berada di kerajaan, ia baru mengingat bahwa keris pusaka yang ia miliki itu masih tertinggal pada saat ia melakukan pejalan. Dan kemudian ia pun mengutus seorang bawahannya untuk mengambil keris milikinya yang masih berada di tengah hutan. Ia berpesan kepada bawahannya untuk tidak kembali ke kerajaan jika ia tidak bisa membawa kembali keris miliknya itu.

Pada saat sudah sampai di tengah hutan, ia bertemu dengan seorang abdi yang sedang menjaga keris milik Ajisaka. Karena mereka sama-sama di utus oleh Ajisaka, mereka pun melakukan sebuah pertarungan untuk saling merebut keris miliki Ajisaka karena mereka sama-sama memegang teguh amanah yang diperintahkan hingga pada akhirnya kedua abdi Ajisaka pun tewas.

Pada saat di kerajaan Ajisaka mengingat bahwa di tengah hutan juga terdapat abdinya yang di utus untuk menjaga keris miliknya, setelah itu Ajisaka menyusul kedua abdinya itu ke tengah hutan. Namun pada saat sudah sampai di tengah hutan ia menemukan kedua abdi setianya sudah tewas. Dan sebagai bentuk penghormatan atas kedua abdi sekaligus utusan kemudian Ajisaka memutuskan untuk merumuskan tulisan yang hingga pada saat ini dikenal dengan aksara Jawa. Berikut ih adalah filosofi dalam aksara Jawa.

  • HaNaCaRaKa : terdapat dua utusan setia
  • DaTaSaWaLa : saling berkelahi/bertarung
  • PaDaJaYaNya : sama-sama saktinya
  • MaGaBaThaNga : sama-sama matinya.

 

6. Bahasa

Dalam bahasa Jawa terdapat beberapa tingkatan bahasa, hal tersebut karena suku Jawa sangat menjunjung tinggi etika kesopanan dan juga kesantunan dalam kehidupan sehari-hari mereka termasuk untuk bercakap-cakap. Di dalam bahasa Jawa terdapat unggah-ungguh atau tata krama dalam berbahasa. Pada umumnya terdapat 3 tingkatan dalam berbahasa antara lain :

1. Ngoko, tingkatan yang paling awal ini digunakan jika lawan bicara yang dihadapi adalah orang yang sebaya atau seumuran atau juga kepada kerabat yang sudah sangat akrab. Bahasa pada tingkatan ini juga digunakan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda.

2. Madya, pada tingkatan kedua ini adalah bahasa yang digunakan kepada orang yang memiliki umur lebih tua atau sebagai bentuk hormat kepada lawan bicara yang belum atau kurang dikenal.

3. Krama, adalah bahasa yang memiliki tingkatan paling tinggi, bahasa yang satu ini digunakan pada saat berbicara kepada orang yang lebih tua atau orang yang dituakan, dan juga kepada seseorang yang memiliki status sosial yang tinggi di dalam masyarakat.
Meskipun orang Jawa memiliki tingkatan dalam bahasa akan tetapi setiap daerah yang terdapat di Jawa memiliki logatnya masing-masing.

 

7. Seni Tari

tari wayang

Sukui Jawa juga terkenal akan kebudayaan yang dimilikinya, salah satunya adalah kesenian tari.seni tari yang dimiliki suku Jawa dengan daerah lain adalah pada tari yang terdapat di suku Jawa memiliki tata tari yang luwes, kalem dan juga santun.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kesenian tari juga memiliki unsur-unsur magis di dalamnya dan juga bersifat sakral. Contoh dari kesenian tari Jawa adalah tari reog, tari sintren, dan tari kuda lumping. Sein itu juga terdapat sembah Taian yang berasal dari Yogyakarta yang sangat kental dan di nilai memiliki kekuatan supranatural di dalamnya adalah tari bedhaya ketawang yang dam tariannya diiringi oleh gamelan dan juga memiliki ritme yang halus. Penyebab Taian ini di sakralkan karena konon Taian ini di ciptakan oleh ratu pantai selatan yakni Nyi Roro Kidul.

 

8. Seni Musik

lagu daerah jawa tengah

Suku Jawa juga memiliki beberapa alat musik yang bisa di bilang khas yang disebut dengan gamelan. Gamelan adalah sebuah gabungan yang berasal dari beberapa alat musik tradisional seperti gong, kenan, saron, bonang, kenong, dan masih banyak lagi yang lainnya. Biasanya gamelan sendiri digunakan sebagai alat pengiring dalam tari-tari tradisional khas Jawa dan juga pada pertunjukkan wayang kulit.

Baca Juga: Lagu Daerah Jawa Tengah.

Pada zaman dahulu kala, walisongo menggunakan gamelan sebagai salah satu media untuk menyebarkan agama islam, hingga pada saat ini mayoritas orang yang berada di Jawa memeluk agama islam. Gamelan juga tidak hanya dipakai atau dikenal oleh suku Jawa saja, akan tetapi suku lain juga menggunakan gamelan sebagai alat musik tradisional di dalam kebudayaannya seperti pada kebudayaan suku Sunda dan kebudayaan suku Banjar.

 

Nah, jadi itulah sedikit ulasan kebudayaan suku Jawa. Semoga dengan adanya ulasan ini kamu jadi paham bahwa salah satu suku yang ada di Indonesia yakni suku Jawa memiliki banyak sekali kebudayaan, biak itu dalam bentuk bahasa, filosofi, hingga kesenian kesenian yang kainnya. Dan asal kamu ketahui bahwa hingga sampai saat ini masih banyak sekal masyarakat dari suku Jawa terutama yang berada di daerah istimewa yogyakarta masih memegang teguh prinsip yang telah di jelaskan di atas, dan juga masih tetap melestarikan kebudayaan yang dimilikinya.



Permainan Bola Voli: Teknik Dasar, Peraturan, dan Sejarah Bola Voli

Permainan Bola Voli: Teknik Dasar, Peraturan, dan Sejarah Bola Voli

Kebudayaan Suku Jawa – Suku Jawa adalah sebuah suku para pribumi yang merupakan orang asli dari Jawa, akan tetapi tidak semua orang yang berada di pulau Jawa merupakan orang suku Jawa karena di pulau Jawa sendiri memiliki beberapa suku lain selain suku Jawa. Secara geografis pulau Jawa meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta. Dan seperti yang kita tahu di daerah Jawa Timur sendiri saja memiliki beberapa suku seperti suku Madura, suku Tengger, dan suku Osing yang ada di Banyuwangi.

Suku Jawa sendiri merupakan sebuah sebutan bagi seseorang yang identik bagi masyarakat yang masih memegang teguh filosofi dan juga pandangan hidup kejawen. Kejawen sendiri merupakan sebuah kebudayaan yang dimiliki oleh suku Jawa yang telah dijadikan sebagai sebuah peninggalan dari kerajaan-kerajaan besar yang berada di Jawa yakni kerajaan Majapahit dan kerajaan Mataram Baru.

Filosofi hidup yang digunakan oleh suku Jawa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, Budha, dan kepercayaan animisme & dinamisme. Orang dari suku Jawa biasanya sangat menjunjung tinggi keseimbangan, keserasian dan juga keselarasan terhadap sesama manusia dan juga dengan lingkungan hidup mereka. dalam melakukan kehidupannya sehari-hari orang-orang suku Jawa sangat mengedepankan etikanya seperti kesopanan, kesantunan dan juga kesederhanaan.

 

Kebudayaan Suku Jawa

Oleh karena itu dalam melakukan percakapan menggunakan bahasa Jawa di dalamnya akan terdapat beberapa tingkatan berdasarkan lawan bicaranya. Bagi kamu yang ingin lebih tahu kebudayaan dari suku Jawa lebih dalam, berikut ini adalah ulasan tentang kebudayaan-kebudayaan yang dimiliki oleh suku Jawa.

 

1. Filosofi Hidup

Seseorang yang tinggal di pulau Jawa pada dasarnya memiliki banyak sekali filosofi atau filsafat hidup yang mereka gunakan sebagai sebuah pedoman dalam melakukan kehidupan sehari-hari dan juga pada saat bermasyarakat. Akan tetapi untuk suku Jawa sendiri memiliki 7 buah filosofi dasar yang dapat dijadikan sebagai sebuah gambaran tentang perilaku budaya suku Jawa. Berikut ini adalah 7 filosofi dari suku Jawa,

  • Urip Iku Urup yang artinya adalah “Hidup itu menyala”. Makna dari kalimat tersebut adalah bahwa setiap manusia yang hidup haruslah dapat bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan alam yang ada di sekitarnya.
  • Ojo Keminter Mengko Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko yang artinya “Jangan menjadi orang yang sombong atas kepandaian yang dimiliki dan janganlah menyakiti orang lain agar tidak dicelakai”. Makna dari kalimat tersebut adalah setiap orang harus tetap rendah hati dan juga sportif.
  • Ojo Ketungkul Marang Jenenge Kalenggahan, Kadunyan lan Kemareman yang artinya adalah “Janganlah menjadi orang yang gila akan jabatan, harta, dan kenyamanan”. Makna dari kalimat tersebut adalah agar setiap manusia tidak terlalu mengejar-ngejar dan mengutamakan jabatan, harta, dan kenikmatan dunia.
  • Wong Jowo Kuwi Gampang Ditekak-tekuk artinya adalah “Bahwa orang Jawa adalah orang-orang yang mudah untuk diarahkan atau di atur). Makna dari kalimat tersebut adalah orang Jawa merupakan orang yang mudah untuk melakukan adaptasi dengan berbagai keadaan yang ada di lingkungannya.
  • Memayu Hayuning ing Bawana, Ambrasta dur Hangkara artinya adalah “Membangun sebuah kebaikan dan mencegah kemungkaran”. Makna dari kalimat tersebut adalah dalam melakukan kehidupannya dunia manusia haruslah banyak-banyak membangun kebaikan dan memberantas segala sifat yang tercela.
  • Mangan ora mangan sing penting kumpul artinya adalah “Kebersamaan haruslah diutamakan”. Makna dalam kalimat tersebut adalah kita sebagai manusia harus hidup dengan cara gotong-royong dan melakukan kebersamaan karena hal tersebut sangatlah penting.
  • Nrimo Ing Pandum artinya adalah “Menerima setiap pemberian dari tuhan”. Makna dalam kalimat tersebut adalah kita sebagi umat manusia haruslah selalu bersyukur atas apa saja yang telah tuhan berikan kepada kita.

 

2. Ajaran Kejawen

Ajaran kejawen sendiri sebenarnya adalah sebuah kompilasi yang berasal dari seni, budaya, adat ritual, sikap sosial, dan juga berbagai hal yang telah dijadikan sebagai suatu pandangan filosofi bagi suku Jawa. Bagi masyarakat suku Jawa yang masih memegang teguh ajaran kejawen biasanya memiliki ajaran tersendiri yang dijadikan sebagai sebuah nilai spiritual tersendiri. Banyak sekali masyarakat dari suku Jawa yang masih menyimpan kitab-kitab kejawen yang mana kitab-kitab tersebut merupakan sebuah karya dari para Mpu pada masa-masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar di Jawa. Hal tersebut menyebabkan ajaran kejawen sudah hampir seperti sebuah agama tersendiri bagai para masyarakat suku Jawa.

Syekh Siti Jenar yang merupakan seseorang yang terkenal akan gagasannya yakni Manunggaling Kawula lan Gusti merupakan seorang tokoh yang sangat identik dan tidak dapat dilepaskan dengan munculnya sebuah ajaran kejawen. Dalam ajaran kejawen, inti dalam pembelajarannya adalah untuk mengajarkan manusia terhadap apa yang di sebut dengan Sangkan Paraning Dumadhi yang berarti semua akan kembali kepada Sang Pencipta. Setelah itu ia membentuk dan juga mengarahkan manusia sesuai dengan agama dan Tuhan yang dipercayainya yang merupakan arti dari gagasannya yakni Manunggaling Kawula lan Gusti. Maksud dari gagasan tersebut adalah setiap manusia harus bertindak sesuai dengan tindakan dan juga sifat yang dimiliki oleh Tuhannya.

Agar dapat tercapainya hal tersebut maka seorang suku Jawa haruslah melakukan sebuah tindakan agar dapat terciptanya pribadi yang sesuai dengan Tuhan yang dipercayai dan diikutinya itu. Salah satu cara untuk melakukan hal tersebut adalah dengan melakukan puasa dan juga bersemedi. Jadi itulah yang menyebabkan sebuah ajaran kejawen merupakan sebuah bentuk dari nilai spiritual dari suku Jawa.

 

3. Wayang Kulit

pengertian wayang

Wayang kulit adalah sebuah kebudayaan yang berasal dari suku Jawa, dan kebudayaan yang satu ini juga bisa dikatakan sangat khas. Wayang sendiri berasal dari kata ayang-ayang yang berarti bayangan. Wayang kulit yang dimiliki suku Jawa sangat berbeda dengan wayang golek yang dimiliki oleh Sunda. Dalam melakukan pewayangan, suku Jawa selalu membawakan ataupun menggambarkan sebuah cerita tentang kegiatan sehari-hari manusia pada saat hidup di dunia, yaitu tentang melakukan peperangan terhadap angkara murka dan perjuangan manusia dalam membangun sebuah kebajikan. Hal yang disampaikan dalam pewayangan sangat sesuai dengan filosofi-filosofi hidup yang selalu dipegang teguh oleh para orang-orang suku Jawa.

Dan pada akhirnya kesenian wayang kulit menjadi semakin tersebar dan memiliki banyak peminat pada saat walisongo menggunakan media wayang kulit sebagai media yang mereka gunakan dalam melakukan dakwahnya. Lalu biasanya cerita yang digunakan dalam pewayangan adalah cerita yang diambil Eri kisah Mahabaratha dan Ramayana. Namun dalam pewayangan biasanya alur cerita dalam kisah tersebut telah di ubah. Dan seorang narator yang memainkan wayang kulit dinamakan dengan dalang. Dalang inilah yang mengatur alur dari cerita yang disampaikan dan juga merupakan seseorang yang menggerakkan para tokoh wayang.

Baca Juga: Pengertian Wayang.

Selain digunakan sebagai sembah kesenian, wayang kulit juga dipercaya oleh suku Jawa dapat mendatangkan kekuatan-kekuatan magis yang berasal dari para leluhur dan juga kekuatan magis yang berasal dari tuhan yang maha pencipta. Maka dari itu wayang kulit juga di tampilkan pada saat akan melakukan sebuah ritual ruwat. Ruwatan sendiri merupakan sebuah upacara adat yang bertujuan untuk membuang bala atau kesulitan dan kesialan.

 

4. Keris

Keris adalah sebuah senjata tajam tradisional yang berasal dari suku Jawa dan keris juga dijadikan sebagai sebuah lambang kedaulatan dari raja-raja yang berada di luar pulau Jawa. Sedangkan untuk para raja-raja yang berada di pulau Jawa menjadikan keris sebagai sebuah pusaka yang memiliki kekuatan magis di dalamnya. Hal inilah yang menyebabkan keris juga disebut sebagai tosan aji atau sebuah alat yang memiliki kesaktian.

Berdasarkan sejarah yang ada terdapat beberapa keris yang dianggap sebagai keris yang istimewa, salah satunya adalah keris yang dimiliki oleh Mpu Gandring yang di curi oleh Ken Arok dan kemudian digunakan untuk menguasai kerajaan SIngasari dan berhasil. Adapun keris lain yang dianggap istimewa seperti Keris Nagasasra dan Keris Sabuk Inten yang sangat terkenal di daerah Demak, lalu keris yang dimiliki oleh sunan Bonang yang ia beri nama dengan sunan Kober, dan masih banyak lagi keris yang dianggap sebagai keris istimewa lainnya.

Baca Juga: Senjata Tradisional.

Sebuah keris bisa dipercayai sebagai tosan aji jika dalam proses pembuatannya seorang Mpu yang merupakan sebutan bagi pengrajin keris melakukan laku spiritual berupa puasa ataupun bertapa. Selain menggabungkan berbagai material pada saat pembuatan keris, ia juga membacakan berbagai macam matra ataupun doa terhadap keris yang ia buat. Bahkan setiap lekukan yang terdapat dalam keris juga bisa digunakan sebagai makan kekuatan yang terdapat di dalam keris.

 

5. Aksara Jawa

aksara jawa

Suku Jawa juga memiliki urus untuk tulisannya sendiri, huruf tersebut dinamakan dengan aksara Jawa. Di dalam aksara Jawa terdiri dari 20 karakter yakni  Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga yang mana di setiap huruf tersebut memiliki makna dan juga filosodinya masing-masing. Dalam sejarah terdapat banyak sekali yang menyebutkan tentang asal-usul dari aksara Jawa ini, namun di antara semua sejarah yang ada dan diketahui oleh masyarakat Jawa cerita tentang Babad Ajisaka lah yang paling populer.

Baca Juga: Aksara Jawa.

Cerita tentang Babad Ajisaka sendiri mengisahkan tentang seorang pengembara yang juga merupakan seorang penguasa dari kerajaan Jawa kuno yang di dampingi oleh seorang abdi (pembantu). Pada saat melakukan perjalanan, Ajisaka meninggalkan keris yang ia miliki di tengah hutan dan kemudian menyuruh abdinya untuk menjaga iris miliknya dan ia juga diberi perintah untuk tidak memberikan keris tersebut kepada siapa pun kecuali kepada Ajisaka. Setelah itu Ajisaka pun melanjutkan perjalanannya untuk mengembara seorang diri.

Setelah Ajisaka melakukan perjalanan yang cukup lama, Ajisaka pun kembali menuju ke kerajaannya. Dan setelah sekian lama berada di kerajaan, ia baru mengingat bahwa keris pusaka yang ia miliki itu masih tertinggal pada saat ia melakukan pejalan. Dan kemudian ia pun mengutus seorang bawahannya untuk mengambil keris milikinya yang masih berada di tengah hutan. Ia berpesan kepada bawahannya untuk tidak kembali ke kerajaan jika ia tidak bisa membawa kembali keris miliknya itu.

Pada saat sudah sampai di tengah hutan, ia bertemu dengan seorang abdi yang sedang menjaga keris milik Ajisaka. Karena mereka sama-sama di utus oleh Ajisaka, mereka pun melakukan sebuah pertarungan untuk saling merebut keris miliki Ajisaka karena mereka sama-sama memegang teguh amanah yang diperintahkan hingga pada akhirnya kedua abdi Ajisaka pun tewas.

Pada saat di kerajaan Ajisaka mengingat bahwa di tengah hutan juga terdapat abdinya yang di utus untuk menjaga keris miliknya, setelah itu Ajisaka menyusul kedua abdinya itu ke tengah hutan. Namun pada saat sudah sampai di tengah hutan ia menemukan kedua abdi setianya sudah tewas. Dan sebagai bentuk penghormatan atas kedua abdi sekaligus utusan kemudian Ajisaka memutuskan untuk merumuskan tulisan yang hingga pada saat ini dikenal dengan aksara Jawa. Berikut ih adalah filosofi dalam aksara Jawa.

  • HaNaCaRaKa : terdapat dua utusan setia
  • DaTaSaWaLa : saling berkelahi/bertarung
  • PaDaJaYaNya : sama-sama saktinya
  • MaGaBaThaNga : sama-sama matinya.

 

6. Bahasa

Dalam bahasa Jawa terdapat beberapa tingkatan bahasa, hal tersebut karena suku Jawa sangat menjunjung tinggi etika kesopanan dan juga kesantunan dalam kehidupan sehari-hari mereka termasuk untuk bercakap-cakap. Di dalam bahasa Jawa terdapat unggah-ungguh atau tata krama dalam berbahasa. Pada umumnya terdapat 3 tingkatan dalam berbahasa antara lain :

1. Ngoko, tingkatan yang paling awal ini digunakan jika lawan bicara yang dihadapi adalah orang yang sebaya atau seumuran atau juga kepada kerabat yang sudah sangat akrab. Bahasa pada tingkatan ini juga digunakan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda.

2. Madya, pada tingkatan kedua ini adalah bahasa yang digunakan kepada orang yang memiliki umur lebih tua atau sebagai bentuk hormat kepada lawan bicara yang belum atau kurang dikenal.

3. Krama, adalah bahasa yang memiliki tingkatan paling tinggi, bahasa yang satu ini digunakan pada saat berbicara kepada orang yang lebih tua atau orang yang dituakan, dan juga kepada seseorang yang memiliki status sosial yang tinggi di dalam masyarakat.
Meskipun orang Jawa memiliki tingkatan dalam bahasa akan tetapi setiap daerah yang terdapat di Jawa memiliki logatnya masing-masing.

 

7. Seni Tari

tari wayang

Sukui Jawa juga terkenal akan kebudayaan yang dimilikinya, salah satunya adalah kesenian tari.seni tari yang dimiliki suku Jawa dengan daerah lain adalah pada tari yang terdapat di suku Jawa memiliki tata tari yang luwes, kalem dan juga santun.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kesenian tari juga memiliki unsur-unsur magis di dalamnya dan juga bersifat sakral. Contoh dari kesenian tari Jawa adalah tari reog, tari sintren, dan tari kuda lumping. Sein itu juga terdapat sembah Taian yang berasal dari Yogyakarta yang sangat kental dan di nilai memiliki kekuatan supranatural di dalamnya adalah tari bedhaya ketawang yang dam tariannya diiringi oleh gamelan dan juga memiliki ritme yang halus. Penyebab Taian ini di sakralkan karena konon Taian ini di ciptakan oleh ratu pantai selatan yakni Nyi Roro Kidul.

 

8. Seni Musik

lagu daerah jawa tengah

Suku Jawa juga memiliki beberapa alat musik yang bisa di bilang khas yang disebut dengan gamelan. Gamelan adalah sebuah gabungan yang berasal dari beberapa alat musik tradisional seperti gong, kenan, saron, bonang, kenong, dan masih banyak lagi yang lainnya. Biasanya gamelan sendiri digunakan sebagai alat pengiring dalam tari-tari tradisional khas Jawa dan juga pada pertunjukkan wayang kulit.

Baca Juga: Lagu Daerah Jawa Tengah.

Pada zaman dahulu kala, walisongo menggunakan gamelan sebagai salah satu media untuk menyebarkan agama islam, hingga pada saat ini mayoritas orang yang berada di Jawa memeluk agama islam. Gamelan juga tidak hanya dipakai atau dikenal oleh suku Jawa saja, akan tetapi suku lain juga menggunakan gamelan sebagai alat musik tradisional di dalam kebudayaannya seperti pada kebudayaan suku Sunda dan kebudayaan suku Banjar.

 

Nah, jadi itulah sedikit ulasan kebudayaan suku Jawa. Semoga dengan adanya ulasan ini kamu jadi paham bahwa salah satu suku yang ada di Indonesia yakni suku Jawa memiliki banyak sekali kebudayaan, biak itu dalam bentuk bahasa, filosofi, hingga kesenian kesenian yang kainnya. Dan asal kamu ketahui bahwa hingga sampai saat ini masih banyak sekal masyarakat dari suku Jawa terutama yang berada di daerah istimewa yogyakarta masih memegang teguh prinsip yang telah di jelaskan di atas, dan juga masih tetap melestarikan kebudayaan yang dimilikinya.