√ 65 Macam Model Pembelajaran dan 15 Gaya Pembelajaran

65 Macam Model Pembelajaran dan 15 Macam Gaya Pembelajaran

65 Macam Model Pembelajaran dan 15 Macam Gaya Pembelajaran

Macam-Macam Model Pembelajaran – Salah satu permasalahan yang dihadapi di dunia pendidikan adalah lemahnya proses pembelajaran, yang tentunya disebabkan karena masih banyak guru yang kurang dalam menguasai metode dan juga gaya pembelajaran yang efektif. Dengan adanya hal tersebut maka akan menyebabkan siswa menjadi merasa terbebani dengan materi-materi pembelajaran yang diberikan, selain itu siswa juga akan cepat bosan dan jenuh di dalam kelas.

Mungkin banyak dari kalian yang merupakan seorang guru pada saat melakukan pembelajaran di kelas sudah melakukan banyak hal untuk melakukan pendekatan dengan siswa akan tetapi hasil yang didapatkan masih nihil hingga saat ini, dan hal tersebut ditunjukkan dengan nilai dari berbagai ujian dan keterampilan siswa yang masih kau dari kata memuaskan.

Selain hal tersebut, masih juga banyak dari guru-guru yang belum menemukan cara yang efektif dalam melakukan pembelajaran sehingga dapat membuat para siswa menjadi lebih kreatif, inovatif, bertanggung jawab, dan tentunya menjadi lebih imajinatif.

Maka dari itu para guru harus bisa menguasai beberapa model pembelajaran dan juga gaya pembelajaran agar dalam proses belajar mengajar para siswa tidak merasakan bosan dan jenuh, hingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan optimal. Dengan adanya masalah tersebut, kali ini kami akan memberikan beberapa referensi tentang model pembelajaran dan gaya pembelajaran. Yang mungkin saja bisa kamu coba dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.

Dalam memilih metode pembelajaran seorang guru juga harus dapat melihat dari berbagai aspek seperti kondisi siswa, materi yang disampaikan, media yang tersedia, dan tentunya keadaan dari seorang guru. Dengan melakukan pemilihan metode yang tepat, maka kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan menyenangkan dan juga lebih optimal.

 

Model Pembelajaran

Berikut ini adalah beberapa model pembelajaran yang dapat seorang guru pilih dan gunakan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Akan tetapi metode yang akan diberikan berupa prinsip dan juga prosedur yang bersifat prinsip, jadi untuk melakukan modifikasi semuanya diserahkan kepada guru yang melakukan penyesuaian.

 

1. Koperatif (CL, Coperative Learning)

Model pembelajaran yang koperatif sangat sesuai dengan fitri manusia yang merupakan manusia sosial yang tidak dapat hidup sendi, memiliki sebuah tujuan dan juga tanggung jawab bersama, pembagian tugas dan memiliki rasa senasib. Dengan adanya kenyataan tersebut, seorang guru harus bisa memanfaatkannya dengan cara melatih siswa untuk melakukan kegiatan belajar berkelompok secara koperatif, siswa juga dilatih dan juga dibiasakan agar dapat saling berbagi ilmu pengetahuan yang di dapat, pengalaman dan juga tanggung jawab.

Dengan melakukan kerja sama dan berlatih melakukan komunikasi, berinteraksi, dan visualisasi juga dapat bermanfaat untuk melakukan hidup bermasyarakat, selain itu siswa juga diajarkan agar dapat menyadari tentang kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.

Jadi bisa disimpulkan bahwa, model pembelajaran koperatif adalah salah satu model pembelajaran yang dilakukan dengan cara berkelompok agar dapat terciptanya kerja sama di antara para siswa dalam mengkonstruksi sebuah konsep, menyelesaikan sebuah masalah, atau inkuiri.

Agar di dalam kelompok kohesif (kompak-partisipatif), sebaiknya setiap kelompok beranggotakan dari 4-5 orang siswa, di mana pembagiannya bisa di lakukan secara acak atau membaginya berdasarkan kemampuan, lalu meminta tanggung jawab dari hasil kelompok berupa presentasi. Sinta dari pembelajaran koperatif adalah pemberian informasi, pengarahan dan strategi, membentuk sebuah kelompok yang heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kerja kelompok, laporan.

 

2. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)

Realistic Mathematics Education (RME) pada awalnya dikembangkan oleh seseorang pada saat di Belanda yakni Freud, dengan menggunakan pola guided reninvention dalam melakukan konstruksi konsep dan aturan melalui procces of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, prinsip, algoritma, konsep, aturan yang digunakan pada saat menyelesaikan sebuah persoalan, dan proses dunia empirik) dan juga matematika vertikal (reorganisasi matematika yang melalui sebuah proses terhadap dunia rasio dan pengembangan matematika).

Prinsip yang terdapat di dalam RME adalah aktivitas, konstruksivis, realitas/ bermaknanya proses di dalam sebuah aplikasi, pemahaman betuk secara formal maupun informal, Inter-twinment/keterkaitan antara interkoneksi dengan sebuah konsep, interaksi/pembelajaran digunakan sebagai sebuah media untuk berbagi ilmu pengetahuan, dan bimbingan dari seorang guru dalam sebuah pembelajaran.

 

3. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)

Model pembelajaran kontekstual adalah sebuah model pembelajaran yang diawali dengan sebuah tanya jawab secara lisan yang berkaitan dengan kehidupan dari para siswa di dunia nyata, dengan begitu maka akan terasa sekali manfaat dari materi yang akan di sajikan, munculnya motivasi belajar para siswa, pikiran para siswa menjadi lebih konkret, suasana menjadi lebih kondusif, nyaman dan tentunya menyenangkan.

Prinsip dari pembelajaran yang satu ini adalah aktivitas para siswa, siswa pernah melakukan dan juga mengalami, tidak hanya kedengaran dan kemudian mencatat saja, dan pengembangan kemampuan siswa dalam melakukan sosialisasi.

Terdapat 7 indikator yang terdapat di dalam pembelajaran kontekstual yang merupakan pembeda dengan konsep yang lain, yakni

  1. Modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh)
  2. Questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi)
  3. Learning community (seluruh siswa diwajibkan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran baik secara berkelompok maupun individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan)
  4. Inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan)
  5. Constructivism (membentuk sebuah pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis)
  6. Reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut)
  7. Authentic assessment (penilaian terhadap proses dan juga hasil pembelajaran, penilaian terhadap setiap kegiatan siswa, penilaian hasil portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara).

 

4. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)

Dalam menyampaikan sebuah ilmu pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural di mana hal tersebut menjurus pada keterampilan para siswa maka akan lebih efektif jika disampaikan atau dilakukan menggunakan pembelajaran secara langsung. Sintaknya adalah menyiapkan para siswa, berikan sajian berupa informasi dan prosedur, melakukan latihan terbimbing, refleksi, mengerjakan latihan mandiri, dan yang terakhir adalah melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dipelajari dan diperoleh dalam pelajaran tersebut. Model pembelajaran ini juga biasanya disebut sebagai model pembelajaran ceramah bervariasi.

 

5. Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL, Problem Based Learning)

Dalam melakukan kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah terlepas dengan apa yang dinamakan dengan masalah. Pada saat menggunakan model pembelajaran yang satu ini dapat melatih dan mengembangkan kemampuan dari para siswa dalam menyelesaikan berbagai masalah yang berorientasi pada masalah yang otentik pada kehidupan aktual para siswa, agar dapat merangsang kemampuan para siswa agar dapat berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi.

Kondisi dalam melakukan pembelajaran harus tetap terjaga agar pembelajaran dapat berjalan dengan kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, terciptanya suasana yang nyaman, dan juga menyenangkan bagi para siswa, sehingga para siswa dapat berpikir secara optimal. Indikator dalam model pembelajaran yang satu ini adalah metakognitif, analisis, interpreksi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, sintesis, inkuiri, konjektur, generalisasi.

 

6. Problem Solving

Dalam model pembelajaran yang satu ini, masalah uang ada didefinisikan sebagai sebuah persoalan yang tidak rutin, akan tetapi justru problem solving juga bertujuan untuk mencari dan dan juga menemukan sebuah cara untuk menyelesaikan masalah yang ada baik itu berupa pola, aturan, ataupun algoritma.

Sintak dari model pembelajaran yang satu ini adalah sajikan sebuah masalah yang sesuai dengan kriteria yang sudah ada di atas, siswa memecahkan masalah secara individu ataupun berkelompok, siswa melakukan identifikasi terhadap masalah yang disajikan, melekaskan eksplorasi, investigasi, menduga, dan kemudian menemukan dan mengemukakan solusi yang didapatkan.

 

7. Problem Posing

Bentuk lain dari problem solving adalah problem posing, yakni memecahkan suatu maslah yang disajikan dengan melalui elaborasi, yakni merumuskan kembali masalah yang ada menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana sehingga akan lebih mudah untuk dipahami. Sinta dari model pembelajaran yang satu ini adalah pemahaman, jalan keluar, identifikasi terhadap kekeliruan yang , minimalisasi tulisan dan juga perhitungan, mencari jalan alternatif, dan terakhir adalah menyusun soal atau pertanyaan dari masalah yang disajikan.

 

8. Pembelajaran Bersiklus (Cycle Learning)

Pada tahun 1993 seseorang yang bernama Ramsey mengemukakan bahwa pembelajaran yang efektif harus dilakukan dengan cara bersiklus, mulai dari eksplorasi atau melakukan deskripsi, melakukan sebuah eksplanasi, dan kemudian diakhiri dengan aplikasi. Eksplorasi sendiri artinya menggali lebih dalam tentang pengetahuan prasyarat, eksplanais adalah mengenalkan para siswa dengan sebuah konsep yang baru, dan yang terakhir adalah aplikasi yang berarti penggunaan konsep ke dalam sebuah yang berbeda.

 

9. Reciprocal Learning

Pada tahun 1998 terdapat dua orang yakni Weinstein dan Mayer mengemukakan bahwa di dalam sebuah pembelajaran terdapat empat hal yang harus diperhatikan, yakni bagaimana cara siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri sendiri.

Dan sedangkan pada tahun 1999 seseorang yang bernama Resnik mengemukakan bahwa agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dengan menggunakan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis agar terwujud sebuah pembelajaran yang efektif. Dan pada 1999 Donna Mayer mengemukakan sebuah pembelajaran yang risprokal, yakni : informasi, pengarahan , mengerjakan LKSD atau model dengan cara berkelompok, dan kemudian membaca rangkuman.

 

10. SAVI (Somatic, Auditory, Visualization, and Intellectualy)

SAVI adalah sebuah model pembelajaran di mana dalam melakukan kegiatan belajar mengajar para siswa haruslah menekankan semua indera yang dimilikinya. Istilah SAVI adalah sebuah kependekan dari Somatic yang memiliki makna gerakan tubuh (Hans-on, aktivitas fisik) yakni sebuah pembelajaran di mana selain mempelajari siswa juga pernah mengalami ataupun melakukannya.

Lalu Auditory memiliki maksud bahwa dalam melakukan kegiatan pembelajaran para para siswa harus melakukan proses pendengaran, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakakn pendapat dan menanggapi. Visualization memiliki makna bahwa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar haruslah menggunakan indera penglihatan yakni mata dengan melalui proses mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga.

Ana yang terakhir adalah Intellectualy yang berarti bahwa dalam kegiatan pembelajaran para siswa harulah menggunakan kemampuannya untuk berpikir, dalam belajar para siswa haruslah berkonsentrasi pada pikirannya dan berlatih menggunakan nalarnya, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.

 

11. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)

Model pembelajaran yang satu ini menganggap bahwa pembelajaran dapat lebih efektif jika memperhatikan tiga hal yakni visualization atau penglihatan, audiotory atau pendengaran dan kinestetik atau pemahaman. Dengan kata lain sebagai seorang guru dapat memanfaatkan potensi yang terdapat pada diri para siswanya dan kemudian melatih dan juga mengembangkan potensi tersebut. Islah yang digunakan pun hampir sama dengan SAVI

 

12. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)

Model pembelajaran yang satu ini hampir sama dengan SAVI dan VAK, yang membedakannya dengan vak adalah pada repetisi yang terdapat di dalamnya. Repetisi tersebut berisikan pengulangan yang memiliki sebuah makna yang mendalam, perluasan,pemantapan dengan cara memberikan para siswa ukir atau tugas.

 

13. STAD (Student Teams Achievement Division)

STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang koperatif. Sintaks dari pembelajaran yang satu ini adalah : pengarahan, membuat beberapa kelompok heterogen dimana dalam siap kelompok beranggotakan 4-5 siswa, mendiskusikan bahan belajar atau LKS ataupun modul dengan cara yang kolabratif, mempresentasikan hasil dari diskusi pada kerja kelompok, lakukan sebuah kuis individual dan buatlah sebuah skor yang berguna untuk melihat perkembangan dari setiap siswa dan juga kelompok, umumkan hasil yang diperoleh dari setiap tim atau individu, dan terakhir berikan reward bagi tim yang paling unggul.

 

14. NHT (Numbered Head Together)

NHT merupakan salah satu dari model pembelajaran koperatif dengan menggunakan sintal-sintal : pengarahan, buatlah beberapa kelompok heterogen dan setiap siswa masing-masing siswa memiliki nomor-nomor tertentu. Berikanlah bahan ajar berupa persoalan materi (untuk setiap kelompok yang sama akan tetapi untuk setiap siswa tidak sesuai dengan nomor siswa yang diberikan, setiap siswa yang memiliki nomor yang sama maka mereka akan mengerjakan persoalan yang sama dengan cara berkelompok), presentasikan hasil dari diskusi kerja kelompok yang sesuai dengan tugasnya masing-masing sehingga dapat tercapai sebuah diskusi kelas.

Lakukan kuis individual dan kemudian catat skor dari setiap siswa punuk melihat perkembangannya, dan yang terakhir memberikan reward bagi siswa yang memiliki skor yang paling tunggul.

 

15. TPS (Think Pairs Share)

Model yang satu ini juga bisa dikatakan sebagai model pembelajaran yang koperatif dengan menggunakan sintaks guru menyajikan sebuah persoalan yang klasikal, berikan persoaln tersebut kepada para siswa dan kemudian persoalan tersebut diselesaikan dengan cara berkelompok dengan siswa yang duduk pada bangku (Think Pairs), dan kemudian presentasikan hasil dari diskusi tersebut (Share), buatlah kuasi individual, lihatlah perkembangan dari setiap siswa dengan menilainya menggunakan skor, dan yang terakhir adalah mengumumkan siswa yang paling unggul untuk diberikan reward.

 

16. MEA (Means-Ends Analysis)

MEA salah satu bagian dari model pembelajaran variasi yang berasal dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan menggunakan, sintaks menyajikan materi dengan melakukan pendekatan dalam pemecahan masalah yang berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lehih sederhana, mengidentifikasi perbedaan, menyusun sub-sub suatu masalah sehingga dapat saling terhubung, pilihlah strategi koneksi.

 

17. CPS (Creative Problem Solving)

CPS juga merupakan sebuah variasi pembelajaran dengan melakukan pemecahan masalah dengan teknik sistematik dalam mengorganisasikan suatu gagasan kreatif agar dapat menyelesaikan suatu masalah. Sintaks yang digunakan adalah mulai dari memberikan sebuah fakta yang aktual dan sesuai dengan materi pembelajaran melalui sesi tanya jawab, identifikasi setiap permasalahan yang ada kemudian fokus atau pilih.

Kemudian mengolah pemikiran yang ada sehingga dapat menemukan sebuah gagasan orisinal yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang diberikan, presentasikan hasil dari pemecahan masalah dan juga berdiskusi.

 

18. TTW (Think Talk Write)

Pada saat menggunakan model yang satu ini, pembelajaran dimulai dengan berpikir terhadap bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternatif solusi), kemudian hasil dari bacaan tersebut dikomunikasikan pada saat melakukan sebuah presentasi, diskusikan, dan kemudian buatlah sebuah laporan dari hasil presentasi. Sintaksnya adalah informasi, kelompok (membaca/mencatat/menenadai), presentasi, diskusi, dam kemudian membuat laporan.

 

19. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)

Sintaks dari model pembelajaran yang satu ini adalah (C) koneksi terhadap informasi lama ataupun baru dan juga koneksi antar konsep, (O) organisasi ide untuk memahami suatu materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali lebih dalam lagi materi yang diberikan, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan mengemuka materi yang diperoleh.

 

20. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)

DMR adalah sebuah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan dan juga pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaks dari model pembelajaran yang satu ini adalah persiapan, pendahuluan, pengembangan, penerapan, dan penutup.

 

Nah, selain tips diatas berikut ini adalah beberapa tipsnya, antara lain

  • Probing-prompting
  • Problem Terbuka (OE, Open Ended)
  • TGT (Teams Games Tournament)
  • TAI (Team Assisted Individualy)
  • Jigsaw
  • GI (Group Investigation)
  • TS-TS (Two Stay – Two Stray)
  • SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
  • SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)
  • MID (Meaningful Instructionnal Design)
  • KUASAI
  • CRI (Certainly of Response Index)
  • DLPS (Double Loop Problem Solving)
  • CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)
  • IOC (Inside Outside Circle)
  • Tari Bambu
  • Artikulasi
  • Debate
  • Role Playing
  • Talking Stick
  • Snowball Throwing
  • Student Facilitator and Explaining
  • Course Review Horay
  • Demostration
  • Explicit Instruction
  • Scramble
  • Pair Checks
  • Make-A Match
  • Mind Mapping
  • Examples Non Examples
  • Picture and Picture
  • Cooperative Script
  • Cooperative Script
  • Improve
  • Generatif
  • Circuit Learning
  • Complette Sentence
  • Concept Sentence
  • Time Token
  • Take and Give
  • Superitem
  • Hibrid
  • Treffinger
  • Kumon
  • Quantum

 

Macam Macam Metode Pembelajaran

Metodologi mengajar merupakan sebuah ilmu yang mempelajari berbagai macam cara untuk melakukan sebuah aktivitas yang telah tersistem dari sebuah lingkungan yang pendidik dan juga peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga dalam melakukan proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan maksud dari pembelajaran juga dapat tercapai.

Agar tujuan dari suatu pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan apa yang sudah diatur oleh pendidik, maka pendidik harus dapat mengetahui, mempelajari dan kemudian mempraktekkan metode mengajar pada saat melakukan kegiatan pembelajaran. Berikut ini adalah macam-macam metode dalam mengajar.

  1. Metode Ceramah (Preaching Method)
  2. Metode Diskusi (Discussion Method)
  3. Metode Demontrasi (Demonstration Method)
  4. Metode Ceramah Plus
  5. Metode Resitasi (Recitation Method)
  6. Metode Percobaan ( Experimental Method )
  7. Metode Karya Wisata
  8. Metode Latihan Keterampilan ( Drill Method )
  9. Metode Mengajar dengan Cara Bekelompok ( Team Teaching Method )
  10. Metode Mengajar Sesama Siswa ( Peer Teaching Method )
  11. Metode Dengan Melakukan Pemecahan Masalah ( Problem Solving Method )
  12. Metode Perancangan ( Projeck Method )
  13. Metode Bagian ( Teileren Method )
  14. Metode Global (Ganze Method )
  15. Metode Discovery

 

Nah, jadi itulah beberapa model pembelajaran dan gaya pembelajara untuk kegiatan pembelajaran. Semoga dengan adanya artikel ini dapat membantu kamu agar dapat menjadi seorang guru yang baik dan dapat membuat para murid yang kalian ajar dapat belajar dengan maksimal.



Teks Proklamasi: Isi, Sejarah, Perumusan, Perbedaan, Makna

Teks Proklamasi: Isi, Sejarah, Perumusan, Perbedaan, Makna

Macam-Macam Model Pembelajaran – Salah satu permasalahan yang dihadapi di dunia pendidikan adalah lemahnya proses pembelajaran, yang tentunya disebabkan karena masih banyak guru yang kurang dalam menguasai metode dan juga gaya pembelajaran yang efektif. Dengan adanya hal tersebut maka akan menyebabkan siswa menjadi merasa terbebani dengan materi-materi pembelajaran yang diberikan, selain itu siswa juga akan cepat bosan dan jenuh di dalam kelas.

Mungkin banyak dari kalian yang merupakan seorang guru pada saat melakukan pembelajaran di kelas sudah melakukan banyak hal untuk melakukan pendekatan dengan siswa akan tetapi hasil yang didapatkan masih nihil hingga saat ini, dan hal tersebut ditunjukkan dengan nilai dari berbagai ujian dan keterampilan siswa yang masih kau dari kata memuaskan.

Selain hal tersebut, masih juga banyak dari guru-guru yang belum menemukan cara yang efektif dalam melakukan pembelajaran sehingga dapat membuat para siswa menjadi lebih kreatif, inovatif, bertanggung jawab, dan tentunya menjadi lebih imajinatif.

Maka dari itu para guru harus bisa menguasai beberapa model pembelajaran dan juga gaya pembelajaran agar dalam proses belajar mengajar para siswa tidak merasakan bosan dan jenuh, hingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan optimal. Dengan adanya masalah tersebut, kali ini kami akan memberikan beberapa referensi tentang model pembelajaran dan gaya pembelajaran. Yang mungkin saja bisa kamu coba dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.

Dalam memilih metode pembelajaran seorang guru juga harus dapat melihat dari berbagai aspek seperti kondisi siswa, materi yang disampaikan, media yang tersedia, dan tentunya keadaan dari seorang guru. Dengan melakukan pemilihan metode yang tepat, maka kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan menyenangkan dan juga lebih optimal.

 

Model Pembelajaran

Berikut ini adalah beberapa model pembelajaran yang dapat seorang guru pilih dan gunakan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Akan tetapi metode yang akan diberikan berupa prinsip dan juga prosedur yang bersifat prinsip, jadi untuk melakukan modifikasi semuanya diserahkan kepada guru yang melakukan penyesuaian.

 

1. Koperatif (CL, Coperative Learning)

Model pembelajaran yang koperatif sangat sesuai dengan fitri manusia yang merupakan manusia sosial yang tidak dapat hidup sendi, memiliki sebuah tujuan dan juga tanggung jawab bersama, pembagian tugas dan memiliki rasa senasib. Dengan adanya kenyataan tersebut, seorang guru harus bisa memanfaatkannya dengan cara melatih siswa untuk melakukan kegiatan belajar berkelompok secara koperatif, siswa juga dilatih dan juga dibiasakan agar dapat saling berbagi ilmu pengetahuan yang di dapat, pengalaman dan juga tanggung jawab.

Dengan melakukan kerja sama dan berlatih melakukan komunikasi, berinteraksi, dan visualisasi juga dapat bermanfaat untuk melakukan hidup bermasyarakat, selain itu siswa juga diajarkan agar dapat menyadari tentang kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.

Jadi bisa disimpulkan bahwa, model pembelajaran koperatif adalah salah satu model pembelajaran yang dilakukan dengan cara berkelompok agar dapat terciptanya kerja sama di antara para siswa dalam mengkonstruksi sebuah konsep, menyelesaikan sebuah masalah, atau inkuiri.

Agar di dalam kelompok kohesif (kompak-partisipatif), sebaiknya setiap kelompok beranggotakan dari 4-5 orang siswa, di mana pembagiannya bisa di lakukan secara acak atau membaginya berdasarkan kemampuan, lalu meminta tanggung jawab dari hasil kelompok berupa presentasi. Sinta dari pembelajaran koperatif adalah pemberian informasi, pengarahan dan strategi, membentuk sebuah kelompok yang heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kerja kelompok, laporan.

 

2. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)

Realistic Mathematics Education (RME) pada awalnya dikembangkan oleh seseorang pada saat di Belanda yakni Freud, dengan menggunakan pola guided reninvention dalam melakukan konstruksi konsep dan aturan melalui procces of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, prinsip, algoritma, konsep, aturan yang digunakan pada saat menyelesaikan sebuah persoalan, dan proses dunia empirik) dan juga matematika vertikal (reorganisasi matematika yang melalui sebuah proses terhadap dunia rasio dan pengembangan matematika).

Prinsip yang terdapat di dalam RME adalah aktivitas, konstruksivis, realitas/ bermaknanya proses di dalam sebuah aplikasi, pemahaman betuk secara formal maupun informal, Inter-twinment/keterkaitan antara interkoneksi dengan sebuah konsep, interaksi/pembelajaran digunakan sebagai sebuah media untuk berbagi ilmu pengetahuan, dan bimbingan dari seorang guru dalam sebuah pembelajaran.

 

3. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)

Model pembelajaran kontekstual adalah sebuah model pembelajaran yang diawali dengan sebuah tanya jawab secara lisan yang berkaitan dengan kehidupan dari para siswa di dunia nyata, dengan begitu maka akan terasa sekali manfaat dari materi yang akan di sajikan, munculnya motivasi belajar para siswa, pikiran para siswa menjadi lebih konkret, suasana menjadi lebih kondusif, nyaman dan tentunya menyenangkan.

Prinsip dari pembelajaran yang satu ini adalah aktivitas para siswa, siswa pernah melakukan dan juga mengalami, tidak hanya kedengaran dan kemudian mencatat saja, dan pengembangan kemampuan siswa dalam melakukan sosialisasi.

Terdapat 7 indikator yang terdapat di dalam pembelajaran kontekstual yang merupakan pembeda dengan konsep yang lain, yakni

  1. Modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh)
  2. Questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi)
  3. Learning community (seluruh siswa diwajibkan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran baik secara berkelompok maupun individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan)
  4. Inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan)
  5. Constructivism (membentuk sebuah pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis)
  6. Reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut)
  7. Authentic assessment (penilaian terhadap proses dan juga hasil pembelajaran, penilaian terhadap setiap kegiatan siswa, penilaian hasil portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara).

 

4. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)

Dalam menyampaikan sebuah ilmu pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural di mana hal tersebut menjurus pada keterampilan para siswa maka akan lebih efektif jika disampaikan atau dilakukan menggunakan pembelajaran secara langsung. Sintaknya adalah menyiapkan para siswa, berikan sajian berupa informasi dan prosedur, melakukan latihan terbimbing, refleksi, mengerjakan latihan mandiri, dan yang terakhir adalah melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dipelajari dan diperoleh dalam pelajaran tersebut. Model pembelajaran ini juga biasanya disebut sebagai model pembelajaran ceramah bervariasi.

 

5. Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL, Problem Based Learning)

Dalam melakukan kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah terlepas dengan apa yang dinamakan dengan masalah. Pada saat menggunakan model pembelajaran yang satu ini dapat melatih dan mengembangkan kemampuan dari para siswa dalam menyelesaikan berbagai masalah yang berorientasi pada masalah yang otentik pada kehidupan aktual para siswa, agar dapat merangsang kemampuan para siswa agar dapat berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi.

Kondisi dalam melakukan pembelajaran harus tetap terjaga agar pembelajaran dapat berjalan dengan kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, terciptanya suasana yang nyaman, dan juga menyenangkan bagi para siswa, sehingga para siswa dapat berpikir secara optimal. Indikator dalam model pembelajaran yang satu ini adalah metakognitif, analisis, interpreksi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, sintesis, inkuiri, konjektur, generalisasi.

 

6. Problem Solving

Dalam model pembelajaran yang satu ini, masalah uang ada didefinisikan sebagai sebuah persoalan yang tidak rutin, akan tetapi justru problem solving juga bertujuan untuk mencari dan dan juga menemukan sebuah cara untuk menyelesaikan masalah yang ada baik itu berupa pola, aturan, ataupun algoritma.

Sintak dari model pembelajaran yang satu ini adalah sajikan sebuah masalah yang sesuai dengan kriteria yang sudah ada di atas, siswa memecahkan masalah secara individu ataupun berkelompok, siswa melakukan identifikasi terhadap masalah yang disajikan, melekaskan eksplorasi, investigasi, menduga, dan kemudian menemukan dan mengemukakan solusi yang didapatkan.

 

7. Problem Posing

Bentuk lain dari problem solving adalah problem posing, yakni memecahkan suatu maslah yang disajikan dengan melalui elaborasi, yakni merumuskan kembali masalah yang ada menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana sehingga akan lebih mudah untuk dipahami. Sinta dari model pembelajaran yang satu ini adalah pemahaman, jalan keluar, identifikasi terhadap kekeliruan yang , minimalisasi tulisan dan juga perhitungan, mencari jalan alternatif, dan terakhir adalah menyusun soal atau pertanyaan dari masalah yang disajikan.

 

8. Pembelajaran Bersiklus (Cycle Learning)

Pada tahun 1993 seseorang yang bernama Ramsey mengemukakan bahwa pembelajaran yang efektif harus dilakukan dengan cara bersiklus, mulai dari eksplorasi atau melakukan deskripsi, melakukan sebuah eksplanasi, dan kemudian diakhiri dengan aplikasi. Eksplorasi sendiri artinya menggali lebih dalam tentang pengetahuan prasyarat, eksplanais adalah mengenalkan para siswa dengan sebuah konsep yang baru, dan yang terakhir adalah aplikasi yang berarti penggunaan konsep ke dalam sebuah yang berbeda.

 

9. Reciprocal Learning

Pada tahun 1998 terdapat dua orang yakni Weinstein dan Mayer mengemukakan bahwa di dalam sebuah pembelajaran terdapat empat hal yang harus diperhatikan, yakni bagaimana cara siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri sendiri.

Dan sedangkan pada tahun 1999 seseorang yang bernama Resnik mengemukakan bahwa agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dengan menggunakan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis agar terwujud sebuah pembelajaran yang efektif. Dan pada 1999 Donna Mayer mengemukakan sebuah pembelajaran yang risprokal, yakni : informasi, pengarahan , mengerjakan LKSD atau model dengan cara berkelompok, dan kemudian membaca rangkuman.

 

10. SAVI (Somatic, Auditory, Visualization, and Intellectualy)

SAVI adalah sebuah model pembelajaran di mana dalam melakukan kegiatan belajar mengajar para siswa haruslah menekankan semua indera yang dimilikinya. Istilah SAVI adalah sebuah kependekan dari Somatic yang memiliki makna gerakan tubuh (Hans-on, aktivitas fisik) yakni sebuah pembelajaran di mana selain mempelajari siswa juga pernah mengalami ataupun melakukannya.

Lalu Auditory memiliki maksud bahwa dalam melakukan kegiatan pembelajaran para para siswa harus melakukan proses pendengaran, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakakn pendapat dan menanggapi. Visualization memiliki makna bahwa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar haruslah menggunakan indera penglihatan yakni mata dengan melalui proses mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga.

Ana yang terakhir adalah Intellectualy yang berarti bahwa dalam kegiatan pembelajaran para siswa harulah menggunakan kemampuannya untuk berpikir, dalam belajar para siswa haruslah berkonsentrasi pada pikirannya dan berlatih menggunakan nalarnya, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.

 

11. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)

Model pembelajaran yang satu ini menganggap bahwa pembelajaran dapat lebih efektif jika memperhatikan tiga hal yakni visualization atau penglihatan, audiotory atau pendengaran dan kinestetik atau pemahaman. Dengan kata lain sebagai seorang guru dapat memanfaatkan potensi yang terdapat pada diri para siswanya dan kemudian melatih dan juga mengembangkan potensi tersebut. Islah yang digunakan pun hampir sama dengan SAVI

 

12. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)

Model pembelajaran yang satu ini hampir sama dengan SAVI dan VAK, yang membedakannya dengan vak adalah pada repetisi yang terdapat di dalamnya. Repetisi tersebut berisikan pengulangan yang memiliki sebuah makna yang mendalam, perluasan,pemantapan dengan cara memberikan para siswa ukir atau tugas.

 

13. STAD (Student Teams Achievement Division)

STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang koperatif. Sintaks dari pembelajaran yang satu ini adalah : pengarahan, membuat beberapa kelompok heterogen dimana dalam siap kelompok beranggotakan 4-5 siswa, mendiskusikan bahan belajar atau LKS ataupun modul dengan cara yang kolabratif, mempresentasikan hasil dari diskusi pada kerja kelompok, lakukan sebuah kuis individual dan buatlah sebuah skor yang berguna untuk melihat perkembangan dari setiap siswa dan juga kelompok, umumkan hasil yang diperoleh dari setiap tim atau individu, dan terakhir berikan reward bagi tim yang paling unggul.

 

14. NHT (Numbered Head Together)

NHT merupakan salah satu dari model pembelajaran koperatif dengan menggunakan sintal-sintal : pengarahan, buatlah beberapa kelompok heterogen dan setiap siswa masing-masing siswa memiliki nomor-nomor tertentu. Berikanlah bahan ajar berupa persoalan materi (untuk setiap kelompok yang sama akan tetapi untuk setiap siswa tidak sesuai dengan nomor siswa yang diberikan, setiap siswa yang memiliki nomor yang sama maka mereka akan mengerjakan persoalan yang sama dengan cara berkelompok), presentasikan hasil dari diskusi kerja kelompok yang sesuai dengan tugasnya masing-masing sehingga dapat tercapai sebuah diskusi kelas.

Lakukan kuis individual dan kemudian catat skor dari setiap siswa punuk melihat perkembangannya, dan yang terakhir memberikan reward bagi siswa yang memiliki skor yang paling tunggul.

 

15. TPS (Think Pairs Share)

Model yang satu ini juga bisa dikatakan sebagai model pembelajaran yang koperatif dengan menggunakan sintaks guru menyajikan sebuah persoalan yang klasikal, berikan persoaln tersebut kepada para siswa dan kemudian persoalan tersebut diselesaikan dengan cara berkelompok dengan siswa yang duduk pada bangku (Think Pairs), dan kemudian presentasikan hasil dari diskusi tersebut (Share), buatlah kuasi individual, lihatlah perkembangan dari setiap siswa dengan menilainya menggunakan skor, dan yang terakhir adalah mengumumkan siswa yang paling unggul untuk diberikan reward.

 

16. MEA (Means-Ends Analysis)

MEA salah satu bagian dari model pembelajaran variasi yang berasal dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan menggunakan, sintaks menyajikan materi dengan melakukan pendekatan dalam pemecahan masalah yang berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lehih sederhana, mengidentifikasi perbedaan, menyusun sub-sub suatu masalah sehingga dapat saling terhubung, pilihlah strategi koneksi.

 

17. CPS (Creative Problem Solving)

CPS juga merupakan sebuah variasi pembelajaran dengan melakukan pemecahan masalah dengan teknik sistematik dalam mengorganisasikan suatu gagasan kreatif agar dapat menyelesaikan suatu masalah. Sintaks yang digunakan adalah mulai dari memberikan sebuah fakta yang aktual dan sesuai dengan materi pembelajaran melalui sesi tanya jawab, identifikasi setiap permasalahan yang ada kemudian fokus atau pilih.

Kemudian mengolah pemikiran yang ada sehingga dapat menemukan sebuah gagasan orisinal yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang diberikan, presentasikan hasil dari pemecahan masalah dan juga berdiskusi.

 

18. TTW (Think Talk Write)

Pada saat menggunakan model yang satu ini, pembelajaran dimulai dengan berpikir terhadap bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternatif solusi), kemudian hasil dari bacaan tersebut dikomunikasikan pada saat melakukan sebuah presentasi, diskusikan, dan kemudian buatlah sebuah laporan dari hasil presentasi. Sintaksnya adalah informasi, kelompok (membaca/mencatat/menenadai), presentasi, diskusi, dam kemudian membuat laporan.

 

19. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)

Sintaks dari model pembelajaran yang satu ini adalah (C) koneksi terhadap informasi lama ataupun baru dan juga koneksi antar konsep, (O) organisasi ide untuk memahami suatu materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali lebih dalam lagi materi yang diberikan, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan mengemuka materi yang diperoleh.

 

20. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)

DMR adalah sebuah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan dan juga pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaks dari model pembelajaran yang satu ini adalah persiapan, pendahuluan, pengembangan, penerapan, dan penutup.

 

Nah, selain tips diatas berikut ini adalah beberapa tipsnya, antara lain

  • Probing-prompting
  • Problem Terbuka (OE, Open Ended)
  • TGT (Teams Games Tournament)
  • TAI (Team Assisted Individualy)
  • Jigsaw
  • GI (Group Investigation)
  • TS-TS (Two Stay – Two Stray)
  • SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
  • SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)
  • MID (Meaningful Instructionnal Design)
  • KUASAI
  • CRI (Certainly of Response Index)
  • DLPS (Double Loop Problem Solving)
  • CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)
  • IOC (Inside Outside Circle)
  • Tari Bambu
  • Artikulasi
  • Debate
  • Role Playing
  • Talking Stick
  • Snowball Throwing
  • Student Facilitator and Explaining
  • Course Review Horay
  • Demostration
  • Explicit Instruction
  • Scramble
  • Pair Checks
  • Make-A Match
  • Mind Mapping
  • Examples Non Examples
  • Picture and Picture
  • Cooperative Script
  • Cooperative Script
  • Improve
  • Generatif
  • Circuit Learning
  • Complette Sentence
  • Concept Sentence
  • Time Token
  • Take and Give
  • Superitem
  • Hibrid
  • Treffinger
  • Kumon
  • Quantum

 

Macam Macam Metode Pembelajaran

Metodologi mengajar merupakan sebuah ilmu yang mempelajari berbagai macam cara untuk melakukan sebuah aktivitas yang telah tersistem dari sebuah lingkungan yang pendidik dan juga peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga dalam melakukan proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan maksud dari pembelajaran juga dapat tercapai.

Agar tujuan dari suatu pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan apa yang sudah diatur oleh pendidik, maka pendidik harus dapat mengetahui, mempelajari dan kemudian mempraktekkan metode mengajar pada saat melakukan kegiatan pembelajaran. Berikut ini adalah macam-macam metode dalam mengajar.

  1. Metode Ceramah (Preaching Method)
  2. Metode Diskusi (Discussion Method)
  3. Metode Demontrasi (Demonstration Method)
  4. Metode Ceramah Plus
  5. Metode Resitasi (Recitation Method)
  6. Metode Percobaan ( Experimental Method )
  7. Metode Karya Wisata
  8. Metode Latihan Keterampilan ( Drill Method )
  9. Metode Mengajar dengan Cara Bekelompok ( Team Teaching Method )
  10. Metode Mengajar Sesama Siswa ( Peer Teaching Method )
  11. Metode Dengan Melakukan Pemecahan Masalah ( Problem Solving Method )
  12. Metode Perancangan ( Projeck Method )
  13. Metode Bagian ( Teileren Method )
  14. Metode Global (Ganze Method )
  15. Metode Discovery

 

Nah, jadi itulah beberapa model pembelajaran dan gaya pembelajara untuk kegiatan pembelajaran. Semoga dengan adanya artikel ini dapat membantu kamu agar dapat menjadi seorang guru yang baik dan dapat membuat para murid yang kalian ajar dapat belajar dengan maksimal.