Arwina Nur Dyah Utami Penikmat musik dan senja, selamat membaca tulisan saya. Suka banget menulis dan baca novel.

Tembang Macapat: Pengertian, Jenis Asal Mula dan Contoh Tembang Macapat

12 min read

tembang macapat

Tembang Macapat – Tembang macapat adalah salah satu tembang alias puisi tradisional yang asalnya dari Jawa. Tembang macapat merupakan tembang atau puisi tradisional jawa yang menceritakan setiap tahap kehidupan yang dialami oleh setiap manusia.

Pada filosofinya, tembang ini menceritakan kehidupan manusia mulai dari dia lair, kemudian tumbuh menjadi anak anak, tumbuh menjadi seorang yang dewasa, kemudian hingga dia menutup matanya untuk selamanya atau meninggal dunia. Tembang macapat sendiri memiliki sebutan tembang cilik.

 

Asal Mula Tembang Macapat

Tembang Macapat adalah tembang yang pada awalnya diperkenalkan pada akhir masa Majapahit dan pada masa awal pengaruh dari Walisanga. Dapat dikatakan jika ini untuk situasi Jawa Tengah, karena di Jawa Timur dan juga Bali macapat ternyata sudah dikenal sebelum datangnya islam.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya sebuah teks dari Bali atau Jawa Timur yang dikenal dengan Kidung Ranggalawe yang diduga telah terselesaikan di tahun 1334 masehi.

Disisi lain tarikh ini disangsikan sebab karya ini hanya dikenal versinya yang lebih mutakhir serta sari semua naskah yang memuat tulisan asal Bali.

Perihal usia dari tembang macapat, ada dua pendapat yang berbeda terutama yang memiliki hubunganya dengan puisi jawa kuno, yang mana usianya lebih tua. Prijohoetomo mengatakan bahwa macapat merupakan keturunan kakawin dengan tembang gedhe (besar) sebagai perantara.

Namun pendapat itu disangkal oleh Poerbatjaraka dan Zoetmulder. Menurut mereka macapat ini adalah metrum puisi asli jawa yang usianya lebih tua dari kakawin. Sebab itu, macapat baru muncul sehabis pengaruh india mulai memudar.

 

 

Pengertian Guru Gatra, Guru Lagu, Guru Wilangan.

Tembang macapat adalah tembang yang memiliki aturan. Pada tembang macapat juga terdapat beberapa aturan yang harus dipenuhi sehingga dapat diidentifikasi tembang macapat jenis apakan itu. Berikut adalah aturan-aturan yang ada di tembang macapat.

  • Guru Gatra adalah jumlah dari banyaknya larik atau jumlah dari larik atau baris didalam satu bait.
  • Guru Lagu adalah persamaan suara sajak pada akhir kata didalam setiap baris.
  • Guru Wilangan adalah banyaknya jumlah suku kata didalam setiap baris.

Dikarenakan adanya beberapa aturan seperti Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan jadi tembang macapat dapat dibedakan menjadi 11 tembang seperti yang tertera dibawah ini.

 

 

Jenis Tembang Macapat dan Contohnya

Jenis tembang macapat beserta contohnya akan tertera pada artikel yang satu ini. Tembang macapat sendiri juga memiliki banyak jenis seperti maskumambang, mijil, sinom dan masih banyak lagi. Berikut merupakan urutan dari Jenis Tembang Macapat.

 

Jenis Tembang Macapat “Maskumambang”

Tembang ini menceritakan tentang filosofi kehidupan manusia yang dimulai dari embrio di dalam kandungan, yang masih tidak diketahui jati diri orang ini entah itu laki-laki atau perempuan.

Dari segi pandang yang lainya Maskumambang memiliki 2 kata yaitu “Mas” dan “Kumambang”. Kemudian mas berasal dari kata “Mas” adalah berasal dari premas yang memiliki arti Punggawa dalam upacara  Shaministis.

Kemudian Kumambang sendiri berasal dari kambang dengan sisipan -um. Kambang sendiri memiliki arti kamwang yang berarti kembang Ambang berkaitan dengan Ambangse yang berarti menembang yang disertai sajian bunga.

Didalam serat Purwaukara, Maskumambang memiliki arti Ulam Toya atau ikan air tawar. Hal ini yang menyebabkan terkadang diisyaratkan dengan ikan berenang atau lukisan.

Watak dari maskumambang ialah memiliki suasana sedih atau kedukaan serta suasana hati yang sedang nelangsa. Kemudian jumlah dari aturan dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari maskumambang ialah:

(12i, 6a, 8i, 8o).

 

kemudian untuk contoh dari jenis tembang macapat maskumambang ini ialah seperti yang ada dibawah ini:

Apan kaya mangkono watekkaneki,
Sanadyan wong tuwa,
Sing duwe watek kang becik,
Miwah tindak kang prayoga
 
Tembang macapat maskumambang diatas mempunyai makna sebagai berikut:
Mempunyai sifat atau watak yang seperti itu,
Walau dia adalah orang tua,
Namun memiliki sifat atau perilaku yang tidaklah baik,
Serta perbuatan yang tidaklah pantas.

 

  • Guru Gatra Maskumambang adalah 4 yang artinya tembang maskumambang memiliki 4 garis kalimat.
  • Guru Wilangan Maskumambang adalah 12, 6, 8, 8 yang memiliki arti pada baris pertama terdapat 12 suku kata, baris kedua 6 suku kata, baris ketiga 8 suku kata dan baris keempat 8 suku kata.
  • Guru Lagu Maskumambang adalah i, a, i, o yang berarti  akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus memiliki vokal i, a, i, o.

 

Jenis Tembang Macapat “Mijil”

Filosofi dari tembang Mijil adalah melambangkan bentuk dari sebuah biji atau benih yang terlahir di dunia. Tembang macapat mijil sendiri menjadi lambang dari permulaan perjalanan seseorang di dunia ini. Dia sangatlah suci dan lemah yang membuatnya memerlukan perlindungan.

Pada segi pandang lain, Tembang Macapat mijil memiliki arti keluar. Selain itu, berhubungan juga dengan wijil yang mempunyai makna lawang atau pintu. Kemudian lawang juga memiliki arti nama jenis tumbuhan yang memiliki bau wangi. Kemudian untuk watak dari tembang mijil ialah mencerminkan keterbukaan yang tepat untuk mengeluarkan nasehat, cerita-cerita serta asmara.

Contoh tembang mijil :

Madya ratri kentarnya mangikis,
Sira Sang lir sinom,
Saking taman miyos katekane,
Datan ing nggon cethine udani,
Lampahe lestari,
Wus midak marga Gung.

Artinya:

Pada tengah malah adalah suasana yang mencekam,
Dia Lah seorang pemuda,
Dari taman keluar lewat pintu belakang,
Tak ada yang menanyakan,
Berjalan dengan selamat,
Telah sampai ke jalan besar.

 

 Jenis Tembang Macapat “Sinom”

Tembang macapat sinom memiliki makna pucuk atau  yang baru tumbuh serta bersemi. Kemudian untuk filosofi tembang macapat sinom ini merupakan penggambaran seorang manusia yang tumbuh beranjak dewasa serta telah menjadi remaja yang mulai tumbuh.

Pada saat remaja, tugas dari mereka merupakan menuntut ilmu dengan sebaik mungkin untuk bekal kelak di masa yang akan datang nanti. Dari segi pandang lainya, Sinom memiliki keterkaitan dengan kata sinoman atau perkumpulan para pemuda guna membantu orang yang sedang punya hajat.

Terdapat pula orang yang berasumsi bahwa sinom berkaitan dengan upacara anak anak pada zaman dahulu. Bahkan sinom juga bisa saja merujuk kepada daun dari pepohonan yang masih amat muda yang menjadikanya sering diisyaratkan dengan lukisan daun muda.

Contoh tembang sinom :

Dasar karoban pawarta
Bebaratan udan lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yen pamikir sayekti
Mundhak napa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Sasiraman banyu lali
Lamun tuwuh dados makembanging beka.
Artinya:
Berdasarkan cuma mendengar berita
Ibaratnya cuma kabar dimulut saja
Akan diposisikan sebagai pejabat
Yang akhirnya tertipu
Jika dipikir Benar benar
Apa gunanya menjadi seorang pemimpin
Cuma akan membuat kesalahan
Disiram dengan hati yang lupa diri
Hanya menjadi buah bibir saja.

 

Jenis Tembang Macapat “Kinanthi”

Tembang macapat kinanti berasal dari kata ‘kanthi’ yang memiliki arti menggandeng alias menuntun. Tembang ini mempunyai filosofi kehidupan yaitu hidup dari seorang anak yang memerlukan tuntunan dari orang lain supaya dapat berjalan dengan baik di kehidupan ini.

Kemudian watak dari tembang ini ialah menggambarkan perasaan yang bahagia , teladan yang baik, nasehat serta kasih sayang.

Contoh tembang kinanthi :

Kinanthi panglipur wuyung
Rerenggane prawan sunthi
Mboten pasah doyan nginang
Tapih pinjung tur mantesi
Mendah gene kang dewasa
Lemah langit gonjang ganjing
Artinya:
Bersamaan dengan penghibur asmara
Hiasannya perawan muda
Tidak biasa makan kinang
Memakai kain panjang serta pantas
Apalagi nanti jika dewasa
Tanah langit akan bergerak.

Jenis Tembang macapat “Asmarandana”

Jenis tembang macapat Asmarandhana  berasal dari kata ‘asmara’ yang memiliki arti kisah cinta. Filosofi dari tembang asmarandana ini berkaitan dengan perjalanan hidup manusia yang sudah pada waktunya untuk memadu jenjang kasih dengan pasangan hidupnya.

Kemudian juka dilihat dari segi pandang lain asmarandana berasal dari kata asmara dan dhana. Asmara yang memiliki makna nama dewa percintaan dan kemudian dhana yang memiliki arti api.

Asmarandana juga ada kaitanya dengan peristiwa hangusnya dewa asmara yang disebabkan oleh sorotan dari mata ketiga dewa siwa seperti yang tertulis pada kakawin asmarandana karya Mpu Darmaja.

Didalam serat purwaukara asmarandana diberi makna remen ing paweweh yang memiliki maksud atau arti suka memberi. Sifat atatu watak asmarandana adalah menggambarkan asmara, cinta kasih, dan juga rasa pilu serta sedih.

Contoh tembang macapat asmarandana :

Kidung kedresaning kapti,
Yayah nglamong ora mangsa,
Hingan silarja asline,
Satata samaptaptinya,
Ngadep rakiting ruksa,
Kuat tumaneming siku,
Narimo sakeh kasrakat.
Artinya:
Nyanyian keseriusan hati,
Seolah melaju tanpa kenal waktu,
Sampai keselamatan yang paling hakiki,
Selalu siap hatinya,
Melawan rangkaian gangguan,
Kuat Mengatasi kemarahan,
Menerima segala penderitaan.

Jenis Tembang Macapat “Gambuh”

Jenis tembang macapat gambuh mempunyai arti menghubungkan atau menyambungkan. Lalu filosofi dari jenis tembang macapat ini ialah menceritakan tentang perjalanan hidup dari seseorang yang sudah bertemu dengan pasangan hidupnya yang cocok.

Mereka dipertemukan dengan tujuan untuk menjalin ikatan yang jauh lebih sakral yaitu melalui jalur pernikahan.

Dari segi pandang yang lainnya gambuh memiliki arti ronggeng tahu, nama tumbuhan dan terbiasa. Kaitanya dengan hal yang satu ini. Tembang gambuh mempunyai watak atau biasa dipakai saat suasana yang esti atau tidak ada keraguan, maksudnya yaitu kesiapan untuk berani maju menuju medan yang sebenarnya.

Jenis tembang macapat gambuh memiliki watak keramahtamahan dan tentang persahabatan. Jenis tembang macapat yang satu ini digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita kehidupan.

Contoh tembang macapat gambuh :

Ilang Kasopanipun,
Ora bayu weyane ngalumpuk,
Sakciptane wardaya kang bebayani,
Ubayane ora payu,
Amung ketaman pakewuh.
Artinya:
Hilang Kesopananya,
Tidak mempunyai kekuatan serta lemah,
Hal yang dilakukan selalu berbahaya,
Sumpah serta janji yang hanya di mulut,
Ujungnya hanya akan bertemu sesuatu yang tidak membuat hati senang.

Jenis Tembang Macapat “Dhandhanggula”

Kata dhandhanggula memiliki dua kata yaitu ‘dandang’ dan ‘gula’ yang memiliki maksud sesuatu yang manis. Filosofi dari tembang yang satu ini merupakan gambaran kehidupan pasangan baru yang sedang berbahagia karena sudah berhasil mendapatkan apa yang telah meraka cita-citakan.

Kehidupan yang manis merupakan sesuatu yang dirasakan bersama keluarga dengan perasaan yang sangat membahagiakan. Didalam serat Purwaukara, dhandhanggula memiliki arti ngajeng-ajeng kasaean yang memiliki makna jika diartikan ke bahasa indonesia merupakan menunggu-nunggu kebaikan.

Kemudian jenis tembang macapat dhandhaggula ini memiliki watak menggambarkan dari sifat yang lebih universal atau luwes serta merasuk kedalam hati.Jenis tembang ini digunakan untuk menuturkan kisah dalam berbagai hal dan kondisi  apa saja.

Contoh tembang macapat dhandhanggula :

Yogyanira ing para prajurit
Lamun saget samiyo anuladha
Duk kang nguni caritane
Andelira sang Prabu
Sasrabau kang Maespati
Asma Patih Suwanda
Lelabuhanipun
Sing ginelung tri prakara
Guna kaya gelen ingkang den antepi
Nuhoni trah utama
Artinya:
Sepatutnya para prajurit
Mustinya dapat mencontoh
Seperti kisah jaman dulu
Kepercayaan Si Prabu
Sasrabau di Maespati
Memiliki nama Patih Suwondo
Lelabuhannya
Yang dibingkai tiga perkara
Berguna seperti akan dipegang teguh
Mencontoh keluarga utama.

Jenis Tembang Macapat “Durma”

Jenis tembang macapat durma memiliki arti pemberian. Jenis tembang macapat durma memiliki filosofi kehidupan yang mengalami duka, selisih serta kekurangan akan sesuatu.

Jenis tembang macapat ini mengajarkan supaya dalam hidup ini manusia harus bisa saling memberi dan melengkapi satu sama lain hingga kehidupanpun bisa seimbang.

Dari hal itu durma bisa memiliki sifat atau watak yang biasa digunakan dalam suasana yang seram. Jenis tembang macapat durma dikatakan seperti lagu yang akan digunakan saat akan perang bisa disimpulkan jika jenis tembang macapat durma mempunyai watak tegas kerasdan juga penuh dengan amarah yang bergejolak.

Contoh tembang macapat durma :

Mundur sing dadi tata krama
Dur kuwi duratmoko duroko dursila
Dur kuwi durmogati dursosono duryudono
Dur udur tan bisa nimbang rasa
Dur udur paribasan pari kena
Artine nglaras rasa jroning durma
Sinom dhandanggula ing sinedya
Lali purwaduksina kelon asmaradana
Lali wangsiting ibu lan rama
Mangkono werdine gambuh durma
Amelet wong enom ing ngarcapada
Pan mangkono
Jarwane paribasan parikena

 

Artinya:

Mundur menjauh dari etika
Dur, itu maling, penjahat tak beretika
Dur, seperti Durmogati, dursasana, Duryudana
Dur, yang bisa untuk menimbang perasaan
Dur, memiliki pribahasa
Yang berarti
Sinom dhandanggula di senadya
Lupa perasaan karena dimabuk cinta
Lupa dengan ibu dan ayah
Dengan itu bisa mencelakakan
Orang orang muda yang bersahabat
Dengan seperti itu
Kata dari suatu pepatah

 

Jenis Tembang Macapat “Pangkur”

Jenis tembang macapat pangkur memiliki asal kata mungkur atau dapat diartikan menjadi meninggalkan.  Jenis tembang macapat yang satu ini memiliki filosofi yang menceritakan seseorang yang sudah siap meninggalkan segala sesuatu yang memiliki sifat duniawi dan mencoba mendekatkan diri kepada tuhan.

Dari segi pandang yang lainya pangkur memiliki asal dari kata punggala dalam kalangan pendetaan seerti yang sudah tercantum pada piagam-piagam bahasa kuno.

Kemudian di dalam serat Purwaukara, jenis tembang macapat pangkur ini mempunyai arti buntut alias ekor. Karenanya, pangkur kadang kali  diberi sasmita atau isyarat tut yang mempunyai makna mengekor, tut wuri serta tut wuntat yang memiliki arti mengikuti.

Watak dari jenis tembang macapat yang satu ini adalah kuat, gagah, perkasa, dan hati yang besar. Jenis tembang macapat yang satu ini digunakan untuk menceritakan kisah para pahlawan, perjuangan, dan peperangan.

Contoh tembang macapat pangkur :

Bayu ingkang kaping tiga,
Kuwera kang sekawanipun nenggih,
Baruna kalimanipun,
Yama Candra lan Brama,
Jangkep wolu den pasthi mangka ing prabu,
Anggenira ngastha brata, sayekti ing narapati.
Artinya:
Yang ketiga mrupakan Bayu,
Yang keempat ialah Kuwera,
Yang kelima ialah Baruna,
Yang keenam Yama ketujuh Candra kedelapan Brama,
Genap delapan itu pasti sang Prabu,
Yang dilakukannya tapa brata, benar-benar menjadikan seorang raja.

Jenis tembang macapat “megatruh”

Jenis tembang macapat yang satu ini memiliki dua kata yaitu  “megat” serta “ruh” yang jika diartikan maka akan menjadi putusnya roh atau telah terpisahnya antara roh dengan tubuh. Lalu filosofi yang terdapat pada jenis tembang macapat yang satu ini ialah tentang perjalanan manusia di bumi yang telah selesai.

Kemudian dari segi pandang yang lain, megatruh berasal dari awalan am, pegat serta ruh. Dalam serat Purwaukara megatruh mempunyai makna mbucal kan sarwa ala atau jika dibahasakan dalam bahasa indonesia berarti membuang semua yang memiliki sifat jelek.

Kata pegat terdapat hubungan dengan kata peget yang memiliki maksud istana atau tempat tinggal. Samgat atau samget mempuanyi makna jabatan ahli atau guru agama. Kemudian megatruh disimpulkan memiliki arti petugas yang ahli dalam kerohanian yang sifatnya ingin selalu menghindari perbuatan yang jahat.

Kemudian watak dari tembang megatruh yaitu kesedihan serta kedukaan. Biasanya jenis tembang yang satu ini menceritakan mengenai kehilangan harapan serta rasa putus asa.

Contoh tembang megatruh :

Hawya mutus ngudiya ronging budyayu,
Margane suka basuki,
Dimen luwar ing kinayun,
Kalising pandadi sisip,
Ingkang taberi prihatos.
Artinya:
Jangan berhenti untuk berbuat kebaikan,
Jalan untuk menuju kesenangan serta keselamatan,
Agar tercapai semua keinginan,
Terhindarkan dari perbuatan yang tidak-tidak,
Yang selalu prihatin.

Jenis Tembang Macapat “Pocung”

Jenis tembang macapat pocung berasal dari kata pocong yang menceritakan pada saat seseorang yang telah meningal dan sudah dibungkus atau dikafani yang diberi nama pocong sebelum akhirnya dikuburkan.

Filosofi dari tembang yang satu ini menujukan tentang sebuah suatu ritual pada waktu melepaskan kepergian sesorang. Kemudian jika dari segi pandang yang lain ada yang menafsirkan bahwa pocung adalah biji kepayang.

Kemudian didalam serat Purwaksara, pocung mempunyai arti kudhuping gegodhongan yang tampak segar. Kata ‘cung’ yang ada didalam kata pocung mengarah ke hal-hal yang lucu sifatnya, yang membuat kesegaran misalnya kucung dan kacung.

Jenis tembang macapat pocung biasanya digunakan untuk menceritakan berbagai nasehat.Tembang pocung ini menceritakan kebebasan serta tindakan sesuka hati yang menjadikan pocung berwatak atau dapat digunakan dikeadaan yang santai.

Contoh tembang pocung :

Ngelmu iku kalakone kanthi laku,
Lekase lawan kas,
Tegese kas nyantosani,
Setya budya pangekese dur angkara.
Artinya:
Ilmu itu dijalani dengan penuh perbuatan,
Dimulai dari kemauan,
Maksudnya kemauan yang menguatkan,
Ketulusan budi pekerti merupakan penakluk kejahatan.

Demikianlah penjelasan singkat tentang Jenis Tembang Macapat yang dapat saya uraikan, mulai dari pengertian hingga urutan dari seluruh jenis tembang macapat. Tembang macapat adalah warisan budaya yang harus kita jaga serta lestarikan keberadaanya agar anak cucu kita nanti masih bisa melihat atau menggunakan kebudayaan yang telah kita jaga ini.

Arwina Nur Dyah Utami Penikmat musik dan senja, selamat membaca tulisan saya. Suka banget menulis dan baca novel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DarkLight