Peristiwa Rengasdengklok: Latar Belakang, Tujuan, Kronologi

8 min read

peristiwa rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok – Peristiwa Rengasdengklok adalah suatu peristiwa yang yang kejadiannya berdekatan dengan waktu terjadinya proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut dapat dikatakan sebagai peristiwa yang terjadi pada saat momen yang krusial untuk menyelesaikan perjuangan bangsa Indonesia guna mencapai kemerdekaan.

Peristiwa Rengasdengklok dapat dibilang sebagai peristiwa yang berada di tahap klimaks penyelesaian. Sebagai bangsa Indonesia tentu kita wajib untuk menghargai setiap perjuangan yang telah dilakukan oleh para pahlawan untuk membela tanah air, karena tanpa mereka mungkin bangsa Indonesia tidak akan bisa hidup tenang seperti saat ini.

 

Latar Belakang Terjadinya Peristiwa Rengasdengklok

Suatup tidak akan terjadi tanpa dilatarbelakangi oleh beberapa memiliki hubungan dengan terjadinya peristiwa tersebut. Terdapat tiga peristiwa yang menjadi latar belakang terjadinya Rengasdengklok. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

 

Latar Belakang Pertama

Latar belakang dari peristiwa Rengasdengklok sendiri yang paling pertama adalah Jepang yang telah kalah oleh Amerika serikat yang mana pada saat itu Jepang tengah menjajah bangsa Indonesia. Jepang menyatakan dirinya telah kalah perang setelah kota Hiroshima dan Nagasaki yang berada di Jepang dibom atom oleh Amerika Serikat.

Kekalahan yang dialami oleh Jepang atas Amerika Serikat pada akhirnya dapat diketahui oleh para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada akhirnya Jepang yang sudah berada dalam posisi terdesak atas kekalahannya terhadap Amerika Serikat kemudian mendirikan suatu komite yang terdiri dari orang Indonesia yang mana hal tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

 

Latar Belakang ke 2

Namun terdapat beberapa golongan yang menilai bahwa komite tersebut seharusnya tidak lagi dicampur tangani oleh bangsa Jepang, oleh karena itu para golongan tersebut melakukan perjuangan sendiri untuk mencapai kemerdekaan Indonesia tanpa adanya campur tangan dari bangsa Jepang sedikitpun. Hal tersebut yang menjadi di latar belakang terjadinya peristiwa Rengasdengklok yang kedua.

 

Latar Belakang ke 3

Kemudian latar belakang selanjutnya mengenai peristiwa terjadinya Rengasdengklok yaitu terdapat adanya perbedaan pendapat yang terjadi diantara para golongan muda dan juga golongan tua dalam rangka untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Perbedaan antara keduanya yaitu golongan tua lebih setuju untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan menunggu proses perundingan bersama dengan komite panitia kemerdekaan yang telah disusun oleh bangsa Jepang, untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Sementara itubpendapat dari para golongan muda berseberangan dengan pendapat golongan tua. Golongan muda lebih setuju untuk kemerdekaan bangsa Indonesia segera langsung diproklamasikan tanpa harus menunggu keputusan dari panitia kemerdekaan yang telah dibentuk oleh Jepang atau yang bernama PPKI.

Para golongan muda sangat ingin untuk merealisasikan pendapatnya tersebut karena golongan muda setelah melihat posisi Jepang yang pada saat itu telah kalah oleh Amerika serikat dan dan hal itu dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga : Pancasila Sebagai Dasar Negara: Fungsi, Nilai, Pengertian dan Makna

 

 

Tujuan Peristiwa Rengasdengklok

Tujuan dari adanya peristiwa Rengasdengklok tidak lepas dari peran para anggota muda yang ingin segera mempercepat pelaksanaan proklamasi untuk kemerdekaan Indonesia tanpa menunggu keputusan dari bangsa Jepang. Kemudian para anggota muda melakukan pengamanan terhadap para tokoh tua ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh bangsa Jepang yang secara diam-diam.

Tempat yang yang digunakan sebagai pengamanan para tokoh tua yaitu berada di Rengasdengklok tepatnya berlokasi di daerah Karawang provinsi Jawa barat. Golongan tua tersebut yang diamankan oleh golongan muda yaitu Soekarno dan juga Mohammad Hatta yang merupakan nantinya akan menjadi presiden dan juga wakil presiden pertama republik Indonesia.

Golongan tua tersebut dibawa ke Rengasdengklok dan kemudian diamankan ke dalam sebuah rumah yang sederhana milik salah seorang petani.

Rengasdengklok dipilih menjadi tempat berlangsungnya proklamasi kemerdekaan Indonesia yang akan dilaksanakan oleh golongan muda karena dinilai sebagai tempat yang paling aman diantara tempat yang lainnya. Rengasdengklok diyakini dapat untuk menghindarkan para golongan tua dari adanya intervensi pihak luar terutama bujukan suapaya tidak melakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia terlebih dahulu oleh para bangsa Jepang.

Rengasdengklok yang berada di daerah Karawang provinsi Jawa barat dipilih menjadi lokasi pengamanan golongan tua untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia dinilai merupakan daerah yang paling aman karena berdasarkan perhitungan secara militer tempat ini jauh dari daerah Jakarta dan juga Cirebon.

Wilayah Rengasdengklok juga dipilih karena tempat tersebut termasuk juga tempat yang strategis serta mudah dalam mengawasi pergerakan para tentara Jepang dari arah Jakarta dan juga Bandung.

 

 

Kronologi Peristiwa Rengasdengklok

Kronologi terjadinya peristiwa Rengasdengklok tidak lepas dari adanya nya oleh kaisar hirohito yaitu pada tanggal 14 Agustus tahun 1945 yang mana saat itu tepat seminggu setelah terjadinya proses pemboman yang dilakukan oleh Amerika serikat ke kota Hiroshima dan juga Nagasaki melalui tentara sekutu Amerika serikat.

 

1. Golongan Muda Mendesak Golongan Tua Untuk Melakukan Proklamasi

Kemudian hal tersebut telah diketahui oleh para pemuda yang pekerja di kantor berita Jepang yang bernama Domei. Lalu para pemuda kemudian merespon adanya berita kekalahan Jepang atas tentara sekutu Amerika serikat yang merupakan hal tersebut adalah kabar baik bagi bangsa Indonesia dan berita tersebut diteruskan kepada para rekan-rekannya yang berada di tanah air.

Sementara itu golongan tua belum mengetahui akan kekalahan Jepang terhadap tentara sekutu Amerika serikat padahal pada saat itu wakil dari golongan tua yaitu Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta sedang berunding dengan panglima tertinggi Jepang di wilayah Asia tenggara Marsekal Terauchi.

Para golongan muda tersebut langsung mendesak para golongan tua untuk segera melakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun keinginan dari para golongan muda tersebut tidak lantas di iya kan oleh para golongan muda. Terjadi perbedaan pendapat diantara keduanya.

Akhirnya berdasarkan keputusan rapat pada tanggal 16 Agustus tahun 1945 yang diikuti oleh Soekarni, Mawardi, dan Shudanco Singgih, kemudian memutuskan untuk segera mengamankan para golongan tua seperti Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta.

 

2. Penculikan Golongan Tua

Shudanco Singgih kemudian diputuskan untuk melakukan tugas penculikan terhadap kedua golongan tua yaitu Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta. Proses terjadinya penculikan tidak lepas dari adanya bantuan militer, dan pihak militer lainnya. Halo para golongan tua yang diculik akhirnya diamankan di wilayah Rengasdengklok selama sehari penuh.

Setelah penculikan golongan tua tersebut dan diamankan ke Rengasdengklok setelah berhasil, kemudian ketidak beradaan dari Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta di Jakarta membuat para anggota golongan tua yang lainnya yaitu Ahmad Soebardjo menjadi mencari kedua orang tersebut. Singkat cerita akhirnya para golongan tua kemudian tahu bahwa Ir Soekarno dan juga Mohammad Hatta diculik oleh para golongan mudah dan dibawa ke Rengasdengklok.

 

3. Kesepakatan Golongan Tua dan Golongan Muda

Sehingga dilakukanlah perundingan antara golongan tua yang diwakili oleh Ahmad Soebardjo dan perwakilan dari golongan muda yaitu Wikaan. Dari hasil pertemuan tersebut telah menyatakan bahwa keduanya sepakat untuk segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia tanpa adanya campur tangan yang berasal dari bangsa Jepang.

Kesepakatan tersebut terjadi karena tidak lepas dari syarat-syarat tertentu, syarat-syarat tersebut antara lain yaitu golongan tua menuntut kepada golongan muda untuk membawa kembali Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta kembali ke Jakarta. Kemudian syarat yang kedua yang diberikan oleh golongan muda mereka menuntut untuk dilakukannya pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia tanpa adanya campur tangan sedikitpun dari pihak Jepang.

 

4. Kembalinya Ir.Soekarno dan Mulohammad Hatta ke Jakarta

Kemudian pada akhirnya para golongan tua yang diwakili oleh Jusuf Kunto, dan Ahmad Subarjo kemudian menjemput Ir.Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok sambil didampingi oleh Sudiro.

Kemudian Ir.Soekarno dan Muhammad Hatta kembali ke Jakarta pada jam 11 malam tanggal 16 Agustus 1945 dan singgah di rumah Laksamana Maeda yang berlokasi di jalan imam Bonjol No.1 Menteng. Lokasi si tersebut dinilai menjadi lokasi yang aman karena kedudukan dari laksana mana Maeda adalah sebagai kepala kantor penghubung yang harus dihormati dan jauh dari intervensi militer.

Baca Juga : Norma Sosial: Pengertian, Ciri, Fungsi, Tingkatan, Jenis, Contoh

 

5. Penyusunan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Ir.Soekarno  danMohammad Hatta beserta anggota lainnya sudah semakin yakin untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang mana tidak ada campur tangan sedikitpun dari bangsa Jepang. Karena sesaat setelah mereka kembali ke Jakarta, mereka juga telah melakukan perundingan dengan pihak Jepang, namun pihak Jepang tidak sepenuhnya setuju untuk melakukan adanya proklamasi kemerdekaan.

Kemudian akhirnya setelah itu Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta beserta harga lainnya segera untuk menyusun naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Pada saat penyusunan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia mulailah terjadi ketegangan di antara para golongan muda dan juga golongan tua yang dinilai sebagai budak bangsa Jepang oleh golongan muda.ketegangan tersebut terjadi dalam rangka untuk menentukan siapa yang akan mendatangani teks proklamasi tersebut.

Kemudian Muhammad Hatta memberi usul bahwa semua hal yang hadir pada saat itu ikut untuk menandatangani naskah tersebut hal tersebut mengikuti naskah proklamasi dari kemerdekaan bangsa Amerika Serikat.

Namun hal tersebut ternyata tidak disetujui dan kemudian pada akhirnya Sukarni mengusulkan bahwa naskah tersebut cukup ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia. Lalu saran tersebut pun disetujui oleh semua orang yang hadir pada saat itu.

 

6. Penyerahan Naskah Kepada Sayuti Melik

Setelah penulisan naskah kemudian para golongan tua pulang ke kediamannya masing-masing pada sekitar pukul 4 pagi tanggal 17 Agustus 1945. Yang mana naskah yang sudah dibuat kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik. Setelah itu para golongan muda tidak langsung pulang, karena mereka masih memikirkan dimana tempat yang terbaik untuk menyebarluaskan teks proklamasi tersebut.

 

Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Setelah melalui banyak sekali proses untuk melaksanakan pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Yang mana hal tersebut membuktikan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka. Akhirnya pembacaan teks proklamasi dilakukan di rumah Ir Soekarno yang berada di jalan Pegangsaan timur nomor 56 yang saat ini dijadikan sebagai monumen proklamasi. Pembacaan teks proklamasi tersebut dibacakan oleh Ir Soekarno pada pukul 10.00 pada tanggal 17 Agustus tahun 1945. Dan pada tanggal itulah ditetapkannya hari kemerdekaan Indonesia.

 

 

Tokoh-Tokoh Dalam Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok tidak semata-mata terjadi tanpa adanya peran dari para tokoh yang antara lain yaitu: Ir Soekarno, Mohammad Hatta, Sukarni, Wikana, Sayuti Melik, Ahmad Subarjo, Khairul Saleh, Laksamana Maeda, dan masih banyak tokoh-tokoh lain yang berperan dalam terjadinya peristiwa Rengasdengklok.

 

Demikian merupakan penjelasan mengenai terjadinya peristiwa Rengasdengklok. Yang mana peristiwa tersebut pada awalnya tidak disetujui oleh para golongan tua kemudian barang dengan muda dan golongan tua bertemu untuk membandingkan kan pembacaan proklamasi yang pada akhirnya disetujui oleh golongan tua. Semoga penjelasan di atas dapat bermanfaat bagi kalian semua dan terdapat pula pelajaran bagi kita semua bahwa segala sesuatu apabila di perundingan secara seksama maka akan menemukan jalan yang adil untuk keduanya.

Arwina Nur Dyah Utami Penikmat musik dan senja, selamat membaca tulisan saya. Suka banget menulis dan baca novel.
DarkLight