Sejarah Perang Badar: Penyebab, Latar Belakang dan Hikmah

By Fanesh -

Perang Badar berlangsung pada hari Selasa, 13 Maret 624 M, area pertempuran berada di daerah Hijaz Arabia bagian Barat. Pertempuran ini merupakan pada hari – hari awal Islam dan titik balik dalam perjuangan Nabi Muhammad dengan lawanya di antaranya orang – orang Quraish di Mekah.

Pertempuran yang telah digariskan dalam sejarah Islam dan sebagai kemenangan oleh bantuan Allah secara langsung.

Pertempuran ini adalah salah satu dari beberapa pertempuran yang secara khusus disebutkan dalam Al -Qur’an. Semua sejarah tentang Perang Badar berasal dari riwayat – riwayat yang ditulis oleh para salaf, berupa bentuk hadis maupun riwayat hidup Nabi Muhammad yang dicata setelah pertempuran selesai.

 

Penyebab Perang Badar

Sebelum pertempuran terjadi, orang muslim dan orang kafir di Mekah telah bertempur dalam pertempuran kecil pada akhir 623 dan pada awal 624. Perang Badar adalah pertempuran besar pertama yang memajukan dengan posisi pertahanan yang kuat.

Kekuatan tersebut berasal dari pasukan Nabi Muhammad yang selalu disiplin dan sangat baik dalam mematahkan garis Mekah. Pasukan tersebut juga berhasil membunuh beberapa pemimpin penting di kaum Quraisy termasuk Abu Jahal.

Bagi umat Islam dimulainya pertemuran ini merupakan tanda pertama bahwa mereka bisa mengalahkan musuh – musuh mereka diantara orang – orang Mekah yang selalu menggangu dan menghalangi dakwah Nabi Muhammad.

Pada waktu itu Mekah adalah tempat dimana orang – orang kaya dan terkuat di Arab berada. Orang – orang tersebut bisa membentuk pasukan yang sangat besar dan lebih besar dari pasukan Muslim.

Kemenangan Perang Badar mengisyaratkan kepada suku – suku lain bahwa kekuatan baru telah muncul di Arab dan memperkuat Nabi Muhammad sebagai pemimpin.

Perang Badar menetapkan posisi Ali bin Abi Tholib sebagai pejuang terbaik di umat Islam. Berkatnya yang telah membunuh 22 orang Kafir Quraisy bersama umat muslim lainya yang turut membunuh 27 orang Kafir Quraisy.

 

Latar Belakang Perang Badar

Suku Kafir Quraisy merupakan penganut agam lain yang diyakini mereka sendiri, tetapi setelah mengetahui dakwah Nabi Muhammad tentang larangan menyembah berhala dan suku Kafir Qurasy memberontak.

Kafir Quraisy sangat takut terhadap keyakinan dan ekonomi mereka karena sangat bergantung terhadap pezuarah musryik yang sering datang ke Mekah. Hal tersebut mengakibatkan Nabi Muhammad dan para sahabat lainya diejek bahkan diganggu oleh orang – orang Kafir Quraisy yang ada di Mekah.

Namun, Nabi Muhammad waktu itu masih dilindungi oleh pamanya Abu Thalib yang menjadi pemimpin Bani Hasyim.

Setelah pamanya meninggal dunia, kepemimpinan Bani Hasyim tidak lagi berpihak kepada Nabi Muhammad. Pada tahun 622, semakin besar cobaan yang ditanggung Nabi Muhammad dari tekanan kekerasan terhadap kaum Kafir Quraisy kepada umat Muslim.

Disamping itu Nabi Muhammad meminta untuk hijrah dari Mekah ke kota Madinah dengan jarak yang tempuh 320 km atau 200 mil.

Setelah para sahabat melakukan perjalanan yang sudah lebih dulu ada sahabat yang paling setia menemani Nabi Muhammad yaitu Abu Bakar As Sidiq yang pergi ke Madinah untuk menyusul.

Setelah melakukan hijrah dari Mekah ke kota Madinah, masyarakat di Mekah semakin menegang dan pertikaian terjadi pada tahun 623. Ketika kaum Muslim melakukan penyerangan kepada rombongan pedagang kaum Kafir Quraisy di Mekah.

Madinah adalah jalur utama yang dilewati pedagang dari Mekah. Walaupun kaum Muslim ada yang banyak dari kaum Kafir Quraisy, mereka melakukan penyerangan terhadap para pedagang dengan alasan harta benda mereka telah dirampas dan dijarah oleh kaum Quraisy setelah pergi dari Mekah, karena di usir dari kaumnya sendiri.

Kaum Quraisy menganggap Islam adalah ancaman bagi kewibawaan dan lingkungan mereka dan pada akhir tahun 623 dan awal tahun 624, pertikaian terjadi dimana antara pedagang dengan umat Muslim.

Hal tersebut umat Muslim juga menyerang sebuah khalifah besar di Mekah, namun gagal dan pada akhirnya Nabi Muhammad memimpin penyerangan dengan 200 pasukan.

Orang – orang Mekah juga melakukan serangan balik terhadap umat Muslim di Madinah yang dipimpin oleh Kurz bin Jabir dan merampas harta milik kaum muslim lalu melarikan diri.

Tepat bulan Rajab, Islam menyerang yang menurut kaum Quraisy adalah bulan suci dan dimanfaatkan oleh umat Muslim untuk memulai gencatan senjata.

Menurut Nabi Muhammad, saat perampasan yang terjadi sebelumnya masih belum apa – apanya dibanding dengan perlakuan Kafir Quraisy terhadap umat Muslim sebelumnya. Inilah yang melatar belakangi Perang Badar terjadi.

 

 

Dimulainya Perang Badar

Tepat pada bulan April 624 M, Abu Sufyan memimpin khalifah dari Suriah ke Mekah dengan perlengkapan lengkap untuk melawan kaum Muslim. Dibalik itu Nabi Muhammad mengirim 313 orang untuk menghadang Abu Sufyan.

Namun, mata – mata Kafir Quraisy memberi tahu Abu Sufyan bahwa pasukan Muslim akan mencegatnya dan pada akhirnya Abu Sufyan mengubah jalur lain untuk menuju ke Mekah dan mengirim pesan ke Mekah.

Pesan tersebut diterima oleh Abu Jahal dan mengutus pasukanya untuk melawan kaum Muslim. Dalam perjuangan kaum Muslim, Nabi Muhammad mengutus pasukan terbaik diantaranya Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, Hamzah, Mus’ab bin Umair, Az-Zubair bin Al-‘awwam, Ammar bin Yasir dan Abu Dzar al-Ghifari.

Dalam rencananya, sumur badar dijadikan untuk lokasi persimpangan berbagai suku yang sedang dalam perjalan dagangnya dari Suriah yang telah ditargetkan kaum Muslim untuk penyerangan. Namun, mata – mata Kafir Quraisy mengetahui hal tersebut dan Abu Sufyan langsung mengubah strateginya.

Setelah Islam meninggalkan Mekah banyak tidak diketahui tentang kemajuan Kafir Quraisy sampai tiba saatnya Perang Badar.

Karena sibuk melindungi Khalifah Perdagangan kaum Quraisy pun tidak mempersiapkan segala strateginya seperti menghubungi sekutu merak yang telah tersebar di seluruh Hijaz. Mereka hanya mengharapakan kemenangan yang mudah karena Muslim kalah jumlah yang berbanding tiga lawan satu dengan para Khalifah Pedagang telah dikabarkan sudah dilindungi oleh Abu Sufyan.

Peperangan berlangsung yang terjadi sumur Badar, setelah pertempuran usai Nabi Muhammad kembali ke Madihan dan tujuh puluh tawanan ditangkap.

Sebagian besar tahanan dibebaskan dengan syarat untuk tebusan yaitu mengajarkan bagiamana cara menulis, membaca dan berhitung. Namun, dua dari tahanan yang diambil di Badar, yaitu Nadr bin al-Harith dan ‘Uqbah ibn Abu Mu’ayt dan dieksekusi atas perintah Nabi Muhammad.

 

Hikmah Perang Badar

Dari peristiwa Perang Badar bisa disimpulkan bahwa umat Muslim telah memperjuangkan agamanya dan kesetian para sahabat yang telah menemani Nabi Muhammad patut jadi contoh yang baik.

Kita sebagai umat Muslim patutnya juga memperjuangkan Islam dengan cara memperbaiki mulai dari diri kita sendiri. Berhentilah berbuat maksiat dan mendekatkan diri kepada oleh sebab Allah turun tangan langsung dalam membantu perang tersebut dan kita juga harus berjuang memperjuangkan Islam.

 

Nah demikian penjelasan tentang sejarah perang badar yang terjadi saat zaman dahulu. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan sejarah kita.

Fanesh
Fanesh
Penikmat senja dan pelajar smk jurusan rekayasa perangkan lunak, yang gemar menulis.

Artikel Terkait

Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Islam
Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Islam
Oleh Mexi
Doa Untuk Orang Meninggal
Doa Untuk Orang Meninggal
Oleh Mexi
Doa Keluar dan Masuk Rumah
Doa Keluar dan Masuk Rumah
Oleh Arwina Nur Dyah Utami
Bank Sentral
Bank Sentral
Oleh Mexi
Iman Kepada Allah
Iman Kepada Allah
Oleh Hasif Priyambudi
Iman Kepada Malaikat
Iman Kepada Malaikat
Oleh Hasif Priyambudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *