√ 8 Sejarah Perang Salib: Periode, Latar Belakang (Lengkap)

8 Sejarah Perang Salib: Periode, Latar Belakang dan Penyebab

8 Sejarah Perang Salib: Periode, Latar Belakang dan Penyebab

Sejarah Perang Salib – Sejak zaman dahulu, banyak orang melakukan peperangan biasanya untuk memperebutkan suatu wilayah, terjadi masalah antargolongan, dan lain sebagainya. Perang salib salah satu contohnya. Menurut pengetahuan umum, perang salib terjadi di kawasan timur Laut Tengah untuk merebut kembali Tanah Suci dari kekuasaan Islam. Perang ini merupakan salah satu perang paling terkenal di sepanjang sejarah. Perang Salib berlangsung selama kurang lebih dua abad, di mulai dari Perang Salib I sampai perng salib VIII yaitu dari tahun 1095 hingga 1270.

Untuk kalian yang belum mengetahui apa itu Perang Salib, kapan saja perang tersebut dilakukan. Kali ini Pintarnesia akan membantu kalian untuk mengenal tentang perang salib mulai dari periode I hingga selesai.

 

Sejarah Perang Salib

Perang Salib terjadi antara pihak Timur (islam) yang melawan pihak Barat (kristen). Awal mula dari Perang Salib yaitu disebabkan oleh banyak faktor seperti agama, politik, dan sosial ekonomi. Perang ini berawal pada tahun 1070 ketika Bani Saljuk dari Turki merebut Yerusalem dan pada tahun 1071 ketika Kaisar Yunani Diogenes dikalahkan dan ditawan di Mantzikert. Sejak saat itu, Bani Saljuk menguasai Asia Kecil dan seluruh Suriah. Disusul dengan menyerahnya Antiokhia pada tahun 1084 hingga Kristen menguasai seluruh kota besar di Asia pada tahun 1092.

Kondisi semakin parah ketika Bani Saljuk membatasi dan memperketat ziarah umat Kristen ke Yerusalem sehingga mendorong umat Kristen memperjuangkan kebebasannya dengan merebut Yerusalem dari kekuasaan Muslim. Kaisar Alexius Komnenus meminta kepada Paus Urbanus II di tahun 1095 untuk menyemangati umat Kristen di Eropa agar melakukan Perang Salib. Untuk menyatukan kekuatan, maka peperangan diumumkan untuk menundukkan gereja – gereja di wilayah Timur yang masih dikuasai oleh Islam. Pada umumnya ada beberapa tahap utama dalam Perang Salib yang memberi dampak pada alur sejarah dunia seperti akan dibahas secara singkat berikut ini.

 

Sejarah Perang Salib I (Tahun 1095 – 1101)

Pada Maret 1095 bertempat di Konsili Piacenza, Kaisar Bizantium meminta bantuan untuk mempertahankan wilayahnya dari kaum Turki Seljuk. Sementara itu Paus Urbanus II meminta seluruh umat Kristen untuk bergabung dan berperang melawan Turki Seljuk dengan jaminan bahwa siapapun yang ikut serta dalam sejarah Perang Salib dan jika mati maka akan masuk surga walaupun ia memiliki banyak dosa di masa lalu. Perang Salib periode ini diikuti oleh bangsa Prancis yang dipimpin Godfrey Bullion. Di sepanjang jalan menuju Jerusalem, pasukan salib, yang sebagian besar adalah perampok, melakukan perampasan. Sehingga bangsa Maghyar (Hungaria) dan Byzantium marah. Tentara Salib berhasil mengalahkan pasukan-pasukan Turki di Dorylaeum dan Antiokhia dan merebut Yerusalem pada tahun 1099. Pasukan Salib berhasil merebut Jerusalem dan berhasil mendirikan Kerajaan Latin di Jerusalem. Dalam peperangan itu menewaskan 50.000 orang. Dalam Perang periode I ini, pasukan Salib menang.

 

Sejarah Perang Salib II (Tahun 1145 – 1150)

Imanuddin Zangki, Gubernur Syiria dari kesultanan Seljuk mendirikan kerajaan di Alepo yang ditujukan untuk mengusir kaum Salib. Kerajaan ini mengancam Jerusalem yang dikuasai oleh kaum Salib sehingga dicetuskan Perang Salib II. Perang Salib kedua kembali terjadi setelah beberapa puluh tahun masa damai ketika Kristen dam Muslim hidup berdampingan di Yerusalem.

Kekalahan demi kekalahan yang dialami pihak Kristen membuat Paus Eugenius III menyerukan untuk melakukan Perang Salib kembali pada 1 Maret 1145, yang didukung oleh para pengkhotbah terutama Bernardus dari Clairvaux. Perang Salib II diikuti oleh sebagian besar bangsa Perancis yang dipimpin oleh Raja Louis VII dan Jerman dipimpin oleh Kaisar Konrad III. Perpecahan terjadi di pihak Salib sehingga Kaisar Konrad III pulang ke Eropa. Pada Perang Salib II ini muncul panglima perang pemberani yaitu Salahudin Al Ayubi. Salahudin Al Ayubi menyatakan bahwa dirinya adalah Sultan Mesir dan Syam. Jerusalem akhirnya direbut kembali oleh umat Islam lewat perjuangan Salahudin Al Ayubi dalam perang Salib II ini Pasukan Salib kalah.

 

Sejarah Perang Salib III (Tahun 1188 – 1192)

Awal dari sejarah Perang Salib ketiga ini terjadi ketika Yerusalem berhasil direbut oleh Salahuddin Al Ayyubi atau Saladin pada 1187 setelah mengalahkan pasukan Salib di Pertempuran Hattin. Hal itu membuat Paus Gregorius VIII kembali menyerukan Perang Salib yang ketiga. Perang Salib III diikuti oleh bangsa inggris yang dipimpin oleh Richard The Lion Heart, bangsa Jerman yang dipimpin oleh Fredrick Barbarosa, dan bangsa Perancis yang dipimpin oleh Philip Augustus.

Ketika itu tentara Salib berhasil mengalahkan pasukan Muslim di dekat Arsuf dan mendekat ke Yerusalem, tetapi karena persediaan makanan dan air yang tidak memadai maka pasukan Kristen gagal merebut Yerusalem. Setelah melakukan gencatan senjata dengan Salahudin, Raja Richard meninggalkan peperangan.

Disampung itu, raja Jerman, Fredrick Barbarosa, diketahui tewas karena tenggelam di sungai daerah Turki sehingga sebagian bangsa Jerman pulang. Sedangkan Paus Gregorius VIII tidak melihat akhir dari peperangan ini karena ia sudah meninggal dunia sebelumnya. Kemudian terjadi perselisihan antara Raja Richard The Lionheart dan Philip Augustus sehingga Raja Richard pulang ke Inggris. Dengan pulangnya Raja Richard sehingga Perang Salib III dimenangkan oleh umat islam.

 

Sejarah Perang Salib IV (Tahun 1202 – 1204)

Pada tahun 1202, Paus Innosensius III memulai Perang Salib keempat untuk menginvasi Tanah Suci lewat kekuatan Mesir dan merebut kembali Yerusalem. Penyerbuan yang gagal karena campur tangan Paus Innosensius diulangi kembali pada April 1204. Kali ini mereka berhasil menjarah Konstantinopel, merampok gereja – gereja dan membunuh banyak penduduk. Tentara Salib membagi kekaisaran menjadi beberapa wilayah Latin dan koloni Venesia, dan Perang Salib keempat berakhir ketika Bizantium terbagi menjadi dua bagian besar. Perang Salib IV dimenangkan oleh umat muslim.

 

Sejarah Perang Salib V (Tahun 1217)

Pada tahun 2015, Dewan Keempat Lateran kembali menyusun rencana untuk memulihkan Tanah Suci. Pada perang Salib ini dipimpin oleh Jean de Brune dan diikuti bangsa Jerman dan Maghyar. Pada tahun 1217 pasukan Perang Salib dari Austria dan Hongaria bergabung dengan pasukan raja Yerusalem dan pangeran Antiokhia untuk merebut kembali Yerusalem. Kemudian pasukan perang Salib berhasil mengepung Damietta di Mesir pada 1219, namun karena desakan seorang staf kepausan yang bernama Pelagius, mereka mengambil resiko untuk menyerang Kairo sehingga kalah oleh blokade pasukan Sultan Ayyubiyah Al-Kamil dan melakukan gencatan senjata.

 

Sejarah Perang Salib VI (Tahun 1228 – 1229)

Perang Salib VI dipimpin oleh Kaisar Fredrick II dari Jerman dan Raja Italia. Kaisar Friedrich II berulangkali melanggar sumpah dalam masa Perang Salib, sehingga dikucilkan oleh Paus Gregorius IX di tahun 1228. Tetapi ia tetap melakukan pelayaran dari Brindisi dan mendarat di Palestina.

Dengan diplomasinya ia mendapatkan Yerusalem, Nazareth dan Bethlehem dari Al-Kamil setelah berdiplomasi selama sepuluh tahun. Sebagai imbalan dari kesepakatan tersebut, ia berjanji untuk melindungi Al-Kamil dari semua musuh termasuk dari umat Kristen. Dalam Perang Salib periode ini pasukan Salib kembali gagal. Namun orang Kristen diperbolehkan memasuki Yerusalem.

 

Sejarah Perang Salib VII (Tahun 1249 – 1254)

Pada tahun 1243, Kembali terjadinya Perang Salib ketujuh yang dipimpin oleh Louis IX. Perang ini berawal dari konflik dengan Mesir karena adanya kepentingan kepausan yang diwakili para Templar atau Ksatria Salib. Setahun kemudian Yerusalem diserbu oleh pasukan Khwarezm. Tentara Salib yang bergabung dengan kaum Franka dan tentara bayaran dari Badui tetap mengalami kekalahan dari Pasukan Baibars yang berasal dari suu Khwarezmian hanya dalam waktu empat puluh delapan jam saja.

Sehingga banyak ahli sejarah yang menganggap pertempuran ini menjadi tanda kematian bagi negara – negara Kristen. Hingga pada tahun 1254, Louis IX tetap mengadakan perang Salib melawan Mesir. Namun tentara Salib terbantai di Mesir.

 

Sejarah Perang Salib VIII (Tahun 1270)

Perang Salib ke VII ini didominasi oleh bangsa Perancis. Louis IX mengatur Perang Salib kedelapan pada 1270 dengan berlawar dari Aigues- Mortes untuk membantu sisa – sisa dari negara wilayah tentara Salib di Suriah. Akan tetapi perang justru dialihkan ke Tunis, dimana Raja menghabiskan waktu dua bulan sebelum kematiannya. Ia kemudian ditahbiskan menjadi seorang santo yaitu St. Louis, sesuai dengan nama kota di Amerika yang mengambil namanya.

Inilah Perang Salib terakhir yang dilakukan bangsa Eropa. Selama Perang Salib terjadi, umat muslim telah menang sebanyak tujuh kali, sedangkan tentara Salib hanya memenangkan peperangan ini sebanyak satu kali saja yaitu pada saat Perang Salib ke I.

Pasca Perang Salib

Dari sekian lama terjadinya Perang Salib, banyak terjadi perubahan sejak sebelum peperangan berlangsung. Berikut beberapa perubahan pasca terjadinya perang Salib.

  1. Orang Eropa banyak mempelajari kemajuan orang islam di Timur Tengah dan mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa.
  2. Kesultanan Turki Seljuk digantikan oleh Kesultanan Turki Usmani. Turki Usmani menjadi kuat karena merebut daerah-daerah di kawasan Eropa Timur.
  3. Pada masa Sultan Muhammad Al Fatih, Turki berhasil merebut Konstatinopel dan mengakhiri riwayat Romawi sekaligus Kekaisaran Byzantium.
  4. Perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa menyatakan bahwa bumi itu bulat dan Copernicus mengeluarkan teori Heliosentris. Namun ajaran ini bertentangan dengan paham gereja.
  5. Di Spanyol umat Islam terpecah-pecah dan Kerajaan Kristen di Spanyol semakin kuat sejak perkawinan Ratu Isabela dengan Raja Alfonso.
  6. Orang Kristen di Eropa masih menaruh dendam atas kekalahan Perang Salib sehingga Ratu Isabela mengakhiri pemerintahan islam di Spanyol dengan melakukan pengusiran besar-besaran umat Islam di Spanyol.

 

Nah, selesai sudah kita membahas sejarah Perang Salib. Perang Salib sangat berpengaruh pada kehidupan saat ini. Dengan artikel ini, semoga Pintarnesia dapat membantu kalian untuk memahami Perang Salib. Bila terdapat kesalahan mohon dimaafkan dan dimaklumi.



50+ Manfaat Energi Matahari Bagi Makhluk Hidup: Hewan, Manusia, dan Tumbuhan

50+ Manfaat Energi Matahari Bagi Makhluk Hidup: Hewan, Manusia, dan Tumbuhan

Sejarah Perang Salib – Sejak zaman dahulu, banyak orang melakukan peperangan biasanya untuk memperebutkan suatu wilayah, terjadi masalah antargolongan, dan lain sebagainya. Perang salib salah satu contohnya. Menurut pengetahuan umum, perang salib terjadi di kawasan timur Laut Tengah untuk merebut kembali Tanah Suci dari kekuasaan Islam. Perang ini merupakan salah satu perang paling terkenal di sepanjang sejarah. Perang Salib berlangsung selama kurang lebih dua abad, di mulai dari Perang Salib I sampai perng salib VIII yaitu dari tahun 1095 hingga 1270.

Untuk kalian yang belum mengetahui apa itu Perang Salib, kapan saja perang tersebut dilakukan. Kali ini Pintarnesia akan membantu kalian untuk mengenal tentang perang salib mulai dari periode I hingga selesai.

 

Sejarah Perang Salib

Perang Salib terjadi antara pihak Timur (islam) yang melawan pihak Barat (kristen). Awal mula dari Perang Salib yaitu disebabkan oleh banyak faktor seperti agama, politik, dan sosial ekonomi. Perang ini berawal pada tahun 1070 ketika Bani Saljuk dari Turki merebut Yerusalem dan pada tahun 1071 ketika Kaisar Yunani Diogenes dikalahkan dan ditawan di Mantzikert. Sejak saat itu, Bani Saljuk menguasai Asia Kecil dan seluruh Suriah. Disusul dengan menyerahnya Antiokhia pada tahun 1084 hingga Kristen menguasai seluruh kota besar di Asia pada tahun 1092.

Kondisi semakin parah ketika Bani Saljuk membatasi dan memperketat ziarah umat Kristen ke Yerusalem sehingga mendorong umat Kristen memperjuangkan kebebasannya dengan merebut Yerusalem dari kekuasaan Muslim. Kaisar Alexius Komnenus meminta kepada Paus Urbanus II di tahun 1095 untuk menyemangati umat Kristen di Eropa agar melakukan Perang Salib. Untuk menyatukan kekuatan, maka peperangan diumumkan untuk menundukkan gereja – gereja di wilayah Timur yang masih dikuasai oleh Islam. Pada umumnya ada beberapa tahap utama dalam Perang Salib yang memberi dampak pada alur sejarah dunia seperti akan dibahas secara singkat berikut ini.

 

Sejarah Perang Salib I (Tahun 1095 – 1101)

Pada Maret 1095 bertempat di Konsili Piacenza, Kaisar Bizantium meminta bantuan untuk mempertahankan wilayahnya dari kaum Turki Seljuk. Sementara itu Paus Urbanus II meminta seluruh umat Kristen untuk bergabung dan berperang melawan Turki Seljuk dengan jaminan bahwa siapapun yang ikut serta dalam sejarah Perang Salib dan jika mati maka akan masuk surga walaupun ia memiliki banyak dosa di masa lalu. Perang Salib periode ini diikuti oleh bangsa Prancis yang dipimpin Godfrey Bullion. Di sepanjang jalan menuju Jerusalem, pasukan salib, yang sebagian besar adalah perampok, melakukan perampasan. Sehingga bangsa Maghyar (Hungaria) dan Byzantium marah. Tentara Salib berhasil mengalahkan pasukan-pasukan Turki di Dorylaeum dan Antiokhia dan merebut Yerusalem pada tahun 1099. Pasukan Salib berhasil merebut Jerusalem dan berhasil mendirikan Kerajaan Latin di Jerusalem. Dalam peperangan itu menewaskan 50.000 orang. Dalam Perang periode I ini, pasukan Salib menang.

 

Sejarah Perang Salib II (Tahun 1145 – 1150)

Imanuddin Zangki, Gubernur Syiria dari kesultanan Seljuk mendirikan kerajaan di Alepo yang ditujukan untuk mengusir kaum Salib. Kerajaan ini mengancam Jerusalem yang dikuasai oleh kaum Salib sehingga dicetuskan Perang Salib II. Perang Salib kedua kembali terjadi setelah beberapa puluh tahun masa damai ketika Kristen dam Muslim hidup berdampingan di Yerusalem.

Kekalahan demi kekalahan yang dialami pihak Kristen membuat Paus Eugenius III menyerukan untuk melakukan Perang Salib kembali pada 1 Maret 1145, yang didukung oleh para pengkhotbah terutama Bernardus dari Clairvaux. Perang Salib II diikuti oleh sebagian besar bangsa Perancis yang dipimpin oleh Raja Louis VII dan Jerman dipimpin oleh Kaisar Konrad III. Perpecahan terjadi di pihak Salib sehingga Kaisar Konrad III pulang ke Eropa. Pada Perang Salib II ini muncul panglima perang pemberani yaitu Salahudin Al Ayubi. Salahudin Al Ayubi menyatakan bahwa dirinya adalah Sultan Mesir dan Syam. Jerusalem akhirnya direbut kembali oleh umat Islam lewat perjuangan Salahudin Al Ayubi dalam perang Salib II ini Pasukan Salib kalah.

 

Sejarah Perang Salib III (Tahun 1188 – 1192)

Awal dari sejarah Perang Salib ketiga ini terjadi ketika Yerusalem berhasil direbut oleh Salahuddin Al Ayyubi atau Saladin pada 1187 setelah mengalahkan pasukan Salib di Pertempuran Hattin. Hal itu membuat Paus Gregorius VIII kembali menyerukan Perang Salib yang ketiga. Perang Salib III diikuti oleh bangsa inggris yang dipimpin oleh Richard The Lion Heart, bangsa Jerman yang dipimpin oleh Fredrick Barbarosa, dan bangsa Perancis yang dipimpin oleh Philip Augustus.

Ketika itu tentara Salib berhasil mengalahkan pasukan Muslim di dekat Arsuf dan mendekat ke Yerusalem, tetapi karena persediaan makanan dan air yang tidak memadai maka pasukan Kristen gagal merebut Yerusalem. Setelah melakukan gencatan senjata dengan Salahudin, Raja Richard meninggalkan peperangan.

Disampung itu, raja Jerman, Fredrick Barbarosa, diketahui tewas karena tenggelam di sungai daerah Turki sehingga sebagian bangsa Jerman pulang. Sedangkan Paus Gregorius VIII tidak melihat akhir dari peperangan ini karena ia sudah meninggal dunia sebelumnya. Kemudian terjadi perselisihan antara Raja Richard The Lionheart dan Philip Augustus sehingga Raja Richard pulang ke Inggris. Dengan pulangnya Raja Richard sehingga Perang Salib III dimenangkan oleh umat islam.

 

Sejarah Perang Salib IV (Tahun 1202 – 1204)

Pada tahun 1202, Paus Innosensius III memulai Perang Salib keempat untuk menginvasi Tanah Suci lewat kekuatan Mesir dan merebut kembali Yerusalem. Penyerbuan yang gagal karena campur tangan Paus Innosensius diulangi kembali pada April 1204. Kali ini mereka berhasil menjarah Konstantinopel, merampok gereja – gereja dan membunuh banyak penduduk. Tentara Salib membagi kekaisaran menjadi beberapa wilayah Latin dan koloni Venesia, dan Perang Salib keempat berakhir ketika Bizantium terbagi menjadi dua bagian besar. Perang Salib IV dimenangkan oleh umat muslim.

 

Sejarah Perang Salib V (Tahun 1217)

Pada tahun 2015, Dewan Keempat Lateran kembali menyusun rencana untuk memulihkan Tanah Suci. Pada perang Salib ini dipimpin oleh Jean de Brune dan diikuti bangsa Jerman dan Maghyar. Pada tahun 1217 pasukan Perang Salib dari Austria dan Hongaria bergabung dengan pasukan raja Yerusalem dan pangeran Antiokhia untuk merebut kembali Yerusalem. Kemudian pasukan perang Salib berhasil mengepung Damietta di Mesir pada 1219, namun karena desakan seorang staf kepausan yang bernama Pelagius, mereka mengambil resiko untuk menyerang Kairo sehingga kalah oleh blokade pasukan Sultan Ayyubiyah Al-Kamil dan melakukan gencatan senjata.

 

Sejarah Perang Salib VI (Tahun 1228 – 1229)

Perang Salib VI dipimpin oleh Kaisar Fredrick II dari Jerman dan Raja Italia. Kaisar Friedrich II berulangkali melanggar sumpah dalam masa Perang Salib, sehingga dikucilkan oleh Paus Gregorius IX di tahun 1228. Tetapi ia tetap melakukan pelayaran dari Brindisi dan mendarat di Palestina.

Dengan diplomasinya ia mendapatkan Yerusalem, Nazareth dan Bethlehem dari Al-Kamil setelah berdiplomasi selama sepuluh tahun. Sebagai imbalan dari kesepakatan tersebut, ia berjanji untuk melindungi Al-Kamil dari semua musuh termasuk dari umat Kristen. Dalam Perang Salib periode ini pasukan Salib kembali gagal. Namun orang Kristen diperbolehkan memasuki Yerusalem.

 

Sejarah Perang Salib VII (Tahun 1249 – 1254)

Pada tahun 1243, Kembali terjadinya Perang Salib ketujuh yang dipimpin oleh Louis IX. Perang ini berawal dari konflik dengan Mesir karena adanya kepentingan kepausan yang diwakili para Templar atau Ksatria Salib. Setahun kemudian Yerusalem diserbu oleh pasukan Khwarezm. Tentara Salib yang bergabung dengan kaum Franka dan tentara bayaran dari Badui tetap mengalami kekalahan dari Pasukan Baibars yang berasal dari suu Khwarezmian hanya dalam waktu empat puluh delapan jam saja.

Sehingga banyak ahli sejarah yang menganggap pertempuran ini menjadi tanda kematian bagi negara – negara Kristen. Hingga pada tahun 1254, Louis IX tetap mengadakan perang Salib melawan Mesir. Namun tentara Salib terbantai di Mesir.

 

Sejarah Perang Salib VIII (Tahun 1270)

Perang Salib ke VII ini didominasi oleh bangsa Perancis. Louis IX mengatur Perang Salib kedelapan pada 1270 dengan berlawar dari Aigues- Mortes untuk membantu sisa – sisa dari negara wilayah tentara Salib di Suriah. Akan tetapi perang justru dialihkan ke Tunis, dimana Raja menghabiskan waktu dua bulan sebelum kematiannya. Ia kemudian ditahbiskan menjadi seorang santo yaitu St. Louis, sesuai dengan nama kota di Amerika yang mengambil namanya.

Inilah Perang Salib terakhir yang dilakukan bangsa Eropa. Selama Perang Salib terjadi, umat muslim telah menang sebanyak tujuh kali, sedangkan tentara Salib hanya memenangkan peperangan ini sebanyak satu kali saja yaitu pada saat Perang Salib ke I.

Pasca Perang Salib

Dari sekian lama terjadinya Perang Salib, banyak terjadi perubahan sejak sebelum peperangan berlangsung. Berikut beberapa perubahan pasca terjadinya perang Salib.

  1. Orang Eropa banyak mempelajari kemajuan orang islam di Timur Tengah dan mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa.
  2. Kesultanan Turki Seljuk digantikan oleh Kesultanan Turki Usmani. Turki Usmani menjadi kuat karena merebut daerah-daerah di kawasan Eropa Timur.
  3. Pada masa Sultan Muhammad Al Fatih, Turki berhasil merebut Konstatinopel dan mengakhiri riwayat Romawi sekaligus Kekaisaran Byzantium.
  4. Perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa menyatakan bahwa bumi itu bulat dan Copernicus mengeluarkan teori Heliosentris. Namun ajaran ini bertentangan dengan paham gereja.
  5. Di Spanyol umat Islam terpecah-pecah dan Kerajaan Kristen di Spanyol semakin kuat sejak perkawinan Ratu Isabela dengan Raja Alfonso.
  6. Orang Kristen di Eropa masih menaruh dendam atas kekalahan Perang Salib sehingga Ratu Isabela mengakhiri pemerintahan islam di Spanyol dengan melakukan pengusiran besar-besaran umat Islam di Spanyol.

 

Nah, selesai sudah kita membahas sejarah Perang Salib. Perang Salib sangat berpengaruh pada kehidupan saat ini. Dengan artikel ini, semoga Pintarnesia dapat membantu kalian untuk memahami Perang Salib. Bila terdapat kesalahan mohon dimaafkan dan dimaklumi.