Contoh Teks Negosiasi Singkat

By

7 contoh teks negosiasi

Contoh Teks Negosiasi – Dalam kehidupan sehari hari, kegiatan bernegosiasi tidak dapat dilepaskan dalam kegiatan manusia. Kegiatan bernegosiasi sering kita gunakan baik negosiasi jual beli, bisnis, di sekolah, lingkungan masyarakat, keluarga, dan lain sebagainya.

Teks negosiasi memiliki ciri yang sangat menonjol yaitu mampu mencari jalan keluar penyelesaian dari sebuah masalah dan akan menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan atau bertujuan untuk mendapatkan kata sepakat.

Dengan bernegosiasi maka kita dapat memeroleh manfaat berupa terciptanya jalinan kerja sama antar institusi, badan usaha, maupun perorangan dalam sebuah kegiatan atau usaha dengan dasar saling pengertian.

Teks negosiasi juga memiliki struktur diantaranya yaitu Orientasi, Permintaan, Pemenuhan, Penawaran, Persetujuan, Pembelian, Penutup.

Pengertian Negosiasi

Negosiasi merupakan salah satu bentuk interaksi sosial antar pihak yang bertujuan untuk mencapai persetujuan dan menyelesaikan pertentangan antara suatu pihak dengan pihak lainnya. Jika dilihat menurut kamus Oxford negosiasi diartikan sebagai cara untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi formal.

Negosiasi juga sering disebutkan sebagai suatu proses untuk dua pihak pencapai perjanjian agar mencapai kepuasan semua phak yang berkepentingan melalui kerjasama.

Ciri-Ciri Teks Negosiasi

Teks negosiasi biasanya memiliki ciri yang menonjol dimana akan ada penyelesaian atau jalan keluar berupa kesepakatan dari masalah yang ada dengan hasil yang sama-sama menguntungkan untuk semua pihak.

  • Mengarah kepada kepentingan bersama.
  • Menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan
  • Memiliki tujuan yang praktis
  • Merupakan proses untuk mencari penyelesaian kesepakatan.

Manfaat Negosiasi

Manfaat adanya negosiasi ini adalah terciptanya kesepakatan antar semua pihak berkat adanya jalinan kerjasama antara pihak satu dengan yang lain dalam suatu kegiatan dengan didasari pengertian semua pihak.

Mencapai kesepakatan yang memiliki kesamaan persepsi, saling pengertian dan persetujuan.
Mencapai penyelesaian atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi secara bersama.
Mencapai kondisi saling menguntungkan dan tidak ada yang dirugikan (win-win solution).

Struktur Teks Negosiasi

Teks negosiasi juga memiliki struktur yang membangun teks yang satu ini, dibawah ini terdapat struktur teks negosiasi antara lain

  • Orientasi
  • Permintaan
  • Pemenuhan
  • Penawaran
  • Persetujuan
  • Pembelian
  • Penutup

Contoh Teks Negosiasi Singkat

Untuk lebih jelasnya mengenai contoh teks negosiasi dalam kehidupan sehari – hari, maka kamu dapat simak contohnya berikut ini.

Baca Juga : Struktur Teks Negosiasi.

1. Contoh Teks Negosisasi antara Pembeli & Penjual

Pembeli: “Pak saya ingin beli mangga Indramayu, apa disini ada?”

Penjual: “Ada bu, mau beli berapa kilo?”

Pembeli: “Memang satu kilo harganya berapa pak??”

Penjual: “Murah bu, hanya 15 ribu saja satu kilonya”

Pembeli: “Mahal amat pak, boleh kurang kan pak?”

Penjual: “Yaudah paling harga pasnya 10 ribu”

Pembeli: “Boleh kurang lagi tidak pak?”

Penjual: “Tidak bisa bu, harga segitu sudah murah banget.”

Pembeli: “Oke pak, saya ambil 2 kilo, ini uangnya”.

2. Contoh Teks Negosiasi antara Nasabah dan Pihak Bank

Nasabah: “Selamat pagi”

Pihak bank: “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?”

Nasabah: “Kalau mau mengajukan kredit dibagian mana ya mba?”

Pihak bank: “Ke kepala bagian kredit pak, mari saya antar”

Nasabah: “Jadi begini pak, saya ingin mengajukan kredit untuk mengembangkan usaha baru saya pak”

Pihak bank: “Memang berapa banyak uang yang bapak butuhkan untuk mengembangkan usaha bapak?

Nasabah: “Saya membutuhkan uang sebanyak 500 juta. Apakah saya bisa mengajukan kredit dengan jumlah tersebut?

Pihak bank: “Mohon maaf bapak sebelumnya, pinjaman bapak terlalu besar. Bagaimana jika bapak meminjam 300 juta?

Nasabah: “Apakah tidak bisa lebih pak? Saya kan nasabah lama di bank ini”

Pihak bank: “Baiklah, bapak saya berikan tambahan 20 juta, jadi 320 juta. Bagaimana pak?”

Nasabah: “Kalau bisa mohon dilebihkan pak. Karena saya membutuhkan banyak dana untuk mengembangkan usaha yang sedang saya rintis ini”

Pihak bank: “Baiklah jika begitu, pihak bank akan memberikan pinjaman sebesar 350 juta”

Nasabah: “Baiklah, kalau begitu kapan saya bisa mengambil uangnya?”

Pihak bank: “Jika bapak setuju meminjam 350 juta maka akan kami cairkan secepatnya”

Nasabah: “Oke saya setuju, terus bagaimana lagi??”

Pihak bank: “Kami selaku pihak bank akan memberikan pelayanan terbaik kepada setiap nasabahnya”

Nasabah: “Terima kasih atas kerjasamanya, kalau begitu saya pamit dahulu”

Pihak bank: “Sama-sama pak, selamat pagi”

Nasabah: “Selamat pagi”

3. Contoh Teks Negosiasi dalam Kehidupan Sehari – Hari

Calon Penumpang: “Bang, ke Pasar Senen berapa?”

Tukang Ojek: “20 ribu, bu”

Calon Penumpang: “Kok mahal amat bang, kan deket tuh disitu, 10 ribu aja ya”

Tukang Ojek: “Aduh, itu kemurahan, enggak nutup uang bensin bu”

Calon Penumpang: “Iya deh iya bang, saya tambah 3 ribu biar jadi jadi 13 ribu ya, bagaimana?”

Tukang Ojek: “Tambah 2 ribu lagi deh bu, langsung saya antar.”

Calon Penumpang: “Okelah bang, saya setuju, antar saya ke pasar Senen.”

4. Contoh Teks Negosiasi di Lingkungan Keluarga

Anak: “Pak, setelah saya lulus nanti, saya ingin bekerja.”

Bapak: “Kenapa langsung bekerja nak?. Padahal kan bapak maunya kamu melanjutkan kuliah.”

Anak: “Kenapa pak harus kuliah? ”

Ayah: “Begini nak, jika kamu melanjutkan kuliah maka nantinya kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus.”

Anak: “Jadi lebih gampang dalam mendapatlan pekerjaan ya pak? Kalau gitu iya deh saya setuju.”

Ayah: “Bagus lah jika kamu setuju, nanti kita pilih universitas terbaik untukmu.”

Anak : “Siap pak”

5. Contoh Teks Negosiasi Jual Beli di Pasar

Pembeli: “Selamat pagi pak”

Penjual: “Selamat pagi, Silahkan duduk. Apakah benar ini dengan saudara Adi?”

Pembeli: “Iya benar pak, saya yang menghubungi bapak tadi malam”

Penjual: “Baik, langsung ke intinya saja, benarkah saudara tertarik dengan mobil yang di iklankan di OLX?

Pembeli: “Iya benar pak, dari foto yang ditampilkan saya tertarik ingin melihat fisik asli mobil tersebut secara dekat, sebab berdasarkan foto yang saya lihat kelihatannya mobil bapak masih dalam keadaan bagus”

Penjual: “Iya benar, mobil itu saya beli 1 tahun lalu, kondisinya masih sangat bagus. Saya menjual karena ingin menggantinya dengan mobil baru”

Pembeli: “Apa alasan bapak mengapa mobilnya ingin diganti?, apakah mobil tersebut sudah mengalami kerusakan?”

Penjual: “Bukan itu alasannya, saya ingin mengganti dengan mobil baru karena mobil itu terlalu kecil untuk keluarga saya.”

Pembeli: “Oh begitu, berapa harganya pak?

Penjual: “200 juta, bisa nego”

Pembeli: “Wahh kok mahal pak?”

Penjual: “Bisa nego”

Pembeli: “150 juta bagaimana pak?”

Penjual: “175 juta pas, bagaimana?

Pembeli: “160 juta deh pak, bagaimana?”

Penjual: “Tidak mas, 175 sudah mentok”

Pembeli: “Baiklah, saya setuju”

Penjual: “Baik, terima kasih”

Pembeli: “Oke terima kasih kembali”

6. Contoh Teks Negosiasi di Sekolah

Wali Kelas: “Adi, bagaimana rencana Study Wisata ke Dufan, apakah semua anggota kelas setuju?”

Ketua Kelas: “Saya sudah berdiskusi dengan mereka bu, namun mereka malah mengusulkan untuk mengganti tempat Study Wisata ke Bali saja bu.”

Wali Kelas: “Wah, kenapa pada minta seperti itu?”

Ketua Kelas: “Karena sekolah kita sering sekali melakukan Study Wisata ke Dufan. Sedangkan ke Bali belum pernah sama sekali.”

Wali Kelas: “Tapi ibu sudah bicarakan rencana ini ke bapak kepala sekolah dan beliau sudah setuju”

Ketua Kelas: “Iya bu, tetapi jika ke rencana semula sepertinya banyak teman-teman yang tidak ikut”

Wali Kelas: “Aduh bagaimana yah, padahal ibu sudah mempersiapkan semuanya.”

Ketua Kelas: “Begini saja bu, biar saya dan teman-teman yang menghadap ke kepala sekolah dan membicarakan tentang rencana study ke Candi Borobudur.”

Wali Kelas: “Baiklah kalau begitu, secepatnya kamu bicara dengan beliau, laporkan ke ibu hasilnya”.

Ketua Kelas: “Baik bu.”

7. Contoh Teks Negosiasi Formal

Pegawai toko : “Selamat siang, Ada yang bisa saya bantu pak?”

Pembeli : “Saya ingin mencari sepatu pantofel untuk kerja”

Pegawai toko : “Sepatu pantofel untuk kerja kami memiliki 2 pilihan pak, yaitu warna hitam dan warna cokelat”

Pembeli : “Yang hitam harganya berapa ya mba?”

Pegawai toko : “Untuk warna hitam dan cokelat harganya sama-sama 300 ribu rupiah pak”

Pembeli : “Bisa turun jadi 200 ribu mba?”

Pegawai toko : “Maaf pak masih belum bisa, bagaimana jika 280 ribu?”

Pembeli : “Masih terlalu mahal itu mbak, 250 ribu ya mba”

Pegawai toko : “Maaf pak masih belum bisa, pasnya 265, bagaimana pak?”

Pembeli : “Oke saya setuju mba. Ini uangnya”

Pegawai toko : “Terimakasih pak”

Pegawai toko : “Oke sama – sama mba”

8. Teks Negosiasi Siswa

Ayu : “Ah, akhirnya sampai juga di sekolah.”

Bijak : “Memang kenapa baru sampai?”

Ayu : “Aku bangun kesiangan karena tadi malam mengerjakan PR Bahasa Indonesia sampai larut”

Bijak : “Apa ada PR Bahasa Indonesia?” sambil terkejut.

Ayu : “Ada, PR untuk menganalisis jenis kalimat berpredikat verba. Kamu sudah mengerjakannya?”

Bijak : “Astaga, aku benar-benar lupa.”

Ayu : “Kenapa bisa lupa? Hari ini harus sudah selesai.”

Bijak : “Tadi malam, aku sibuk menyiapkan peralatan praktikum Biologi. Aku kelelahan seharian mencari jangkrik.”

Ayu : “Oh ya. Kelompokku juga belum ada yang membawa jangkrik.”

Bijak : “Siapa yang ditugaskan membawanya?”

Ayu : “Aku sendiri.”

Bijak : “Kamu akan mencari di mana sekarang?”

Ayu : “Belum tahu. Bagaimana kalau aku minta beberapa ekor jangkrik milikmu?”

Bijak : “Enak saja. Aku sudah berjuang seharian mencari si jangkrik-jangkrik ini hingga melupakan PR Bahasa Indonesiaku.”

Ayu : “Begini saja. Kamu menyalin PR yang telah aku kerjakan, tapi dengan syarat kamu harus memberikan beberapa jangkrikmu kepadaku”

Bijak : “Bagaimana ya? Sebenarnya aku tidak rela memberikan jangkrik ini kepadamu.”

Ayu : “Kenapa tidak rela. Kamu dapat salinan PRku dan aku mendapat beberapa jangkrik darimu. Aku juga lelah menyelesaikn PR ini hingga berangkat kesiangan.”

Bijak : “Baiklah. Ini beberapa jangkrik untukmu. Mana PR mu?”

Ayu : “Ini PRku. Jangan sampai kamu rusak.”

Bijak : “Oke, beres.”

Ayu : “Nanti kembalikan ke mejaku lagi ya!”

Bijak : “Tenang saja.”

Dengan kecepatan tinggi, Bijak menyalin semua PR milik Ayu dan berharap akan selesai sebelum guru masuk kelas.

9. Teks Negosiasi Jual Beli HP Baru

Pagi itu, Seoarang pergi ke konter untuk mencari Xiaomi Redmi Note 5

Penjual :Selamat datang, silahkan duduk.”

Pembeli : “Terima kasih.”

Penjual : “Ada yang bisa saya bantu?”

Pembeli : “Saya ingin mencari Smartphone.”

Penjual : “Ingin Smartphone merek apa?”

Pembeli : “Yang bagus itu merek apaya?”

Penjual : “Begini, kalau masalah bagus atau tidaknya itu relatif. Semua merek ada kelebihan dan juga ada kekurangannya.”

Pembeli : “Oh, begitu.”

Penjual : “Tetapi sekarang yang paling laris itu Xiaomi Redmi Note 5.”

Pembeli : “Saya boleh lihat yang Xiaomi Redmi Note 5?”

Penjual : “Iya, sebentar saya ambilkan dulu.”

Pembeli : “Iya.”

Penjual : “Ini, silahkan di coba dulu.”

Pembeli : “Fasilitasnya apa saja ?”

Penjual : “Ada kamera16 MP,sudah 4G dan masih banyak lagi.”

Pembeli : “Selain warna hitam ini, apakah ada warna yang lain?”

Penjual : “Ada selain ini ada juga warana gold, putih dan silver.”

Pembeli : “Saya mau lihat yang silver, soalnya saya suka warna silver.”

Penjual : “Maaf, yang warna silver stoknya habis, mungkin besok datangnya.”

Pembeli : “Kalau sekarang adanya warna apa saja ?”

Penjual : “Kita punya warna gold sama hitam.”

Pembeli : “Saya lihat yang gold dulu.”

Penjual : “Iya, saya ambilkan dulu.”

Pembeli : “Iya.”

Penjual : “Ini, silahkan.”

Pembeli : “Hitam sama gold bagus manaya?”

Penjual : “Tergantung selera, kalau hitam itu sudah biasa, tetapi kalau gold itu jarang orang punya.”

Pembeli : “Saya pilih hitam saja.”

Penjual : “Oh iya.”

Pembeli : “Harganya berapa?”

Penjual : “Kalau yang ini harganya Rp 7.000.000,00.”

Pembeli : “Tidak ada diskon?”

Penjual : “Kebetulan kita lagi ada promo untuk merek Xiaomi Redmi Note 5 ada spesial diskon, jadi harganya tinggal Rp 6.600.000,00.”

Pembeli : “Tidak bisa turun lagi?”

Penjual : “Tidak bisa. Ini bisa di kredit mas, angsuran 8 X dalam 5 bulan.”

Pembeli : “Rp 6.400.000,00 bagaimana?, cash.”

Penjual : “Apakah bisa ditambah lagi?”

Pembeli : “Saya tambah lagi Rp 50.000,00 bagaimana?”

Penjual : “Tetap tidak bisa, begini saja saya beri Rp 6.500.000,00, itu sudah turun banyak lho.”

Pembeli : “Tidak bisa ditambah lagi diskonnya?”

Penjual : “Tidak bisa, nanti kalau ditambah lagi terus bos saya marah, ini bukan punya saya kalau punya saya, saya beri harga segitu.”

Pembeli : “Ya sudah saya setuju Rp 6.500.000,00.”

Penjual : “Saya buatkan notanya dulu.”

Pembeli : “Iya.”

Penjual : “Ini notanya, silahkan tanda tangan disini. Ini juga ada garansinya 1 tahun, jadi kalau ada masalah dengan Smartphonenya, bawa saja kesini.”

Pembeli : “Oh iya, ini uangnya.”

Penjual : “Terima kasih.”

Pembeli : “Sama-sama.”

10.  Contoh Teks Negosiasi Formal 4 Orang

Sekretaris : Selamat Pagi, Bu. (bersalaman). Kami telah mensurvei tempat Ibu dan kami berencana untuk membeli tempat tersebut, rencananya kami akan membangun sebuah perumahan disana. Apa benar ibu akan menjual tempat ibu tersebut?

Pemilik Tanah : Iya benar.

Direktur : Kira-kira berapa harga yang ibu patok untuk tanah ibu itu?

Pemilik Tanah : 2M mungkin mewakili.

Sekretaris : Apa gak terlalu mahal, Bu? bagaimana dengan 1,5 M?

Kakak Pemilik Tanah : Wah turun jauh. Tempat itu sangat bagus, sangat strategis, fasilitas umum disana hampir lengkap, disamping itu banyak tempat wisata pantai yang dapat menunjang kemajuan usaha perumahan kalian.

Direktur : Begini saja, bagaimana dengan 1,6 M?

Pemilik Tanah : Masih jauh, Bu. yaudah begini saja, 1,8M bagaimana? ya itu pun kalau ibu setuju, kalau tidak saya tidak akan lepas tanah itu.

Sekretaris : Gimana bu? apa gak kemahalan?

Direktur : Mungkin itu harga yang pas untuk tanah ibu ini.

Direktur : Oke bu, saya setuju dengan harga 1,8M. terimakasih atas kerjasamanya.

P. Tanah dan Kakaknya : Oh iya, Bu. sama-sama.

11. Contoh Teks Negosiasi Jual Beli

Di sebuah toko elektronik

Orientasi

Penjual: Mari mas, ada yang bisa kami bantu?

Permintaan

Pembeli: Oh iya mbak, di sini ngejual kabel nggak ya?

Penjual: Kabel yang kayak gimana ya mas

Pembeli: Kabel yang  warna hitam lurus mirip rambut mbaknya ini loh!

Penjual: Haha, bisa aja masnya nih! Kabel yang kek gimana? Nanti saya coba cariin.

Pembeli: Kabel yang ukuran 1,5 100 meter, sama kabel ukuran 2,75 50 meter.

Penjual: Merek apa ya mas?

Pembeli: Yang bagus merek apa ya mbak?

Penjual: Biasanya yang dipake banyak orang Eterna mas, murah dan bagus.

Pembeli: Coba mbak bisa lihat barangnya boleh?

Penjual: Kabelnya kan ? Bentar ya, saya carikan dulu.

Pemenuhan

Penjual: Mas, ini kabelnya yang tersisa tinggal yang panjangnya cua 50 meter-an, yang 100 meter udah kosong. Ada aja sih yang langsung 100 meter tapi kabel warna putih. Gimana mas?

Pembeli: Wuihh, putih mirip kulit mbaknya dong, hehehe. Yang hitam aja mbak, 50 meter-an juga gak apa-apa.

Penjual: Berarti kabel Eterna ukuran 1,5 panjangnya 2 x 50 meter  terus sama ukuran 2,75 50 meter ya mas?

Pembeli: Ya mbak, oh iya, itu harganya berapaan ya mbak?

Penjual: Bentar mas tak cek dulu, ini ntuk ukuran 1,5 50 meternya 350 ribu mas, terus untuk yang 2,75 550 ribu, jadi total 1.300.000 mas.

Penawaran

Pembeli: Waduh, mahal juga ya ternyata, gak bisa kurang lagi mbak?

Penjual: Ini udah murah banget mas, tempat lain gak segini harganya.

Pembeli: Masak gak ada potongan sih mbak? Kalau ada besok-besok saya beli ke sini lagi deh.

Penjual: Buat dipasang di mana mas?

Pembeli: Itu loh, proyek pembangunan kantor di sebrang jalan sana.

Penjual: Bentar dulu ya mas, saya tanya si Bos dulu, siapa tahu kalau untuk proyek bisa ada bonus buat masnya kalau belanja di sini lagi.

Pembeli: Asiiik, di tunggu mbak.

Penjual: Ada kok mas, tapi gak banyak. Harganya tetep , terus untuk masnya 70 ribu. Gimana mas?

Persetujuan

Pembeli: Oke mbak, saya beli. Pakai nota ya mbak.

Penjual: Oke mas, Tunggu sebentar ya.

Pembelian

Pembeli: 1.300.000 ya mbak, ini mbak silahkan uangnya.

Penjual: Maaf, saya mau hitung bentar ya mas. Sip, uangnya udah pas ya mas. Terus ini nota, lunas, sama bonus buat masnya.

Penutup

Pembeli: Sip, terimakasih ya mbak.

Penjual: Sama-sama mas, kalau besok-besok belanja lebih banyak lagi bonusnya juga lebih banyak loh mas kata si bos.

Pembeli: Oke mbak, besok-besok bakal ada yang harus dibeli kok. Terimakasih mbak.

Penjual: Sama-sama mas.

12. Contoh Teks Negosiasi Kehidupan Sehari-hari

Calon Penumpang: “Bang, ke Pasar Wage berapa?”

Tukang Ojek: “10 ribu, mas”

Calon Penumpang: “Kok mahal amat bang, kan deket tuh disitu, 5 ribu aja ya”

Tukang Ojek: “Aduh, itu kemurahan, enggak nutup uang bensin atuh”

Calon Penumpang: “Iya deh iya bang, saya tambah 2 ribu biar jadi jadi 7 ribu ya, bagaimana?”

Tukang Ojek: “Tambah 1 ribu lagi deh, langsung capcuss.”

Calon Penumpang: “Okelah bang, saya setuju, antar saya ke pasar wage.”

13. Contoh Teks Negosiasi Pendidikan

Wali kelas: “Andi?, bagaimana rencana kita untuk study wisata di hutan pinus biru? apakah semua teman temanmu mau?”

Ketua kelas: “Saya barusan sudah ngomong dengan teman teman kelas bu, kami semua setuju study alam di hutan pinus, hanya ada usulan untuk wisata di pantai padawa saja bu”

Wali kelas: “Wahhh kenapa begitu?”

Ketua kelas: “Soalnya untuk di hutan pinus tidak ada tempat wisata yang bagus bu, yang ada hanya hutan sama rumah pohon aja”

Wali kelas: “Hmmm tapi andi, ibu sudah bilang duluan tentang rencana kita ini ke kepala sekolah. Dan beliau pun sudah menyetujui”

Ketua kelas: “Iya ibu, tapi sepetinya banyak yang gak ikut bu kalau study dan wisatanya di hutan pinus biru”

Wali kelas: “Duh, gimana ya? soalnya ibu sudah mempersiapkan semua ndi”

Ketua kelas: “Apa gini saja bu, biar saya aja sama teman teman semua nanti menghadap ke kepala sekolah untuk bicara rencana kami”

Wali kelas: “Yaudah kalau begitu, sana menghadap beliau dan laporkan hasil diskusi sama ibu”

Ketua kelas: “Baik bu terimakasih”

Dari contoh teks negosiasi diatas bisa kita simpulkan bahwa ada permasalahan tentang memutuskan sebuah tempat tujuan study wisata yang bakal dilaksanakan oleh sekolah. Terjadi proses negosiasi serta tawar menawar tentang tempat tujuan wisata.

14. Contoh Teks Negosiasi Pemecahan Konflik Jual Beli

Berikut contoh teks negosiasi singkat tentang pemecahan konflik antara pembeli mobil dan penjual mobil.

Pembeli: “Selamat siang bapak”

Penjual: “Selamat siang, Silahkan duduk. Apa benar ini dengan mas Slamet?”

Pembeli: “Benar pak, sayalah yang ngehubungi bapak tadi pagi”

Penjual: “Baik, langsung ke inti saja, benarkah masnya tertarik dengan mobil yang sudah di iklankan di OLX?

Pembeli: “Iya betul pak, dari foto-foto yang ada saya tertarik ingin melihat fisik asli dari mobil tersebut secara langsung, sebab ketika foto yang saya lihat sepertinya mobil bapak masih sangat bagus”

Penjual: “Iya benar sekali, mobil itu baru saya beli 2 tahun lalu, kondisinya pun masih sangat bagus. Saya menjual sebab ingin menggantinya oleh mobil baru”

Pembeli: “Apa alasannya bapak kenapa mobilnya ingin diganti? apa mobil tersebut sudah mengalami beberapa kerusakan?”

Penjual: “Bukan itu alasan saya, saya ingin menggantinya dengan mobil baru sebab mobil tersebut terlalu kecil untuk nampung keluarga saya.”

Pembeli: “Oh gitu, berapa untuk harganya pak?

Penjual: “150 juta aja, bisa nego”

Pembeli: “Wuihh kok mahal sekali pak?”

Penjual: “Bisa nego kok”

Pembeli: “100 juta gimana pak?”

Penjual: “125 juta pas, gimana?

Pembeli: “110 juta deh pak, gimana?”

Penjual: “Tidak bisa mas, 125 sudah mentok itu”

Pembeli: “Baiklah 125 juta, saya setuju”

Penjual: “Baik, terimakasih mas”

Pembeli: “Oke terimakasih kembali pak”

15. Contoh Teks Negosiasi Lingkungan Keluarga

Contoh teks negosiasi berikut ini terjadi dilingkungan keluarga antara bapak dengan anaknya. Berikut ini contohnya:

Anak: “Pak, setelah lulus nanti saya ingin sekolah di SMA.”

Bapak: “Kenapa di SMA nak? Padahal, bapak ingin kamu sekolah di SMK.”

Anak: “Alasannya apa pak, kenapa bapak ingin supaya saya melanjutkan di SMK? ”

Ayah: “Begini nak, di SMK itu lulusan nya bisa langsung masuk di dunia kerja.”

Anak: “Jadi gampang dapat kerja ya pak? Kalau gitu iya deh saya setuju.”

Ayah: “Bagus lah kalau kamu setuju, nanti kita pilih bareng SMK yang bagus.”

Anak : “Siap pak”

16. Contoh Teks Negosiasi Jual Beli

Berikut ini contoh tentang jual beli antara penjual dan pembeli laptop:

Pembeli: “Mas saya mau beli laptop DELL INSPIRON, apa disini ada?”

Penjual: “Ada kok mas, ini mas, ada beberapa macam pilihan warna”

Pembeli: “Berapa harganya yang warna abu-abu ini?”

Penjual: “Semua warna harga sama, RP 13.150.000”

Pembeli: “Harganya bisa kurang enggak mas?”

Penjual: “Paling pas nya ya RP 12.689.000”

Pembeli: “Boleh dikurangi sedikit lagi enggak mas?”

Penjual: “Wuih, harga segitu kayaknya gak bisa nak.”

Pembeli: “Baiklah mas, saya mau, ini uangnya”

17. Contoh Teks Negosiasi Pengusaha dan Pihak Bank

Pengusaha: “Selamat siang”

Pihak bank: “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”

Pengusaha: “Iya, saya ingin bertemu dengan kepala bagian kredit”

Pihak bank: “Baik, mari saya antar menuju kepala bagian kredit”

Pengusaha: “Jadi begini pak, saya niatnya akan mengembangkan usaha, maka dari itu saya akan mengajukan kredit”

Pihak bank: “Berapa jumlah uang yang dibutuhkan untuk usaha yang bapak ingin kembangkan?

Pengusaha: “Saya butuh uang sebenar 300 juta. Bisakah saya mendapatkan pinjaman dengan jumlah tersebut?

Pihak bank: “Maaf sebelumnya, tetapi kan jumlah pinjaman bapak terlalu besar. Bagaimana jika pihak bank memberi 200 juta?

Pengusaha: “Tidak bisa lebih dari itu pak? saya kan nasabah lama di bank ini”

Pihak bank: “Baiklah, bapak saya beri 220 juta. Bagaimana pak?”

Pengusaha: “Tolong dilebihkan lagi pak, saya membutuhkan lebih banyak uang untuk mengembangkan usaha”

Pihak bank: “Baiklah, maksimal bank hanya bisa memberi pinjaman sebesar 250 juta”

Pengusaha: “Oke, bisa saya ambil kapan uangnya?”

Pihak bank: “Kalau bapak setuju uang 250 juta bisa dicairkan secepatnya”
Pengusaha: “Iya saya setuju, kemudian bagaimana lagi?”

Pihak bank: “Pihak bank akan memberikan pelayanan terbaik”

Pengusaha: “Oke terima kasih atas kerjasamanya, saya permisi dahulu pak”

Pihak bank: “Sama-sama pak, selamat siang”

Pengusaha: “Selamat siang” (Keluar dari ruang kepala bagian kredit)

Baca Juga : Contoh Teks Laporan Hasil Observasi Tumbuhan.

18. Contoh Teks Negosiasi Sekolah

Contoh terakhir teks negosiasi singkat yaitu di lingkungan sekolah. Negosiasi antara wali kelas dengan ketua kelas berkaitan dengan rencana study wisata. berikut ini:

Wali Kelas: “Anto, bagaimana rencana Study Wisata ke Jawa Timur Park, apakah semua anggota kelas setuju?”

Ketua Kelas: “Saya sudah berbicara dengan mereka bu, cuma ada usulan study wisata nya diganti ke Pantai Kuta aja bu.”

Wali Kelas: “Wah, kenapa pada minta seperti itu?”

Ketua Kelas: “Karena sekolah kita sudah sering ke Jawa Timur Park bu. Sedangkan, Pantai Kuta belum pernah sama sekali.”

Wali Kelas: “Tapi ibu sudah bicarakan rencana ini ke bapak kepala sekolah dan beliau sudah setuju”

Ketua Kelas: “Iya bu, tetapi jika ke rencana semula sepertinya banyak teman-teman yang tidak ikut”

Wali Kelas: “Aduh bagaimana yah, padahal ibu sudah mempersiapkan semuanya.”

Ketua Kelas: “Begini saja bu, biar saya dan teman-teman yang menghadap ke kepala sekolah dan membicarakan tentang rencana study ke Pantai Kuta.”

Wali Kelas: “Baiklah kalau begitu, secepatnya kamu bicara dengan beliau, laporkan ke ibu hasilnya”.

Ketua Kelas: “Baik bu.”

19. Contoh Teks Negosiasi Kehidupan Sehari-hari

Contoh obrolan negosiasi kali ini bakal membahas negosiasi tentang hal hal yang cukup sering terjadi di kehidupan sehari hari. Pada contoh kali ini kita bakal membahas obrolan negosiasi antara tukang becak dan juga penumpang yang ada kaitannya dengan proses tawar menawar.

Penumpang: “Bapak, ke pasar gede berapa ya?”

Tukang becak: “15 ribu aja mbak”

Penumpang: “wuihhh mahal banget pak?, gak 10 ribu saja pak?”

Tukang becak: “Duh kalau 10 ribu itu kemurahan mbak, kan pasar gede lumayan jauh”

Penumpang: “Iya deh pak, saya tambah 12 ribu gimana?”

Tukang becak: “Naikin 13 ribu mbak”

Penumpang: “Oke dah pak, saya 13 ribu ke pasar gede ya pak”

Percakapan diatas bisa kita sebut contoh teks negosiasi penawaran antara penumpang dan juga tukang becak sebab pada dialognya mengandung obrolan yang intinya menawar tarif becak.

20. Contoh Teks Negosiasi Penawaran

Di sebuah gang sempit, seorang lelaki asing menghadang Pak Jono

Pembukaan

Lelaki: Permisi ya Pak, bisa berhenti sebentar.

Pak Jono: Oh ya, ada apa ya mas.

Lelaki: Ada perlu sedikit dengan bapak.

Pak Jono: Maaf masnya siapa ya?

Lelaki: Bukan siapa-siapa kok pak, tapi aku punya barang-barang bagus dan pasti bapak berminat.

Pak Jono: Maaf sekali mas, saya lagi tidak ingin beli apapun, lagian saya juga lupa bawa dompet.

Lelaki: Gak harus sekarang juga kok pak belinya.

Pak Jono: Maaf lagi mas, saya nggak berminat.

Lelaki: Baiklah, sebelum bapaknya pergi, bisa lihat vidio ini bentar (menunjukkan video melalui hp)

Pak Jono: Dari mana mas dapatin video ini?

Lelaki: Dari kelakuan bapak semalam, oke dah, bapak gak minat kan, ya udah, saya jual ke yang lain.

Isi

Pak Jono: Eh mas, tunggu bentar, saya tidak ingin video itu diketahui publik.

Lelaki: Lalu apa yang bakal bapak lakukan?

Pak Jono: Berapa harganya dik?

Lelaki: Mahal pak, tentunya bapak tidak mau beli.

Pak Jono: Kalau ada jaminan ketika video itu tidak tersebar, saya bakal beli.

Lelaki: Berapa yang bapak tawar?

Pak Jono: Berapa yang mas minta?

Lelaki: Saya realistis saja dan pasti bapak sanggup bayar

Pak Jono: Iya, katakan aja berapa?

Lelaki: 1 milyar…

Pak Jono: Waah, kamu mau memeras saya ya mas, gak ada kalau uang segitu.

Lelaki: makanya itu, ya sudah saya pergi aja.

Pak Jono: Mas, tunggu bentar mas, hei… awas ya kamu, jangan aneh-aneh kamu sama saya, hari ini juga seandainya saya mau bisa hilang badanmu.

Lelaki: Saya tidak sendirian pak, ketika saya terluka atau matipun entah kapan, maka vidio ini bakal viral.

Pak Jono: Oke… oke… kita coba bicara lagi.

Lelaki: Apa lagi yang masih belum jelas?

Pak Jono: 500 juta gimana? Hari ini bisa aku kirim.

Lelaki: Tetap 1 milyar.

Pak Jono: Sial kamu!

Lelaki: Mudah saja untuk bapak dapat uang segitu…

Pak Jono: Baiklah, lalu apa jaminannya kalau vidio itu tidak bakal viral?

Lelaki: Kepala saya pak. Bapak bisa rekam wajah saya dan suruh seseorang untuk bunuh saya kalau sampai vidionya viral.

Pak Jono: Oke, deal ya.

Lelaki: Kapan saya bisa dapat uangnya.

Pak Jono: Minggu depan baru bisa aku kirim uang segitu.

Lelaki: Oke, bisa kirim ke nomer rekening ini. Saya tunggu pak. Lewat jam 12 malam, maka vidio ini bakal terkenal tanpa ada izin bapak.

Pak Jono: Oke. aku bakal transfer.

Penutup

Lelaki: Kalau gitu saya pamit pergi dulu. Selamat siang bapak bupati. Senang sekali bisa berjumpa dengan anda siang ini.

Baca Juga : Contoh Teks Eksplanasi.

21. Contoh Teks Negosiasi Lewat

A: Boleh saya lewat sini Pak?

B: Maaf mas, kalau misal mau masuk bisa lewat depan, ini pintu keluar.

A: Tapi pak, saya tadi sudah masuk dari depan, dan sudah keluar lewat sini juga, tapi tasnya saya ketinggalan ditempat penitipan barang, kalau mau lewat depan saya bakal bayar lagi, boleh kan ya saya cuma ingin ambil tas.

B: Yang bener ya Ccma mau ambil tas?

A: Bener pak sumpah, itu tas tadi saya titip di penitipan barang, ini nomornya saja masih ada saya simpan.

B: Ya baik kalau begitu, masnya langsung ambil ya terus keluar lagi lewat sini.

A: Baik pak, terimakasih pak.

Contoh Teks  Negosiasi  – Hutang

C: Bro, kapan bisa bayar utang? Maaf loh, tapi ini sedang kepepet banget butuh uang.

D: Sorry banget bro, kalau saat ini aku belum pegang uang. Gimana kalau dua hari lagi, pas sudah tanggal 1 aku sudah punya gaji.

C: Waaah broo, maaf banget bro, aku bener kepepet banget, bisa gak kamu pinjem siapa dulu deh, lagian juga kan minggu kemaren bilang kalau hari ini udah bisa bayar utangnya, nah aku pun kebetulan janjiin bakal bayar tagihan pulsa hari ini juga.

D: Ya… gini deh, apa… aku coba ngubungi temenku dulu ya, gimana kalau 1 jam lagi kita ketemu disini lagi. Semoga aku dapat pinjaman. Maaf banget bro aku ngrepotin kamu.

C: Oke bro, tak tunggu ya, sorry loh bukan maksud aku buat maksa kamu, kalau lagi gak kepepet aku santai orangnya.

D: Siap bro, makasih bro, tunggu ya bro.

22. Contoh Teks Negosiasi Alat Musik

Seorang penjual alat musik terlihat lagi membersihkan beberapa gitar dagangannya sebelum sang pembeli datang menghampiri tokonya.

Pembeli: “Pak, kalau gitar yang ini berapa ya harganya? Saya tertarik buat membeli.”

Penjual: “Gitar yang itu Rp750.000,00, Nak.”

Pembeli: “Harga tidak bisa kurang, Pak?”

Penjual: “Bisa kurang kok sedikit. Mau menawar berapa ya, Nak?”

Pembeli: “Rp600.000,00 ya, Pak. gimana?”

Penjual: “Rp600.000,00 mah belum dapat, Nak.”

Pembeli: “Kalau gitu, Rp625.000,00 ya, Pak?”

Penjual: “Naikinn sedikit lagi, Nak. Rp650.000,00 saya bakal lepas gitar itu.”

Pembeli: “Baik, Pak, saya mau Rp650.000,00. Ini uangnya, pak.”

Penjual: “Terima kasih ya, Nak.”

Pembeli: “Sama-sama, Pak.”

23. Contoh Teks Negosiasi Tilang

Suatu hari di lokasi di jalan raya, oknum polisi menilang pengendara motor yang tidak menggunakan helm.

Pembukaan

Polisi: (meniup peluit…prit…prit)…Menepi mas…menepi mas…

Pengendara: (menepi) Kenapa ya pak?

Isi

Polisi: Maaf ya mas, itu mas nggak pakai helm.

Pengendara: Astagfirulloh, maaf banget pak, saya lupa, tadi buru-buru soalnya, mau ujian.

Polisi: Masnya punya SIM gak?

Pengendara: Punya kok pak.

Polisi: Surat kendaraannya lengkap?

Pengendara: Lengkap juga pak.

Polisi: Boleh saya periksa?

Pengendara: Boleh sih pak, tapi saya terburu-buru nih.

Polisi: Maaf sekali mas, tapi ini sudah kewajiban saya.

Pengendara: Ini SIM dan STNKnya.

Polisi: Ya, sudah lengkap mas, tapi mohon maaf masnya tetap saya tilang karena tidak menggunakan helm di jalan raya.

Pengendara: Aduh pak…maaf, ini juga karena buru-buru kalau jalan damai saja gimana pak?

Polisi: Damai gimana maksudnya mas?

Pengendara: Ya saya bayar uang tilang di sini.

Polisi: Wah, Mmhon maaf mas, sekarang ini untuk pembayaran tilang cuma bisa lewat ATM, gampang dan lebih cepat kok mas, mas tinggal transfer ke no rekening ini, terus bukti transer langsung diserahkan ke saya, saya tugas di pos sampai jam 12 mas. Semisal saya nanti sedang tidak ada di pos, bisa lewat rekan saya juga boleh. Sementara itu SIM masnya saya tahan dulu, ngambilnya tetap di pos jaga.

Pengendara: Masak nggak bisa sih pak, bayar langsung ke bapak saya nggak keberatan kok.

Polisi: Maaf sekali mas, saya tidak ada hak untuk itu.

Pengendara: Ya sudah, saya pasrah aja pak.

Polisi: Ini surat tilang buat mas, nanti setelah transfer, silahkan ke pos jaga lagi buat ambil SIM punya masnya.

Pengendara: Tapi nanti tiba-tiba saya ketilang lagi gimana dong pak?

Polisi: Ya makanya jangan lupa pakai helm.

Penutup

Pengendara: Ya udah deh pak, saya pergi ke kampus dulu, lalu saya ke pos polisi nemui bapak.

Polisi: Siap Mas, sekali lagi maaf, dan saya akan tunggu di pos jaga.

Pengendara: Permisi ya pak.

Polisi: Hati-hati di jalan ya mas, di sebrang ada toko helm silahkan beli aja nanti malah di tilang polisi yang ada di pos selanjutnya…

Pengendara: Iya pak, terimakasih pak.

24. Contoh Teks Negosiasi Pasar

Pembeli 1: “Bu, petenya berapa ya?”

Penjual: “Satu tangkai Rp15.000,00 bu. Ini cuma tinggal tiga tangkai, semuanya Rp45.000,00.”

Pembeli 1: “Harga apa gak bisa kurang? Saya tawar buat satu tangkainya Rp10.000,00 ya bu? Sekalian buat penghabisan.”

Penjual: “Maaf, gak bisa, Bu. Saya kasih Rp40.000,00 saja kalau mau ambil semua.”

Pembeli 2: “Bu, biar saya saja yang beli petenya biarpun dengan harga Rp15.000,00 per tangkai. Saya ambil sekaligus dua tangkai.”

Penjual: “Maaf ibu, gak bisa begitu. Ibu ini yang udah menawar lebih dulu.”

Pembeli 2: “Tapi, saya setuju dengan harga awal tanpa menawar.”

Penjual: “Mohon maaf ibu, tapi itu udah aturan tawar-menawar memang begitu.”

Pembeli 1: “Ya sudah ibu, saya mau Rp40.000 untuk tiga tangkainya. Saya ambil semua ya.”

Penjual: “Terima kasih ya bu.”

Pembeli 1: “Sama-sama, Bu.”

25. Contoh Teks Negosiasi Jual Beli Laptop

Penjual: “Pagi mbak, silahkan cari apa?”

Pembeli: “Selamat pagi juga bu, saya mau beli piano yang ini, berapa ya harganya?”

Penjual: “Itu piano yamaha original mbak, harganya 20 juta mbak”

Pembeli: “Boleh kurang gak bu harganya?”

Penjual: “Hmmm, gimana ya mbak. Mbak mau nawar berapa?”

Pembeli: “17 juta boleh bu?”

Penjual: “Wah, tidak bisa mbak kalo harga segitu, soalnya ini piano original mas”

Pembeli: “Hmm, kalau 17,5 juta boleh bu?”

Penjual: “Harganya naikin dikitlah mbak, 18 juta deh ibu lepas”

Pembeli: “Iya deh bu, 18 juta saya setuju. Sebentar ya bu saya mau ambil uangnya”

26. Contoh Teks Negosiasi Pasar

Di sebuah pasar tradisional, Bu Heri mau membeli daging di salah satu lapak langganannya.

Orientasi

Penjual: Selamat pagi Bu Heri, wah sudah belanja macem-macem ini…

Bu Heri: Iya nih pak, mau ada arisan nanti sore, jadi rencananya masak agak banyak hari ini.

Penjual: Ini kebetulan dagingnya segar-segar Bu, baru sampai subuh tadi, belum kena freezer. Ibu Heri mau daging apa? Kambing apa sapi?

Permintaan

Bu Heri: Sapi aja lah pak, ga berani makan kambing, bapak lagi naik tensinya, bisa gawat kalau makan daging kambing.

Penjual: Oh, tensinya sering naik to buk? Kalau saya tiap hari makan daging kalau gak sapi ya kambing.

Sejauh ini tensi saya aman bu, tapi ya itu, rajin makan ketimun, melon, semangka, apel, kangkung, hahaha, biar seimbang bu. Sama banyak minum air putih dan yang terpenting itu harus ikhlas bu.

Bu Heri: Ikhlas bagaimana pak?

Penjual: Ya kalau menjalani hidup ini ikhlas pasti kan adem ayem aja, jadi tensinya nggak bakalan naik, hahaha.

Bu Heri: Betul juga bapak ini…

Penjual: Nah, ini ibu silahkan pilih, mau bagian mana? Paha? Iga?

Bu Heri: Kalau paha sekilonya berapa pak?

Penjual: Masih sama bu kayak kemarin, 110 ribu.

Bu Heri: kalau iga?

Penjual: buat Bu Heri tak diskon aja deh, 105 ribu untuk 1 kg iga.

Penawaran

Bu Heri: kalau begitu saya ambil daging bagian paha 1 kg, iga ½ kg. Tapi harganya mbok jangan segitu pak, belanjaan saya pas banyak ini lho…

Penjual: Hahaha, ya sudah, khusus buat Ibu nanti semuanya tak kasih harga 210 ribu saja.

Bu Heri: Hehehehe, tambah bonus tulang dong pak, buat bikin kaldu.

Persetujuan

Penjual: Siap Bu Heri. Pokonya beres. (penjual daging itu mulai menyiapkan pesanan Bu Heri)

Bu Heri: Terimakasih pak.

Pembelian

Penjual: Ini Bu, sudah siap, tak pisah jadi dua ya buk, yang ini iga sama tulang, yang ini paha. Semua 210 ribu.

Bu Heri: Sip. Ini pak uangnya.

Penjual: Uangnya 250 ribu. Ibu nggak punya uang pas?

Bu Heri: Wah, habis pak buat beli cabe tadi, lha gimana pak? Nggak ada kembalian ya?

Penjual: Iya ini dari tadi yang beli pake uang besar semua. Gini aja bu, 200 ribu dulu aja, yang 10 ribu besok aja kalau pas ibu belanja ke sini lagi.

Bu Heri: Oh, ya sudah kalau begitu, yang 10 ribu tak kasih besok ya pak.

Penutup

Penjual: Ya Bu, gampang lah, hahaha…

Bu Heri: Ini terimakasih ya pak, saya tak langsungan dulu.

Penjual: Ya bu, terimakasih banyak, salam buat Pak Heri.

Bu Heri: Ya pak, mari…

Penjual: Mari Bu Heri…

Baca Juga : Teks Anekdot.

27. Contoh Teks Negosiasi Jual Beli

Di sebuah lapak sepatu baru dan bekas, Hasan hendak berburu sepatu kulit bekas.

Orientasi

Penjual: Mari mas, silahkan dipilih sepatunya, ada yang baru, ada yang bekas, masih bagus-bagus ini mas, barang import.

Hasan: Lihat-lihat dulu boleh pak?

Penjual: Boleh banget mas, dicoba-coba juga boleh.

Pemenuhan

Hasan: Coba lihat sepatu yang di rak itu pak, sepatu bot kulit warna coklat…

Penjual: Yang ini mas?

Hasan: Iya pak?

Penjual: Silahkan dicek…

Hasan: Yang ini berapaan pak?

Penjual: Yang itu 250 ribu mas.

Hasan: Kalau yang sebelahnya itu pak?

Penjual: Itu sama mas, seukuran juga dengan yang coklat ini.

Hasan: Kok mahal amat pak?

Penjual: Ya biar bekas itu asli dari perancis mas…saya belinya juga mahal dan susah nyarinya.

Penawaran

Hasan: Boleh turun gak pak harganya?

Penjual: Ya boleh aja ditawar dulu mas, kalau cocok bisa dibawa.

Hasan: Dua-duanya boleh gak kalau 300 ribu?

Penjual: Wah, jauh amat mas. Belum bisa kalau segitu.

Hasan: Tak beli dua lho pak…

Penjual: Ya 400 ribu deh mas.

Hasan: Wah, uangnya ga sampai kalau segitu pak…

Penjual: Hehehe, kalau gitu beli 1 dulu mas, yang 1 bisa tak simpen buat masnya kalau mau, gimana mas? Terus terang ini barang bagus mas dan cepat laku di sini.

Hasan: Brarti kalau gitu 1 pasang 200 ribu pak?

Penjual: Iya mas, boleh kalau segitu.

Hasan: Ini ada uang 350 sih pak, nih lihat nih di dompet cuma segini pak, boleh nggak dua pasang 350 ribu?

Penjual: Wah…berat mas…390 bisa deh.

Hasan: Yah…lha yang 40 gak ada nih pak…

Penjual: Hahaha, masnya ini bisa aja, kan di ATM masih buanyak, hahaha…

Hasan: Hahaha…ya namanya juga usaha pak. Gini aja deh pak, kalau boleh dua pasang 350, kalau nggak ya sudah deh, brarti belum jodoh.

Penjual: Gak mau beli 1 dulu aja mas?

Hasan: Nggak pak, saya maunya dua harganya segitu, kalau boleh sih pak.

Penjual: 360 deh mas…masak gak ada sih tambah 10 ribu aja? Biar saya dapat untungnya agak mendingan lah mas.

Persetujuan

Hasan: Oke deh, 360 aku bisa pak.

Penjual: Deal mas.

Pembelian

Hasan: Oke pak! Bungkus. Ini uangnya, pas 360 ribu.

Penjual: Terimakasih mas. Oh iya, Ini mau tak wadahin kardus apa adanya atau dibungkus plastik aja mas?

Hasan: Plastik aja pak biar muat masuk tas. Ribet kalau masuk kardus.

Penjual: Oke mas, silahkan, ini sepatunya sah jadi milik masnya.

Penutup

Hasan: Sip. Terimakasih banyak pak. Oh iya pak, tiap bulan saya cari sepatu. Ini kartu nama saya dan nomor hp ada disitu, bapak kasih tau saja kalau ada barang bagus.

Penjual: Lho masnya memang jual lagi kok tiap bulan cari sepatu?

Hasan: Sebenarnya sih koleksi aja pak, saya suka. Nggak saya jual tapi kadang saya sewain pak buat anak-anak yang suka bikin film sama teater itu lho.

Tapi kalau sudah bosan dan kepepet gak ada uang ya ada juga koleksi yang saya jual pak.

Penjual: Oalah, ya mas, kalau ada barang baru tak kabarin, lewat WA aja mas biar ada fotonya.

Hasan: Sip pak, kalau cocok dan harganya masuk pasti saya beli kok pak. Terimakasih ya pak, ini sepatunya tak bawa dulu.

Penjual: Sama-sama mas, terimakasih banyak.

28. Contoh Teks Negosiasi Formal

Di sebuah istana negara, Presiden A bertemu dengan Presiden B untuk membahas kerjasama anti terorisme.

Orientasi

Presiden A: Senang berjumpa dengan anda pak, bagaimana perjalanan anda? Menyenangkan?

Presiden B: Senang berjumpa dengan anda lagi, hahaha, perjalanan saya kali ini sangat mengesankan. Negara anda sudah banyak mengalami perubahan ternyata. Sangat berbeda dengan 10 tahun yang lalu saat saya berkunjung ke sini.

Presiden A: Ya, tentu perkembangan teknologi global ikut serta mengubah wajah negara kami saat ini. Tapi bagaimanapun juga saya salut dengan negara anda, meski wilayahnya kecil namun semua warganya hidup makmur.

Presiden B: Ah, itu yang tampak dari luar pak presiden, kami juga punya banyak masalah internal, terutama terkait dengan keamanan negara.

Mengingat jumlah penduduk negara kami tidak sebanyak jumlah penduduk negara anda, dan mayoritas penduduk kami adalah pebisnis, jadi kami sangat kekurangan pasukan untuk menjaga keamanan negara.

Presiden A: Ah, anda selalu merendah pak presiden, bagaimanapun juga peralatan tempur kami sebagian diproduksi oleh negara anda, jadi saya kira negara anda tetap memiliki sistem keamanan yang bagus.

Presiden B: Hahaha, ya saat ini kami sedang khawatir dengan pesebaran terorisme yang sulit sekali dideteksi.

Badan intelejen negara kami sangat kekurangan orang. Apalah gunanya peralatan canggih jika tidak ada yang mengoperasikannya.

Presiden A: Betul, terorisme kini mulai tumbuh merebak dimana-mana dan sangat sulit dideteksi. Kami juga mengalami permasalahan serupa.

Beberapa waktu belakangan ini sudah ada tiga titik yang dijadikan sasaran bom bunuh diri oleh para teroris. Kami sudah bekerja siang malam untuk memantau keberadaan teroris namun tetap saja ada yang lolos.

Isi

Presiden B: Ya, untuk itulah kita perlu melakukan kerjasama untuk melawan terorisme di kedua negara kita.

Presiden A: Saya sangat sepakat dan menyambut baik kerjasama ini. Semoga kerjasama ini menguntungkan keduabelah pihak.

Presiden B: Sebagaimana yang telah anda ketahui, kami memiliki peralatan yang canggih yang telah kami kembangkan belakangan ini.

Peralatan ini terhubung dengan satelit kami yang bisa sangat membantu untuk memantau pergerakan teroris pada titik-titik yang telah kita kehendaki. Tentu negara anda yang luas ini membutuhkan peralatan semacam ini.

Presiden A: Anda benar pak presiden. Sementara itu kami punya ribuan pasukan terlatih untuk bergerak dalam bidang intelejen yang telah kami sebar di seluruh dunia.

Bilamana diperlukan, kami bisa menugaskan pasukan kami dan menempatkannya di negara anda untuk bekerjasama dibawah komando negara anda.

Presiden B: Itu yang sangat kami harapkan. Semua ini tak lain hanya untuk menjaga negara kita dari ancaman terorisme. Tak kurang tak lebih.

Presiden A: Saya sepakat dengan hal itu. Jika dalam 10 tahun ke depan kita bekerjasama untuk hal ini. Jikapun kita tak lagi menjabat sebagai presiden, maka perjanjian ini tetap berlaku hingga 10 tahun ke depan.

Presiden B: Baik, saya sepakat.

Presiden A: Nah, saya kira kita telah menemukan sedikit solusi untuk hal ini. Selain pokok utama terkait dengan terorisme, apakah anda ingin bekerjasama dalam hal yang lain dengan negara kami?

Presiden B: Tentu saja, kami sangat membutuhkan suplai bahan makanan dan bahan baku industri dari negara anda yang sangat kaya dengan hal-hal yang kami butuhkan.

Presiden A: Kami bisa untuk itu, dan sejujurnya negara kami juga sangat membutuhkan investor untuk membanguan kantong-kantong ekonomi di berbagai daerah yang sebetulnya sangat berpotensi namun belum terurus secara optimal.

Presiden B: Kami sanggup untuk itu karena kami sedang mencari lahan untuk dikelola, khususnya pada sektor pertanian dan peternakan.

Negara anda sudah waktunya memulai pertanian modern untuk meningkatkan hasil produksi panen dengan cara rekayasa pertanian.

Kami memiliki banyak laboratorium untuk meriset berbagai jenis tanaman agar bisa tumbuh dan berproduksi dengan maksimal.

Bila hal ini berhasil, maka negara anda akan mampu berproduksi berkali-kali lipat. Tentu hal ini juga akan menguntungkan kami karena kami juga membutuhkan bahan-bahan tersebut.

Presiden A: Ya, kami sangat minim tenaga ahli dalam hal itu dan sejujurnya peralatan di laboratorium pertanian dan peternakan kami harus diupgrade.

Presiden B: Baiklah kalau begitu, saya kira kerjasama ini akan sangat menguntungkan untuk negara kita.

Presiden A: Bagaimana kalau kerjasama dalam bidang ini kita lakukan selama 50 tahun kedepan?

Presiden B: Saya setuju.

Penutup

Presiden A: Nah, saya kira sudah waktunya kita makan siang sebelum kita lanjutkan ke penandatanganan kontrak kerjasama ini dan agenda-agenda lainnya.

Kami telah menyiapkan berbagai jenis masakan dari berbagai daerah di negara kami. Ada 1000 jenis masakan yang harus anda cicipi, hahaha.

Presiden B: Hahaha, becanda anda ini, saya hanya sanggup mencicipi 999 jenis makanan. Hahaha.

Presiden A: Hahaha, anda masih tetap memiliki selera humor yang luar biasa.

Presiden B: Baiklah, saya sudah tidak sabar. Anda tahu, saya sudah 2 hari berpuasa demi makan seluruh jenis makanan di negara anda, Hahaha

Presiden A: Hahaha, anda luar biasa pak presiden. Mari kita ke hall dan berjumpa dengan berbagai makanan dan hiburan kesenian daerah kami.

Presiden B: Ini yang paling saya tunggu-tunggu. Ayo Pak Presiden, saya sudah tidak sabar lagi.

29. Contoh Teks Negosiasi Bisnis

Suatu hari, seorang direktur perusahaan A mendatangi kantor direktur perusahaan B untuk negosiasi kerjasama bisnis.

Orientasi

Direktur A: Selamat pagi Bu.

Direktur B: Selamat pagi pak, mari silahkan. Wah, ternyata bapak datangnya pagi ya, saya kira agak siang nanti menjelang makan siang, hahaha…

Direktur A: Iya bu, maaf ini kepagian, soalnya nanti siang saya harus rapat dengan pemilik perusahaan.

Direktur B: Kepagian juga nggak apa-apa pak, saya juga sedang kosong jadwalnya hari ini. Just stand by aja, hahahaha…

Pengajuan

Direktur A: Jadi hari ini sebenarnya saya ingin membahas kelanjutan penawaran yang telah saya singgung sedikit lewat email yang saya kirim kemarin Bu.

Nah, karena perusahaan saya membutuhkan bahan baku dari perusahaan ibu, maka kedatangan saya ini tentu berkaitan dengan hal tersebut.

Direktur B: Ya pak, saya sudah baca detail lampiran dari email bapak. Kalau boleh tahu, kenapa kok nggak lanjut dengan perusahaan suplier sebelumnya pak? Maaf lho, ini kalau boleh tahu saja pak.

Direktur A: Oh, perusahaan sebelumnya yang bekerjasama dengan kami sedang mengalami masalah finansial serius dan jumlah produksi yang harus dikirim ke perusahaan kami jadi tidak stabil.

Kami tidak mau mengambil resiko ikut-ikutan menurun produktivitasnya. Lagipula, harga yang mereka tawarkan terlalu tinggi untuk ukuran bisnis semacam ini.

Ya tentunya harus bisa dibedakan dong mana jualan eceran sama kerjasama bisnis semacam ini.

Pihak kami sudah berusaha melakukan negosiasi baik-baik tetapi tetap tidak ada jalan tengah yang sama-sama menguntungkan. Terpaksa kami putus hubungan kerjasama.

Direktur B: Oh begitu rupanya. Lantas kalau boleh tahu, maaf lho ini, kenapa memilih perusahaan kami, sementara untuk material serupa bisa didapatkan di beberapa perusahaan lain yang lebih besar?

Direktur A: Prinsip perusahaan kami adalah saling menguntungkan dan saling membangun antar perusahaan yang kami ajak kerjasama. Kami lebih senang bergandengan dengan perusahaan kecil jika dibandingkan perusahaan besar.

Maaf sebelumnya, jujur saja kami hanya berspekulasi kalau perusahaan Ibu sedang giat mencari rekanan karena perusahaan Ibu termasuk perusahaan baru.

Dalam hal ini tentu perusahaan ibu berani memainkan harga untuk mengambil hati pasar.

Jadi, kami lebih cenderung mencoba bekerjasama dengan perusahaan ibu terlebih dahulu sebelum mencoba berelasi dengan perusahaan lain.

Direktur B: Wow, anda jeli sekali. Baiklah, kami memang sedang mencari rekanan bisnis untuk pemasaran produk kami dan kami memang sedang bermain harga.

Untuk itulah saya harus merespon email bapak sehingga ada pertemuan pagi ini.

Nah, permintaan perusahaan bapak adalah bahan baku ban mobil dengan jumlah 3000 liter karet olahan tiap harinya.

Kebetulan perusahaan kami mampu memproduksi 10.000 liter karet olahan siap pakai, namun sejauh ini kami hanya memproduksi 5000 liter untuk perusahaan sebelah.

Direktur A: Nah, kebetulan lagi…kalau kami naikkan jumlah permintaan menjadi 5000 liter tiap harinya berarti bisa dong?

Direktur B: Bisa pak, sejauh ini suplier bahan mentah kami tidak mengalami kendala satupun. Tapi sejauh ini kami selalu main aman dengan menimbun bahan baku untuk produksi hingga satu bulan.

Jadi kalau ada apa-apa kami sudah punya banyak rencana cadangan.

Penawaran

Direktur A: Bagus sekali. Ini yang kami mau. Baiklah, bagaimana dengan harga yang ibu ajukan untuk 5000 liter tiap harinya?

Direktur B: Kami pakai kisaran harga bawah untuk rekanan semacam ini, yakni 35 ribu rupiah per liter dan harga akan tetap segitu selama 3 bulan.

Jadi setiap 3 bulan sekali kami harap ada negosiasi harga dengan patokan harga bahan baku. Tentu perusahaan anda sudah tidak asing dengan hal ini bukan?

Direktur A: Ya, tentu untuk negosiasi harga biasanya kami selalu perbaharui seiring dengan naik turunnya harga bahan baku. Baiklah, kami langsung saja menawar ya, 33 ribu per liter.

Direktur B: Bisa, tapi bagaimana jika pembaharuan negosiasi harga kami ubah menjadi dua bulan sekali karena harga 33 ribu per liter itu termasuk rawan dan kami akan sangat repot jika harga bahan baku naik.

Persetujuan

Direktur A: Baiklah, saya kira cukup fair. 33 ribu per liter untuk suplai dua bulan ke depan.

Direktur B: Jika demikian, berarti tinggal tanda tangan dong. Hahaha, saya yang siapkan surat kontrak atau bapak?

Direktur A: Sama saja sih, tapi berhubung kami sedang di kantor ibu, bagaimana kalau surat kontraknya pihak ibu yang buat?

Direktur B: Baik bapak, dengan senang hati. Saya akan suruh sekretaris saya untuk menyiapkan surat kontrak. Bapak mau menunggu di ruang tamu? Ada hidangan sederhana di sana jika bapak berkenan.

Direktur A: Boleh deh, hahaha.

Direktur B: Silahkan bapak, lewat sini. Nah, ini ruangannya, silahkan menunggu sebentar, nanti saya akan ke sini lagi untuk penandatanganan kontrak. Silahkan dicicipi hidangan di meja.

Direktur A: Oke Bu, siap. Saya akan tunggu di sini.

(10 menit kemudian)

Direktur B: Maaf pak sedikit lama.

Direktur A: Ah, santai Bu.

Direktur B: Ini kontraknya, silahkan dibaca dulu.

Direktur A: Oke. Sip. Saya sih setuju saja dengan kontrak ini. Saya tanda tangan di sini ya Bu.

Direktur B: Iya Pak.

Direktur A: Sudah.

Direktur B: Saya juga tanda tangan ya pak. Nah, yang ini buat perusahaan bapak, dan satunya untuk kami.

Penutup

Direktur A: Sip. Saya senang bekerjasama dengan perusahaan Ibu.

Direktur B: Kami juga senang Pak.

Direktur A: Kalau begitu, terimakasih banyak. Saya mohon pamit dulu, selebihnya kita komunikasi via email atau telephone ya Bu.

Direktur B: Iya, Pak. Terimakasih banyak. Sampai jumpa dua bulan lagi.

Direktur A: Tentu. Baiklah, saya pamit. Selamat pagi bu.

Direktur B: Selamat pagi Pak.

30. Contoh Teks Negosiasi Lingkungan Keluarga

Di sebuah rumah, sang bapak berbicara pada anaknya.

Pembukaan

Bapak: Nak, ke sini sebentar…

Anak: Ada apa pak?

Bapak: Sibuk nggak?

Anak: Memangnya kenapa pak?

Bapak: Bantu bapak bawa dagangan ke pasar.

Isi

Anak: Tapi pak, kan aku ada janji mau pergi keluar sama teman-teman…

Bapak: Kan pergi bisa kapan saja, lagipula bapak jarang minta tolong sama kamu kalau nggak penting banget.

Anak: Kakak kan ada pak…

Bapak: Kakakmu mau ujian. Jangan diganggu.

Anak: Aku juga mau belajar kelompok pak.

Bapak: Gini aja, kemaren kan kamu minta dibeliin gitar kalau bapak punya uang. Nah gimana kalau setelah anter dagangan bapak kasih kamu uang buat beli gitar sendiri.

Anak: Ah, kan gitar mahal pak, paling bapak Cuma kasih 50 ribu doang.

Bapak: Eits, jangan salah, dagangan bapak itu nilainya 3 juta. Harus dikirim hari ini. Daripada bapak ajak orang lain trus kasih upah ke orang lain kan mendingan kamu bisa dapat gitar. Memangnya berapaan harga gitar?

Anak: Paling murah 200 ribu.

Bapak: Ah kecil itu. mau gak?

Anak: Yang bener pak?

Bapak: Mau gak?

Anak: Mau pak.

Bapak: Yuk kalau gitu.

Anak: Ayok pak.

Bapak: Lha trus belajar sama teman-temanmu gimana?

Anak: Ah itu bisa lain kali pak, lagian kan jarang aku bantu bapak.

Bapak: Yang bener?

Anak: Bener pak, ayuk yuk…

Penutup

Bapak: ya sudah kalau begitu, kamu ganti baju dulu sana.

Anak: Siap pak!

Demikianlah informasi yang dapat Pintarnesia berikan mengenai contoh teks negosiasi yang baik dan benar baik dalam jual beli, di lingkungan masyarakat, lingkungan keluarga, di linkungan sekolah, dan lain sebagainya secara lengkap. Semoga artikel yang telah Pintarnesia berikan diatas dapat bermanfaat dan menambah wawasan kamu.


Adi Catur Pamungkas Seorang muslim yang suka menulis berbagai macam artikel dan tertarik dengan dunia networking


Baca Lainya Tastynesia:
  1. Kue Balok
  2. Klepon
  3. Kue Pancong
  4. Kue Lumpur
  5. Bolu Kukus
  6. Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *