Wiwit Febriandari Penyuka desain dan kreasi visual, selamat membaca artikel saya ya :)

5 Tokoh Perumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara

10 min read

tokoh perumusan pancasila

Pada artikel kali ini, kita akan membahas tentang pancasila, tetapi kali ini kita akan mengulas para tokoh yang merumuskan Pancasila sebagai dasar Negara. Sebagai warga Negara yang baik kita harus tahu siapa saja tokoh tokoh yang merumuskan Pancasila sebagai dasar Negara karena bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Oke langsung saja kita ke materi yang telah Pintarnesia tulis di bawah ini.

Pancasila ialah ideologi dasar bagi Negara Indonesia. Ideologi yang membentuk Indonesia menjadi Negara yang mempunyai konstitusi dan juga di akui banyak Negara. Pada sejarahnya Pancasila dicetuskan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau biasa disingkat BPUPKI pada bulan April Tahun 1945 yang diketuai oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Pada pidato pertamanya Dr. Radjiman Wedyodiningrat menanyakan apa dasar Negara Indonesia yang akan dibentuk. Tidak lama dari pidato tersebut berakhir beberapa tokoh terkemuka Indonesia membantu menyumbang ide untuk membuat lahirnya ideologi Negara yaitu Pancasila.

Pancasila di rumuskan pada sidang BPUPKI yang berlangsung pada tanggal 28 Mei 1945 sampai 1 Juni 1945. Siapa saja yang membantu menyumbang ide untuk ideologi Negara? Berikut merupakan 5 Tokoh yang merumuskan Pancasila.

 

5 Tokoh Perumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara

tokoh perumusan pancasila

Berikut ini adalah 5 (lima) tokoh perumusan pancasila sebagai dasar negara, antara lain.

 

1. Ir. Soekarno

Yang pertama ialah presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno yang ikut serta merumuskan pancasila. Bung Karno lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekami Sosrodiharjo dengan Ida Ayu Nyoman Rai.

Selama masa kecil Bung Karno, beliau hanya sebentar hidup bersama orang tuanya di Blitar. Soekarno lebih banyak menghabiskan masa kecilnya bersama kakeknya Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur, Soekarno sekolah di beberapa tempat sebagai berikut

  1. Tulung Agung dan tamat pada tahun 1911.
  2. Europeeche Lagerre School (ELS) Bung Karno dipindahkan ke Europeeche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya di terima di Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya Jawa Timur.
  3. Hoogere Burger School (HBS) Di Jawa Timur menjadi pendidikan yang ke tiga untuk Soekarno.

Soekarno juga termasuk orang yang aktif di organisasi/perkumpulan yang bernama Tri Koro Darmo yang di bentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama Organisasi tersebut kemudian di ganti oleh soekarno menjadi Jong Java(Pemuda Jawa) pada tahun 1918. Kemudian di Tahun 1920 ketika lulus dari HBS.

Soekarno melanjutkan studinya ke Technische Hoge School (yang sekarang lebuh dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung), dan mengambil jurusan teknik sipil. Singkat cerita setelah Bung Karno terpilih dan diangkat oleh PPKI menjadi Presiden, Soekarno menjadi penyumbangkan ide untuk pancasila pada siding tanggal 1 Juni 1945. Ir. Soekarno berpidato dan mengemukakan gagasannya mengenai rumusan sila dasar Negara, yang dinamakan Pancasila yaitu:

  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan
  3. Mufakat atau Demokrasi
  4. Kesejahteraan Sosial
  5. Ketuhanan Yang Maha Esa

Semasa Bung Karno menjabat sebagai Presiden, Soekarno kerap kali mengobarkan semangat lewat pidato pidato kenegaraanya, dan beberapa penyampaian beliau terhadap para pemuda Indonesia, namun pada tanggal 21 Juni 1970 tepatnya hari Minggu, Ir. Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darurat(RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

Lalu Ir. Soekarno disemayamkan di wisnu Yaso Jakarta dan dimakamkan di Blitar,Jawa Timur berdekatan dengan makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari dengan tujuan mengenang kepergian sosok presiden pertama yang membawa Indonesia Merdeka.

Selain membawa Indonesia Merdeka, banyak perubahan yang di lakukan oleh soekarno semasa hidupnya, mulai dari kebangkitan bangsa Indonesia sampai menjadi tokoh yang tak bisa dilihat oleh sebelah mata oleh bangs lain. Banyak yang mengatakan bahwa sosok seperti Ir. Soekarno tak akan ditemukan sampai beberapa pecan ke depan.

Baca Juga : Pengertian Pancasila

 

2. Mohammad Hatta

Yang kedua ialah M. Hatta atau lebih dikenal dengan Bung Hatta. Dari sekian juta rakyat Indonesia pasti mengenal siapa Bung Hatta. Bung Hatta ialah wakil presiden yang selalu setia menemani Ir. Soekarno dalam memimpin dan mengembangkan bangsa yang tercinta ini.

Bung Hatta lahir di Bukit Tinggi, Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902. Bung Hatta merupakan Pribadi yang sederhana, bersahaja dan juga anti akan penjajah. Ayahnya Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Bung Hatta menginjak umur delapan bulan. Dari Ibunnya memiliki saudara perempuan. Bung Hatta adalah anak laki laki satu satunya di keluarganya. Dalam masalah pendidikan Bung Hatta lebih banyak menimba ilmu di Belanda seperti:

  1. Handeles Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging yang berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).
  2. Bung Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Sebetulnya Bung Hatta lebih tertarik untuk menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada tahun 1925.
  3. Namun karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam Perhimpunan Indonesia. Tetapi waktu dibuka jurusan baru yaitu hukum Negara dan hukum administrasi.
  4. Bung Hatta pun memasuki jurusan itu, terdorong oleh niatnya yang besar dalam bidang politik.

Singkat cerita pada bulan Juli 1932, Bung Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Belanda dan sebulan memilih pulang ke Jakarta. Pada tahun 1932 sampai dengan 1933, kesibukan utama Bung Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Rajatjat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia.

Bung Hatta juga merupakan tokoh yang tidak kalah penting dengan Ir. Soekarno, Bung Hatta lah yang membawa nama Indonesia ke berbagai delegasi dunia demi mengenalkan kemerdekaan Indonesia kepada pihak luar. Beliau tutup usia pada tanggal 14 Maret 1980 dan dimakamkan di Jakarta.

Baca Juga : Sejarah Pancasila dan Lahirnya Sebagai Dasar Negara

 

3. Soepomo

Yang ketiga ialah Soepomo, beliau lahir pada tanggal 22 Januari 1903 di Sukoharjo, Jawa Tengah. Ia adalah seorang yang ahli dalam bidang hukum pada generasi pertama yang sudah ada ketika Indonesia Merdeka. Banyak berita yang beredar bahwa soepomo terlahir dari kalangan keluarga ningrat aristocrat jawa. Kakek dari ibunya adalah raden Tumenggung Reksowardono Bupati Anom Sukaharjo pada masa kejayaannya dulu.

Untuk segi pendidikan, dikarenakan dari bangsa yang berada, akhirnya soepomo menjejaki pendidikan di beberapa sekolah di antaranya:

  1. ELS, yaitu sekolah setingkat dengan sekolah dasar yang terletak di daerah Boyolali pada tahun 1917.
  2. MULO, di kota solo kemudian pada tahun 1920 Soepomo melanjutkan pendidikan di MULO.
  3. Bataviasche Rechtsschool, lalu ia meneruskan pendidikan hukumnya di Bataviasche Rechtsschool di Batavia dan lulus pada tahun 1923.
  4. Setelah itu kemudian dia ditunjuk oleh colonial Belanda sebagai pegawai negeri pemerintahannya yang di bantu oleh ketua dari pengadilan negeri Sragen pada tahun 1927.

Antara tahun 1924 sampai 1927, Soepomo mendapatkan kesempatan dari belanda untuk melanjutkan studinya ke Rijksuniversiteit Leiden yang ada di Belanda dan dibimbing oleh Cornelius van Vollenhoven. Dalam studinya ia adalah seorang professor hukum arsitek yang dikenal masyarakat banyak sebagai tokoh ilmu hukum adat Indonesia dan seorang ahli hukum di bidang hukum Internasional, yaitu salah satu konseptor Liga Bangsa Indonesia.

Selain itu dalam bidang biografi soepomo juga dijelaskan bahwa ia pernah menyandang gelar Doctor dengan judul disertainya yaitu Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta atau jika di artikan ke bahasa Indonesia ialah Reorganisasi Sistem Agraria di Wilayah Surakarta.

Dalam Gagasannya untuk membentuk ideologi dasar negara pada 31 Mei 1945, Soepomo berpidato dan mengemukakan gagasannya mengenai rumusan 5 prinsip dasar Negara yang dinamakan Dasar Negara Indonesia Merdeka, yaitu

  1. Persatuan
  2. Kekeluargaan
  3. Mufakat dan Demokrasi
  4. Musyawarah
  5. Keadilan Sosial

Dalam pendidikan yang cukup tinggi Soepomo pun menjadi pahlawan yang sangat dikenal akal pendidikannya di bidang Internasional. Namun Soepomo meninggal di usia muda akibat terkena serangan jantung. Soepomo meninggal pada tanggal 12 September 1959 di Jakarta dan dimakamkan di daerah Solo.

 

4. Mohammad Yamin

Perumus dasar Negara yang selanjutnya yaitu M. Yamin yang merupakan pahlawan yang memperjuangkan persatuan pemuda melalui Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. M. Yamin lahir di Sumatra Barat pada tanggal 24 Agustus 1903, kedua orang tuanya ialah Tuanku Oesman Gelar Baginda Khatib dan ibu Siti Saadah. Untuk pendidikan M. Yamin mengenyam Pendidikan seperti berikut:

  1. Pendidikan dasar di Palembang,
  2. AMS, kemudian ia melanjutkan sekolahnya di Yogyakarta yaitu Sekolah AMS. beberapa pelajaran ia telah dipelajari dan juga mempelajari sejarah purbakala dan beberapa bahasa di dunia seperti kael, latin dan juga Yunani. Setelah lulus dengan hasil yang memuaskan.
  3. Batavia, kemudian Mohammad Yamin melanjutkan pendidikan hukum di Batavia. Ia memperoleh gelar Messter in de Rechten atau sering kita kenal dengan Sarjana Hukum dari Rechtshoogeschool te Batavia.

Untuk ke organisasinya M. Yamin masuk di salah satu organisasi. Organisasi yang ia ikuti ialah Jong Sumateranen Bond. Bersama organisasinya tersebut, M. Yamin terlibat dalam panitia Sumpah Pemuda. Setelah mendapatkan gelar S1, ia juga bergabung menjadi anggota PERTINDO yang tidak bertahan begitu lama dikarenakan beberapa hal.

M. Yamin juga berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan dengan membanti Ir. Soekarno dari banyak hal. Namun M. Yamin menjadi orang yang sangat penting ketika Indonesia sudah Merdeka, ulasannya sebagai berikut:

  • Pada saat jabatan Ir. Soekarno – Mohammad Hatta , M. yamin diangkat sebagai pemangku jabatan penting dalam sebuah negara. Beliau pernah menjabat sebagai anggota DPR dari tahun 1950.
  • Setelah menjadi anggota DPR pada tahun 1950 Mohammad Yamin melanjutkannya dengan menjadi menteri kehakiman pada tahun 1952 hingga 1952.
  • Dilanjutkan dari tahun 1953 hingga 1955 Beliau menjadi menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan. Selain menjadi anggota DPR , beliau juga sempat menjabat sebagi ketua Dewan perancang Nasional pada tahun 1962.
  • Beliau juga menjadi pengawas IKBN Antara (1961-1962) dan menjadi menteri penerangan pada tahun 1962-1963.

M. Yamin juga merupakan penggagas lahirnya dasar Negara, pada siding 29 Mei 1945. M. Yamin berpidato dan mengemukakan pendapatnya mengenai rumusan 5 asas dasar republik Indonesia, yaitu:

  1. Peri Kebangsaan
  2. Peri Kemanusiaan
  3. Peri Ketuhanan
  4. Peri Kerakyatan
  5. Kesejahteraan Rakyat

Selain keberhasilan karirnya di bidang politik, beliau juga merupakan sastrawan dan sejarahwan yang banyak mengeluarkan karya. Beliau juga dikenal sebagai perintis puisi modern.

M. Yamin akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta pada tanggal 17 Oktober di usia yang menginjak 59 tahun. Berdasarkan perjuangan hidup M. Yamin kepada Indonesia beliau mendapat penghargaan Bintang Mahaputra RI dari Presiden Indonesia, Penghargaan Corps Polisi Militer atas jasanya yang telah menciptakan lambang gajah mada dan Panca Darma corps, dan penghargaan panglima Kostrad.

Baca Juga : Sejarah Perumusan Pancasila

 

5. K.H. Abdul Wachid Hasyim

Yang terakhir adalah seorang kiai yaitu K.H Abdul Wachid Hasyim. Beliau lahir di Jombang Jawa Timur pada tanggal 1 Juni 1914, ia lahir dari pasangan K.H. Hasyim Asy`ari dan Nyai Nafiqah binti K Ilyas. Lahir dari keluarga yang memang pejuang kemerdekaan Indonesia, ayahnya merupakan pendiri organisasi keagaman Nahdlotul Ulama (NU) yang masih ada sampai saat ini.

Abdul Wachid hasyim terlahir dari keluarga yang memiliki kultur agama yang sangat kuat, jadi tak heran kecerdasannya terlihat sejak beliau masih anak anak, tepatnya pada umur 7 tahun, kemampuannya sebagai berikut:

  1. Ia sudah khatam Al-Quran dengan mendapatkan bimbingan langsung dari ayahnya yang merupakan pendiri NU. Pendidikan lainnya ia dapat saat di pesantren Tebu Ireng di Jombang, Jawa Timur.
  2. Saat usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin, menguasai bahasa Inggris dan jug Belanda yang tak pernah ia dapatkan di pelajaran ataupun pendidikan di sekolah colonial sedikitpun.
  3. Pada biografinya disebutkan bahwa pada umur 18 tahun ia menunaikan ibadah haji di Mekah.
  4. Di tahun yang sama beliau bermukim kurang lebih selam 2 tahun di Mekah untuk memperdalam ilmu keagamaannya.

Sepulang dari tanah suci, beilau aktif di organisasi yang didirikan oleh ayahnya yaitu Nahdlotul Ulama. Pada tahun 1938, beliau menjadi penerus NU ranting Cukir dan terus menanjak. Pada tahun 1940 menjadi pengurus tingkat pusat PBNU dengan Memimpin departemen Ma’arif yang membidangi pendidikan.

Wawasan yang luas menjadikan karirnya terus menanjak, dan juga organisasi yang ia tangani mengalami perubahan yang sangat signifikan dan sangat baik. Pada bidang pendidikan beliau mendirikan sekolah tinggi islam di Jakarta pada tahun 1944 yang pengelolaannya dan segalanya diserahkan secara langsung kepada KH A Kahar Muzakkir.

Dalam sejarah ia tercatat menjadi anggota BPUPKI dan PPKI, yang dimana turut serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun perjuangkannya berakhir saat beliau menginjak umur 39 tahun. Berikut merupakan tampilan keterangan perjuangannya:

  • Pada tanggal 18 April 1953, beliau melakukan perjalanan menuju Sumedang untuk menghadiri rapat NU ditemani oleh puteranya yaitu Abdurrahman Wahid atau sering kita kenal dengan nama Gus Dur.
  • Sesampainya di daerah Cimindi, mobil yang ditumpanginya mengalami ban selip dan tidak dapat dikendalikan oleh sopir sehingga menabrak truk yang mengakibatkan K.H. Wahid Hasyim terlempar keluar dari mobil.
  • Kecelakaan tersebut membuat beliau dirawat dan mengalami koma, dan akhirnya wafat satu hari kemudian tepatnya pada tanggal 19 april 1953 dalam usia yang masih muda yaitu 39 tahun.
  • Jenazah beliau dimakamkan di Pesantren Tebu Ireng Jombang milik ayahnya.

Dalam sejarahnya beliau mendapat anugrah sebagai pahlawan nasional sesuai darma baktinya kepada Negara Republik Indonesia dari sisi membantu kemerdekaan maupun pendidikan.

Itulah 5 Pahlawan yang membantu merancang ideologi Negara yang sudah di tetapkan berdasarkan Ketetapan MPR No.II/MPR/1978. Semua poin lahir dari pemikiran mereka yang tidak asal dalam membentuknya, 5 pahlawan tersebut telah mengenyam pendidikan tinggi, sampai saat ini pancasila memiliki 5 unsur yang pastinya kita sudah tahu yaitu :

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

 

Sekian penjelasan tentang 5 tokoh para perumus dasar Negara yang sangat berjasa bagi Indonesia. Sepatutnya kita sebagai generasi penerus bangsa harus selalu meneruskan jasa para pahlawan. Bila terdapat kesalahan mohon dimaafkan dan dimaklumi.

Wiwit Febriandari Penyuka desain dan kreasi visual, selamat membaca artikel saya ya :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DarkLight