√ Tolak Peluru: Pengertian, Teknik, Gaya, Alat dan Peraturan

Tolak Peluru: Pengertian, Teknik, Gaya, Alat dan Peraturan Tolak Peluru

Tolak Peluru: Pengertian, Teknik, Gaya, Alat dan Peraturan Tolak Peluru

Tolak Peluru – Adalah salah satu cabang olahraga atletik yang cara memainkannya yaitu melemparkan bola besi dengan jarak yang sejauh mungkin dari titik lempar ke daerah pendaratan dengan menggunakan teknik dan aturan yang telah ditetapkan.

Olahraga tolak peluru dapat dilakukan di dalam ruangan atau diluar ruangan. Untuk lebih jelasnya lagi simak uraian di bawah ini tentang cabang olahraga tolak peluru.

 

Pengertian Tolak Peluru

Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga lempar di dalam atletik yang mana sang atlet akan melempar sebuah bola besi dengan jarak sejauh mungkin dan dihitung dari titik lempar sampai dengan titik pendaratan dengan menggunakan teknik tertentu dan sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan. Cabang olahraga tolak peluru dapat dimainkan di lapangan indoor ataupun outdoor.

Sebagai salah satu cabang lempar dalam olahraga, tolak peluru cabang olahraga yang dapat dilakukan di lapangan indoor berbeda halnya dengan lempar cakram, karena tolak peluru tidak membutuhkan area pendaratan yang terlalu luas, karena sampai saat ini masih belum ada atlet tolak peluru yang dapat melebihi jarak lempar hingga 25 meter.

Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga berat yang tidak bisa dilakukan dengan cara sembarangan, meskipun olahraga tolak peluru terkesan mudah yaitu hanya dengan melakukan tolakan bola besi dengan jarak sejauh mungkin.

Kebanyakan para juara dari cabang olahraga tolak peluru baik untuk kelas laki-laki ataupun kelas perempuan memiliki postur tubuh yang besar serta mempunyai energi yang kuat untuk dapat melakukan tolakan meski terdapat pula atlet tolak peluru yang memiliki postur tubuh sedang.

Secara umum terdapat dua faktor penentu dalam olahraga tolak peluru yaitu teknik dan postur tubuh atlet. Memang tidak dapat dihindari bahwa atlet yang memiliki tubuh besar cenderung mempunyai energi yang lebih besar pula dan cocok dalam olahraga tolak peluru, akan tetapi bukan berarti atlet yang memiliki tubuh sedang atau bertubuh kecil tidak dapat melakukannya.

Asalkan tolak peluru tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik yang baik dan benar serta dilakukan dengan menggunakan energi yang besar dengan usaha yaitu latihan secara rutin, maka hasil tolakan akan jauh.

 

 

Sejarah Tolak Peluru

Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga yang telah ada dari sejak zaman Yunani kuno, hanya saja pada waktu itu bentuk serta tata cara dalam melakukan olahraga tersebut berbeda dengan yang sekarang. Menurut Homer pada ada waktu itu olahraga tolak peluru memiliki nama yaitu lempar beban (weight growing).

Akan tetapi tidak ada catatan sejarah yang membahas tentang bentuk atau jenis beban yang digunakan dalam tolak peluru pada saat itu, namun dari data sejarah pada saat itu yang ada hanyalah lempar batu.

Meskipun demikian olahraga tolak peluru adalah salah satu jenis latihan perang yang dilakukan oleh para prajurit Troya yang kemudian dipertandingkan. Seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa tidak ada catatan sejarah mengenai tolak peluru termasuk cicaknya yang tidak dapat ditemukan dalam olahraga lempar beban.

Akan tetapi salah satu jejak yang dapat ditemukan dalam olahraga lempar beban tersebut adalah kompetisi yang pada saat itu diadakan di Skotlandia pada abad ke-1. Pada abad ke-16 di Inggris, Raja Henry ke VIII juga menyelenggarakan pertandingan yang serupa, itu lempar bukan dan lempar palu.

Petisi pertama yang bentuknya mendekati dengan tolak peluru pada zaman sekarang atau masa kini adalah kompetisi pada era pertengahan yang di mana kompetisi tersebut diselenggarakan oleh kalangan militer kemudian diikuti oleh para prajurit yang melemparkan bola besi dengan jarak yang sejauh mungkin dari titik tolakan.

Kompetisi tolak peluru yang pertama kali didokumentasikan adalah kompetisi tolak peluru yang diselenggarakan di Skotlandia sebagai salah satu dari bagian The British Amateur Championship pada tahun 1866.

Pada saat itulah olahraga tolak peluru mulai digemari khususnya di negara-negara Eropa tolak peluru adalah cabang olahraga yang menjadi salah satu nomor atletik yang dipertandingkan dalam olimpiade modern pertama pada tahun 1896 di Yunani.

 

 

Teknik Tolak Peluru

Tim perunding dalam tolak peluru adalah terletak pada gaya pada saat ingin melakukan tolakan. Dapat dipegang sesuai dengan posisi yang paling nyaman pada saat seseorang ingin melakukan tolakan, karena posisi jari dalam mengundang peluru tidak terlalu penting. Sementara di posisi awal peluru akan stabil karena selalu menempel di leher.

Berikut ini adalah penjelasan lebih lengkap mengenai teknik dalam melakukan tolak peluru mulai dari persiapan sampai akan melakukan tolakan dengan menggunakan dua gaya yaitu gaya glide dan gaya spin.

 

Teknik Tolak Peluru Gaya Glide (Meluncur)

Posisi awal gaya glide adalah dengan cara menghadapkan tubuh ke arah belakang sembari membelakangi sektor pendaratan, kemudian memegang peluru dengan menggunakan tangan kanan, menempelkan peluru tersebut ke leher sehingga kepala menjadi miring kekanan menyesuaikan dengan posisi peluru.

Teknik yang diperlukan dapat disesuaikan dengan kenyamanan atlet dalam dalam melakukan hal tersebut. Kemudian setelah itu posisi badan agak menunduk ke bawah condong ke sisi kanan sehingga bahu kiri lebih tinggi.

Kaki kanan ditekuk agar sedikit untuk memberikan daya tolakan, dan kaki kiri ditempatkan ke belakang, dapat lurus atau sedikit ditekuk dengan ujung kaki menyentuh lantai.

Kemudian yang selanjutnya pada saat ingin melakukan luncuran 180°, badan dicondongkan sedikit ke depan semoga ujung kaki kiri dapat terangkat dari lantai, kemudian kaki kanan melakukan tolakan dan kaki kiri terdorong hingga ke balok batas lemparan.

Pada teks tersebut tubuh secara bersamaan berputar mengarah ke depan dan tangan kanan melakukan tolakan peluru dengan tenaga yang kuat.

Pada saat tangan kanan mulai melakukan tolakan, Geserlah posisi kepala sehingga tidak menghalangi lajunya peluru mengarah ke sektor pendaratan.

Apabila seorang atlet peluru kidal maka lakukan hal tersebut dengan cara kebalikannya atau menggunakan tubuh sebaliknya dan menggunakan cara yang sama.

 

Teknik Tolak Peluru Gaya Spin (Berputar)

Teknik tolak peluru gaya spin dilakukan hampir mirip dengan gaya lempar cakram yang berputar dalam putaran. pada awalnya dilakukan dengan menggunakan teknik tolak peluru gaya glide itu atlet menghadap ke belakang lalu tangan kanan memegang peluru dan menempelkannya ke leher, kemudian posisi badan tegak dan kepala miring.

Selanjutnya kedua kaki disejajarkan, lalu yang pertama kaki kiri dijadikan sebagai tumpuan agar kaki kanan dapat diayunkan menuju ke tengah lingkaran.

Kemudian setelah itu kaki kanan menapak tengah lapangan, kaki yang sebelumnya dijadikan tumpuan dan diayunkan dengan gerakan yang melingkar sehingga kaki kanan yang menjadi tumpuan pada akhir putaran tubuh.

Pada saat kaki sebelah kiri jatuh maka tubuh akan dihadapkan dengan tangan sebelah kanan melakukan peluru dengan penggunaan kekuatan yang besar ke arah yang jauh.

Depan dengan putaran tumit, pinggul, lutut dan dada ke arah depan untuk memberikan tambahan dari daya dorong.

Keputihan setelah peluru terlempar kemungkinan besar tubuh kemari berputar Karena energi yang dilepas membentuk garis putaran tubuh.

 

 

Gaya Tolak Peluru

Dalam olahraga tolak peluru terdapat 3 gaya yang pernah digunakan dalam pertandingan, yaitu gaya klasik, gaya glide (Meluncur) dan gaya spin (berputar). Dari ketiga gaya tersebut hanya gaya meluncur dan berputar saja yang masih dipergunakan sampai sekarang ini. Berikut ini adalah penjelasan mengenai gaya tolak peluru.

 

Gaya Klasik (Samping)

tolak peluru

Gaya klasik adalah gaya tolak peluru yang paling tua dan tidak diketahui siapa penemu gaya ini. gaya klasik adalah gaya tolak peluru yang menggunakan awalan menyamping, yaitu atlet tolak peluru menghadap ke samping dalam posisi siap sebelum mulai menolak peluru.

Pada gaya ini awalnya peluru dipegang dengan menggunakan kedua tangan, dengan tangan kanan menyangga peluru di atas bahu, dan tangan kiri memegang atau menjaga peluru di bagian atas. akan tetapi peluang tersebut nantinya akan tetap dilempar dengan menggunakan satu tangan yaitu tangan kanan.

 

Gaya Glide (Meluncur)

tolak peluru

Tolak peluru dengan menggunakan gaya meluncur pertama kali dirilis pada tahun 1951 yang pertama kali dipergunakan oleh Parry O’Brien dari Amerika serikat. Berbeda dengan tolak peluru gaya klasik (samping), pada gaya ini atlet akan melakukan setengah putaran terlebih dahulu sebelum melontarkan peluru.

Kemudian pada gaya ini juga atlet akan menghadap ke belakang pada persiapan awalnya, lalu mendorong tubuhnya ke arah belakang untuk dapat segera menghadap ke depan dan melontarkan peluru.

Lemparan terjauh dengan menggunakan gaya glide adalah lemparan yang dilakukan oleh Ulf Timmermann atlet tolak peluru yang berasal dari Jerman Timur dengan jarak lemparan sejauh 23,6 meter.

 

Gaya Spin (Berputar)

tolak peluru

Tolak peluru gaya samping pertama kali dirilis pada tahun 1972 oleh Alexander Barushnikov yang berasal dari Rusia yang berhasil membuat rekor baru untuk nomor putra dengan jarak lemparan sejauh 22 m pada tahun tersebut.

Pada gaya spin seorang atlet akan melakukan putaran 360 derajat sebelum melakukan lemparan. Gaya berputar tersebut diharapkan dapat mampu memberikan momentum yang terbaik untuk melempar peluru dengan jarak yang paling jauh.

Gaya tersebut adalah gaya yang paling sulit dilakukan dalam tolak peluru karena atlet tidak hanya fokus pada kekuatan tolakan, akan tetapi seorang atlet juga harus menguasai teknik berputar dengan baik.

Apabila seorang atlet sedikit saja melakukan kesalahan dalam putaran, maka hasil yang didapatkan akan buruk dan bahkan dapat juga berujung pada kegagalan. Atlet terbaik yang melakukan tolak peluru dengan gaya spin yang berhasil memecahkan rekor yaitu Randy Brandes yang berhasil melempar peluru dengan jarak sejauh 23,12 meter.

 

 

Peraturan Tolak Peluru

tolak peluru

dalam melakukan olahraga tolak peluru terdapat beberapa peraturan yang wajib dipatuhi dan tidak boleh dilanggar oleh para pemainnya. Berikut ini adalah peraturan dalam tolak peluru adalah sebagai berikut.

  1. Atlet atau peserta diperbolehkan memasuki lingkaran tolakan dari arah mana saja. Namun biasanya para peserta atau atlet memasuki lingkaran dari sisi belakang dan samping.
  2. Atlet atau peserta tidak boleh menggunakan atribut seperti sarung tangan, akan tetapi boleh menggunakan pelindung untuk melindungi ruas jari selama waktu pertandingan.
  3. setelah dipanggil atlet atau peserta memiliki waktu 60 detik untuk dapat menyelesaikan pertandingan.
  4. Atlet tolak peluru harus menahan peluru dengan menggunakan lehernya pada saat melakukan gerakan tolakan
  5. Atlet melakukan dalam lingkaran dan tidak boleh sampai keluar garis lingkaran, apabila salah satu kakinya menyentuh daerah di luar garis lempar maka peserta atau atlet akan didiskualifikasi.
  6. Peluruh yang dilemparkan hanya boleh menggunakan satu tangan saja serta posisinya juga harus lebih tinggi dari bahu.
  7. Peluru harus mendarat pada sektor area yang telah disediakan.
  8. Atlet atau peserta meninggalkan lingkaran apabila sudah melakukan lemparan pada sisi lingkaran yang ada pada bagian belakang.
  9. peserta atau atlet boleh meninggalkan lapangan pada saat peluru sudah mendarat.

 

 

Lapangan Tolak Peluru

tolak peluru

lapangan yang digunakan pada saat pertandingan tolak peluru hampir mirip dengan lapangan lempar cakram, akan tetapi dapat dibedakan dari adanya papan batas tolakan yang terdapat pada lingkaran tolak peluru.

  1. Lapangan tolak peluru dapat dibagi menjadi dua, yaitu sektor pendaratan dan lingkaran tolakan.
  2. Sektor pendaratan berupa tanah yang telah ditandai dengan garis batas (sector line) sekaligus garis ukur standar yang ada di tengah area sektor pendaratan. Panjang dari sektor tersebut minimal yaitu 25 m dengan sudut 40 derajat.
  3. pada lingkaran tolakan mempunyai diameter 2, 235 meter yang dikelilingi dengan ring besi dengan ketebalan 66 mm dan tinggi 2 cm yang berfungsi sebagai batas dari lingkaran. pada bagian depan lingkaran tersebut dipasang balok batas tolakan dengan ukuran panjang 1,2 m dan tinggi 10 cm dengan ketebalan 11,4 cm.

 

 

Peralatan Tolak Peluru

tolak peluru

Selain lapangan yang menjadi faktor terpenting dalam pelaksanaan tolak peluru seperti yang telah dijelaskan di atas, akan tetapi masih terdapat peralatan lain yang yang penting dalam melakukan tolak peluru antara lain yaitu:

  • Peluit
  • Bendera
  • Alat pengukur
  • Bola peluru atau bola besi dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Ukuran bola disesuaikan dengan jenis lapangan yang digunakan. Biasanya lapangan indoor menggunakan pola yang sedikit berukuran lebih besar daripada lapangan outdoor serta pola tersebut dibuat dari bahan yang berbeda akan tetapi memiliki berat yang sama. Bola yang digunakan tersebut dapat terbuat dari pasir, bahan besi, logam, stainless steel, material sintetis, pasir, dan polyvinyl.
  2. Bola peluru atau besi untuk pemula atau junior Putri yaitu dengan berat 3 kg.
  3. Pola peluru atau besi untuk senior Putri yaitu dengan berat 4 kg.
  4. Pola peluruh atau besi untuk pemula atau junior putra memiliki berat yaitu 5 kg.
  5. Pola peluru atau besi untuk senior putra memiliki berat yaitu 7, 25 kg.

 

Atlet Atlet Tolak Peluru

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa jarak lemparan yang jauh dihasilkan tergantung dari energi atlet dan juga dipengaruhi oleh ukuran tubuh atlet tolak peluru. Biasanya atlet yang memiliki tubuh besar pada umumnya jauh lebih unggul dibandingkan dengan atlet yang memiliki postur tubuh sedang atau kecil. Meskipun tidak selamanya seperti itu.

Terkait dengan gaya lemparan, atletik yang memiliki tubuh pendek dan cenderung lebih menggunakan gaya berputar atau spin, sedangkan atlet yang memiliki tubuh tinggi akan cenderung menggunakan gaya meluncur atau glide.

Dalam sejarah prestasi yang pernah diraih oleh atlet tolak peluru terdapat tiga nama yang telah menjadi legenda. Antara lain yang pertama adalah Randy Barnes yang merupakan atlet tolak peluru dari Amerika serikat, yang berhasil menjadi pemecah rekor dunia tolak peluru nomor putra pada lapangan indoor dan outdoor dengan jarak sejauh 23,2 m (outdoor) dan 22, 66 meter (indoor).

Kemudian yang kedua yaitu pada nomor Putri untuk lapangan outdoor adalah Natalya Lisovskaya yang berasal dari Rusia, ia berhasil mencetak rekor dengan jarak sejauh 22,63 m.

Sedangkan untuk atlet ketiga yang juga berasal dari nomor Putri yaitu Helena Fibingirova yang berasal dari republik Ceko yang menjadi jawara dari tolak peluru dalam lapangan indoor serta memecahkan rekor dengan jarak lemparan sejauh 22,50 m.

 

Atlet Tolak Peluru Nomor Putra

Selain itu terdapat pula atlet-atlet tolak peluru dalam nomor putra antara lain yaitu:

  1. Randy Barnes yang berasal dari Amerika dengan jarak lemparan sejauh 23,12 m pada tanggal 20 Mei 1990 di Westwood.
  2. Ulf Timmermann yang berasal dari Jerman Timur dengan jarak lemparan sejauh 23,06 m pada tanggal 22 Mei tahun 1988 di Khania.
  3. Alessandro Andrei yang berasal dari Italia yang telah berhasil melempar dengan jarak sejauh 22,91 m pada tanggal 12 agustus 1987 di Viareggio.
  4. Brian Oldfiled yang berasal dari negara Amerika yang telah berhasil melempar dengan jarak sejauh 22,86 m pada tanggal 10 Mei tahun 1975 di El Paso.
  5. Werner Gunthor yang berasal dari negara Swiss dan telah berhasil melempar dengan jarak sejauh 22,75 m pada tanggal 23 Agustus tahun 1988 di Bern.

 

Atlet Tolak Peluru Nomor Putri

Selain atlet dari nomor putri terdapat pula atlet dari nomor Putri yang merupakan atlet tolak peluru peringkat papan atas antara lain yaitu:

  1. Natalya Lisovskaya yang berasal dari negara rusia yang dapat melempar dengan jarak sejauh 22,63 m pada tanggal 7 Juni tahun 1987 di Moskow.
  2. Helena Fibingirova yang berasal dari republik Ceko yang dapat melempar dengan jarak sejauh 22,50 m pada tanggal 19 Februari tahun 1977 di Jablonec nad Nisou.
  3. Illona Slupianek yang berasal dari Jerman Timur yang dapat melempar dengan jarak sejauh 22,45 m pada tanggal 11 Mei tahun 1980 di Postdam.
  4. Claudia Losch yang berasal dari Jerman Barat yang dapat melempar dengan jarak sejauh 22,19 m pada tanggal 23 Agustus tahun 1987 di Hainfield.
  5. Ivanka Khristova yang berasal dari Bulgaria dan dapat melempar dengan jarak sejauh 21,89 m pada tanggal 4 Juli tahun 1978 di Belmeken.

 

 

Demikian penjelasan mengenai tolak peluru mulai dari pengertian tolak peluru, sejarah tolak peluru, teknik tolak peluru, gaya tolak peluru dan alat-alat yang digunakan dalam tolak peluru serta atlet-atlet yang berhasil menorehkan prestasinya dalam cabang olahraga tolak peluru.

Semoga artikel ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi penunjang bagi kamu yang ingin berkenalan dengan cabang olahraga tolak peluru.



Pengertian Biologi: Manfaat dan Cabang Ilmu Biologi

Pengertian Biologi: Manfaat dan Cabang Ilmu Biologi

Tolak Peluru – Adalah salah satu cabang olahraga atletik yang cara memainkannya yaitu melemparkan bola besi dengan jarak yang sejauh mungkin dari titik lempar ke daerah pendaratan dengan menggunakan teknik dan aturan yang telah ditetapkan.

Olahraga tolak peluru dapat dilakukan di dalam ruangan atau diluar ruangan. Untuk lebih jelasnya lagi simak uraian di bawah ini tentang cabang olahraga tolak peluru.

 

Pengertian Tolak Peluru

Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga lempar di dalam atletik yang mana sang atlet akan melempar sebuah bola besi dengan jarak sejauh mungkin dan dihitung dari titik lempar sampai dengan titik pendaratan dengan menggunakan teknik tertentu dan sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan. Cabang olahraga tolak peluru dapat dimainkan di lapangan indoor ataupun outdoor.

Sebagai salah satu cabang lempar dalam olahraga, tolak peluru cabang olahraga yang dapat dilakukan di lapangan indoor berbeda halnya dengan lempar cakram, karena tolak peluru tidak membutuhkan area pendaratan yang terlalu luas, karena sampai saat ini masih belum ada atlet tolak peluru yang dapat melebihi jarak lempar hingga 25 meter.

Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga berat yang tidak bisa dilakukan dengan cara sembarangan, meskipun olahraga tolak peluru terkesan mudah yaitu hanya dengan melakukan tolakan bola besi dengan jarak sejauh mungkin.

Kebanyakan para juara dari cabang olahraga tolak peluru baik untuk kelas laki-laki ataupun kelas perempuan memiliki postur tubuh yang besar serta mempunyai energi yang kuat untuk dapat melakukan tolakan meski terdapat pula atlet tolak peluru yang memiliki postur tubuh sedang.

Secara umum terdapat dua faktor penentu dalam olahraga tolak peluru yaitu teknik dan postur tubuh atlet. Memang tidak dapat dihindari bahwa atlet yang memiliki tubuh besar cenderung mempunyai energi yang lebih besar pula dan cocok dalam olahraga tolak peluru, akan tetapi bukan berarti atlet yang memiliki tubuh sedang atau bertubuh kecil tidak dapat melakukannya.

Asalkan tolak peluru tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik yang baik dan benar serta dilakukan dengan menggunakan energi yang besar dengan usaha yaitu latihan secara rutin, maka hasil tolakan akan jauh.

 

 

Sejarah Tolak Peluru

Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga yang telah ada dari sejak zaman Yunani kuno, hanya saja pada waktu itu bentuk serta tata cara dalam melakukan olahraga tersebut berbeda dengan yang sekarang. Menurut Homer pada ada waktu itu olahraga tolak peluru memiliki nama yaitu lempar beban (weight growing).

Akan tetapi tidak ada catatan sejarah yang membahas tentang bentuk atau jenis beban yang digunakan dalam tolak peluru pada saat itu, namun dari data sejarah pada saat itu yang ada hanyalah lempar batu.

Meskipun demikian olahraga tolak peluru adalah salah satu jenis latihan perang yang dilakukan oleh para prajurit Troya yang kemudian dipertandingkan. Seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa tidak ada catatan sejarah mengenai tolak peluru termasuk cicaknya yang tidak dapat ditemukan dalam olahraga lempar beban.

Akan tetapi salah satu jejak yang dapat ditemukan dalam olahraga lempar beban tersebut adalah kompetisi yang pada saat itu diadakan di Skotlandia pada abad ke-1. Pada abad ke-16 di Inggris, Raja Henry ke VIII juga menyelenggarakan pertandingan yang serupa, itu lempar bukan dan lempar palu.

Petisi pertama yang bentuknya mendekati dengan tolak peluru pada zaman sekarang atau masa kini adalah kompetisi pada era pertengahan yang di mana kompetisi tersebut diselenggarakan oleh kalangan militer kemudian diikuti oleh para prajurit yang melemparkan bola besi dengan jarak yang sejauh mungkin dari titik tolakan.

Kompetisi tolak peluru yang pertama kali didokumentasikan adalah kompetisi tolak peluru yang diselenggarakan di Skotlandia sebagai salah satu dari bagian The British Amateur Championship pada tahun 1866.

Pada saat itulah olahraga tolak peluru mulai digemari khususnya di negara-negara Eropa tolak peluru adalah cabang olahraga yang menjadi salah satu nomor atletik yang dipertandingkan dalam olimpiade modern pertama pada tahun 1896 di Yunani.

 

 

Teknik Tolak Peluru

Tim perunding dalam tolak peluru adalah terletak pada gaya pada saat ingin melakukan tolakan. Dapat dipegang sesuai dengan posisi yang paling nyaman pada saat seseorang ingin melakukan tolakan, karena posisi jari dalam mengundang peluru tidak terlalu penting. Sementara di posisi awal peluru akan stabil karena selalu menempel di leher.

Berikut ini adalah penjelasan lebih lengkap mengenai teknik dalam melakukan tolak peluru mulai dari persiapan sampai akan melakukan tolakan dengan menggunakan dua gaya yaitu gaya glide dan gaya spin.

 

Teknik Tolak Peluru Gaya Glide (Meluncur)

Posisi awal gaya glide adalah dengan cara menghadapkan tubuh ke arah belakang sembari membelakangi sektor pendaratan, kemudian memegang peluru dengan menggunakan tangan kanan, menempelkan peluru tersebut ke leher sehingga kepala menjadi miring kekanan menyesuaikan dengan posisi peluru.

Teknik yang diperlukan dapat disesuaikan dengan kenyamanan atlet dalam dalam melakukan hal tersebut. Kemudian setelah itu posisi badan agak menunduk ke bawah condong ke sisi kanan sehingga bahu kiri lebih tinggi.

Kaki kanan ditekuk agar sedikit untuk memberikan daya tolakan, dan kaki kiri ditempatkan ke belakang, dapat lurus atau sedikit ditekuk dengan ujung kaki menyentuh lantai.

Kemudian yang selanjutnya pada saat ingin melakukan luncuran 180°, badan dicondongkan sedikit ke depan semoga ujung kaki kiri dapat terangkat dari lantai, kemudian kaki kanan melakukan tolakan dan kaki kiri terdorong hingga ke balok batas lemparan.

Pada teks tersebut tubuh secara bersamaan berputar mengarah ke depan dan tangan kanan melakukan tolakan peluru dengan tenaga yang kuat.

Pada saat tangan kanan mulai melakukan tolakan, Geserlah posisi kepala sehingga tidak menghalangi lajunya peluru mengarah ke sektor pendaratan.

Apabila seorang atlet peluru kidal maka lakukan hal tersebut dengan cara kebalikannya atau menggunakan tubuh sebaliknya dan menggunakan cara yang sama.

 

Teknik Tolak Peluru Gaya Spin (Berputar)

Teknik tolak peluru gaya spin dilakukan hampir mirip dengan gaya lempar cakram yang berputar dalam putaran. pada awalnya dilakukan dengan menggunakan teknik tolak peluru gaya glide itu atlet menghadap ke belakang lalu tangan kanan memegang peluru dan menempelkannya ke leher, kemudian posisi badan tegak dan kepala miring.

Selanjutnya kedua kaki disejajarkan, lalu yang pertama kaki kiri dijadikan sebagai tumpuan agar kaki kanan dapat diayunkan menuju ke tengah lingkaran.

Kemudian setelah itu kaki kanan menapak tengah lapangan, kaki yang sebelumnya dijadikan tumpuan dan diayunkan dengan gerakan yang melingkar sehingga kaki kanan yang menjadi tumpuan pada akhir putaran tubuh.

Pada saat kaki sebelah kiri jatuh maka tubuh akan dihadapkan dengan tangan sebelah kanan melakukan peluru dengan penggunaan kekuatan yang besar ke arah yang jauh.

Depan dengan putaran tumit, pinggul, lutut dan dada ke arah depan untuk memberikan tambahan dari daya dorong.

Keputihan setelah peluru terlempar kemungkinan besar tubuh kemari berputar Karena energi yang dilepas membentuk garis putaran tubuh.

 

 

Gaya Tolak Peluru

Dalam olahraga tolak peluru terdapat 3 gaya yang pernah digunakan dalam pertandingan, yaitu gaya klasik, gaya glide (Meluncur) dan gaya spin (berputar). Dari ketiga gaya tersebut hanya gaya meluncur dan berputar saja yang masih dipergunakan sampai sekarang ini. Berikut ini adalah penjelasan mengenai gaya tolak peluru.

 

Gaya Klasik (Samping)

tolak peluru

Gaya klasik adalah gaya tolak peluru yang paling tua dan tidak diketahui siapa penemu gaya ini. gaya klasik adalah gaya tolak peluru yang menggunakan awalan menyamping, yaitu atlet tolak peluru menghadap ke samping dalam posisi siap sebelum mulai menolak peluru.

Pada gaya ini awalnya peluru dipegang dengan menggunakan kedua tangan, dengan tangan kanan menyangga peluru di atas bahu, dan tangan kiri memegang atau menjaga peluru di bagian atas. akan tetapi peluang tersebut nantinya akan tetap dilempar dengan menggunakan satu tangan yaitu tangan kanan.

 

Gaya Glide (Meluncur)

tolak peluru

Tolak peluru dengan menggunakan gaya meluncur pertama kali dirilis pada tahun 1951 yang pertama kali dipergunakan oleh Parry O’Brien dari Amerika serikat. Berbeda dengan tolak peluru gaya klasik (samping), pada gaya ini atlet akan melakukan setengah putaran terlebih dahulu sebelum melontarkan peluru.

Kemudian pada gaya ini juga atlet akan menghadap ke belakang pada persiapan awalnya, lalu mendorong tubuhnya ke arah belakang untuk dapat segera menghadap ke depan dan melontarkan peluru.

Lemparan terjauh dengan menggunakan gaya glide adalah lemparan yang dilakukan oleh Ulf Timmermann atlet tolak peluru yang berasal dari Jerman Timur dengan jarak lemparan sejauh 23,6 meter.

 

Gaya Spin (Berputar)

tolak peluru

Tolak peluru gaya samping pertama kali dirilis pada tahun 1972 oleh Alexander Barushnikov yang berasal dari Rusia yang berhasil membuat rekor baru untuk nomor putra dengan jarak lemparan sejauh 22 m pada tahun tersebut.

Pada gaya spin seorang atlet akan melakukan putaran 360 derajat sebelum melakukan lemparan. Gaya berputar tersebut diharapkan dapat mampu memberikan momentum yang terbaik untuk melempar peluru dengan jarak yang paling jauh.

Gaya tersebut adalah gaya yang paling sulit dilakukan dalam tolak peluru karena atlet tidak hanya fokus pada kekuatan tolakan, akan tetapi seorang atlet juga harus menguasai teknik berputar dengan baik.

Apabila seorang atlet sedikit saja melakukan kesalahan dalam putaran, maka hasil yang didapatkan akan buruk dan bahkan dapat juga berujung pada kegagalan. Atlet terbaik yang melakukan tolak peluru dengan gaya spin yang berhasil memecahkan rekor yaitu Randy Brandes yang berhasil melempar peluru dengan jarak sejauh 23,12 meter.

 

 

Peraturan Tolak Peluru

tolak peluru

dalam melakukan olahraga tolak peluru terdapat beberapa peraturan yang wajib dipatuhi dan tidak boleh dilanggar oleh para pemainnya. Berikut ini adalah peraturan dalam tolak peluru adalah sebagai berikut.

  1. Atlet atau peserta diperbolehkan memasuki lingkaran tolakan dari arah mana saja. Namun biasanya para peserta atau atlet memasuki lingkaran dari sisi belakang dan samping.
  2. Atlet atau peserta tidak boleh menggunakan atribut seperti sarung tangan, akan tetapi boleh menggunakan pelindung untuk melindungi ruas jari selama waktu pertandingan.
  3. setelah dipanggil atlet atau peserta memiliki waktu 60 detik untuk dapat menyelesaikan pertandingan.
  4. Atlet tolak peluru harus menahan peluru dengan menggunakan lehernya pada saat melakukan gerakan tolakan
  5. Atlet melakukan dalam lingkaran dan tidak boleh sampai keluar garis lingkaran, apabila salah satu kakinya menyentuh daerah di luar garis lempar maka peserta atau atlet akan didiskualifikasi.
  6. Peluruh yang dilemparkan hanya boleh menggunakan satu tangan saja serta posisinya juga harus lebih tinggi dari bahu.
  7. Peluru harus mendarat pada sektor area yang telah disediakan.
  8. Atlet atau peserta meninggalkan lingkaran apabila sudah melakukan lemparan pada sisi lingkaran yang ada pada bagian belakang.
  9. peserta atau atlet boleh meninggalkan lapangan pada saat peluru sudah mendarat.

 

 

Lapangan Tolak Peluru

tolak peluru

lapangan yang digunakan pada saat pertandingan tolak peluru hampir mirip dengan lapangan lempar cakram, akan tetapi dapat dibedakan dari adanya papan batas tolakan yang terdapat pada lingkaran tolak peluru.

  1. Lapangan tolak peluru dapat dibagi menjadi dua, yaitu sektor pendaratan dan lingkaran tolakan.
  2. Sektor pendaratan berupa tanah yang telah ditandai dengan garis batas (sector line) sekaligus garis ukur standar yang ada di tengah area sektor pendaratan. Panjang dari sektor tersebut minimal yaitu 25 m dengan sudut 40 derajat.
  3. pada lingkaran tolakan mempunyai diameter 2, 235 meter yang dikelilingi dengan ring besi dengan ketebalan 66 mm dan tinggi 2 cm yang berfungsi sebagai batas dari lingkaran. pada bagian depan lingkaran tersebut dipasang balok batas tolakan dengan ukuran panjang 1,2 m dan tinggi 10 cm dengan ketebalan 11,4 cm.

 

 

Peralatan Tolak Peluru

tolak peluru

Selain lapangan yang menjadi faktor terpenting dalam pelaksanaan tolak peluru seperti yang telah dijelaskan di atas, akan tetapi masih terdapat peralatan lain yang yang penting dalam melakukan tolak peluru antara lain yaitu:

  • Peluit
  • Bendera
  • Alat pengukur
  • Bola peluru atau bola besi dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Ukuran bola disesuaikan dengan jenis lapangan yang digunakan. Biasanya lapangan indoor menggunakan pola yang sedikit berukuran lebih besar daripada lapangan outdoor serta pola tersebut dibuat dari bahan yang berbeda akan tetapi memiliki berat yang sama. Bola yang digunakan tersebut dapat terbuat dari pasir, bahan besi, logam, stainless steel, material sintetis, pasir, dan polyvinyl.
  2. Bola peluru atau besi untuk pemula atau junior Putri yaitu dengan berat 3 kg.
  3. Pola peluru atau besi untuk senior Putri yaitu dengan berat 4 kg.
  4. Pola peluruh atau besi untuk pemula atau junior putra memiliki berat yaitu 5 kg.
  5. Pola peluru atau besi untuk senior putra memiliki berat yaitu 7, 25 kg.

 

Atlet Atlet Tolak Peluru

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa jarak lemparan yang jauh dihasilkan tergantung dari energi atlet dan juga dipengaruhi oleh ukuran tubuh atlet tolak peluru. Biasanya atlet yang memiliki tubuh besar pada umumnya jauh lebih unggul dibandingkan dengan atlet yang memiliki postur tubuh sedang atau kecil. Meskipun tidak selamanya seperti itu.

Terkait dengan gaya lemparan, atletik yang memiliki tubuh pendek dan cenderung lebih menggunakan gaya berputar atau spin, sedangkan atlet yang memiliki tubuh tinggi akan cenderung menggunakan gaya meluncur atau glide.

Dalam sejarah prestasi yang pernah diraih oleh atlet tolak peluru terdapat tiga nama yang telah menjadi legenda. Antara lain yang pertama adalah Randy Barnes yang merupakan atlet tolak peluru dari Amerika serikat, yang berhasil menjadi pemecah rekor dunia tolak peluru nomor putra pada lapangan indoor dan outdoor dengan jarak sejauh 23,2 m (outdoor) dan 22, 66 meter (indoor).

Kemudian yang kedua yaitu pada nomor Putri untuk lapangan outdoor adalah Natalya Lisovskaya yang berasal dari Rusia, ia berhasil mencetak rekor dengan jarak sejauh 22,63 m.

Sedangkan untuk atlet ketiga yang juga berasal dari nomor Putri yaitu Helena Fibingirova yang berasal dari republik Ceko yang menjadi jawara dari tolak peluru dalam lapangan indoor serta memecahkan rekor dengan jarak lemparan sejauh 22,50 m.

 

Atlet Tolak Peluru Nomor Putra

Selain itu terdapat pula atlet-atlet tolak peluru dalam nomor putra antara lain yaitu:

  1. Randy Barnes yang berasal dari Amerika dengan jarak lemparan sejauh 23,12 m pada tanggal 20 Mei 1990 di Westwood.
  2. Ulf Timmermann yang berasal dari Jerman Timur dengan jarak lemparan sejauh 23,06 m pada tanggal 22 Mei tahun 1988 di Khania.
  3. Alessandro Andrei yang berasal dari Italia yang telah berhasil melempar dengan jarak sejauh 22,91 m pada tanggal 12 agustus 1987 di Viareggio.
  4. Brian Oldfiled yang berasal dari negara Amerika yang telah berhasil melempar dengan jarak sejauh 22,86 m pada tanggal 10 Mei tahun 1975 di El Paso.
  5. Werner Gunthor yang berasal dari negara Swiss dan telah berhasil melempar dengan jarak sejauh 22,75 m pada tanggal 23 Agustus tahun 1988 di Bern.

 

Atlet Tolak Peluru Nomor Putri

Selain atlet dari nomor putri terdapat pula atlet dari nomor Putri yang merupakan atlet tolak peluru peringkat papan atas antara lain yaitu:

  1. Natalya Lisovskaya yang berasal dari negara rusia yang dapat melempar dengan jarak sejauh 22,63 m pada tanggal 7 Juni tahun 1987 di Moskow.
  2. Helena Fibingirova yang berasal dari republik Ceko yang dapat melempar dengan jarak sejauh 22,50 m pada tanggal 19 Februari tahun 1977 di Jablonec nad Nisou.
  3. Illona Slupianek yang berasal dari Jerman Timur yang dapat melempar dengan jarak sejauh 22,45 m pada tanggal 11 Mei tahun 1980 di Postdam.
  4. Claudia Losch yang berasal dari Jerman Barat yang dapat melempar dengan jarak sejauh 22,19 m pada tanggal 23 Agustus tahun 1987 di Hainfield.
  5. Ivanka Khristova yang berasal dari Bulgaria dan dapat melempar dengan jarak sejauh 21,89 m pada tanggal 4 Juli tahun 1978 di Belmeken.

 

 

Demikian penjelasan mengenai tolak peluru mulai dari pengertian tolak peluru, sejarah tolak peluru, teknik tolak peluru, gaya tolak peluru dan alat-alat yang digunakan dalam tolak peluru serta atlet-atlet yang berhasil menorehkan prestasinya dalam cabang olahraga tolak peluru.

Semoga artikel ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi penunjang bagi kamu yang ingin berkenalan dengan cabang olahraga tolak peluru.