Tulisan Aksara Jawa dan Pasangan

By Danang Febriyandra -

Apakah ada yang pernah belajar Aksara Jawa? Mungkin banyak yang lebih mengenalnya dengan istilah huruf Hanacaraka atau Carakan. Ia merupakan salah satu turunan yang berasal dari bahasa Brahmi.

Pada jaman dahulu, aksara jawa ini dipakai untuk menulis berbagai macam bahasa daerah. Tepatnya sejak abad ke 17 dimana saat itu kerajaan Mataram Islam mulai berdiri dan huruf Hanacaraka pun dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun pada abad ke 19, bersamaan dengan masuknya bangsa Belanda ke Indonesia. Penggunaan huruf hanacaraka pun mulai digantikan dengan huruf latin. Hal tersebut berlanjut sampai sekarang dan aksara jawa pun sudah jarang ditemukan.

Sejarah Aksara Jawa

legenda-aji-saka-awal-mula-huruf-jawa-kuno

Ketika menelusuri tentang bagaimana awal terciptanya huruf hanacaraka ini. Kita akan dibawa mengikuti kisah legenda seorang ksatria bernama Ajisaka. Ia memiliki 2 orang pelayan yang begitu setia bernama Dora dan Sembada.

Sementara itu, ada sebuah kerajaan yang bernama Medhang Kamulan. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja bernama Dewata Cengkar. Ia merupakan sosok raja yang suka memakan daging manusia.

Ajisaka berniat datang ke kerajaan tersebut untuk melawan Dewata Cengkar. Sebelum pergi, ia memerintahkan Sembada untuk tetap tinggal dan menjaga pusaka miliknya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut pada siapapun selain dirinya.

Kemudian Ajisaka pun berangkat ditemani oleh Dora. Setelah sampai di Medhang Kamulan, ia menyerahkan diri kepada prabu Dewata Cengkar sebagai makanan. Namun sebelum itu, ada satu syarat yang diberikan oleh Ajisaka.

Ia meminta tanah kekuasaan seluas panjang sorban miliknya. Prabu Dewata Cengkar pun menyetujui syarat tersebut. Kemudian ia menarik sorban milik Ajisaka untuk mengukur tanah yang menjadi syarat.

Namun dengan kesaktian yang dimiliki oleh Ajisaka, meskipun sorban tersebut terus ditarik dan terbentang luas tetap tidak ada habisnya. Hingga kemudian prabu Dewata Cengkar menariknya sampai tepi jurang dan akhirnya jatuh ke lautan.

Setelah kejadian tersebut, Ajisaka diangkat menjadi raja di Medhang Kamulan. Setelah penobatannya, ia pun memerintahkan Dora untuk kembali dan mengambil keris yang ia titipkan kepada Sembada.

Kemudian Dora pun berangkat dan menemui Sembada lantas memberitahukan maksud kedatangannya yaitu untuk mengambil pusaka milik Ajisaka.

Namun Sembada juga mengingat perintah yang diberikan oleh Ajisaka kepadanya, yaitu untuk tidak menyerahkan pusaka tersebut kepada orang lain selain dirinya.

Karena sama-sama ingin melaksanakan perintah yang diberikan oleh tuannya, kedua pelayan tersebut pun akhirnya bertarung satu sama lain. Hingga akhirnya pertarungan tersebut membuat Dora dan juga Sembada terbunuh.

Berita tentang hal tersebut pun akhirnya sampai ke telinga Ajisaka. Ia sangat menyesal karena kecerobohannya, kedua pelayan setianya harus saling membunuh. Akhirnya Ajisaka pun menciptakan aksara jawa untuk mengenang kisah kedua pelayannya.

Berikut ini arti dari 4 baris yang ada di dalam aksara jawa :

  • Ha Na Ca Ra Ka (Ana Wong Loro) : Ada dua orang
  • Da Ta Sa Wa La (Podho Kerengan) : Keduanya saling berkelahi
  • Pa Dha Ja Ya Nya (Podho Jayane) : Sama-sama sakti
  • Ma Ga Ba Tha Nga (Mergo Dadi Bathang Lorone) : Maka keduanya sama-sama menjadi bangkai (meninggal)

Huruf Aksara Jawa

Huruf Hanacaraka

Biasa juga disebut huruf carakan, ia terdiri dari sekitar 20 aksara dasar. Seperti pada gambar diatas, 4 baris (gatra) yang mana berisi kisah dua pelayan Ajisaka. Huruf dasar ini tidak memiliki suara vokal.

Sehingga dalam penggunaannya untuk menulis, huruf carakan/hanacaraka ini biasanya digunakan bersamaan dengan aksara swara, aksara murda dan juga pasangan. Karena jika hanya menggunakan huruf hanacaraka saja maka akan sangat terbatas terutama dari segi vokal.

Aksara Pasangan

Aksara-Pasangan

Pasangan merupakan suatu bentuk khusus untuk mematikan vokal dari sebuah huruf Carakan. Sehingga hanya menyisakan huruf konsonannya saja. Masing-masing huruf carakan memiliki pasangan sendiri.

Selain itu, setiap pasangan juga memiliki cara penulisan yang berbeda-beda. Ada yang ditulis di belakang atau di bawah huruf carakan. Ada juga yang ditulis secara bersambung dengan huruf carakannya.

Contoh yang akan memerlukan pasangan seperti kata “Swara”. Maka untuk menuliskannya kita membutuhkan huruf Sa diikuti dengan pasangan Wa (untuk memberikan konsonan W dan menjadi SWA) dan kemudian huruf Ra.

Pasangan ini juga bisa disambungkan dengan sandangan untuk memberikan bunyi vokal. Sehingga ia akan menghasilkan huruf konsonan diantara huruf konsonan dan vokal lainnya.

Perlu diketahui juga bahwa yang memiliki pasangan bukan hanya huruf carakan. Huruf murda dan rekan juga memiliki pasangannya masing-masing.

Aksara Swara (Aksara Jawa A I U E O)

Aksawa Swara

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa aksara jawa dasar tidak memiliki bunyi vokal. Oleh karena itulah ada yang namanya aksara swara, fungsinya memberikan bunyi vokal tersebut.

Ada 5 buah aksara swara yang harus kalian ketahui diantaranya aksara jawa A, I, U, E, O. Biasanya ia digunakan untuk menuliskan kata-kata serapan dari bahasa asing dengan huruf vokal di bagian awal.

Sandangan

Sandangan

Sekilas, sandangan ini akan terlihat mirip dengan aksara swara karena mampu memberikan bunyi vokal kepada huruf carakan. Namun tidak seperti aksara swara, sandangan tidak dapat berdiri sendiri.

Sehingga ia harus ditulis berdampingan dengan huruf dasar hanacaraka yang diikutinya. Selain memberikan bunyi vokal, sandangan juga terdiri dari beberapa tanda baca kalimat.

Aksara Rekan

Aksara Rekan

Huruf dasar carakan memang memiliki bunyi yang begitu terbatas. Sehingga ketika harus menulis kata yang berasal dari bahasa asing akan menjadi cukup sulit. Oleh karena itulah ada Aksara Rekan yang jumlahnya 5 buah.

Ia digunakan untuk membantu ketika harus menulis kata-kata yang merupakan serapan dari bahasa asing. Untuk penggunannya bisa juga dipakaikan sandhangan layaknya huruf Hanacaraka pada umumnya.

Aksara Murda

Aksara Murda dan Pasangannya

Apa itu aksara murda? Secara sederhana, ia seperti huruf kapital yang digunakan dalam aksara jawa. Biasanya dipakai untuk menuliskan nama orang, tempat , gelar atau hal lain yang mengharuskannya menggunakan huruf besar.

Ada sekitar 8 buah aksara murda yang harus kalian ketahui. Dan masing-masing aksara tersebut juga memiliki pasangan dengan fungsi layaknya huruf carakan pada umumnya.

Aksara Wilangan

Aksara WIlangan

Dalam aksara jawa kita juga mengenal aksara wilangan untuk menuliskan angka. Berjumlah 10 aksara mulai dari angka 0 hingga 9. Untuk cara penulisan angka ini harus diapit dengan tanda pangkat pada bagian depan dan belakangnya.

Tanda Baca Aksara Jawa

Tanda-Baca-Aksara-Jawa

Dalam penulisan aksara jawa juga terdapat berbagai macam tanda baca. Berikut ini beberapa yang harus kalian ketahui :

  • Pada Adeg-Adeg : Tanda untuk mengawali kalimat pertama pada sebuah paragraf.
  • Pada Adeg : Sebagai tanda bagian penting pada sebuah kalimat (mirip tanda kurung).
  • Pada Lingsa : Fungsinya sama seperti koma, sebagai tanda berhenti sejenak.
  • Pada Lungsi : Fungsinya sama seperti titik untuk menjadi tanda akhir dari suatu kalimat.
  • Pada Pangkat : Biasanya dipakai untuk mengapit aksara wilangan (angka).

Cara Menulis Aksara Jawa

Bagi yang belum pernah belajar tentang aksara jawa mungkin akan sedikit kesulitan saat akan mulai mempelajarinya. Namun sama seperti saat kita belajar membaca dan menulis waktu kecil, lama kelamaan akan menjadi semakin mudah untuk dipelajari.

Berikut ini beberapa tips yang bisa membantu kalian dalam belajar menulis huruf hanacaraka :

1. Hafalkan Huruf Carakan Beserta Pasangannya

Hal pertama yang harus kalian pelajari adalah huruf-huruf dasarnya, yaitu hanacaraka. Setidaknya kalian harus tahu bagaimana bentuk-bentuknya dan bisa membedakan satu sama lain.

Jangan lupa juga untuk mempelajari masing-masing pasangan dari huruf carakan tersebut. Kalian juga harus tahu bagaimana cara menuliskan pasangan tersebut. Karena ada pasangan yang dituliskan berdampingan, bersambung atau di bagian bawahnya.

2. Pelajari Penggunaan Sandangan

Jika hanya mempelajari huruf hanacaraka saja akan sulit apabila digunakan untuk menulis. Karena mereka tidak memiliki vokal sehingga penggunaanya pun sangat terbatas.

Oleh karena itulah fungsi sandangan ini untuk memberikan bunyi-bunyi vokal seperti a i u e o. Pelajari bagaimana penggunaan dan penempatannya saat menulis aksara jawa.

3. Pelajari Huruf Murda dan Rekan

Huruf carakan atau hanacaraka memang sangat terbatas. Sehingga apabila menulis kata serapan dari bahasa asing, maka kita membutuhkan huruf murda dan rekan.

4. Hafalkan Angka Aksara Jawa

Memang bukan hal yang utama, namun tak jarang juga kita harus menuliskan angka-angka dalam aksara jawa. Sehingga akan lebih baik jika kita juga mempelajarinya sekaligus.

5. Gunakan Tanda Baca

Sama seperti menulis latin, dalam aksara jawa penggunaan tanda baca adalah hal yang sangat penting. Tanda seperti titik, koma dan lain sebagainya bisa membuat hasil tulisan aksara jawa kalian menjadi lebih rapi.

Contoh Tulisan Aksara Jawa dan Artinya

Agar dapat memahami lebih dalam, maka berikut ini adalah contoh tulisan aksara jawa, simak berikut ini.

ꦥꦶꦤ꧀ꦠꦂꦤꦺꦱꦶꦪ​ꦲꦢꦭꦃ​ꦮꦺꦧ꧀ꦱꦶꦠꦺ​ꦥꦺꦤ꧀ꦢꦶꦢꦶꦏꦤ꧀

Artinya: Pintarnesia adalah website pendidikan.

ꦧꦸꦢꦶ​ꦲꦤꦏ꧀​ꦪꦁ​ꦧꦻꦏ꧀​ꦢꦤ꧀​ꦱꦸꦏ​ꦩꦺꦤꦧꦸꦁ

Artinya: Budi anak yang baik dan suka menabung.

Bagi kalian yang ingin menulis huruf latin ke aksara jawa dengan mudah atau sebaliknya, nisa pakai website berikut.

https://bennylin.github.io/transliterasijawa/

Demikian pembahasan tentang cara menulis aksara jawa yang baik dan benar. Kalian hanya perlu mempelajarinya secara perlahan serta membiasakan diri dengan bentuk-bentuk hurufnya. Apabila ada kritik, saran atau pertanyaan silahkan berkomentar di bawah.

Danang Febriyandra
Danang Febriyandra
Seorang yang suka dunia anime yang sangat akut, suka belajar hal baru.

Artikel Terkait

Aksara Jawa: Contoh Pasangan, Sandangan, dan Cara Menulis
Aksara Jawa: Contoh Pasangan, Sandangan, dan Cara Menulis
Oleh Dimas Bimantoro
Tembang Macapat: Pengertian, Jenis Asal Mula dan Contoh Tembang Macapat
Tembang Macapat: Pengertian, Jenis Asal Mula dan Contoh Tembang Macapat
Oleh Arwina Nur Dyah Utami
11+ Cerita Rakyat Bahasa Jawa: Singkat dan Lengkap
11+ Cerita Rakyat Bahasa Jawa: Singkat dan Lengkap
Oleh Hasif Priyambudi
10 Contoh Pidato Bahasa Jawa Singkat Krama Alus & Krama Inggil
10 Contoh Pidato Bahasa Jawa Singkat Krama Alus & Krama Inggil
Oleh Hasif Priyambudi
Contoh Geguritan Bahasa Jawa
Contoh Geguritan Bahasa Jawa
Oleh Hasif Priyambudi
15 Contoh Tembang Kinanthi: Arti dan Penjelasanya
15 Contoh Tembang Kinanthi: Arti dan Penjelasanya
Oleh Hasif Priyambudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *