Zat Aditif Pada Makanan: Pengertian, Macam dan Dampak Zat Aditif

By Arwina Nur Dyah Utami -

Zat Aditif Pada Pakanan – Siapa diantara kita yang tidak senang dengan berbagai makanan instan atau hidangan cepat saji? Akan tetapi biasanya dalam hidangan cepat saji mengandalkan berbagai zat tambahan untuk meningkatkan cita rasa dan kualitas dari tampilannya, sekaligus juga berguna untuk memperpanjang masa simpan.

Meski begitu berbagai zat aditif ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan. Berikut akan dijelaskan mengenai pengertian dari zat aditif pada makanan beserta dampaknya.

 

Pengertian Zat Aditif

pengertian zat adiktif

Pengertian zat aditif pada makanan adalah zat-zat kimia yang ditambahkan ke dalam makanan yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas mulai dari kualitas rasa, warna, penampilan, sampai daya simpan pada makanan tersebut dan masih banyak lagi.

Terdapat beberapa jenis makanan yang kita konsumsi sehari-hari terkadang tanpa kita sadari mengandung zat aditif. Tidak seperti zaman dahulu yang mana pada saat itu teknologi belum berkembang pesat sampai saat ini sehingga makanan dan minuman olahan masih belum banyak berkembang. Seperti contohnya pada saat dulu membuat roti cukup hanya dengan menggunakan bahan dasar terigu, air, telor dan ragi.

Akan tetapi di zaman sekarang yang mana teknologi sudah dalam kemajuan membuat roti tidak hanya cukup dengan bahan itu saja, cara membuat roti pada zaman sekarang banyak membutuhkan bahan tambahan lainnya seperti perasa yang berguna untuk meningkatkan aroma atau rasa tertentu dan juga tambahan bahan pewarna. Sehingga pada saat kita memakan makanan olahan tersebut telah ditambahkan zat-zat kimia yang berguna untuk menambah cita rasa penampilan dan juga kekuatan daya simpan.

 

 

Dampak Zat Adiktif

Dampak Zat adiktif

Saat ini banyak zat aditif untuk makanan yang telah banyak digunakan oleh para produsen di setiap produknya. Hal tersebut tentunya membuat kita sebagai konsumen menjadi semakin sulit dalam memilih berbagai makanan atau bahan makanan an-nur yang terbebas dari zat kimia salah satunya zat aditif pada makanan.

Harus diketahui bahwa penggunaan zat aditif dalam makanan tidak bisa untuk dihindari karena di dalam beberapa hal zat aditif memiliki fungsi yang sangat dibutuhkan dalam proses pembuatan bahan makanan tersebut. Akan tetapi tidak semua zat adiktif yang terdapat pada makanan mengandung dampak negatif bagi kesehatan dan juga berbahaya serta tidak memiliki gizi.

Terdapat beberapa zat adiktif yang memiliki manfaat bagi tubuh kita karena mengandung vitamin yang dapat mencegah timbulnya kanker dalam tubuh. Namun pemakaian zat aditif dalam makanan secara berlebihan an3 dapat merugikan kesehatan tubuh. Oleh karena itu penggunaan zat aditif harus dapat untuk dikendalikan sehingga dampak negatifnya dapat untuk di minimalisir.

 

 

Sifat – Sifat Zat Adiktif

sifat - sifat zat adiktif

Sampai sekarang sehat aditif di dalam makanan digunakan dengan tujuan yang lebih beragam sesuai dengan majunya perkembangan teknologi pengolahan pangan. Meskipun begitu, pemakaian zat aditif di dalam makanan pada produk-produk makanan tertentu juga harus sesuai dengan norma-norma dan juga aturan yang harus dipatuhi secara moral. Zat aditif yang digunakan pada makanan harus memiliki sifat-sifat seperti di bawah ini antara lain yaitu:

  1. Dapat mempertahankan nilai gizi pada makanan tersebut.
  2. Memperbaiki atau mempertahankan mutu dari makanan.
  3. Menarik konsumen akan tetapi tidak termasuk ke dalam suatu penipuan.
  4. Serta tidak mengurangi zat esensial pada makanan.

Dengan mengetahui berbagai fungsi zat aditif yang terdapat di dalam makanan, memang sangat sulit untuk bisa terbebas dari pemakaian zat aditif tersebut. Meskipun demikian biasanya terjadi kasus-kasus yang dapat merugikan yaitu apabila zat aditif digunakan pada makanan dalam situasi yang seharusnya tidak dibutuhkan, menyalahi spesifikasi, pemakaian yang secara berlebihan, pakan dengan sengaja menggunakan bahan-bahan terlarang di dalam makanan.

Seperti contohnya pada produk-produk makanan yang menggunakan boraks atau formalin dan juga pada produk minuman olahan seperti susu, tahu, bakso dan masih banyak lagi. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita mengetahui beberapa macam zat aditif pada makanan secara lebih lengkap.

 

 

Macam Macam Zat Adiktif pada Makanan

zat aditif pada makanan

Berdasarkan peraturan dari menteri Kesehatan No.235 (1979), mengenai zat aditif pada makanan dapat dikelompokkan menjadi 14 berdasarkan fungsinya antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Pengawet
  2. Pewarna alami dan sintesis
  3. Pemanis buatan
  4. Penyedap rasa dan aroma
  5. Antioksidan dan antioksidan sinergis
  6. Pengasam dan penetral serta pendapar
  7. Pemutih dan pematang
  8. Sekuestran
  9. Enzim
  10. Anti kempal
  11. Penambah gizi
  12. Pengeras
  13. Pengemulsi, pemantap serta pengental
  14. Dan zat aditif makanan yang lainnya

Zat aditif pada makanan dan dapat pula dibuat dari reaksi-reaksi tertentu. Oleh karena itu zat aditif dikenal dengan sebutan zat aditif makanan alami dan zat aditif makanan buatan atau artifisial.

Baca Juga: Pengertian Larutan.

 

A. Pengawet Makanan

Mudah terjadinya kerusakan pada makanan utamanya disebabkan karena terdapat mikroba atau bakteri jamur dan ragi. Hal tersebut menjadikan Para produsen memiliki ide untuk dapat mengawetkan makanan an agar mikroba dalam makanan tersebut dapat terbunuh atau dengan cara menyimpan makanan pada kondisi dimana mikroba tidak dapat berkembang biak dengan baik.

Salah satu pengawet alami adalah gula dan juga garam yang telah banyak digunakan sejak zaman dahulu, biasanya aku lah dan garam digunakan pada makanan antara lain yaitu manisan, asinan, telur asin, ikan asin dan masih banyak lagi. Apabila mikroba melakukan kontak langsung dengan larutan gula atau garam yang pekat maka air akan mengalir dari mikroba ke larutan melalui membran selnya.

Sehingga mikroba dapat mengalami dehidrasi atau kekurangan air dan kemudian mati sehingga makanan tersebut menjadi tidak mudah busuk. Akan tetapi dalam pemakaian gula dan garam sebagai pengawet makanan dapat pula menjadikan makanan tersebut memiliki rasa yang terlalu manis dan terlalu asin.

Asam cuka adalah pengawet alami yang efektif karena mikroba tidak dapat tumbuh dengan baik pada kondisi yang asam. Asam cuka biasanya sering digunakan sebagai bahan untuk mengawetkan timun, bawang, cabai atau yang lainnya.

1. Asam Propionat / Natrium Propionat

asam propionat atau natrium propionat biasanya dipakai sebagai bahan pengawet makanan yaitu roti dan juga keju. Asam propionat atau natrium propionat banyak digunakan karena fungsinya yang dapat menghambat pertumbuhan jamur dan juga ragi.

2. Asam Benzoat / Natrium Benzoat

Asam benzoat atau natrium benzoat biasanya dipakai sebagai bahan pengawet makanan dan minuman seperti sambal, jus, buah, saus ataupun kecap. asam benzoat atau natrium benzoat juga dapat berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan ragi yang dapat merusak makanan.

Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa kombinasi natrium benzoat dan pewarna makanan akan dapat meningkatkan kecenderungan hiperaktif pada anak-anak. selain itu natrium benzoat yang dikombinasikan dengan vitamin C juga dapat berubah menjadi benzena atau zat yang dapat meningkatkan risiko penyakit kanker.

3. Natrium Nitrit

Biasanya natrium nitrit digunakan sebagai bahan pengawet dalam makanan seperti sosis burger atau daging dalam kemasan kaleng. Natrium nitrit juga dapat berfungsi sebagai penghambat tumbuhnya bakteri seperti clostridium botulinum yang dapat menyebabkan keracunan makanan.

Sayangnya apabila natrium nitrit terkena suhu panas yang cukup tinggi maka zat tersebut akan dapat berubah bentuk menjadi nitrosamin. Yang mana telah diketahui banyak orang bahwa nitrosamin adalah zat yang dapat menyebabkan kanker usus besar, kanker payudara, kanker perut, dan juga kanker kandung kemih. Oleh karena itu usahakan untuk memakan bahan makanan yang diproses sendiri agar terhindar dari berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan tubuh.

 

Pemakaian zat pengawet di dalam bahan makanan di atas juga harus selalu dikontrol karena apabila penggunaan yang dilakukan secara berlebihan maka dapat merugikan kesehatan. Seperti contohnya zat natrium nitrit yang dapat mengakibatkan penyakit kanker, dan natrium benzoat yang dapat mengakibatkan gangguan saraf serta alergi apabila digunakan secara berlebihan.

 

B. Pewarna Makanan

Dalam pemberian pewarna makanan terhadap produk-produk makanan ataupun minuman biasanya memiliki tujuan hanya sebagai daya tarik karena tampilan makanan menjadi lebih bervariasi.

Di Indonesia sendiri sudah banyak dikenal jenis bahan pewarna alami yang dapat digunakan dalam pembuatan makanan ataupun minuman olahan seperti daun suji dan daun pandan yang menghasilkan warna hijau, kunyit yang menghasilkan warna kuning, gula kelapa yang dapat menghasilkan warna merah kecoklatan, cabe dan bunga belimbing sayur yang menghasilkan warna merah.

Pewarna alami tersebut apabila digunakan sebagai bahan pewarna makanan sangat aman bagi kesehatan tubuh bahkan penggunaannya pun tidak dibatasi karena pewarna alami dapat dikonsumsi semua kalangan mulai dari anak-anak, ibu hamil dan lainnya, akan tetapi kurangnya pengetahuan terkadang masih terdapat rasa atau aroma yang bisa mengganggu rasa dan aroma dari makanan aslinya.

Hal tersebutlah yang menjadi faktor orang-orang berpindah haluan untuk mempercantik dan menambah cita rasa dari makanan miliknya tidak lagi menggunakan pewarna yang alami, melainkan mulai untuk menggunakan pewarna sintesis.

Oleh karena itu untuk dapat menghindari hal tersebut saat ini sudah banyak tersebar pewarna makanan sintesis. Seperti contohnya yaitu sunset yellow FCF yang menghasilkan warna orange, violet GB yang menghasilkan warna ungu, tartazine yang menghasilkan warna kuning, indigo carmine yang menghasilkan warna biru. Akan tetapi harga dari jenis pewarna makanan sintesis tersebut lebih mahal dibandingkan dengan pewarna makanan yang alami.

Oleh karena itu terdapat orang yang tidak bertanggung jawab wap yang menggantinya dengan pewarna tekstil yang mana harganya jauh lebih murah namun penggunaannya sangat berbahaya bagi kesehatan apabila dikonsumsi.

Pewarna tekstil saat ini banyak disalahgunakan sebagai pewarna makanan seperti contohnya yaitu rhodamin B yang dapat menghasilkan warna merah, metanil yellow yang dapat menghasilkan warna kuning, dan bahan-bahan tekstil lainnya. Yang mana bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan terjadinya penyakit kanker yang dapat menyerang tubuh manusia apabila mengkonsumsinya.

 

C. Pemanis Makanan

Gula putih dan juga gula merah merupakan pemanis makanan yang alami yang telah banyak digunakan. Akan tetapi para penderita diabetes atau kencing manis dan obesitas atau kegemukan tidak dianjurkan untuk memakai pemanis alami seperti gula putih dan juga gula merah dikarenakan bahan tersebut dapat meningkatkan kadar gula di dalam tubuh dan dapat menambah berat badan.

Untuk itu semakin berkembangnya zaman terdapat pemanis sintetis yang rendah kalori seperti siklamat dan sakarin. Akan tetapi sejak tahun 70-an pemakaian siklamat dan sakarin sudah mulai dilarang di negara Amerika serikat karena diduga bahan tersebut dapat mengakibatkan timbulnya penyakit kanker.

Oleh karena itu sebagai pengganti dari siklamat dan juga sakarin pada tahun 1981 dibuatlah aspartam yang merupakan pengganti dari siklamat dan sakarin sebagai pemanis sintetis yang mana tingkat kemanisannya sekitar 160 kali dari gula putih. Sorbitol juga merupakan salah satu jenis pemanis sintetis yang tidak terurai di dalam mulut sehingga tidak merusak gigi, akan tetapi apabila penggunaannya dilakukan secara berlebihan maka akan dapat menyebabkan diare.

Sekarang ini telah banyak ditemukan jenis pemanis sintesis generasi terkini yaitu neotam. Pemanis ini adalah turunan dari jenis pemanis aspartam yang mana kemanisannya dapat sekitar 7.000 – 13.000 kali dari tingkat kemanisan gula. Terdapat banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa telah aman untuk dikonsumsi oleh semua kalangan, baik dikonsumsi oleh anak-anak, wanita hamil ataupun penderita diabetes.

 

D. Penyedap Makanan

Dalam penambahan penyedap makanan sebagai tambahan rasa yang bertujuan untuk memperkaya rasa pada makanan dan juga untuk memberikan rasa kepada makanan yang tidak memiliki rasa, seperti contohnya pada es krim atau jelly. Penyedap rasa yang alami sudah banyak digunakan oleh masyarakat zaman dahulu seperti halnya garam, gula, rempah-rempah, bawang, cuka dan lain-lain.

Penyedap rasa biasanya digunakan untuk menguatkan atau mempertegas rasa dari sebagian bahan makanan, misalnya seperti memperkuat rasa daging, sayur, mie, ikan, atau juga hidangan lainnya yang memakai penyedap rasa sintesis seperti MSG (monosodium glutamate) atau vetsin.

Dalam pemberian 0,1% MSG sudah dapat untuk meningkatkan rasa pada suatu makanan agar menjadi lebih sedap dan menguatkan rasa. Akan tetapi pemakaian MSG secara berlebih dapat menimbulkan terjadinya pusing, sesak nafas, sakit dada dan mudah merasa letih. Gejala-gejala penyakit tersebut disebut dengan Chinese Restaurant Syndrome.

 

Demikian telah dijelaskan mengenai zat aditif pada makanan mulai dari pengertian zat aditif, macam-macam zat aditif, sampai dampak dari penggunaan zat aditif. Alangkah lebih baiknya apabila dalam mengolah bahan makanan menggunakan berbagai tambahan bahan yang alami karena selain harganya yang terjangkau apabila bahan tersebut digunakan juga tidak menimbulkan berbagai gejala yang dapat terjadi bagi kesehatan tubuh.

Namun apabila mau tidak mau untuk menggunakan bahan-bahan yang mengandung zat aditif maka gunakanlah sewajarnya agar tubuh kita tidak mudah terserang penyakit.

Arwina Nur Dyah Utami
Arwina Nur Dyah Utami
Penikmat musik dan senja, selamat membaca tulisan saya. Suka banget menulis dan baca novel.

Artikel Terkait

Gaya Lorentz
Gaya Lorentz
Oleh Arwina Nur Dyah Utami
Sistem Pencernaan Manusia
Sistem Pencernaan Manusia
Oleh Arwina Nur Dyah Utami
Gerak Parabola
Gerak Parabola
Oleh Fanesh
Tumbuhan Dikotil dan Monokotil: Pengertian dan Perbedaan Dikotil & Monokotil
Tumbuhan Dikotil dan Monokotil: Pengertian dan Perbedaan Dikotil & Monokotil
Oleh Arwina Nur Dyah Utami
Mollusca: Pengertian, Contoh, Peranan, Klasifikasi, Ciri
Mollusca: Pengertian, Contoh, Peranan, Klasifikasi, Ciri
Oleh Sandy Kurnia Fajar
Angiospermae: Pengertian, Klasifikasi, Struktur, Peranan, Reproduksi, Contoh
Angiospermae: Pengertian, Klasifikasi, Struktur, Peranan, Reproduksi, Contoh
Oleh Mexi

Baca Lainya Tastynesia:
  1. Singkong Thailand
  2. Keripik Singkong
  3. Tape Singkong
  4. Singkong Goreng
  5. Jus Mangga
  6. Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *