Hasif Priyambudi Penyuka pemrograman dan nonton film, apapun suka asal positif dan bisa bermanfaat

7+ Ciri-Ciri Pantun Lengkap: Unsur, Struktur, Contoh

5 min read

contoh pantun

Siapa sih yang tak kenal dengan pantun? Pantun merupakan sebuah puisi lama yang sangat populer. pantun sendiri berasal dari bahasa Minangkabau yakni “Panutun” yang memiliki arti “petuntun”. Dinamakan demikian karena pada umumnya pantun berisikan kata-kata yang dapat dijadikan motivasi atau nasihat bagi seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya berisikan motivasi atau nasihat, pantun biasanya juga dibuat dengan tema-tema yang lainnya seperti humor, jenaka dan lain-lain.

Kepopuleran dari pantun juga masih bertahan hingga sampai saat ini, sampai-sampai kita juga masih sering mendengar pantun melalui televisi maupun radio. Tidak hanya itu, pantun juga merupakan karya sastra yang digunakan oleh orang-orang Betawi pada saat melakukan kegiatan adat, salah satunya adalah pada saat melakukan palang pintu pada pernikahan yang menggunakan adat Betawi.

Sama dengan karya sastra yang lainnya, pantun juga memiliki ciri khas tersendiri yang tentunya dapat membedakannya dengan karya sastra yang lainnya. Ciri-ciri dari pantun juga bisa dikatakan sebagai syarat yang harus terpenuhi dalam memuat pantun yang baik.

Maka dari itu, pada kesempatan kali ini Pintarnesia akan memberikan referensi kepada kalian semua tentang ciri-ciri dari puisi, mulai dari segi penulisannya hingga ke cara penyampaiannya. Jadi langsung saja kita simak ulasan berikut ini.

 

 

Ciri-Ciri Pantun

Setelah kamu tahu apa itu pantun, berikut ini adalah ciri-ciri dari pantun yang dapat yang dapat kamu jadikan sebagai pembeda antara pantun dengan karya sastra yang lainnya. Jadi langsung saja kita simak ulasan tentang ciri-ciri pantun di bawah ini :

 

1. Setiap Bait Terdiri dari Empat Larik atau Baris

Pada umumnya di dalam sebuah bait pantun akan terdapat empat larik atau baris. Hal tersebut juga merupakan sebuah pembeda antara pantun dengan karya satra lain seperti prosa atau puisi yang memiliki banyak baris relatif bebas.

Akan tetapi ada juga pantun yang memiliki baris lebih dari 4 , pantun tersebut dikenal dengan nama pantun talibun. Agar kamu lebih paham berikut ini adalah contohnya :

Contoh pantun :

Luas terbentang kebun lada (baris pertama)
Ladanya di petik ketika temaram (baris kedua)
Jikalau iman terangi dada (baris ketiga)
Hatinya lapang, hidupnya tentram (baris keempat)

Contoh pantun talibun :

Berlayar menuju pulau di sana
Menerjang ombak di bulan purnama
Bersama nahkoda melempar jala
Agar memiliki gelar sarjana
Belajarlah dengan giat dan seksama
Jangan lupa selalu berdoa
Melihat pedati yang sudah tua
Pedati hendak pergi ke telaga
Pergi bersama melewati desa
Walau sepiring untuk berdua
Atau sepiring untuk bertiga
Tidaklah mengapa asal kenyang terasa

 

2. Setiap Baris atau Larik Pantun Terdiri dari 8 Sampai 12 Suku Kata

Setiap baris pantun terdiri dari 8 sampai 12 suku kata. Tujuan dari hal tersebut adalah agar dalam menyampaikan pantun tidak terlalu panjang akan tetapi memiliki yang padat dan memiliki banyak makna di dalamnya. Agar kamu lebih paham lagi berikut ini adalah contohnya :

Mahkota raja di ikat tali
Dilempar ratu ke dalam kali
Tahta harta boleh kau cari
Tapi ingat tak di bawa mati

 

Penjelasan :

Baris 1 : Mah – ko – ta – ra – ja – di – i – kat – ta – li
Baris 2 : Di – lem – par – ra – tu – ke – da – lam – ka – li
Baris 3 : Tah – ta – har – ta – bo – leh – ka – u – ca – ri
Baris 4 : Ta – pi – i – ngat – tak – di – ba – wa – ma – di

 

3. Baris Pertama dan Kedua Berupa Sampiran

Dalam pembuatan pantun, pada bagian baris ke pertama dan kedua berisikan sampiran. Sampiran merupakan sebuah kata pengantar dalam pantun sebelum menyampaikan isi yang terdapat pada baris ketiga dan keempat dari pantun tersebut.

Pada umumnya sampiran pada pantun berisikan hal-hal yang jenaka atau memiliki unsur humor di dalamnya. Tidak hanya itu, sampiran pada pantun juga dibuat dengan ringkas sehingga pantun tersebut mudah untuk diingat. Berikut ini adalah contoh dari sampiran pantun :

Beli kacang lalu di tanamkan (bagian sampiran)
Pantai indah putih berpasir (bagian sampiran)
Jika makan harus dihabiskan
Agar tidak menjadi mubazir

Baca Juga : 19+ Ciri-Ciri Puisi: Umum, Lama dan Puisi Baru

 

4. Baris Ketiga dan Ke Empat Adalah Isi

Setelah baris kesatu dan kedua merupakan sebuah sampiran, pada baris ketiga dan keempat merupakan baris yang berisikan isi dari puisi. Isi merupakan inti atau tujuan dari penyampaian pantun. Tidak hanya itu, pada bagian isi ini juga dapat dijadikan sebagai penentu tentang jenis pantun apa yang alah di sampaikan bisa itu berupa pantun humor, pantun pendidikan, dan jenis-jenis pantun yang lainnya.

Berikut ini adalah contohnya :

Angin sejuk di malam hari
Silir berganti meniupi apa saja
Ayah dan ibu memberi hati (isi)
Anak balas memberi segalanya (isi)

 

5. Antara Sampiran dan Isi Tidak Saling Berkaitan

Ciri-ciri yang satu ini juga bisa dikatakan sebagai keunikan di dalam sebuah pantun, karena pada bagian sampiran tidak memiliki hubungan atau keterkaitan dengan isi yang akan di sampaikan pada sebuah pantun.

Berikut adalah contohnya :

Lebah kuning menari-nari (sampiran)
Bayi kecil sedang telungkup (sampiran)
Berjanjilah sehidup semati (isi)
Bersamaku lewati sulitnya hidup (isi)

 

6. Bersajak a – b – a – b atau a – a – b – b

Maksud dari sajak adalah bunyi akhir yang terdapat di dalam setiap baris pada sebuah puisi. Hal tersebut karena pantun termasuk ke dalam puisi lama, maka dari itu pada sebuah pantun di dalamnya terikat dengan sajak. Sajak dari pantun terbagi menjadi 2 macam yakni pantun dengan sajak a – b – a – b atau pantun dengan sajak a – a – b – b.

Dengan adanya syarat dalam pantun haru bersajak a – b – a – b atau a – a – b – b sehingga dalam pembuatan pantun kamu harus pandai-pandai dalam memilih kata yang sesuai dengan akhiran kata yang pas dengan sajak yang ingin kamu gunakan. Berikut ini adalah contoh dari pantun yang bersajak a – b – a – b :

Supaya tangan tidak terluka
Jangan dikepit hulunya kapak
Supaya Tuhan tidak murka
Jangan sakiti Ibu dan Bapak

Berikut ini adalah contoh pantun yang bersajak a – a – b – b :

Kura-kura naik perahu
Jalan – jalan beli tahu
Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

 

7. Bersifat Anonim

Berbeda dengan puisi yang pada umumnya terdapat nama pengarang atau orang yang membuat puisi tersebut, akan tetapi pantun tidak begitu. Pantun bersifat anonim atau dalam setiap karya pantun biasanya nama dari pengarang atau penciptanya tidak tertera sehingga pembuat dari sebuah pantun tidak diketahui.

Baca Juga : Teks Pantun: Pengertian, Struktur, Ciri, Macam dan Kaidah Teks Pantun

 

8. Setiap Pantun Terdiri dari 3 Sampai 6 Kata

Hampir sama dengan suku kata yang dibatasi, kata dalam melakukan penyampaian sebuah pantun juga di batasi yakni hanya 4 sampai dengan 6 kata saja. Tujuannya juga sama dengan jumlah suku kata yang dibatasi yakni agar pantun mudah di ingat atau mudah diterima oleh seseorang. Contoh dari jumlah kata yang dibatasi :

Pohon rambutan buahnya lebat
Berwarna merah manis rasanya
Jagalah adat istiadat
Agar abadi tak termakan usia

Penjelasan :

Baris 1 : Pohon – rambutan – buahnya – lebat
Baris 2 : Berwarna – merah – manis – rasanya
Baris 3 : Tetap – jaga – adat – istiadat
Baris 4 : Agar – abadi – tak – termakan – usia

 

Nah, jadi itulah sedikit ulasan tentang ciri-ciri karya sastra pantun beserta dengan contoh dan penjelasannya. Semoga artikel kali ini dapat dijadikan sebagai referensi dan penambah wawasan kamu dalam membuat dan mengenali karya sastra terutama pantun. Terimakasih.

Hasif Priyambudi Penyuka pemrograman dan nonton film, apapun suka asal positif dan bisa bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DarkLight