Pahlawan Wanita Indonesia

Pahlawan Wanita Indonesia – Secara bahasa “pahlawan” berasal dari bahasa Sanskerta yakni “phala” yang artinya adalah hasil atau buah.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pahlawan adalah seorang yang memiliki keberanian dan juga pengorbanan dalam membela kebenaran bagi seluruh rakyat Indonesia, agama, dan juga negaranya atau bisa dikatakan bahwa pahlawan merupakan pejuang yang gagah dan juga berani demi membela kebenaran.

Sedangkan pahlawan nasional adalah sebuah gelar penghargaan tertinggi yang ada di Indonesia bagi seseorang yang meninggal, akan tetapi pada masa hidupnya mereka sangat berjasa dan juga merupakan seorang yang perlu di teladani oleh masyarakat Indonesia. Dan penghargaan tersebut diberikan langsung oleh pemerintah Indonesia.

Lalu berdasarkan surat keputusan yang berasal dari presiden, tokoh yang merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia itu ada 159 tokoh dan 12 di antaranya adalah tokoh-tokoh pahlawan nasional wanita yang tentunya juga memiliki jasa dan juga pengaruh besar terhadap Indonesia. Lalu siapakah tokoh-tokoh tersebut?.

  1. Pahlawan Nasional Wanita Indonesia
    1. 1. Cut Nyak Dhien – Aceh
    2. 2. Cut Nyak Meutia – Aceh
    3. 3. Raden Ajeng Kartini – Jepara
    4. 4. Raden Dewi Sartika – Jawa Barat
    5. 5. Martha Christina Tiahahu – Maluku
    6. 6. Maria Walanda Maramis – Minahasa
    7. 7. Nyai Hj. Siti Walidan Ahmad Dahlan – Yogyakarta
    8. 8. Nyi Ageng Serang – Yogyakarta
    9. 9. Hj. Rangkayo Rasuna Said – Jakarta
    10. 10. Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto – Jawa Tengah
    11. 11. Hj. Fatmawati Soekarno – Bengkulu
    12. 12. Opu Daeng Risaju – Sulawesi Selatan
    13. 13. Rohana Kudus
    14. 14. Rahmah El Yunusiyah
    15. 15. Siti Manggopoh

Pahlawan Nasional Wanita Indonesia

Bagi kalian yang penasaran, berikut ini adalah 15 tokoh wanita yang merupakan mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional Indonesia. Nah, berikut ini adalah tokoh pahlawan nasional wanita indonesia, antara lain.

1. Cut Nyak Dhien – Aceh

Tokoh Pahlawan Nasional Wanita Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien merupakan tokoh dari pahlawan nasional yang dilahirkan di Lampadang, Aceh pada hari selasa, dan pada tahun 1948. Cut Nyak Dhien merupakan seorang pahlawan yang lahir dari keluarga bangsawan yang sangat patuh terhadap agama yang dianutnya adu bisa dikatakan ia berasal dari keluarga bangsawan yang gamis.

Cut Nyak Dhien sendiri merupakan keturunan langsung dari sultan Aceh pada saat itu yakni Teuku Nanta Seutia, yang merupakan seorang uleebalang.

Pada tahun 1962 atau pada saat Cut Nyak Dhien masih berumur 12 tahun, ia langsung dinikahkan oleh orang tuanya dengan putra dari seorang uleebalang Lamnga XIII yaitu Teuku Cek Ibrahim Lamnga, dan dari pernikahannya itu ia dikaruniai satu anak laki-laki.

Masa Penjajahan Melawan Belanda

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang dengan Aceh dan kemudian dimulainya pertempuran tersebut di tandai dengan dilepasnya tembakan meriam yang dimiliki oleh Belanda dengan sasarannya adalah dataran Aceh. Lalu pada tagal 8 April 1987, Masjid Raya Baiturrahman dikuasai oleh bangsa Belanda dan kemudian menembaki tempat tersebut, selain itu daerah VI Mukim juga dapat dikuasai oleh Belanda dan hingga pada akhirnya suami dari Cut Nyak Dhien pun ikut turun ke medan pertempuran dengan tujuan untuk merebut kembali daerah VI Mukim.

Namun akibat dari peperangan tersebut suami dari Cut Nyak Dhien gugur pada saat melakukan peperangan di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878. Dengan kematian yang dialami oleh suaminya dalam medan perang, Cut Nyak Dhien pun marah dan kemudian ia bersumpah bahwa akan menghancurkan bangsa Belanda dengan cara melanjutkan gerilya suaminya sebagai seorang pemimpin dalam peperangan melawan bangsa Belanda. Setelah Cut Nyak Dhien memimpin peperangan melawan Belanda, Teuku Umar yang merupakan salah satu pejuang Aceh pun meminang seorang Cut Nyak Dhien karena ia sangat kagum dengan keberanian dan semangat yang dimiliki oleh Cut Nyak Dhien yang pada saat itu sudah menjanda. Hingga akhirnya mereka pun melakukan pernikahan pada tahun 1880 dan kemudian juga di karuniai seorang anak yang mereka beri nama Cut Gambang.

Bersama dengan Cut Nyak Dhien mereka merencanakan dan membangun kembali kekuatan serta meningkatkan moral semangat juang Aceh dalam melawan Belanda di beberapa tempat. Dengan adanya rencana tersebut menyebabkan Cut Nyak Dhien dan suaminya menjadi sebuah ancaman yang besar bagi bangas Belanda yang berada di Aceh.

Tapi sayangnya takdir berkata lain, pada tanggal 11 Februari 1899 untuk kedua kalinya suami dari Cut Nyak Dhien gugur dalam peperangan dan dengan adanya hal tersebut menyebabkan pasukan dari Cut Nyak Dhien kembali melemah dan terlebih lagi bangsa Belanda melakukan penyerang terus menerus sehingga pasukan dari Cut Nyak Dhien pun semakin tertekan. Selain itu kondisi kesehatan fisik dan kesehatan dari Cut Nyak Dhien yang semakin lama semakin menurun juga menyebabkan ia berhasil di tangkap oleh Belanda pada saat ia berada di Beutong Le Sageu. Untuk mengantisipasi terjadinya pengaruh dari Cut Nyak Dhien, Belanda pun mengasingkannya ke daerah Sumedang.

Akhir Hayat

Dengan kondisi dari Cut Nyak Dhien yang semakin hari semakin melemah hingga ia juga mengalami masalah akan penglihatannya, menyebabkan ia menjadi pusat perhatian bagi para tahanan yang lainnya dan juga bupati Sariaatmaja yang berada di tempat pengasingannya. Lalu juga beberapa ulama yang mengetahui bahwa Cut Nyak Dhien adalah seorang Muslimah yang bisa di katakan ahli dalam ilmu agama islam menyebabkan ia dijuluki sebagai “Ibu Perbu”.
Pada saat melakukan pengasingan di Sumedang, ia membawa banyak sekali pengaruh. Di Sumedang ia mengajarkan agama islam dan ia merahasiakan akan jati dirinya yang merupakan seorang putri yang berasal dari keluarga bangsawan yang ada di Aceh.

Hingga pada akhirnya pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien atau yang biasa di sebut dengan Ibu Perbu menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan jasanya dan keberaniannya untuk membela kebenaran dan negaranya, pada tanggal 2 Mei 1964 ia pun diberi gelar sebagai salah seorang pahlawan nasional oleh Soekarno dengan melalui sebuah SK Presiden RI No. 106 Tahun 1964.

2. Cut Nyak Meutia – Aceh

pahlawan nasional cut nyak meutia

Cut Nyak Meutia merupakan salah satu pahlawan nasional wanita Indonesia yang berasal dari Aceh dan dilahirkan di Pirak, Aceh Utara pada tahun 1870. Cut Nyak Meutia sangat dikenal sebagai salah seorang pejuang wanita yang memiliki semangat juang yang tinggi dan juga memiliki tekad yang sangat kuat untuk melakukan perawanan dan juga mengusir para penjajah.

Masa Perjuangan.

Cut Nyak Meutia adalah seorang pejuang nasional wanita yang melakukan perlawanan terhadap bangsa Belanda bersama dengan suaminya, yakni Teuku Muhammad atau yang bisa dikenal dengan nama Teuku Tjik Tunong. Mereka adalah sepasang suami istri dan sekaligus sebagai rekan perjuangan yang bisa dikatakan solid dalam melawan bangsa Belanda yang berada di Aceh. Hingga pada tahun 1905 suaminya yakni Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong berhasil di tangkap oleh bangsa Belanda dan kemudian dijatuhkan hukuman mati di daerah tepi pantai Lhokseumawe. Akan tetapi sebelum suami dari Cut Nyak Meutia itu dijatuhi hukuman mati, ia sempat berpesan kepada salah seorang sahabatnya yakni Pang Nagroe untuk meminang serta menikahi istrinya dan kemudian merawat anaknya.

Sesuai dengan amanah yang diberikan almarhum suaminya itu, Cut Nyak Meutia pun melakukan pernikahan dengan Pang Nagroe dan kemudian bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh Teuku Muda dalam melakukan perlawanan terhadap bangsa Belanda. Namun sayangnya pada tanggal 26 September 1910 suami dari Cut Nyak Meutia yakni Pang Nagroe Dur dalam peperangan pada saat bertempur melawan Korps Marechausee yang terjadi di Paya Cicem. Tetapi untungnya Cut Nyak Meutia dan para wanita yang lain dap meriam diri dan pergi melakukan persembunyian di hutan.

Akhir Hayat

Meskipun telah kehilangan kedua suami akibat melakukan pertempuran, akan tetapi Cut Nyak Meutia tetap melakukan perlawanan terhadap bangsa Belanda bersama dengan para pengikutnya. Pasukan yang di pimpin oleh Cut Nyak Meutia pun berusaha untuk melakukan penyerangan dan juga merampas pos-pos ari para kolonial Belanda yang terdapat di sepanjang perjalanan menuju ke Gayo yang melewati hutan belantara.

Akan tetapi pada tanggal 24 Oktober 1910 pada saat melakukan pertempuran di Alue Kurieng Cut Nyak Meutia gugur di dalam medan pertempuran akibat tertembak peluru. Karena sangat berjasa dalam mengusir penjajah, pada tanggal 2 Mei 1964, ia pun diberi gelar sebagai salah seorang pahlawan nasional oleh pemerintah berdasarkan SK presiden RI No. 107 tahun 1964. Kisah semangat dan heroik dari Cut Nyak Meutia lah yang membuat semangat dari para masyarakat Indonesia semakin membara pada saat melawan PKI dalam Peristiwa G30S/PKI.

3. Raden Ajeng Kartini – Jepara

pahlawan nasional RA kartini

Raden Ajeng Kartini seorang pahlawan nasional yang berasal dari Jepara, Raden Ajeng Kartini adalah salah satu tokoh perjuangan yang sangat terkenal di Indonesia. Ia sangat terkenal akan kegigihannya dalam memperjuangkan emansipasi kaum wanita. Raden Ajeng Kartini di lahirkan di kota Jepara pada tanggal 21 April 1879 yang hingga saat ini tanggal kelahiran dari Raden Ajeng Kartini sendiri dijadikan sebagai hari peringatan nasional yakni Hari Kartini. Peringatan tersebut merupakan sebuah bentuk bentuk penghormatan atas sengal jasa-jasa yang ia lakukan terhadap bangsa Indonesia.

Raden Ajeng Kartini adalah salah seorang putri yang merupakan keturunan dari keluarga bangsawan, ayah dari Raden Ajeng Kartini adalah seorang bupati di daerah Jepara dengan nama R.M. Sosroningrat dan ibunya merupakan anak dari seorang kiai di daerah Telukawur, Jepara yakni M.A. Ngasirah. Raden Ajeng Kartini mengenyam bangku pendidikan hingga ia berumur 12 tahun di ELS (Europese Lagere School). Dan setelah ia berumur 12 tahun Raden Ajeng Kartini harus tetap tinggal di rumah akibat ia sudah bisa dipinggit.

Baca Juga : Biografi RA Kartini

Masa Perjuangan

Raden Ajeng Kartini merasakan adanya perbedaan derajat antara kaum wanita dengan kaum pria yang mana kaum wanita tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan beberapa wanita tidak diperbolehkan untuk mengenyam bangku pendidikan sama sekali. Pada masa pinggitannya itu, Raden Ajeng Kartini sangat suka menuliskan surat yang diberikan kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda yang salah satunya bernama Rosa Abendanon.

Raden Ajeng Kartini sangat tertarik dengan kemajuan dan juga pola pikir yang dimiliki wanita bangsa Eropa sebab mereka senang sekali membaca buku, koran, dan juga majalah-majalah Eropa. Dengan adanya hal tersebut menyebabkan kepingan Raden Ajeng Kartini untuk memajukan para wanita pribumi agar dapat menyamai wanita dari bangsa Eropa, karena pada saat itu, wanita-wanita pribumi memiliki status sosial yang sangat rendah.

Akhir Hayat

Lalu pada saat Raden Ajeng Kartini berusia 24 tahun yang tepatnya pada tanggal 12 November 1903 ia dinikahkan dengan salah seorang bupati Rembang saat itu yakni K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat dan kemudian dikaruniai dengan satu anak laki-laki yang di beri nama Soesalit Djojodhiningrat. Namun sayangnya Raden Ajeng Kartini wafat 4 hari setelah iya selesai melahirkan seorang anak.

Meskipun Raden Ajeng Kartini wafat namun tidak begitu dengan perjuangannya untuk mempelopori emansipasi wanita agar dapat sederajat dengan kaum pria. Lalu salah satu teman Raden Ajeng Kartini yakni Abendanon mengumpulkan semua surat yang prtnah dikirimkan Raden Ajeng Kartini kepada teman-teman Eropa nya dan kemudian Abendanon membukukan surat yang berasal dari Raden Ajeng Kartini menjadi sebuah buku yang di berjudul Door Duisternis tot Licht yang memiliki arti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” yang kemudian diterbitkan pada tahun 1911 dalam bahasa Indonesia.

Kemudian pada Hun 1922, balai pustaka menerbitkan buku tersebut dengan menggunakan versi translasi dari Abendon yang berjudul “Habis Gelap terbitlah Terang : Buah Pikiran” dengan menggunakan bahasa Melayu. Setelah itu translasi dari berbagai bahasa pun mulai diterbitkan, hal tersebut dilakukan agar pejalan hidup dari Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Atas perjuangannya itu, ia pun diberikan sebuah gelar sebagai seorang pahlawan nasional pada tanggal 2 Mei 1964 berdasarkan atas SK Presiden RI No 108 tahun 1964.

4. Raden Dewi Sartika – Jawa Barat

pahlawan nasional dewi sartika

Raden Dewi Sartika merupakan salah satu pahlawan nasional wanita di Indonesia yang dilahirkan pada tanggal 4 Desember 1884 di Bandung. Ia merupakan putri dari pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas.

Masa Perjuangan

Raden Dewi Sartika memulai perjuangannya pada saat ia masih berusia 18 tahun dengan mengajarkan para wanita di kotanya untuk membaca, menjahit, menulis, dan juga memasak. Lalu pada tanggal 16 Juni 1904 ia mendirikan sebuah sekolah yang mana sekolah tersebut di khususkan bagi para wanita yang dinamai dengan Sakola Istri. Dan kemudian pada tahun 1929 sekolah tersebut berganti nama menjadi Sakola Keutamaan Istri dan kemudian terjadi perubahan nama lagi menjadi Sakola Raden Dewi.

Sekolah ini tidak hanya tersebar di daerah pasukan saja melainkan hingga sampai ke pulau Jawa. Raden Dewi Sartika adalah seorang pahlawan yang berusaha dengan keras untuk mendidik para anak-anak wanita agar kelak mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, cerdas, luwes, terampil, dan juga dapat berdiri sendiri. Raden Dewi Sartika mendapatkan sumbangan dana dari benak pihak yang mendukung perjuangannya, terutama Raden Kanduruan Agah Suruiawinata yang mana merupakan seorang suami dari Raden Dewi Sartika.

Raden Dewi Sartika sangat terkenal oleh masyarakat luas sebagai orang pendidik. Lalu pada tanggal 16 Januari 1939, ia mendapatkan sebuah bintang jasa tak perjuangannya untuk memajukan pendidikan dari kaum wanita yang mana penghargaan tersebut diberikan oleh pemerintah Hindi Belanda.

Akhir Hayat

Pada tanggal 11 September 1947 adalah hari di mana Raden Dewi Sartika menghembuskan nafas terakhirnya di Tasikamalaya. Atas perjuangannya itu ia mendapatkan sebuah gelar sebagai seorang pahlawan nasional Indonesia pada tanggal 1 Desember 1966.

5. Martha Christina Tiahahu – Maluku

pahlawan nasional martha cristiana

Martha Christina Tiahahu adalah salah satu pahlawan nasional wanita Indonesia yang dilahirkan di daerah Maluku pada tanggal 4 Januari 1800. Martha Christina Tiahahu adalah seorang putri dari Kapitan Paulus Tiahahu, yang pada tahun 1817 ikut berperang bersama dengan Pattimura melawan Belanda.

Masa Perjuangan

Pada saat Martha Christina Tiahahumasih kecil ia sering mengikuti rapat tentang pembentukan di dalam kubu pertahanan, dan pada saat masih berumur 17 ia sudah berani melawan gencaran senjata.

Pada saat itu Martha Christina Tiahahu berperan sebagai seorang pemimpin para pejuang wanita yang melakukan perjuangan untuk merebut kembali daerah Ouw, Ulath Pulau Saparua yang telah dikuasai oleh Belanda. Pada saat pertempuran tersebut pemimpin dari pasukan Belanda yakni Richemont dibunuh oleh pasukan dari Martha Christina Tiahahu. Dengan tewasnya pemimpin pasukan Belanda, bangsa Belanda pun menjadi semakin marah dan kemudian melakukan penyerangan secara terus menerus ke Maluku sehingga ia Maluku pun mengalami kekalahan. Penyebab dari kekalahan tersebut adalah tertangkapnya Martha Christina Tiahahu oleh pasukan Belanda dan kemudian dijatuhi hukuman mati.

Dengan tertangkapnya seorang ayah, Martha Christina Tiahahu berusaha untuk membebaskan kembali ayahnya, namun sangat disayangkan Martha Christina Tiahahu dan pasuk Maluku yang lainnya berhasil terkena perangkap dari bangsa Belanda. Dan kemudian hukuman mati berhasil dilakukan kepada Kapitan Paulus Tiahahu yang merupakan serang ayah dari Martha Christina Tiahahu.

Akhir Hayat

Setelah Martha Christina Tiahahu tertangkap oleh bangsa Belanda, ia pun langsung diasingkan ke pulau Jawa. Dan pada tanggal 2 Januari 1818 Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas terakhirnya pada saat sedang melakukan perjalanan menuju tepat pengasingannya yakni pulau Jawa dan kemudian mayatnya di buang ke lautan. Sebagai bentuk penghormatan atas keberanian dan perjuangannya dalam melawan penjajah, Martha Christina Tiahahu pun diberikan sebuah penghargaan sebagai salah seorang pahlawan nasional pada tanggal 20 Mei 1964 sesuai dengan SK Presiden RI No.012/TK/Tahun 1969.

6. Maria Walanda Maramis – Minahasa

pahlawan nasional maria walanda

Maria Walanda Maramis adalah salah seorang pahlawan nasional yang dilahirkan di Kema, Sulawesi Utara pada 1 Desember 1872. Pada saat umurnya yang masih 6 tahun ia sudah menjadi seorang anak yang yatim piatu dan ia pun diasuh oleh pamannya. Maria Walanda Maramis hanya mengenyam bangku pendidikan hingga SD saja, karena pada saat itu para gadis Minahasa tidak diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Masa Perjuangan

Karena tidak diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan tinggi Maria Walanda Maramis pun memperluas ilmu pengetahuannya dengan cara bergaul dengan para kaum-kaum terpelajar, salah satunya adalah pendeta Ten Hove. Pada saat ia masih kecil ia ingin sekalian untuk memajukan kaum wanita yang berada di Minahasa dengan cara memperoleh pendidikan yang cukup, sehingga kelak dapat mengurus rumah tangga dan juga dapat mendidik anak-anak dengan baik.

Maria Walanda Maramis menikah dengan seorang guru yang bernama Yoseph Frederik Calusung Walanda pada tahun 1890. Dengan dibantu suaminya itu dan juga beberapa pelajar yang lain mendirikan sebuah organisasi ia beri nama Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (IKAT) pada bulan uli 1917. Di sana ia mengajarkan berbagai hal seperti cara mengatur rumah tangga, memasak, menjahit, merawat bayi, dan cara membuah sebuah kerajinan tangan.

PIKAT pun mendapat sambutan yang positif dari masyarakat, dan dalam waktu yang tidak lama PIKAT memiliki beberapa canang di beberapa tempat, selain itu sumbanagn untuk organisasinya ini pun terus mengalir. Maria Walanda Maramis juga menanamkan rasa kebangsaan kepada para murid-muridnya, dengan cara membiasakan diri para muridnya untuk menggunakan pakaian daerah pada saat di sekolah.

Akhir Hayat

Pada tanggal 22 April 1924 di Maumbi, Maria Walanda Maramis menghembuskan nafas terakhirnya. Dan pada tanggal 20 Mei 1969 ia mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional Indonesia atas perjuangannya untuk mencerdaskan generasi bangsa sesuai dengan SK Presiden RI No. 012/K/1969.

Baca Juga : Pahlawan Revolusi Indonesia

7. Nyai Hj. Siti Walidan Ahmad Dahlan – Yogyakarta

pahlawan nasional nyai ahmad dahlan

Siti Walidan atau yang biasa di sapa dengan Nyai Ahmad Dahlan ini dilahirkan di Yogyakarta Aipda tahun 1872 yang merupakan seorang putri dari keluarga pemuka agama islam dan juga sebagai penghulu resmi keraton yakni Kyai Haji Fadhil. Pada saat masih kecil ia tidak mendapatkan pendidikan yang umum, ia hanya mendapatkan pendidikan agama yang diberikan oleh orang tuanya.

Siti Walidan menikah dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan yang merupakan sepupunya dan atas pernikahannya itu mereka di karuniai oleh 6 orang anak. Setelah pernikahannya itu ia mulai dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan. Kyai Ahmad Dahlan sendiri merupakan seorang pemuka agama yang memiliki pemikiran yang revolusioner, dan ttentunya sering mendapatkan kecaman dan pertentangan akibat pembaharuan yang ia lakukan.

Masa Perjuangan

Nyai Ahmad Dahlan memiliki pandangan ilmu yang cukup luas akibat ia juga cukup dekat dengan para tokoh-tokoh Muhammadiyah dan juga tokoh bangsa lain yang merupakan teman seperjuangan suaminya.

Pada tahun 1914, Nyai Ahmad Dahlan merintis sebuah kelompok yang mana kelompok tersebut merupakan kepompong pengajian wanita Sopo Tresno. Sopo Tresno sendiri merupakan sebuah organisasi wanita yang berbasis agama islam. Lalu bertepatan dengan Isra Mi’raj 22 April 1917, kelompok tersebut berganti nama menjadi Aisyah dan lima tahun kemudian kelompok tersebut menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Akhir Hayat

Nyai Ahmad Dahlan menghembuskan nafas terakhirnya pada rangga 31 Mei 1946. Dan untuk mengenang dan menghormati jasa-jasanya dalam menyebarkan agama islam dan pendidikan kaum wanita, ia pun diberi gelar sebagai pahlawan anasional Indonesia sesuai dengan SK Presiden Ri No. 042/TK/1971.

8. Nyi Ageng Serang – Yogyakarta

pahlawan nasional nyi ageng serang

Masa Perjuangan

Pada abad ke 19, bangsa Belanda melakukan penyerangan di tanah Jawa dan kemudian mulai merendahkan martabat dari raja-raja yang berada di pulau Jawa yang menyebabkan rakyat menjadi semakin sengsara karena banyaknya perampasan terhadap tanah-tanah yang di miliki oleh rakyat, hal tersebutlah yang kemudian menjadi sebuah penyebab terjadinya perang Diponegoro (1825-1830) dan juga membuat Nyi Ageng Serang yang pada saat itu berusia 73 tahun menjadi seorang pinisepuh dalam peperangan tersebut.

Akhir Hayat

9. Hj. Rangkayo Rasuna Said – Jakarta

pahlawan nasional rasuna said

Masa Perjuangan

Hj. Rangkayo Rasuna Said merupakan seorang wanita yang memiliki pola pikir yang Kris, hingga ia pernah dipenjarakan oleh bangsa Belanda pada tahun 1932. Selain itu ia juga merupakan orang wanita pertama yang tercatat terkena hukuman Speek Deluct, yang merupakan sebuah hukuman yang diberikan Oen pemerintahan Belanda bagi siapa saja yang berani berbicara untuk menentang Belanda.

Akhir Hayat

10. Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto – Jawa Tengah

pahlawan nasional siti hartinah

Masa Perjuangan

Pada saat bangsa Jepang masuk ke daerah kota Sola, Tien pun mengikuti kursus bahasa Jepang dan kemudian bergabung dengan Laskar Putri Indonesia, yang merupakan sebuah organisasi wanita yang memiliki tujuan untuk melayani kepentingan pasukan garis depan dan juga garis belakang perjuangan.

Dan pada saat Tien berumur 23 tahun, utusan dari orang tua angkat Suharto datang ke rumah Tien untuk melamar. Dan akhirnya Tien dan Soeharto pun menikah pada tanggal 26 Desember 1947. Karena pada saat itu Soeharto masih merupakan seorang perwira militer, ia pun langsung memboyong Tien menuju ke Yogyakarta untuk bertugas. Mereka pun dikaruniai seorang putri yang beri nama Siti Hardiyanti Hastuti pada tanggal 23 Januari 1949.

Seiring dengan berjalannya waktu, Tien pun mendukung suaminya yang merupakan tokoh sentral dalam usaha untuk membubarkan PKI pada tahun 1967. Melalui sebuah sidang MPRS, Soeharto di angkat menjadi seorang presiden dan kemudian Tien yang dulunya merupakan fitri dari seorang prajurit hingga akhirnya menjadi seorang ibu presiden negara Indonesia yang kedua.

Baca Juga : Pahlawan Nasional Indonesia

11. Hj. Fatmawati Soekarno – Bengkulu

pahlawan nasional fatmawati

Fatnawati lahir di Bengkulu, pada tanggal 5 Februari 1923. Fatmawati merupakan anak dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah yang mana kedua orang tuanya itu merupakan keturunan dari Puti Indrapura. Dan ayah dari Ratnawati merupakan seorang tokoh Muhammadiyah yang ada di Bengkulu.

Masa Perjuangan

Setelah menikah dengan presiden pertama RI, Fatmawati mengikuti suaminya untuk pergi ke Jakarta dan kemudian langsung bergabung dengan par tokoh pejuang nasional yang lainnya dalam rangka untuk memerdekakan Indonesia. Baka seorang Soekarno pun sering meminta pendapat dan juga pertimbangan dari Fatmawati sebelum mengambil langkah dalam melakukan perjuangannya.
Menjelang kemerdekaan, atau lebih tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1945 Fatmawati dengan sigap langsung menggendong anaknya yakni Moh. Guntur pada saat masih bayi untuk pergi dari Jakarta dan pergi menuju ke Rengasdengklok, untuk mengikuti duaminya yakni Soekarno dan juga bersama Hatta dan para anggota PETA yang lainnya.

Akhir Hayat

12. Opu Daeng Risaju – Sulawesi Selatan

pahlawan nasional opu daeng

Pada saat masih kecil Opu Daeng Risaju di kenal dengan nama Famajjah yang merupakan islah seorang pahlawan nasional yang lahir di Palopo pada tahun 1880 yang lahir dari pasangan Opu Daeng Mawellu dan Muhammad Abdullah to Barengseng. Nama Opu Daeng Risaju sendiri di ambil dari nama kebangsawanan setelah ia menikah dengan H. Muhammad Daud.

Masa Perjuangan

Ada tahun 1927, Opu Daeng Risaju sangat tertarik untuk memasuki bidang politik dan ia masuk dengan menjabat sebagai anggota dari Partai Sarekat Islam Indonesia yang merupakan cabang Pare-Pare. Karena kearifan yang ia miliki, pada tanggal 14 Januari 1930 ia pun diangkat menjadi seorang ketua PSII yang berada di wilayah Tanah Luwu daerah Palopo. Pada saat ia menjabat menjadi seorang pemimpin, Opu Daeng Risaju menjadikan sebuah agama sebagai landasannya dan karena hal tersebut ia mendapat banyak sekali dukungan dari masyarakat.

Akhir Hayat

13. Rohana Kudus

pahlawan nasional Rohana Kudus

14. Rahmah El Yunusiyah

pahlawan nasional rahmah

15. Siti Manggopoh

pahlawan nasional siti magopoh

Siti Manggopoh adalah salah seorang wanita yang paling ditakuti pada saat sebelum terjadinya kemerdekaan. Siti Manggopoh sangat terkenal akan perlakuannya yang dengan berani membantah kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh Belanda melalui uang pajak atau yang di sebut dengan belasting.

Jadi itulah Pahlawan Wanita Indonesia, semoga dengan adanya artikel ini dapat membuat kamu semakin bersyukur dan juga semakin menghormati jasa para pahlawan yang telah berjuang mati-matian demi kemerdekaan yang hingga saat ini bisa kita nikmati.

Originally posted 2020-07-14 04:50:13.