√ Perang Diponegoro: Sejarah, Latar Belakang, Penyebab Perang

Perang Diponegoro: Sejarah, Latar Belakang, Penyebab dan Akhir Perang

Perang Diponegoro: Sejarah, Latar Belakang, Penyebab dan Akhir Perang

Sejarah Perang Diponegoro – Perang merupakan sebuah aksi fisik maupun non fisik dalam kondisi permusuhan ataupun dalam kondisi peperangan dengan adanya kekerasan yang sering terjadi antara dua atau lebih kelompok manusia. Peperangan dilakukan untuk melakukan dominasi di tempat yang di perebutkan atau di medan perang istilahnya.

Perang adalah sifat dasar turunan manusia yang hingga sekarang masih ada dan menginginkan dominasi juga persaingan untuk acara memperkuat diri dengan cara mengalahkan pihak musuh agar merasa memiliki kekuasaan lebih.

 

Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan Nasional Republik Indonesia yang sangat dikagumi dan juga dibilang sangat berani untuk melawan dan mengusir para penjajah Belanda. Pangeran Diponegoro merupakan sosok tokoh pejuang yang asli dari Indonesia, berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau adalah satu dari sekian banyak pahlawan yang mencetak sejarah perang terbesar di pulau Jawa.

Nama asli Pangeran Diponegoro adalah Bendoro Raden Mas Ontowiryo, beliau merupakan anak sulung dari Sultan Hamengkubuwana III yang merupakan raja Mataram. Pangeran Diponegoro lahir pada tanggal 11 November 1785. Ibunya bernama R.A Mangkarawati yang berasal dari Pacitan.

Pangeran Diponegoro menolak keinginan sang ayah agar menjadikan putra sulungnya itu menjadi seorang raja karena beliau menyadari bahwa ia hanyalah anak dari seorang selir, bukanlah anak dari seorang permaisuri.

Pangeran Diponegoro berasal dari titisan atau golongan ningrat yang hidupnya penuh dengan kenyamanan dan sangat sangat istimewa, kalau zaman sekarang bisa disebut sultan, namun ia lebih tertarik dan nyaman dengan kehidupan yang setara dengan rakyat dan lebih memilih untuk merakyat, saking nyamannya dengan hidup sederhana beliau lebih memilih untuk tinggal di luar keraton dan memilih tinggal di desa Tegalrejo.

Sebelum saya membahas lebih lanjut mengenai perang diponegoro, saya akan lebih dahulu membahas tentang kebiasaan pangeran diponegoro, berikut ini adalah kebiasaan yang beliau lakukan:

  • Pangeran Diponegoro suka mengunyah daun sirih.
  • Senang memelihara burung dan berkebun, membangun kebun dan menanam sayur sayuran, buah buahan, bunga, dan pepohonan.
  • Gemar meminum anggur dengan para orang Eropa namun hal ini tidak menjadikannya sebagai kelebihan yang berlebihan.
  • Hobi mengkoleksi berlian, emas, dan benda yang sangat berharga miliknya adalah batu akik hitam, batu akik tersebut disimpan dalam pembungkus emas.

Pangeran Diponegoro memiliki 12 putra dan 10 putri yang kini semuanya banyak tersebar di berbagai penjuru Dunia, ada yang di Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Madura. Sampai ada yang di luar negeri, seperti di  Arab Saudi, Australia, Belanda, Serbia, dan Jerman.

 

Sejarah Perang Diponegoro

Nah setelah kita sudah tau tentang Latar belakang perang di ponegoro, dan Pangeran Diponegoro, sekarang kita belajar lebih dalam lagi mengenai sejarah perang diponegoro. Di Indonesia zaman dulu pernah mengalami masa peperangan yang hampir terjadi di semua daerah loh teman teman, namun kali ini kita akan membahas perang diponegoro terlebih dahulu.

Perang diponegoro adalah perang besar yang terjadi dalam kurun waktu 5 tahun yaitu pada tahun 1825 hingga 1830 yang tepatnya berada di pulau Jawa, Hindia Belanda. Perang diponegoro juga dikenal dengan istilah perang Jawa. Perang ini merupakan salah satu perang terbesar yang pernah terjadi di Indonesia yaitu perang antara penduduk Nusantara dengan Belanda yang pada saat itu pasukan Belanda sedang dipimpin oleh Hendrick Merkus De Kock dan penduduk Nusantara khususnya Jawa dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Pada saat itu, peperangan yang terjadi antara penduduk Nusantara melawan pasukan Belanda, banyak penduduk pulau Jawa yang tewas hingga 200 ribu jiwa yang kehilangan nyawa, 8 ribu jiwa dari pihak Belanda, dan 7 ribu jiwa dari serdadu pribumi.

 

Penyebab Perang Diponegoro

Saat dibawah pimpinan Pangeran Diponegoro terjadi perlawanan rakyat pada tahun 1825 hingga tahun 1830 yaitu perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda. Penyebab utama terjadinya perang diponegoro ada dua alasan yang dapat disimpulkan, yang pertama adalah sebab umum dan kedua adalah sebab khusus.

Berikut ini adalah sebab umum yang membuat terjadinya perlawanan diponegoro:

  1. Timbulnya rasa kekecewaan di kalangan para ulama, karena mulai merambahnya budaya barat yang tidak sesuai dengan ajaran agama islam
  2. Kehidupan rakyat semakin menderita ditambah lagi mereka disuruh kerja paksa dan wajib membayar berbagai macam pajak seperti pajak ternak, pindah nama, tanah, sewa tanah, pindah rumah, dan pajak yang lainnya.
  3. Wilayah kesultanan Mataram yang lambat laun semakin sempit dan para raja yang jabatannya sebagai pengusaha pribumi mulai kehilangan kepercayaan dan kedaulatan.
  4. Bangsawan juga banyak yang merasa kecewa karena Belanda sudah menghapus sistem penyewaan tanah pada bangsawan kepada petani yang sudah mulai terjadi di tahun 18245
  5. Belanda mulai ikut campur dengan masalah kesultanan.
  6. Sebagian orang dari darah bangsawan banyak yang merasa kecewa karena Belanda tidak mau mengikuti adat istiadat dari keraton.

Dan yang membuat terjadinya perlawanan diponegoro lainnya karena pemasangan Patok oleh Belanda untuk pembangunan jalan yang melintasi tanah dan makam para leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Pemasangan tersebut dilakukan tanpa izin dari kerajaan sehingga ditentang oleh Pangeran Diponegoro.

Nah kita sudah membahas tentang sebab umum diatas, nah kali ini kita akan membahas sebab khusus yaitu provokasi yang dilakukan oleh pihak Belanda untuk merencanakan pembuatan jalan menerobos tanah pangeran Diponegoro dan membongkar makam keramat. Beliau tersingkir dari kekuasaan karena telah menolak untuk berkompromi dengan Belanda dan ia lebih memilih untuk ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada perkembangan keagamaan.

Hal itu membuat pangeran marah dan segera membangun pertahanan di Selarong dan dukungan kepada Diponegoro datang dari mana saja yang membuat pasukan Diponegoro ini menjadi lebih kuat.

Baca Juga: Sejarah Perang Salib.

 

Latar Belakang Perang Diponegoro

Pangeran Diponegoro memimpin pasukannya dengan perang gerilya. Gubernur Jendral Van der Capellen melancarkan strategi yaitu mendirikan benteng di setiap tempat yang ia kuasai dan berfungsi juga untuk mempersempit ruang gerak dari pasukan Diponegoro.

Nah dari situlah pasukan Diponegoro melemah sehingga menyebabkan ia menerima tawaran untuk perundingan dengan Belanda di Magelang. Namun sayangnya perundingan inipun gagal dalam mencapai kata sepakat. Karena hal itulah Pangeran Diponegoro ditangkap dan langsung dipindahkan ke Manado dan dipindahkan lagi ke Makasar. Perang ini berlangsung selama 5 tahun dan membawa dampak yang membuat kekuasaan wilayah Surakarta dan Yogyakarta berkurang dan sangat banyak menguras uang kas Belanda.

 

Akhir Perang Diponegoro

Nah kita sudah belajar cukup rinci yang dari awal mengenal siapa itu Pangeran Diponegoro, penyebab, dan proses terjadinya perang Diponegoro. Kali ini kita langsung membahas akhir perang Diponegoro. Agar menang melawan pasukan Diponegoro, Belanda harus menarik pasukan yang dipakai untuk perang di Sumatra Barat, di saat yang sama pada saat itu juga Belanda sedang menghadapi perang besar padri.

Lalu akhirnya Belanda mau tidak mau mesti harus melawan kedua belah pihak itu dan belakangan bersatu untuk melawan balik kolonial Belanda. Berakhirnya perang Jawa menjadi akhir dari pertempuran besar dari seluruh bangsawan Jawa pada saat itu. Setelah perang tersebut sudah usai maka jumlah pendudukpun menyusut.

 

Nah seperti itulah informasi lengkap mengenai Sejarah perang Diponegoro yang wajib banget sebagai bangsa Indonesia ketahui karena ini adalah salah satu sejarah yang terjadi pada Negeri kita yang sangat tercinta. Berakhirnya masa penjajahan maka sekaligus berakhir juga segala kesusahan para rakyat yang harus melakukan kerja paksa yang membuat rakyat semakin sengsara, yang dimana seharusnya semua dilakukan agar menciptakan kedamaian di Negeri kita Indonesia ini.

Baiklah sekian dulu artikel tentang perang Diponegoro, semoga bermanfaat, jangan lupakan jasa para pejuang kita pada zaman dahulu, kita sebagai generasi milenial tidak boleh sampai mengecewakan para pahlawan. Jika ada kritik dan saran atau request ingin membahas perang apalagi silahkan tulis saja di kolom komentar dibawah ini.



Pengertian Ide Pokok: 5 Cara Menemukan Ide Pokok dalam Paragraf

Pengertian Ide Pokok: 5 Cara Menemukan Ide Pokok dalam Paragraf

Sejarah Perang Diponegoro – Perang merupakan sebuah aksi fisik maupun non fisik dalam kondisi permusuhan ataupun dalam kondisi peperangan dengan adanya kekerasan yang sering terjadi antara dua atau lebih kelompok manusia. Peperangan dilakukan untuk melakukan dominasi di tempat yang di perebutkan atau di medan perang istilahnya.

Perang adalah sifat dasar turunan manusia yang hingga sekarang masih ada dan menginginkan dominasi juga persaingan untuk acara memperkuat diri dengan cara mengalahkan pihak musuh agar merasa memiliki kekuasaan lebih.

 

Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan Nasional Republik Indonesia yang sangat dikagumi dan juga dibilang sangat berani untuk melawan dan mengusir para penjajah Belanda. Pangeran Diponegoro merupakan sosok tokoh pejuang yang asli dari Indonesia, berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau adalah satu dari sekian banyak pahlawan yang mencetak sejarah perang terbesar di pulau Jawa.

Nama asli Pangeran Diponegoro adalah Bendoro Raden Mas Ontowiryo, beliau merupakan anak sulung dari Sultan Hamengkubuwana III yang merupakan raja Mataram. Pangeran Diponegoro lahir pada tanggal 11 November 1785. Ibunya bernama R.A Mangkarawati yang berasal dari Pacitan.

Pangeran Diponegoro menolak keinginan sang ayah agar menjadikan putra sulungnya itu menjadi seorang raja karena beliau menyadari bahwa ia hanyalah anak dari seorang selir, bukanlah anak dari seorang permaisuri.

Pangeran Diponegoro berasal dari titisan atau golongan ningrat yang hidupnya penuh dengan kenyamanan dan sangat sangat istimewa, kalau zaman sekarang bisa disebut sultan, namun ia lebih tertarik dan nyaman dengan kehidupan yang setara dengan rakyat dan lebih memilih untuk merakyat, saking nyamannya dengan hidup sederhana beliau lebih memilih untuk tinggal di luar keraton dan memilih tinggal di desa Tegalrejo.

Sebelum saya membahas lebih lanjut mengenai perang diponegoro, saya akan lebih dahulu membahas tentang kebiasaan pangeran diponegoro, berikut ini adalah kebiasaan yang beliau lakukan:

  • Pangeran Diponegoro suka mengunyah daun sirih.
  • Senang memelihara burung dan berkebun, membangun kebun dan menanam sayur sayuran, buah buahan, bunga, dan pepohonan.
  • Gemar meminum anggur dengan para orang Eropa namun hal ini tidak menjadikannya sebagai kelebihan yang berlebihan.
  • Hobi mengkoleksi berlian, emas, dan benda yang sangat berharga miliknya adalah batu akik hitam, batu akik tersebut disimpan dalam pembungkus emas.

Pangeran Diponegoro memiliki 12 putra dan 10 putri yang kini semuanya banyak tersebar di berbagai penjuru Dunia, ada yang di Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Madura. Sampai ada yang di luar negeri, seperti di  Arab Saudi, Australia, Belanda, Serbia, dan Jerman.

 

Sejarah Perang Diponegoro

Nah setelah kita sudah tau tentang Latar belakang perang di ponegoro, dan Pangeran Diponegoro, sekarang kita belajar lebih dalam lagi mengenai sejarah perang diponegoro. Di Indonesia zaman dulu pernah mengalami masa peperangan yang hampir terjadi di semua daerah loh teman teman, namun kali ini kita akan membahas perang diponegoro terlebih dahulu.

Perang diponegoro adalah perang besar yang terjadi dalam kurun waktu 5 tahun yaitu pada tahun 1825 hingga 1830 yang tepatnya berada di pulau Jawa, Hindia Belanda. Perang diponegoro juga dikenal dengan istilah perang Jawa. Perang ini merupakan salah satu perang terbesar yang pernah terjadi di Indonesia yaitu perang antara penduduk Nusantara dengan Belanda yang pada saat itu pasukan Belanda sedang dipimpin oleh Hendrick Merkus De Kock dan penduduk Nusantara khususnya Jawa dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Pada saat itu, peperangan yang terjadi antara penduduk Nusantara melawan pasukan Belanda, banyak penduduk pulau Jawa yang tewas hingga 200 ribu jiwa yang kehilangan nyawa, 8 ribu jiwa dari pihak Belanda, dan 7 ribu jiwa dari serdadu pribumi.

 

Penyebab Perang Diponegoro

Saat dibawah pimpinan Pangeran Diponegoro terjadi perlawanan rakyat pada tahun 1825 hingga tahun 1830 yaitu perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda. Penyebab utama terjadinya perang diponegoro ada dua alasan yang dapat disimpulkan, yang pertama adalah sebab umum dan kedua adalah sebab khusus.

Berikut ini adalah sebab umum yang membuat terjadinya perlawanan diponegoro:

  1. Timbulnya rasa kekecewaan di kalangan para ulama, karena mulai merambahnya budaya barat yang tidak sesuai dengan ajaran agama islam
  2. Kehidupan rakyat semakin menderita ditambah lagi mereka disuruh kerja paksa dan wajib membayar berbagai macam pajak seperti pajak ternak, pindah nama, tanah, sewa tanah, pindah rumah, dan pajak yang lainnya.
  3. Wilayah kesultanan Mataram yang lambat laun semakin sempit dan para raja yang jabatannya sebagai pengusaha pribumi mulai kehilangan kepercayaan dan kedaulatan.
  4. Bangsawan juga banyak yang merasa kecewa karena Belanda sudah menghapus sistem penyewaan tanah pada bangsawan kepada petani yang sudah mulai terjadi di tahun 18245
  5. Belanda mulai ikut campur dengan masalah kesultanan.
  6. Sebagian orang dari darah bangsawan banyak yang merasa kecewa karena Belanda tidak mau mengikuti adat istiadat dari keraton.

Dan yang membuat terjadinya perlawanan diponegoro lainnya karena pemasangan Patok oleh Belanda untuk pembangunan jalan yang melintasi tanah dan makam para leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Pemasangan tersebut dilakukan tanpa izin dari kerajaan sehingga ditentang oleh Pangeran Diponegoro.

Nah kita sudah membahas tentang sebab umum diatas, nah kali ini kita akan membahas sebab khusus yaitu provokasi yang dilakukan oleh pihak Belanda untuk merencanakan pembuatan jalan menerobos tanah pangeran Diponegoro dan membongkar makam keramat. Beliau tersingkir dari kekuasaan karena telah menolak untuk berkompromi dengan Belanda dan ia lebih memilih untuk ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada perkembangan keagamaan.

Hal itu membuat pangeran marah dan segera membangun pertahanan di Selarong dan dukungan kepada Diponegoro datang dari mana saja yang membuat pasukan Diponegoro ini menjadi lebih kuat.

Baca Juga: Sejarah Perang Salib.

 

Latar Belakang Perang Diponegoro

Pangeran Diponegoro memimpin pasukannya dengan perang gerilya. Gubernur Jendral Van der Capellen melancarkan strategi yaitu mendirikan benteng di setiap tempat yang ia kuasai dan berfungsi juga untuk mempersempit ruang gerak dari pasukan Diponegoro.

Nah dari situlah pasukan Diponegoro melemah sehingga menyebabkan ia menerima tawaran untuk perundingan dengan Belanda di Magelang. Namun sayangnya perundingan inipun gagal dalam mencapai kata sepakat. Karena hal itulah Pangeran Diponegoro ditangkap dan langsung dipindahkan ke Manado dan dipindahkan lagi ke Makasar. Perang ini berlangsung selama 5 tahun dan membawa dampak yang membuat kekuasaan wilayah Surakarta dan Yogyakarta berkurang dan sangat banyak menguras uang kas Belanda.

 

Akhir Perang Diponegoro

Nah kita sudah belajar cukup rinci yang dari awal mengenal siapa itu Pangeran Diponegoro, penyebab, dan proses terjadinya perang Diponegoro. Kali ini kita langsung membahas akhir perang Diponegoro. Agar menang melawan pasukan Diponegoro, Belanda harus menarik pasukan yang dipakai untuk perang di Sumatra Barat, di saat yang sama pada saat itu juga Belanda sedang menghadapi perang besar padri.

Lalu akhirnya Belanda mau tidak mau mesti harus melawan kedua belah pihak itu dan belakangan bersatu untuk melawan balik kolonial Belanda. Berakhirnya perang Jawa menjadi akhir dari pertempuran besar dari seluruh bangsawan Jawa pada saat itu. Setelah perang tersebut sudah usai maka jumlah pendudukpun menyusut.

 

Nah seperti itulah informasi lengkap mengenai Sejarah perang Diponegoro yang wajib banget sebagai bangsa Indonesia ketahui karena ini adalah salah satu sejarah yang terjadi pada Negeri kita yang sangat tercinta. Berakhirnya masa penjajahan maka sekaligus berakhir juga segala kesusahan para rakyat yang harus melakukan kerja paksa yang membuat rakyat semakin sengsara, yang dimana seharusnya semua dilakukan agar menciptakan kedamaian di Negeri kita Indonesia ini.

Baiklah sekian dulu artikel tentang perang Diponegoro, semoga bermanfaat, jangan lupakan jasa para pejuang kita pada zaman dahulu, kita sebagai generasi milenial tidak boleh sampai mengecewakan para pahlawan. Jika ada kritik dan saran atau request ingin membahas perang apalagi silahkan tulis saja di kolom komentar dibawah ini.