√ Sejarah Kerajaan Mataram Kuno dan Islam +(Raja & Peninggalan)

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam, Raja dan Peninggalan Mataram

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam, Raja dan Peninggalan Mataram

Di tanah Jawa memang sejak dahulu terkenal dengan banyak kerajaan yang memiliki cerita yang sudah melegenda. Banyak sekali kerajaan yang ditemukan di tanah Jawa ini, salah satunya yaitu kerajaan Mataram yang ditemukan di Jawa Tengah dan terbagi menjadi 2 yaitu kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam. Keberadaan kerejaan tersebut dijelaskan dalam peninggalan sejarah yang ditemukan berupa prasasti – prasasti.

Kedua kerajaan tersebut sama – sama dipimpin oleh raja – raja secara turun – temurun. Mataram Kuno atau juga disebut dengan Mataram Hindu ini merupakan sebutan untuk dua dinasti yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya ini merupakan dinasti bercorak Hindu yang di dirikan pada tahun 732 M oleh Sanjaya. Sedangkan dinasti Syailendra merupakan dinasti bercorak Budha yang di dirikan pada tahun 752 M oleh Bhanu. Kedua dinasti tersebut berkuasa diwilayah Jawa Tengah bagian selatan.

Sedangkan kerajaan Mataram Islam adalah kerajaan islam yang berdiri sejak abad ke -16 di pulau Jawa. Kerajaan Mataram Islam ini dipimpin oleh dinasti yang mengaku bahwa mereka merupakan keturunan dari kerajaan Majapahit. Yang merupakan keturunan dari Ki Ageng Sela serta Ki Ageng Pemanahan yang mana keduanya merupakan raja – raja besar Mataram Islam.

 

Raja Kerajaan Mataram Kuno

Karena diantara Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra terjadi persaingan, maka secara bergentian mereka bergantian dalam memerintah di Mataram. Tentu saja raja – raja yang memimpin kerajaan Mataram tersebut berasala dari keturunan kedua dinasti tersebut. Didalam prasasti Wanua Tengah III (908 M) dan prasasti Mantyasih (907 M) disebutkan bahwa nama dari raja – raja kerajaan Mataram adalah sebagai berikut.

 

1. Raka Mataram Sang Ratu Sanjaya

Raka Mataram Sang Ratu Sanjaya adalah raja pertama dari kerjaan Medang di Jawa Tengah yang berkuasa dari tahun 717 – 746 M. Nama Raka Mataram Sang Ratu Sanjaya ini ditemukan pada prasasti Mantyasih dan Canggal. Para Sejarawan mengemukakan bahwa Raka Mataram Sang Ratu Sanjaya ini merupakan pendiri Wangsa Sanjaya, walaupun ada yang menolak mengenai keberadaan dinasti tersebut.

 

2. Rakai Panangkaran Dyah Sankhara

Sri Maharaja Rakai Panangkaran ini adalah raja kedua dari kerajaan Medang di periode Jawa Tengah yang berkuasa sejak tahun 746 -784 M. Dimulainya periode pemerintahan Rakai Panangkaran Dyah Sankhara ini ditandai dengan dimulainya pembangunan berbagai macam candi dengan corak Budha Mahayana. Candi tersebut terletak di dataran Prambanan yaitu Abhayagirivara, Tarabhavanam, dan Manjusrigrha.

 

3. Raka Panunggalan (Dharanindra)

Dharanindra atau yang biasanya disingkat dan dipanggil Indra ini adalah seorang raja keturunan Wangsa Syailendra yang berkuasa sejak tahun 784 – 803 M. Nama Raka Panunggalan (Dharanindra) ini ditemukan dalam prasasti Kelurak dengan gelar Sri Sanggrama Dhananjaya. Raja Indra ini telah berhasil memperluas wilayah kekuasaan Wangsa Syailendra hingga sampai ke daratan Indocina (Semenanjung Malaya).

 

4. Rakai Warak Dyah Manara

Rakai Warak Dyah Manara adalah raja ke-4 dari kerajaan Medang pada periode Jawa Tengah yang memerintah sejak tahun 803 – 827 M. Nama dari raja Rakai Warak Dyah Manara ini ditemukan didalam daftar raja – raja kerajaan Medang yang tertulis dalam prasasti Mantyasih. Nama Sali dari Rakai Warak Dyah Manara ini merupakan Samaragrawira yang merupakan ayah dari Balaputradewa raja kerajaan Sriwijaya.

 

5. Dyah Gula

Nama raja Dyah Gula yang merupakan salah satu raja dari kerajaan Mataram ini ditemukan dalam prasasti Wanua Tengah III (827 – 828 M). Prasasti Wanua Tengah III ditemukan disebuah ladang Dukuh Kedunglo, Desa Gandulan, Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Namun sekarang prasasti Wanua Tengah III ini telah disimpan di Balai Arkeologi kota Yogyakarta.

 

6. Rakai Garung

Rakai Garung adalah raja dari kerajaan Mataram pengganti dari Rakai Warak yang berasal dari Dinasti Wangsa Sanjaya. Beliau telah berkuasa di kerajaan Mataram sejak tahun 823 – 847 M yang telah tertulis dalam prasasti Wanua Tengah III yang ditemukan di Temanggung, Jawa Tengah. Dalam prasasti tersebut dituliskan bahwa Rakai Garung memerintah kerajaan sebelum Raka Pikatan dengan gelar Maharaja.

 

7. Rakai Pikatan Dyah Saladu

Dalam prasasti Argapura ditemukan nama asli dari Raka Pikatan yaitu Mpu Manuku yang sudah cukup lama berkuasa mulai dari tahun 847 – 855 M. Selain itu, Rakai Pikatan Dyah Saladu juga dijuluki sebagai Rakai Mamrati karena telah berhasil membangun ibu kota baru di desa Mamrati. Ibu kota baru tersebut bernama Mamratipura yang merupakan pengganti ibu kota lama yaitu Mataram.

 

8. Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala

Rakai Kayuwangi adalah raja ke-7 dari kerajaan Medang yang telah memerintah sejak tahun 856 – 880 M. Rakai Kayuwangi merupakan putra bungsu dari Rakai Pikatan yang terlahir dari rahim permaisuri Pramodawardhani. Selain itu, menurut prasasti Wantil, nama asli dari Rakai Kayuwangi yaitu Dyah Lokapala dan menurut prasasti Argapura yaitu Mpu Lokapala.

 

9. Dyah Taqwas

Dyah Taqwas merupakan raja yang sudah berkuasa di kerajaan Mataram pada tahun 885 M. Informasi tersebut ditemukan dalam prasasti Wanua Tengah III. Dalam prasasti Wanua Tengah III tersebut ditemukan daftar lengkap nama raja – raja yang pernah memerintah di kerajaan Mataram. Dari ke-12 raja dalam daftar, raja Dyah Taqwas merupakan salah satunya.

 

10. Raka Panumwangan Dyah Dawendra

Didalam prasasti Wanua Tengah III yang ditemukan di Temanggung, nama Raka Panumwangan juga tercatat sebagai salah satu raja yang pernah memerintah di kerajaan Mataram. Raka Panumwangan Dyah Dawendra adalah raja kerajaan Mataram keturunan dari Dinasti Syailendra yang sudah memerintah kerajaan Mataram sejak tahun 885 – 887 M.

 

11. Rakai Gurunwangi Dyah Wadra

Dalam prasasti Munggu Antan dan prasasti Poh Dulur diceritakan tentang masa pemerintahan raja Raka Gurunwangi. Raja Gurunwangi tersebut telah memerintah sejak tahun 887 M. Namun nama beliau tidak pernah tercantum dalam prasasti Mantyasih. Pada akhir masa pemerintahan raja Rakai Guruwangi ini terjadi perpecahan di lingkungan kerajaan Medang.

 

12. Rakai Watuhumalang Dyah Jbang

Rakai Watuhumalang Dyah Jbang adalah raja ke-8 dari kerajaan Medang di periode Jawa Tengah yang sudah memerintah dari tahun 894 – 898 M. Dalam prasasti Mantyasih, raja Rakai Watuhumalang ini menggantikan raja Rakai Kayuwangi sebagai raja bawahan yang bergelar haji. Rakai Watuhumalang tidak pernah meninggalkan prasasti atas namanya sendiri.

 

13. Rakai Watukura Dyah Walitung

Rakai Watukura Dyah Walitung adalah salah satu raja yang pernah memerintah di kerajaan Medang yang memimpin sejak tahun 899 – 991 M. Wilayah kekuasaan raja tersebut meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Kerajaan tersebut juga dikenal dengan nama kerajaan Galuh. Pada saat itu kehidupan dalam kerajaan Mataram belum banyak dapat diungkapkan.

 

 

Raja Kerajaan Mataram Islam

Seperti halnya kerajaan – kerajaan lain yang berada di pulau Jawa, kerajaan Mataram Islam pernah dipimpin oleh 6 raja. Kekuasaan tersebut di isi oleh raja – raja secara turun – temurun secara bergantian yang berkuasa di kerajaan Mataram Islam. Adapun urut – urutan nama raja yang pernah berkuasa dan memerintah di kerajaan Mataram Islam adalah sebagai berikut.

 

1. Ki Ageng Pamanahan

Ki Ageng Pamanahan adalah pendiri dari desa Mataram pada tahun 1556 yang merupakan cikal bakal kerajaan Mataram Islam terbentuk dan dipimpin oleh Sutawijaya. Pada awalnya, tanah tersebut merupakan hutan lebat kemudian dibuka oleh masyarakat sekitar dengan nama alas Mentaok. Ki Ageng Pamanahan wafat pada tahun 1584 dan dimakamkan di Kota Gede Yogyakarta.

 

2. Panembahan Senapati

Sutawijaya merupakan seorang senapati dari kerjaan Pajang yang diberi gelar Panembahan Senapati. Kerajaan Mataram Islam mulai bangkit sejak dibawah kepemimpinan Sutawijaya dengan cara memperluas daerah kekuasaannya. Wilayah kekuasaan yang dipimpin oleh raja Sutawijaya yaitu meliputi Pajang, Tuban, Demak, Pasuruan, Madiun, dan sebagian Surabaya.

 

3. Raden Mas Jolang

Raden Mas Jolang adalah putra dari Panembahan Senapati dan putri Ki Ageng Panjawi dengan gelar Panembahan Anyakrawati. Raden Mas Jolang merupakan pewaris ke-2 kerajaan Mataram Islam yang sudah berkuasa sejak tahun 1606 – 1613 M. Raden Mas Jolang wafat di desa Krapyak pada tahun 1613 dan di makamkan di Pasar Gede dibawah makam ayahandanya.

 

4. Raden Mas Rangsang

Raden Mas Rangsang merupakanputra dari Raden Mas Jolang. Raden Mas Rangsang adalah raja ke-3 dari kerajaan Mataram Islam dan sudah memerintah sejak tahun 1613 – 1645. Pada masa pemerintahan raja Raden Mas Rangsang ini, kerjaan Mataram Islam mengalami puncak kejayaan. Raden Mas Rangsang memiliki gelar Sultan Agung Senapati Ingalaga dan beliau selalu berusaha untuk memerangi VOC.

 

5. Amangkurat I

Amangkurat I adalah putra dari Sultan Agung yang telah memerintah kerajaan Mataram Islam sejak tahun 1638 – 1647 M. Pada masa pemerintahan Amangkurat I inilah kerajaan mataram menjadi pecah karena raja Amangkurat I menjadi teman VOC. Raja Amangkurat I wafat pada tanggal 10 Juli 1677 dan kemudain digantikan oleh raja Amangkurat II.

 

6. Amangkurat II

Raja Amangkurat II juga sering dikenal dengan nama Raden Mas Rahmat yang merupakan raja pertama dan sekaligus pendiri Kasunanan Kartasura. Kasunanan tersebut merupakan penerus dari kerajaan Mataram Islam dengan masa pemerintahan sejak tahun 1677 – 1703 M. Amangkurat II merupakan raja Jawa pertama yang menggunakan pakaian Eropa sebagai pakaian dinsanya.

 

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Sebagai sebuah kerajaan yang memiliki 2 dinasti yang berbeda, maka kerajaan Mataram Kuno juga mempunyai benda – benda peninggalan bersejarah. Benda – benda tersebut dijadikan sebagai bukti nyata dari keberadaan kerajaan tersebut dan siapa saja raja – raja yang pernah memerintah di kerajaan tersebut. Bukti sejarah kerajaan Mataram Kuno yaitu berupa prasasti diantara lain.

  • Prasasti Canggal (723 M), Berisi mengenai raja Sanjaya yang merupakan pendiri kerajaan Lingga yang terkenal kaya raya dengan padi dan emas yang dimilikinya.
  • Prasasti Balitung (907 M), Berisi mengenai pemberian hadiah berupa tanah kepada 5 patih di Mantyasih atas jasa – jasa mereka.
  • Prasasti Kalasan (778 M), Berisi mengenai pembuatan bangunan suci yang ditunjukan untuk Dewi Tara dan sebuah biara yang ditunjukan untuk pada pendeta.
  • Prasasti Kelurak (782 M), Berisi mengenai pembuatan arca Manjustri sebagai perwujudan sang Budha (Brahma, Siwa, dan Wisnu).
  • Prasasti Ratu Boko (856 M), Berisi mengenai kekalahan Balaputradewa yang akhirnya lari ke Sriwijaya dan akhirnya menjadi raja di kerajaan Sriwijaya.
  • Prasasti Nalanda (860 M), Berisi mengenai cerita asal – usul raja Balaputradewa.
  • Prasasti Ligor (860), Prasasti yang dibuat oleh raja Balaputradewa yang mengaku cucu raja Jawa dari dinasti Syailendra.
  • Prasasti Wanua Tengah III (908 M), Berisi mengenai silsilah raja – raja Mataram Kuno secara lengkap dan ditemukan di Temanggung Jawa Tengah.

Ditemukannya prasasti – prasasti tersebut dapat dijadikan sebagai bukti nyata bahwa kerajaan Mataram Kuno memang benar – benar ada. Selain itu, keberadaan dan silsilah raja – raja serta tahun memerintahnya dapat diketahui melalui prasasti – prasasti tersebut. Sampai saat ini prasasti – prasasti tersebut masih tersimpan dengan baik di museum Arkeologi Yogyakarta.

 

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

Pada saat itu kebudayaan kerajaan Mataram Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat mulai dari seni lukis, seni ukir, seni patung, dan hias. Apalagi pada saat pemerintahan Sultan Agung yang memadukan unsur budaya Islam dengan budaya Hindu-Jawa. Terdapat beberapa peninggalan bersejarah dari kerajaan Mataram Islam diantaranya sebagai berikut.

  • Candi Bentar, Candi ini terletak di makam Sunan Tembayat yang terletak di daerah Klaten serta dibuat pada masa pemerintahan Sultan Agung.
  • Kalender Jawa, Kalender ini merupakan hasil karya dari Sultan Agung yang berdasarkan dari perputaran bulan.
  • Buku Sastragending, Buku tersebut merupakan sebuah karya filsafat dari raja Sultan Agung.
  • Surya Alam, Sebuah karya dari raja Sultan Agung yang berupa kitab undang – undang.
  • Perayaan Sekaten, Perayaan tersebut digunakan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan cara mengarak gunungan dari keraton menuju depan Masjid Agung.

 

Di dalam kepercayaan masyarakat kerajaan Mataram Islam diantara Gunung Merapi dan Laut Selatan memiliki arti filosofis tersendiri. Keduanya dipercayai sebagai bentuk keseimbangan dari kehidupan masyarakat kerajaan Mataram Islam. Mereka juga memercayai bahwa salah satu raja kerajaan Mataram Islam menikah dengan Nyi Roro Kidul sebagai makhluk halus penguasa pantai Selatan Yogyakarta.

Jadi itulah artikel mengenai raja – raja yang pernah memerintah dan berkuasa di kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam serta dilengkapi dengan peninggalan dari masing – masing kerajaan. Dari ulasan di atas maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa raja – raja kerajaan Mataram sangat berambisi terhadap kekuasaan.

Walaupun begitu namun raja – raja Mataram tersebut senantiasa memerhatikan kesejahteraan rakyat mereka dengan cara membentuk kerajaan agraris. Terbukti dengan pertumbuhan perekonomian rakyat kerajaan Mataram yang semakin pesat. Selain itu dibawah naungan raja – raja Mataram, perkembangan agama Islam, Hindu, dan Budha dapat seiring dan sejalan.

 

Dengan begitu maka hal tersebut dapat menjadi bukti bahwa sejak jaman dahulu toleransi antar umat agama sudah terjalin dengan baik. Selain itu, sifat anti penjajah juga sudah ditanamkan dalam diri masyarakat tanah Jawa dengan bersatu padu untuk memerangi VOC. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kamu mengenai sejarah kerajaan Mataram. Terima kasih.



Pengertian Teks Biografi: Struktur,Ciri Ciri, Jenis, dan Unsur Kebahasaan Teks Biografi

Pengertian Teks Biografi: Struktur,Ciri Ciri, Jenis, dan Unsur Kebahasaan Teks Biografi

Di tanah Jawa memang sejak dahulu terkenal dengan banyak kerajaan yang memiliki cerita yang sudah melegenda. Banyak sekali kerajaan yang ditemukan di tanah Jawa ini, salah satunya yaitu kerajaan Mataram yang ditemukan di Jawa Tengah dan terbagi menjadi 2 yaitu kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam. Keberadaan kerejaan tersebut dijelaskan dalam peninggalan sejarah yang ditemukan berupa prasasti – prasasti.

Kedua kerajaan tersebut sama – sama dipimpin oleh raja – raja secara turun – temurun. Mataram Kuno atau juga disebut dengan Mataram Hindu ini merupakan sebutan untuk dua dinasti yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya ini merupakan dinasti bercorak Hindu yang di dirikan pada tahun 732 M oleh Sanjaya. Sedangkan dinasti Syailendra merupakan dinasti bercorak Budha yang di dirikan pada tahun 752 M oleh Bhanu. Kedua dinasti tersebut berkuasa diwilayah Jawa Tengah bagian selatan.

Sedangkan kerajaan Mataram Islam adalah kerajaan islam yang berdiri sejak abad ke -16 di pulau Jawa. Kerajaan Mataram Islam ini dipimpin oleh dinasti yang mengaku bahwa mereka merupakan keturunan dari kerajaan Majapahit. Yang merupakan keturunan dari Ki Ageng Sela serta Ki Ageng Pemanahan yang mana keduanya merupakan raja – raja besar Mataram Islam.

 

Raja Kerajaan Mataram Kuno

Karena diantara Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra terjadi persaingan, maka secara bergentian mereka bergantian dalam memerintah di Mataram. Tentu saja raja – raja yang memimpin kerajaan Mataram tersebut berasala dari keturunan kedua dinasti tersebut. Didalam prasasti Wanua Tengah III (908 M) dan prasasti Mantyasih (907 M) disebutkan bahwa nama dari raja – raja kerajaan Mataram adalah sebagai berikut.

 

1. Raka Mataram Sang Ratu Sanjaya

Raka Mataram Sang Ratu Sanjaya adalah raja pertama dari kerjaan Medang di Jawa Tengah yang berkuasa dari tahun 717 – 746 M. Nama Raka Mataram Sang Ratu Sanjaya ini ditemukan pada prasasti Mantyasih dan Canggal. Para Sejarawan mengemukakan bahwa Raka Mataram Sang Ratu Sanjaya ini merupakan pendiri Wangsa Sanjaya, walaupun ada yang menolak mengenai keberadaan dinasti tersebut.

 

2. Rakai Panangkaran Dyah Sankhara

Sri Maharaja Rakai Panangkaran ini adalah raja kedua dari kerajaan Medang di periode Jawa Tengah yang berkuasa sejak tahun 746 -784 M. Dimulainya periode pemerintahan Rakai Panangkaran Dyah Sankhara ini ditandai dengan dimulainya pembangunan berbagai macam candi dengan corak Budha Mahayana. Candi tersebut terletak di dataran Prambanan yaitu Abhayagirivara, Tarabhavanam, dan Manjusrigrha.

 

3. Raka Panunggalan (Dharanindra)

Dharanindra atau yang biasanya disingkat dan dipanggil Indra ini adalah seorang raja keturunan Wangsa Syailendra yang berkuasa sejak tahun 784 – 803 M. Nama Raka Panunggalan (Dharanindra) ini ditemukan dalam prasasti Kelurak dengan gelar Sri Sanggrama Dhananjaya. Raja Indra ini telah berhasil memperluas wilayah kekuasaan Wangsa Syailendra hingga sampai ke daratan Indocina (Semenanjung Malaya).

 

4. Rakai Warak Dyah Manara

Rakai Warak Dyah Manara adalah raja ke-4 dari kerajaan Medang pada periode Jawa Tengah yang memerintah sejak tahun 803 – 827 M. Nama dari raja Rakai Warak Dyah Manara ini ditemukan didalam daftar raja – raja kerajaan Medang yang tertulis dalam prasasti Mantyasih. Nama Sali dari Rakai Warak Dyah Manara ini merupakan Samaragrawira yang merupakan ayah dari Balaputradewa raja kerajaan Sriwijaya.

 

5. Dyah Gula

Nama raja Dyah Gula yang merupakan salah satu raja dari kerajaan Mataram ini ditemukan dalam prasasti Wanua Tengah III (827 – 828 M). Prasasti Wanua Tengah III ditemukan disebuah ladang Dukuh Kedunglo, Desa Gandulan, Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Namun sekarang prasasti Wanua Tengah III ini telah disimpan di Balai Arkeologi kota Yogyakarta.

 

6. Rakai Garung

Rakai Garung adalah raja dari kerajaan Mataram pengganti dari Rakai Warak yang berasal dari Dinasti Wangsa Sanjaya. Beliau telah berkuasa di kerajaan Mataram sejak tahun 823 – 847 M yang telah tertulis dalam prasasti Wanua Tengah III yang ditemukan di Temanggung, Jawa Tengah. Dalam prasasti tersebut dituliskan bahwa Rakai Garung memerintah kerajaan sebelum Raka Pikatan dengan gelar Maharaja.

 

7. Rakai Pikatan Dyah Saladu

Dalam prasasti Argapura ditemukan nama asli dari Raka Pikatan yaitu Mpu Manuku yang sudah cukup lama berkuasa mulai dari tahun 847 – 855 M. Selain itu, Rakai Pikatan Dyah Saladu juga dijuluki sebagai Rakai Mamrati karena telah berhasil membangun ibu kota baru di desa Mamrati. Ibu kota baru tersebut bernama Mamratipura yang merupakan pengganti ibu kota lama yaitu Mataram.

 

8. Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala

Rakai Kayuwangi adalah raja ke-7 dari kerajaan Medang yang telah memerintah sejak tahun 856 – 880 M. Rakai Kayuwangi merupakan putra bungsu dari Rakai Pikatan yang terlahir dari rahim permaisuri Pramodawardhani. Selain itu, menurut prasasti Wantil, nama asli dari Rakai Kayuwangi yaitu Dyah Lokapala dan menurut prasasti Argapura yaitu Mpu Lokapala.

 

9. Dyah Taqwas

Dyah Taqwas merupakan raja yang sudah berkuasa di kerajaan Mataram pada tahun 885 M. Informasi tersebut ditemukan dalam prasasti Wanua Tengah III. Dalam prasasti Wanua Tengah III tersebut ditemukan daftar lengkap nama raja – raja yang pernah memerintah di kerajaan Mataram. Dari ke-12 raja dalam daftar, raja Dyah Taqwas merupakan salah satunya.

 

10. Raka Panumwangan Dyah Dawendra

Didalam prasasti Wanua Tengah III yang ditemukan di Temanggung, nama Raka Panumwangan juga tercatat sebagai salah satu raja yang pernah memerintah di kerajaan Mataram. Raka Panumwangan Dyah Dawendra adalah raja kerajaan Mataram keturunan dari Dinasti Syailendra yang sudah memerintah kerajaan Mataram sejak tahun 885 – 887 M.

 

11. Rakai Gurunwangi Dyah Wadra

Dalam prasasti Munggu Antan dan prasasti Poh Dulur diceritakan tentang masa pemerintahan raja Raka Gurunwangi. Raja Gurunwangi tersebut telah memerintah sejak tahun 887 M. Namun nama beliau tidak pernah tercantum dalam prasasti Mantyasih. Pada akhir masa pemerintahan raja Rakai Guruwangi ini terjadi perpecahan di lingkungan kerajaan Medang.

 

12. Rakai Watuhumalang Dyah Jbang

Rakai Watuhumalang Dyah Jbang adalah raja ke-8 dari kerajaan Medang di periode Jawa Tengah yang sudah memerintah dari tahun 894 – 898 M. Dalam prasasti Mantyasih, raja Rakai Watuhumalang ini menggantikan raja Rakai Kayuwangi sebagai raja bawahan yang bergelar haji. Rakai Watuhumalang tidak pernah meninggalkan prasasti atas namanya sendiri.

 

13. Rakai Watukura Dyah Walitung

Rakai Watukura Dyah Walitung adalah salah satu raja yang pernah memerintah di kerajaan Medang yang memimpin sejak tahun 899 – 991 M. Wilayah kekuasaan raja tersebut meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Kerajaan tersebut juga dikenal dengan nama kerajaan Galuh. Pada saat itu kehidupan dalam kerajaan Mataram belum banyak dapat diungkapkan.

 

 

Raja Kerajaan Mataram Islam

Seperti halnya kerajaan – kerajaan lain yang berada di pulau Jawa, kerajaan Mataram Islam pernah dipimpin oleh 6 raja. Kekuasaan tersebut di isi oleh raja – raja secara turun – temurun secara bergantian yang berkuasa di kerajaan Mataram Islam. Adapun urut – urutan nama raja yang pernah berkuasa dan memerintah di kerajaan Mataram Islam adalah sebagai berikut.

 

1. Ki Ageng Pamanahan

Ki Ageng Pamanahan adalah pendiri dari desa Mataram pada tahun 1556 yang merupakan cikal bakal kerajaan Mataram Islam terbentuk dan dipimpin oleh Sutawijaya. Pada awalnya, tanah tersebut merupakan hutan lebat kemudian dibuka oleh masyarakat sekitar dengan nama alas Mentaok. Ki Ageng Pamanahan wafat pada tahun 1584 dan dimakamkan di Kota Gede Yogyakarta.

 

2. Panembahan Senapati

Sutawijaya merupakan seorang senapati dari kerjaan Pajang yang diberi gelar Panembahan Senapati. Kerajaan Mataram Islam mulai bangkit sejak dibawah kepemimpinan Sutawijaya dengan cara memperluas daerah kekuasaannya. Wilayah kekuasaan yang dipimpin oleh raja Sutawijaya yaitu meliputi Pajang, Tuban, Demak, Pasuruan, Madiun, dan sebagian Surabaya.

 

3. Raden Mas Jolang

Raden Mas Jolang adalah putra dari Panembahan Senapati dan putri Ki Ageng Panjawi dengan gelar Panembahan Anyakrawati. Raden Mas Jolang merupakan pewaris ke-2 kerajaan Mataram Islam yang sudah berkuasa sejak tahun 1606 – 1613 M. Raden Mas Jolang wafat di desa Krapyak pada tahun 1613 dan di makamkan di Pasar Gede dibawah makam ayahandanya.

 

4. Raden Mas Rangsang

Raden Mas Rangsang merupakanputra dari Raden Mas Jolang. Raden Mas Rangsang adalah raja ke-3 dari kerajaan Mataram Islam dan sudah memerintah sejak tahun 1613 – 1645. Pada masa pemerintahan raja Raden Mas Rangsang ini, kerjaan Mataram Islam mengalami puncak kejayaan. Raden Mas Rangsang memiliki gelar Sultan Agung Senapati Ingalaga dan beliau selalu berusaha untuk memerangi VOC.

 

5. Amangkurat I

Amangkurat I adalah putra dari Sultan Agung yang telah memerintah kerajaan Mataram Islam sejak tahun 1638 – 1647 M. Pada masa pemerintahan Amangkurat I inilah kerajaan mataram menjadi pecah karena raja Amangkurat I menjadi teman VOC. Raja Amangkurat I wafat pada tanggal 10 Juli 1677 dan kemudain digantikan oleh raja Amangkurat II.

 

6. Amangkurat II

Raja Amangkurat II juga sering dikenal dengan nama Raden Mas Rahmat yang merupakan raja pertama dan sekaligus pendiri Kasunanan Kartasura. Kasunanan tersebut merupakan penerus dari kerajaan Mataram Islam dengan masa pemerintahan sejak tahun 1677 – 1703 M. Amangkurat II merupakan raja Jawa pertama yang menggunakan pakaian Eropa sebagai pakaian dinsanya.

 

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Sebagai sebuah kerajaan yang memiliki 2 dinasti yang berbeda, maka kerajaan Mataram Kuno juga mempunyai benda – benda peninggalan bersejarah. Benda – benda tersebut dijadikan sebagai bukti nyata dari keberadaan kerajaan tersebut dan siapa saja raja – raja yang pernah memerintah di kerajaan tersebut. Bukti sejarah kerajaan Mataram Kuno yaitu berupa prasasti diantara lain.

  • Prasasti Canggal (723 M), Berisi mengenai raja Sanjaya yang merupakan pendiri kerajaan Lingga yang terkenal kaya raya dengan padi dan emas yang dimilikinya.
  • Prasasti Balitung (907 M), Berisi mengenai pemberian hadiah berupa tanah kepada 5 patih di Mantyasih atas jasa – jasa mereka.
  • Prasasti Kalasan (778 M), Berisi mengenai pembuatan bangunan suci yang ditunjukan untuk Dewi Tara dan sebuah biara yang ditunjukan untuk pada pendeta.
  • Prasasti Kelurak (782 M), Berisi mengenai pembuatan arca Manjustri sebagai perwujudan sang Budha (Brahma, Siwa, dan Wisnu).
  • Prasasti Ratu Boko (856 M), Berisi mengenai kekalahan Balaputradewa yang akhirnya lari ke Sriwijaya dan akhirnya menjadi raja di kerajaan Sriwijaya.
  • Prasasti Nalanda (860 M), Berisi mengenai cerita asal – usul raja Balaputradewa.
  • Prasasti Ligor (860), Prasasti yang dibuat oleh raja Balaputradewa yang mengaku cucu raja Jawa dari dinasti Syailendra.
  • Prasasti Wanua Tengah III (908 M), Berisi mengenai silsilah raja – raja Mataram Kuno secara lengkap dan ditemukan di Temanggung Jawa Tengah.

Ditemukannya prasasti – prasasti tersebut dapat dijadikan sebagai bukti nyata bahwa kerajaan Mataram Kuno memang benar – benar ada. Selain itu, keberadaan dan silsilah raja – raja serta tahun memerintahnya dapat diketahui melalui prasasti – prasasti tersebut. Sampai saat ini prasasti – prasasti tersebut masih tersimpan dengan baik di museum Arkeologi Yogyakarta.

 

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

Pada saat itu kebudayaan kerajaan Mataram Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat mulai dari seni lukis, seni ukir, seni patung, dan hias. Apalagi pada saat pemerintahan Sultan Agung yang memadukan unsur budaya Islam dengan budaya Hindu-Jawa. Terdapat beberapa peninggalan bersejarah dari kerajaan Mataram Islam diantaranya sebagai berikut.

  • Candi Bentar, Candi ini terletak di makam Sunan Tembayat yang terletak di daerah Klaten serta dibuat pada masa pemerintahan Sultan Agung.
  • Kalender Jawa, Kalender ini merupakan hasil karya dari Sultan Agung yang berdasarkan dari perputaran bulan.
  • Buku Sastragending, Buku tersebut merupakan sebuah karya filsafat dari raja Sultan Agung.
  • Surya Alam, Sebuah karya dari raja Sultan Agung yang berupa kitab undang – undang.
  • Perayaan Sekaten, Perayaan tersebut digunakan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan cara mengarak gunungan dari keraton menuju depan Masjid Agung.

 

Di dalam kepercayaan masyarakat kerajaan Mataram Islam diantara Gunung Merapi dan Laut Selatan memiliki arti filosofis tersendiri. Keduanya dipercayai sebagai bentuk keseimbangan dari kehidupan masyarakat kerajaan Mataram Islam. Mereka juga memercayai bahwa salah satu raja kerajaan Mataram Islam menikah dengan Nyi Roro Kidul sebagai makhluk halus penguasa pantai Selatan Yogyakarta.

Jadi itulah artikel mengenai raja – raja yang pernah memerintah dan berkuasa di kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam serta dilengkapi dengan peninggalan dari masing – masing kerajaan. Dari ulasan di atas maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa raja – raja kerajaan Mataram sangat berambisi terhadap kekuasaan.

Walaupun begitu namun raja – raja Mataram tersebut senantiasa memerhatikan kesejahteraan rakyat mereka dengan cara membentuk kerajaan agraris. Terbukti dengan pertumbuhan perekonomian rakyat kerajaan Mataram yang semakin pesat. Selain itu dibawah naungan raja – raja Mataram, perkembangan agama Islam, Hindu, dan Budha dapat seiring dan sejalan.

 

Dengan begitu maka hal tersebut dapat menjadi bukti bahwa sejak jaman dahulu toleransi antar umat agama sudah terjalin dengan baik. Selain itu, sifat anti penjajah juga sudah ditanamkan dalam diri masyarakat tanah Jawa dengan bersatu padu untuk memerangi VOC. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kamu mengenai sejarah kerajaan Mataram. Terima kasih.