Tembang Macapat

By Hasif Priyambudi -

Sekang akan menjelaskan mengenai tembang macapat mulai dari pengertian tembang macapat, jenis tembang macapat, sejarah tembang macapat dan contoh tembang macapat.

Nah, sebelum kita membahas lebih dalam ada baiknya kita membahas terlebih dahulu apa itu pengertian dari tembang macapat, berikut ini adalah pengertian tembang macapat.

Pengertian Tembang Macapat

Ada beberapa penjelasan mengenai pengertian tembang macapat adalah puisi tradisional jawa yang setiap bait mempunyai gatra atau baris kalimat dengan jumlah suku kata tertentu dengan memiliki akhiran bunyi sajak disebut guru lagu.

pendapat lain menyebutkan maca papat – papat (membaca empat – empat) maksud disini adalah cara membaca tiap empat suku kata. Tapi ada pendapat lain yang mengatakan kata pat yang merujuk pada tanda diatris (sandhangan) aksara jawa yang relevan dalam penembangan tembang macapat.

Dan ada lagi yang menfasirkan bahwa lata macapat merupakan kata yang berasal dari frasa macapat-lagu yang memiliki arti “Melagukan Nada Ke Empat”.

Tembang macapat cilik diciptakan oleh Sunan Bonang dan kemudian diturunkan kepada semua para wali. Dan tembang tengahan yang diciptakan oleh Resi Wiratmaka yang menjadi pandita istana Janggala kemudian disempurnakan oleh pangeran Panji Inokarpati bersama dengan saudaranya.

Baca Juga: Geguritan Bahasa Jawa.

Struktur Tembang Macapat

Umumnya tembang macapat telah pecah dengan mengandung keunikannya dan karakter tersendiri, serta dalam penulisannya pun memiliki aturan yang khusus dalam membuatnya.

Maksud dari aturan khusus tersebut adalah bisanya kita sebut dengan guru maupun patokan. Nah berikut ini adalah patokan atau guru lagu yang ada di tembang macapat, di antaranya adalah:

  • Guru Gatra, merupakakan jumlah baris dalam satu bait tembang macapat.
  • Guru Wilangan, merupakan jumlah suku kata dalam setiap baris tembang macapat.
  • Guru Lagu, merupakan jatuhnya sebuah suara dalam setiap baris tembang macapat (A I U E O)

Sejarah Tembang Macapat

Tembang macapat muncul pada wilayah jawa, tepatnya pada bagian kerajaan Majapahit, dan pada masa itu yang memulai mempengaruhi masyarakat untuk mengenal sastra macapat adalah sunan Bonang, dan diteruskan kepada Walisongo yang lainnya pada akhir masa kerajaan Majapahit. Tapi hal itu hanya berlaku di wilayah Jawa Tengah saja.

Pada wilayah Bali dan Jawa Timur, macapat sudah dikenal sebelum agama Islam masuk ke wilayah tersebut. karena ada sebuah teks dari Bali yang berjudul Kidung Rnaggalawe yang sudah selesai ditulis pada tahun 1334 M.

Baca Juga: Contoh Geguritan Bahasa Jawa.

Macam – Macam Tembang Macapat

Dari gambar di atas, mungkin kamu sudah bisa menyimpulkan sendiri aturan atau patokan dalam membuat tembang macapat. Walaupun banyak pendapat yang menafsirkan mengenai apa itu tembang macapat, seperti itulah bentuk dari macapat.

Contoh yang kecil saja, seperti penafsiran mengenai janin dalam rahim, banyak yang mengatakan bahwa itu merupakan tembang Maskumambang, tapi ada juga yang mengatakan itu merupakan seorang anak yang sudah lahir dari dalam rahim.

Walaupun banyak sekali perbedaan tafsir dalam tembang macapat, akan tetapi dari sisi lain tetap menggunakan patokan yang sam dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan. Serta aturan – aturan buku yang harus tetap sama.

Tembang macapat diyakini oleh sebagian orang jawa jika tembang macapat merupakan makna manusia dalam menempuh hidupnya, proses dimana sang pencipta yang maha ESA memberikan ruh kepada manusia, hingga menceritakan ajal manusia.

Nah, maksudnya adalah kehidupan manusia hingga kematian manusia yang sudah tergambarkan dalam tembang macapat.

Contoh Tembang Macapat

Jenis tembang macapat beserta contohnya akan tertera pada artikel yang satu ini. Tembang macapat sendiri juga memiliki banyak jenis seperti maskumambang, mijil, sinom dan masih banyak lagi. Berikut merupakan urutan dari Contoh Tembang Macapat.

1. Maskumambang

Tembang ini menceritakan tentang filosofi kehidupan manusia yang dimulai dari embrio di dalam kandungan, yang masih tidak diketahui jati diri orang ini entah itu laki-laki atau perempuan.

Dari segi pandang yang lainya Maskumambang memiliki 2 kata yaitu “Mas” dan “Kumambang”. Kemudian mas berasal dari kata “Mas” adalah berasal dari premas yang memiliki arti Punggawa dalam upacara  Shaministis.

Kemudian Kumambang sendiri berasal dari kambang dengan sisipan -um. Kambang sendiri memiliki arti kamwang yang berarti kembang Ambang berkaitan dengan Ambangse yang berarti menembang yang disertai sajian bunga.

Didalam serat Purwaukara, Maskumambang memiliki arti Ulam Toya atau ikan air tawar. Hal ini yang menyebabkan terkadang diisyaratkan dengan ikan berenang atau lukisan.

Watak dari maskumambang ialah memiliki suasana sedih atau kedukaan serta suasana hati yang sedang nelangsa. Kemudian jumlah dari aturan dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari maskumambang ialah:

(12i, 6a, 8i, 8o).

kemudian untuk contoh dari jenis tembang macapat maskumambang ini ialah seperti yang ada dibawah ini:

Apan kaya mangkono watekkaneki,

Sanadyan wong tuwa,

Sing duwe watek kang becik,

Miwah tindak kang prayoga

Tembang macapat maskumambang diatas mempunyai makna sebagai berikut:

Mempunyai sifat atau watak yang seperti itu,

Walau dia adalah orang tua,

Namun memiliki sifat atau perilaku yang tidaklah baik,

Serta perbuatan yang tidaklah pantas.

  • Guru Gatra Maskumambang adalah 4 yang artinya tembang maskumambang memiliki 4 garis kalimat.
  • Guru Wilangan Maskumambang adalah 12, 6, 8, 8 yang memiliki arti pada baris pertama terdapat 12 suku kata, baris kedua 6 suku kata, baris ketiga 8 suku kata dan baris keempat 8 suku kata.
  • Guru Lagu Maskumambang adalah i, a, i, o yang berarti  akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus memiliki vokal i, a, i, o.

2. Mijil

Filosofi dari tembang Mijil adalah melambangkan bentuk dari sebuah biji atau benih yang terlahir di dunia. Tembang macapat mijil sendiri menjadi lambang dari permulaan perjalanan seseorang di dunia ini. Dia sangatlah suci dan lemah yang membuatnya memerlukan perlindungan.

Pada segi pandang lain, Tembang Macapat mijil memiliki arti keluar. Selain itu, berhubungan juga dengan wijil yang mempunyai makna lawang atau pintu.

Kemudian lawang juga memiliki arti nama jenis tumbuhan yang memiliki bau wangi. Kemudian untuk watak dari tembang mijil ialah mencerminkan keterbukaan yang tepat untuk mengeluarkan nasehat, cerita-cerita serta asmara.

Contoh tembang mijil :

Madya ratri kentarnya mangikis,
Sira Sang lir sinom,
Saking taman miyos katekane,
Datan ing nggon cethine udani,
Lampahe lestari,
Wus midak marga Gung.

Artinya:

Pada tengah malah adalah suasana yang mencekam,
Dia Lah seorang pemuda,
Dari taman keluar lewat pintu belakang,
Tak ada yang menanyakan,
Berjalan dengan selamat,
Telah sampai ke jalan besar.

3. Sinom

Tembang macapat sinom memiliki makna pucuk atau  yang baru tumbuh serta bersemi. Kemudian untuk filosofi tembang macapat sinom ini merupakan penggambaran seorang manusia yang tumbuh beranjak dewasa serta telah menjadi remaja yang mulai tumbuh.

Pada saat remaja, tugas dari mereka merupakan menuntut ilmu dengan sebaik mungkin untuk bekal kelak di masa yang akan datang nanti.

Dari segi pandang lainya, Sinom memiliki keterkaitan dengan kata sinoman atau perkumpulan para pemuda guna membantu orang yang sedang punya hajat.

Terdapat pula orang yang berasumsi bahwa sinom berkaitan dengan upacara anak anak pada zaman dahulu. Bahkan sinom juga bisa saja merujuk kepada daun dari pepohonan yang masih amat muda yang menjadikanya sering diisyaratkan dengan lukisan daun muda.

Contoh tembang sinom :

Dasar karoban pawarta

Bebaratan udan lamis

Pinudya dadya pangarsa

Wekasan malah kawuri

Yen pamikir sayekti

Mundhak napa aneng ngayun

Andhedher kaluputan

Sasiraman banyu lali

Lamun tuwuh dados makembanging beka.

Artinya:

Berdasarkan cuma mendengar berita

Ibaratnya cuma kabar dimulut saja

Akan diposisikan sebagai pejabat

Yang akhirnya tertipu

Jika dipikir Benar benar

Apa gunanya menjadi seorang pemimpin

Cuma akan membuat kesalahan

Disiram dengan hati yang lupa diri

Hanya menjadi buah bibir saja.

4. Kinanthi

Tembang macapat kinanti berasal dari kata ‘kanthi’ yang memiliki arti menggandeng alias menuntun. Tembang ini mempunyai filosofi kehidupan yaitu hidup dari seorang anak yang memerlukan tuntunan dari orang lain supaya dapat berjalan dengan baik di kehidupan ini.

Kemudian watak dari tembang ini ialah menggambarkan perasaan yang bahagia , teladan yang baik, nasehat serta kasih sayang.

Contoh tembang kinanthi :

Kinanthi panglipur wuyung

Rerenggane prawan sunthi

Mboten pasah doyan nginang

Tapih pinjung tur mantesi

Mendah gene kang dewasa

Lemah langit gonjang ganjing

Artinya:

Bersamaan dengan penghibur asmara

Hiasannya perawan muda

Tidak biasa makan kinang

Memakai kain panjang serta pantas

Apalagi nanti jika dewasa

Tanah langit akan bergerak.

Baca Juga: Contoh Pidato Bahasa Jawa.

5. Asmarandana

Jenis tembang macapat Asmarandhana  berasal dari kata ‘asmara’ yang memiliki arti kisah cinta. Filosofi dari tembang asmarandana ini berkaitan dengan perjalanan hidup manusia yang sudah pada waktunya untuk memadu jenjang kasih dengan pasangan hidupnya.

Kemudian juka dilihat dari segi pandang lain asmarandana berasal dari kata asmara dan dhana. Asmara yang memiliki makna nama dewa percintaan dan kemudian dhana yang memiliki arti api.

Asmarandana juga ada kaitanya dengan peristiwa hangusnya dewa asmara yang disebabkan oleh sorotan dari mata ketiga dewa siwa seperti yang tertulis pada kakawin asmarandana karya Mpu Darmaja.

Didalam serat purwaukara asmarandana diberi makna remen ing paweweh yang memiliki maksud atau arti suka memberi. Sifat atatu watak asmarandana adalah menggambarkan asmara, cinta kasih, dan juga rasa pilu serta sedih.

Contoh tembang macapat asmarandana :

Kidung kedresaning kapti,

Yayah nglamong ora mangsa,

Hingan silarja asline,

Satata samaptaptinya,

Ngadep rakiting ruksa,

Kuat tumaneming siku,

Narimo sakeh kasrakat.

Artinya:

Nyanyian keseriusan hati,

Seolah melaju tanpa kenal waktu,

Sampai keselamatan yang paling hakiki,

Selalu siap hatinya,

Melawan rangkaian gangguan,

Kuat Mengatasi kemarahan,

Menerima segala penderitaan.

6. Gambuh

Jenis tembang macapat gambuh mempunyai arti menghubungkan atau menyambungkan. Lalu filosofi dari jenis tembang macapat ini ialah menceritakan tentang perjalanan hidup dari seseorang yang sudah bertemu dengan pasangan hidupnya yang cocok.

Mereka dipertemukan dengan tujuan untuk menjalin ikatan yang jauh lebih sakral yaitu melalui jalur pernikahan.

Dari segi pandang yang lainnya gambuh memiliki arti ronggeng tahu, nama tumbuhan dan terbiasa. Kaitanya dengan hal yang satu ini.

Tembang gambuh mempunyai watak atau biasa dipakai saat suasana yang esti atau tidak ada keraguan, maksudnya yaitu kesiapan untuk berani maju menuju medan yang sebenarnya.

Jenis tembang macapat gambuh memiliki watak keramahtamahan dan tentang persahabatan. Jenis tembang macapat yang satu ini digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita kehidupan.

Contoh tembang macapat gambuh :

Ilang Kasopanipun,

Ora bayu weyane ngalumpuk,

Sakciptane wardaya kang bebayani,

Ubayane ora payu,

Amung ketaman pakewuh.

Artinya:

Hilang Kesopananya,

Tidak mempunyai kekuatan serta lemah,

Hal yang dilakukan selalu berbahaya,

Sumpah serta janji yang hanya di mulut,

Ujungnya hanya akan bertemu sesuatu yang tidak membuat hati senang.

7. Dhandhanggula

Kata dhandhanggula memiliki dua kata yaitu ‘dandang’ dan ‘gula’ yang memiliki maksud sesuatu yang manis. Filosofi dari tembang yang satu ini merupakan gambaran kehidupan pasangan baru yang sedang berbahagia karena sudah berhasil mendapatkan apa yang telah meraka cita-citakan.

Kehidupan yang manis merupakan sesuatu yang dirasakan bersama keluarga dengan perasaan yang sangat membahagiakan. Didalam serat Purwaukara, dhandhanggula memiliki arti ngajeng-ajeng kasaean yang memiliki makna jika diartikan ke bahasa indonesia merupakan menunggu-nunggu kebaikan.

Kemudian jenis tembang macapat dhandhaggula ini memiliki watak menggambarkan dari sifat yang lebih universal atau luwes serta merasuk kedalam hati.Jenis tembang ini digunakan untuk menuturkan kisah dalam berbagai hal dan kondisi  apa saja.

Contoh tembang macapat dhandhanggula :

Yogyanira ing para prajurit

Lamun saget samiyo anuladha

Duk kang nguni caritane

Andelira sang Prabu

Sasrabau kang Maespati

Asma Patih Suwanda

Lelabuhanipun

Sing ginelung tri prakara

Guna kaya gelen ingkang den antepi

Nuhoni trah utama

 

Artinya:

Sepatutnya para prajurit

Mustinya dapat mencontoh

Seperti kisah jaman dulu

Kepercayaan Si Prabu

Sasrabau di Maespati

Memiliki nama Patih Suwondo

Lelabuhannya

Yang dibingkai tiga perkara

Berguna seperti akan dipegang teguh

Mencontoh keluarga utama.

 

8. Durma

Jenis tembang macapat durma memiliki arti pemberian. Jenis tembang macapat durma memiliki filosofi kehidupan yang mengalami duka, selisih serta kekurangan akan sesuatu.

Jenis tembang macapat ini mengajarkan supaya dalam hidup ini manusia harus bisa saling memberi dan melengkapi satu sama lain hingga kehidupanpun bisa seimbang.

Dari hal itu durma bisa memiliki sifat atau watak yang biasa digunakan dalam suasana yang seram. Jenis tembang macapat durma dikatakan seperti lagu yang akan digunakan saat akan perang bisa disimpulkan jika jenis tembang macapat durma mempunyai watak tegas kerasdan juga penuh dengan amarah yang bergejolak.

Contoh tembang macapat durma :

Mundur sing dadi tata krama
Dur kuwi duratmoko duroko dursila
Dur kuwi durmogati dursosono duryudono
Dur udur tan bisa nimbang rasa
Dur udur paribasan pari kena
Artine nglaras rasa jroning durma
Sinom dhandanggula ing sinedya
Lali purwaduksina kelon asmaradana
Lali wangsiting ibu lan rama
Mangkono werdine gambuh durma
Amelet wong enom ing ngarcapada
Pan mangkono
Jarwane paribasan parikena

Artinya:

Mundur menjauh dari etika
Dur, itu maling, penjahat tak beretika
Dur, seperti Durmogati, dursasana, Duryudana
Dur, yang bisa untuk menimbang perasaan
Dur, memiliki pribahasa
Yang berarti
Sinom dhandanggula di senadya
Lupa perasaan karena dimabuk cinta
Lupa dengan ibu dan ayah
Dengan itu bisa mencelakakan
Orang orang muda yang bersahabat
Dengan seperti itu
Kata dari suatu pepatah

9. Pangkur

Jenis tembang macapat pangkur memiliki asal kata mungkur atau dapat diartikan menjadi meninggalkan.  Jenis tembang macapat yang satu ini memiliki filosofi yang menceritakan seseorang yang sudah siap meninggalkan segala sesuatu yang memiliki sifat duniawi dan mencoba mendekatkan diri kepada tuhan.

Dari segi pandang yang lainya pangkur memiliki asal dari kata punggala dalam kalangan pendetaan seerti yang sudah tercantum pada piagam-piagam bahasa kuno.

Kemudian di dalam serat Purwaukara, jenis tembang macapat pangkur ini mempunyai arti buntut alias ekor. Karenanya, pangkur kadang kali  diberi sasmita atau isyarat tut yang mempunyai makna mengekor, tut wuri serta tut wuntat yang memiliki arti mengikuti.

Watak dari jenis tembang macapat yang satu ini adalah kuat, gagah, perkasa, dan hati yang besar. Jenis tembang macapat yang satu ini digunakan untuk menceritakan kisah para pahlawan, perjuangan, dan peperangan.

Contoh tembang macapat pangkur :

Bayu ingkang kaping tiga,

Kuwera kang sekawanipun nenggih,

Baruna kalimanipun,

Yama Candra lan Brama,

Jangkep wolu den pasthi mangka ing prabu,

Anggenira ngastha brata, sayekti ing narapati.

Artinya:

Yang ketiga mrupakan Bayu,

Yang keempat ialah Kuwera,

Yang kelima ialah Baruna,

Yang keenam Yama ketujuh Candra kedelapan Brama,

Genap delapan itu pasti sang Prabu,

Yang dilakukannya tapa brata, benar-benar menjadikan seorang raja.

10. Megatruh

Jenis tembang macapat yang satu ini memiliki dua kata yaitu  “megat” serta “ruh” yang jika diartikan maka akan menjadi putusnya roh atau telah terpisahnya antara roh dengan tubuh.

Lalu filosofi yang terdapat pada jenis tembang macapat yang satu ini ialah tentang perjalanan manusia di bumi yang telah selesai.

Kemudian dari segi pandang yang lain, megatruh berasal dari awalan am, pegat serta ruh. Dalam serat Purwaukara megatruh mempunyai makna mbucal kan sarwa ala atau jika dibahasakan dalam bahasa indonesia berarti membuang semua yang memiliki sifat jelek.

Kata pegat terdapat hubungan dengan kata peget yang memiliki maksud istana atau tempat tinggal. Samgat atau samget mempuanyi makna jabatan ahli atau guru agama.

Kemudian megatruh disimpulkan memiliki arti petugas yang ahli dalam kerohanian yang sifatnya ingin selalu menghindari perbuatan yang jahat.

Kemudian watak dari tembang megatruh yaitu kesedihan serta kedukaan. Biasanya jenis tembang yang satu ini menceritakan mengenai kehilangan harapan serta rasa putus asa.

Contoh tembang megatruh :

Hawya mutus ngudiya ronging budyayu,

Margane suka basuki,

Dimen luwar ing kinayun,

Kalising pandadi sisip,

Ingkang taberi prihatos.

Artinya:

Jangan berhenti untuk berbuat kebaikan,

Jalan untuk menuju kesenangan serta keselamatan,

Agar tercapai semua keinginan,

Terhindarkan dari perbuatan yang tidak-tidak,

Yang selalu prihatin.

11. Pocung

Jenis tembang macapat pocung berasal dari kata pocong yang menceritakan pada saat seseorang yang telah meningal dan sudah dibungkus atau dikafani yang diberi nama pocong sebelum akhirnya dikuburkan.

Filosofi dari tembang yang satu ini menujukan tentang sebuah suatu ritual pada waktu melepaskan kepergian sesorang. Kemudian jika dari segi pandang yang lain ada yang menafsirkan bahwa pocung adalah biji kepayang.

Kemudian didalam serat Purwaksara, pocung mempunyai arti kudhuping gegodhongan yang tampak segar. Kata ‘cung’ yang ada didalam kata pocung mengarah ke hal-hal yang lucu sifatnya, yang membuat kesegaran misalnya kucung dan kacung.

Jenis tembang macapat pocung biasanya digunakan untuk menceritakan berbagai nasehat.Tembang pocung ini menceritakan kebebasan serta tindakan sesuka hati yang menjadikan pocung berwatak atau dapat digunakan dikeadaan yang santai.

Contoh tembang pocung :

Ngelmu iku kalakone kanthi laku,

Lekase lawan kas,

Tegese kas nyantosani,

Setya budya pangekese dur angkara.

Artinya:

Ilmu itu dijalani dengan penuh perbuatan,

Dimulai dari kemauan,

Maksudnya kemauan yang menguatkan,

Ketulusan budi pekerti merupakan penakluk kejahatan.

Penutup

Nah, itulah sedikit penjelasan mengenai tembang macapat mulai dar pengertian tembang macapat, jenis-jenis, sejarah dan contoh tembang macapat.

Semoga artikel ini bisa membantu kamu dalam mengerjakan tugas bahasa jawa, dan bisa menambah wawasan kita mengenai tembang macapat, serta semoga kita bisa melestarikan tembang macapat.

Hasif Priyambudi
Hasif Priyambudi
Mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Amikom Yogyakarta, asli Banjarnegara dan disini saya menulis seputar konten umum pendidikan.

Artikel Terkait

Contoh Tembang Kinanthi
Contoh Tembang Kinanthi
Oleh Hasif Priyambudi
Geguritan
Geguritan
Oleh Hasif Priyambudi
Aksara Jawa
Aksara Jawa
Oleh Dimas Bimantoro
Cerita Rakyat Bahasa Jawa
Cerita Rakyat Bahasa Jawa
Oleh Hasif Priyambudi
Contoh Pidato Bahasa Jawa
Contoh Pidato Bahasa Jawa
Oleh Hasif Priyambudi
Contoh Geguritan Bahasa Jawa
Contoh Geguritan Bahasa Jawa
Oleh Hasif Priyambudi

Baca Lainya Tastynesia:
  1. Nastar Gulung
  2. Nastar Keranjang
  3. Nastar Nanas
  4. Nastar Keju
  5. Opor Ayam Tanpa Santan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *