√ Tembang Macapat: Pengertian, Jenis, Sejarah dan Contoh (Lengkap)

Pengertian Tembang Macapat: Jenis, Sejarah dan Contoh Tembang Macapat

Pengertian Tembang Macapat: Jenis, Sejarah dan Contoh Tembang Macapat

Tembang macapat merupakan karya sastra yang sampai sekarang masih dipelajari dan dilestarikan oleh orang Indonesia, khususnya untuk orang jawa. Umumnya kesenian ini diadakan saat ada sebuah acara keraton (darah biru) maupun secara umum. Tembang ini merupakan puisi tradisional jawa, keunikan dari tembang macapat adalah setiap bait yang ada pada tembang ini mempunyai pembagian dalam setiap kalimat atau bisa juga disebut dengan Gatra. Dan setiap gatra memiliki jumlah suku kata atau yang biasa disebut dengan Guru Wilangan tertentu dan berbunyi pada bagian akhir sajak yang dinamakan dengan Guru Lagu.

Pada artikel ini pintarnesia akan memaparkan dan menjelaskan mengenai tembang macapat mulai dari pengertian tembang macapat, jenis tembang macapat, sejarah tembang macapat dan contoh tembang macapat. Nah, sebelum kita membahas lebih dalam ada baiknya kita membahas terlebih dahulu apa itu pengertian dari tembang macapat, berikut ini adalah pengertian tembang macapat.

 

Pengertian Tembang Macapat

Ada beberapa penjelasan mengenai pengertian tembang macapat adalah puisi tradisional jawa yang setiap bait mempunyai gatra atau baris kalimat dengan jumlah suku kata tertentu dengan memiliki akhiran bunyi sajak disebut guru lagu.

pendapat lain menyebutkan maca papat – papat (membaca empat – empat) maksud disini adalah cara membaca tiap empat suku kata. Tapi ada pendapat lain yang mengatakan kata pat yang merujuk pada tanda diatris (sandhangan) aksara jawa yang relevan dalam penembangan tembang macapat. Dan ada lagi yang menfasirkan bahwa lata macapat merupakan kata yang berasal dari frasa macapat-lagu yang memiliki arti “Melagukan Nada Ke Empat”.

Tembang macapat cilik diciptakan oleh Sunan Bonang dan kemudian diturunkan kepada semua para wali. Dan tembang tengahan yang diciptakan oleh Resi Wiratmaka yang menjadi pandita istana Janggala kemudian disempurnakan oleh pangeran Panji Inokarpati bersama dengan saudaranya.

 

 

Struktur Tembang Macapat

Umumnya tembang macapat telah pecah dengan mengandung keunikannya dan karakter tersendiri, serta dalam penulisannya pun memiliki aturan yang khusus dalam membuatnya. Maksud dari aturan khusus tersebut adalah bisanya kita sebut dengan guru maupun patokan. Nah berikut ini adalah patokan atau guru lagu yang ada di tembang macapat, di antaranya adalah:

  • Guru Gatra, merupakakan jumlah baris dalam satu bait tembang macapat.
  • Guru Wilangan, merupakan jumlah suku kata dalam setiap baris tembang macapat.
  • Guru Lagu, merupakan jatuhnya sebuah suara dalam setiap baris tembang macapat (A I U E O)

 

 

Sejarah Tembang Macapat

Tembang macapat muncul pada wilayah jawa, tepatnya pada bagian kerajaan Majapahit, dan pada masa itu yang memulai mempengaruhi masyarakat untuk mengenal sastra macapat adalah sunan Bonang, dan diteruskan kepada Walisongo yang lainnya pada akhir masa kerajaan Majapahit. Tapi hal itu hanya berlaku di wilayah Jawa Tengah saja.

Pada wilayah Bali dan Jawa Timur, macapat sudah dikenal sebelum agama Islam masuk ke wilayah tersebut. karena ada sebuah teks dari Bali yang berjudul Kidung Rnaggalawe yang sudah selesai ditulis pada tahun 1334 M.

 

 

Macam – Macam Tembang Macapat

Dari gambar di atas, mungkin kamu sudah bisa menyimpulkan sendiri aturan atau patokan dalam membuat tembang macapat. Walaupun banyak pendapat yang menafsirkan mengenai apa itu tembang macapat, seperti itulah bentuk dari macapat. Contoh yang kecil saja, seperti penafsiran mengenai janin dalam rahim, banyak yang mengatakan bahwa itu merupakan tembang Maskumambang, tapi ada juga yang mengatakan itu merupakan seorang anak yang sudah lahir dari dalam rahim.

Walaupun banyak sekali perbedaan tafsir dalam tembang macapat, akan tetapi dari sisi lain tetap menggunakan patokan yang sam dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan. Serta aturan – aturan buku yang harus tetap sama.

Tembang macapat diyakini oleh sebagian orang jawa jika tembang macapat merupakan makna manusia dalam menempuh hidupnya, proses dimana sang pencipta yang maha ESA memberikan ruh kepada manusia, hingga menceritakan ajal manusia. Nah, maksudnya adalah kehidupan manusia hingga kematian manusia yang sudah tergambarkan dalam tembang macapat.

 

 

Jenis – Jenis Tembang

Tembang bisa dibagi menjadi 3 (tiga), yakni tembang cilik, tembang tengah, dan tembang gedhe. Berikut ini adalah pemaparan dari ketiga jenis tembang tersebut, di antaranya adalah:

 

a. Tembang Cilik

Dalam tembang cilik, terdapat ada 11 (sebelas) lagu, di antaranya adalah:

  1. Sinom
  2. Dhandanggula
  3. Maskumambang
  4. Kinanthi
  5. Asmaradana
  6. Durma
  7. Pangkur
  8. Mijik
  9. Pocung

b. Tembang Tengah

Dalam tembang tengah, terdapat ada 5 (lima) lagu, di antaranya adalah:

  1. Wirangrong
  2. Balabak
  3. Gambuh
  4. Megatruh
  5. Jurudhemung

c. Tembang Gedhe

Dalam tembang gedhe, ada satu lagu, yakni tembang Girisa.

 

Nah, itulah sedikit penjelasan mengenai tembang macapat mulai dar pengertian tembang macapat, jenis-jenis, sejarah dan contoh tembang macapat, semoga artikel ini bisa membantu kamu dalam mengerjakan tugas bahasa jawa, dan bisa menambah wawasan kita mengenai tembang macapat, serta semoga kita bisa melestarikan tembang macapat. Jika ada kesalahan dalam artikel ini mohon untuk dimaafkan dan dimaklumi.



Pengertian Filsafat: Arti, Tujuan, Cabang-Cabang dan Ciri-Ciri Filsafat

Pengertian Filsafat: Arti, Tujuan, Cabang-Cabang dan Ciri-Ciri Filsafat

Tembang macapat merupakan karya sastra yang sampai sekarang masih dipelajari dan dilestarikan oleh orang Indonesia, khususnya untuk orang jawa. Umumnya kesenian ini diadakan saat ada sebuah acara keraton (darah biru) maupun secara umum. Tembang ini merupakan puisi tradisional jawa, keunikan dari tembang macapat adalah setiap bait yang ada pada tembang ini mempunyai pembagian dalam setiap kalimat atau bisa juga disebut dengan Gatra. Dan setiap gatra memiliki jumlah suku kata atau yang biasa disebut dengan Guru Wilangan tertentu dan berbunyi pada bagian akhir sajak yang dinamakan dengan Guru Lagu.

Pada artikel ini pintarnesia akan memaparkan dan menjelaskan mengenai tembang macapat mulai dari pengertian tembang macapat, jenis tembang macapat, sejarah tembang macapat dan contoh tembang macapat. Nah, sebelum kita membahas lebih dalam ada baiknya kita membahas terlebih dahulu apa itu pengertian dari tembang macapat, berikut ini adalah pengertian tembang macapat.

 

Pengertian Tembang Macapat

Ada beberapa penjelasan mengenai pengertian tembang macapat adalah puisi tradisional jawa yang setiap bait mempunyai gatra atau baris kalimat dengan jumlah suku kata tertentu dengan memiliki akhiran bunyi sajak disebut guru lagu.

pendapat lain menyebutkan maca papat – papat (membaca empat – empat) maksud disini adalah cara membaca tiap empat suku kata. Tapi ada pendapat lain yang mengatakan kata pat yang merujuk pada tanda diatris (sandhangan) aksara jawa yang relevan dalam penembangan tembang macapat. Dan ada lagi yang menfasirkan bahwa lata macapat merupakan kata yang berasal dari frasa macapat-lagu yang memiliki arti “Melagukan Nada Ke Empat”.

Tembang macapat cilik diciptakan oleh Sunan Bonang dan kemudian diturunkan kepada semua para wali. Dan tembang tengahan yang diciptakan oleh Resi Wiratmaka yang menjadi pandita istana Janggala kemudian disempurnakan oleh pangeran Panji Inokarpati bersama dengan saudaranya.

 

 

Struktur Tembang Macapat

Umumnya tembang macapat telah pecah dengan mengandung keunikannya dan karakter tersendiri, serta dalam penulisannya pun memiliki aturan yang khusus dalam membuatnya. Maksud dari aturan khusus tersebut adalah bisanya kita sebut dengan guru maupun patokan. Nah berikut ini adalah patokan atau guru lagu yang ada di tembang macapat, di antaranya adalah:

  • Guru Gatra, merupakakan jumlah baris dalam satu bait tembang macapat.
  • Guru Wilangan, merupakan jumlah suku kata dalam setiap baris tembang macapat.
  • Guru Lagu, merupakan jatuhnya sebuah suara dalam setiap baris tembang macapat (A I U E O)

 

 

Sejarah Tembang Macapat

Tembang macapat muncul pada wilayah jawa, tepatnya pada bagian kerajaan Majapahit, dan pada masa itu yang memulai mempengaruhi masyarakat untuk mengenal sastra macapat adalah sunan Bonang, dan diteruskan kepada Walisongo yang lainnya pada akhir masa kerajaan Majapahit. Tapi hal itu hanya berlaku di wilayah Jawa Tengah saja.

Pada wilayah Bali dan Jawa Timur, macapat sudah dikenal sebelum agama Islam masuk ke wilayah tersebut. karena ada sebuah teks dari Bali yang berjudul Kidung Rnaggalawe yang sudah selesai ditulis pada tahun 1334 M.

 

 

Macam – Macam Tembang Macapat

Dari gambar di atas, mungkin kamu sudah bisa menyimpulkan sendiri aturan atau patokan dalam membuat tembang macapat. Walaupun banyak pendapat yang menafsirkan mengenai apa itu tembang macapat, seperti itulah bentuk dari macapat. Contoh yang kecil saja, seperti penafsiran mengenai janin dalam rahim, banyak yang mengatakan bahwa itu merupakan tembang Maskumambang, tapi ada juga yang mengatakan itu merupakan seorang anak yang sudah lahir dari dalam rahim.

Walaupun banyak sekali perbedaan tafsir dalam tembang macapat, akan tetapi dari sisi lain tetap menggunakan patokan yang sam dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan. Serta aturan – aturan buku yang harus tetap sama.

Tembang macapat diyakini oleh sebagian orang jawa jika tembang macapat merupakan makna manusia dalam menempuh hidupnya, proses dimana sang pencipta yang maha ESA memberikan ruh kepada manusia, hingga menceritakan ajal manusia. Nah, maksudnya adalah kehidupan manusia hingga kematian manusia yang sudah tergambarkan dalam tembang macapat.

 

 

Jenis – Jenis Tembang

Tembang bisa dibagi menjadi 3 (tiga), yakni tembang cilik, tembang tengah, dan tembang gedhe. Berikut ini adalah pemaparan dari ketiga jenis tembang tersebut, di antaranya adalah:

 

a. Tembang Cilik

Dalam tembang cilik, terdapat ada 11 (sebelas) lagu, di antaranya adalah:

  1. Sinom
  2. Dhandanggula
  3. Maskumambang
  4. Kinanthi
  5. Asmaradana
  6. Durma
  7. Pangkur
  8. Mijik
  9. Pocung

b. Tembang Tengah

Dalam tembang tengah, terdapat ada 5 (lima) lagu, di antaranya adalah:

  1. Wirangrong
  2. Balabak
  3. Gambuh
  4. Megatruh
  5. Jurudhemung

c. Tembang Gedhe

Dalam tembang gedhe, ada satu lagu, yakni tembang Girisa.

 

Nah, itulah sedikit penjelasan mengenai tembang macapat mulai dar pengertian tembang macapat, jenis-jenis, sejarah dan contoh tembang macapat, semoga artikel ini bisa membantu kamu dalam mengerjakan tugas bahasa jawa, dan bisa menambah wawasan kita mengenai tembang macapat, serta semoga kita bisa melestarikan tembang macapat. Jika ada kesalahan dalam artikel ini mohon untuk dimaafkan dan dimaklumi.